My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Hari H



“Btw, aku habis ketemu Naya sama Jordan!”


“Uhukkkk.” Tania langsung tersedak mendengar ucapan Salsa, “sumpeh lo?”


Salsa mengangguk, “Iya.”


“Terus-terus?” Tania penasaran apa yang terjadi selanjutnya.


“Ya udah nggak terus-terus. Dia cuman minta Jordan balik in kerjaannya yang sempet di ganggu sama Jordan.” Jawab Salsa.


“Hah, gitu aja?”


“Kamu nggak percaya?”


Tania menggelengkan kepalanya, “Nggak lah. Dia pasti ada niatan terselubung.”


“Kamu nggak boleh berpikir negatif ke orang Tania, bisa jadi fitnah.” Tegur Salsa.


“Masalahnya emang kalau sama si Naya tuh aku bawaanya curiga. Orang dia juga orangnya gitu, jahat.” Ucap Tania.


“Ya siapa tau dia beneran tobat kali ini.” Salsa memilih positif thinking saja.


“Ati-ati, pelakor merajalela.” Kata Tania mengingatkan.”


***


Hari pernikahan pun tiba. Tamu undangan dari kedua mempelai termasuk tamu keluarga besar sudah mulai masuk memadati Ballroom hotel tempat resepsi penikahan Jordan dan Salsa. Akad nikah sudah di langsung kan siang tadi di tempat yang sama.


Salah satu tamu yang sudah hadir adalah Celia dan Radit. Sahabat dari kedua mempelai.


“Selamat, Jo. Nikah juga akhirnya.” Ucap Celia menjabat tangan Jordan.


“Selamat, kesampean juga nikah sama pacar pertama.” Timpal Radit sambil menepuk bahu Jordan.


“Makasih, kak Radit. Makasih, Cel. Tinggal kalian nih, kapan nyusul?” Giliran Jordan yang bertanya pada pasangan kekasih di hadapannya itu. Radit dan Celia sudah lama menjalin hubungan sekitar 6/7 tahunan. Entah apa yang membuat kedua orang itu belum menikah sampai sekarang.


“Do’ain aja ya.” Balas Radit. Jika Radit meminta doa kepada Jordan, berbeda dengan Celia. Perempuan itu hanya membalas pertanyaan Joedan dengan senyum canggung.


“Celiaaaaa.” Suara heboh ibu muda anak satu terdengar memanggil Celia. Jordan, Radit dan Celia pun menoleh. Jessica melambaikan tangannya pada Celia.


“Di panggil tuh, Cel.” Ujar Jordan.


“Iya, nih. Sekali lagi selamat ya, Jo. Gue ke adik lo dulu. Ayo kak!” Ajaknya pada Radit namun berjalan lebih dulu menghampiri Jessica.


“Have fun sama pestanya ya, kak!” Ucap Jordan pada Radit.


“Siap.. gue kesana dulu.” Radit mengikuti Celia pergi ke arah Jessica.


Jessica sudah menunggu Celia dengan heboh sambil membuka tangannya lebar-lebar. Celia yang sudah sampai di hadapan Jessica pun langsung memeluk Jessica sekilas di lanjutkan cipika-cipiki. Maklum mereka memang jarang bertemu, Celia lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri.


“Kangen banget.” Ujar Celia.


“Me too, lo sih nggak pernah main ke rumah.” Balas Jessica.


“Ya, maap. Sibuk buk, cari cuan.” Sahut Celia.


“Hai, Jes.” Sapa Radit. “Yoga, mana?” Celingukan mencari sahabatnya yang juga suami dari Jessica.


“Lagi nyari si Kia, tadi sama mommy sih.” Jawab Jessi yang ternyata suaminya tengah mencari keberadaan putri nya.


“Oh,” Radit manggut-manggut.


“Udah ketemu, Salsa?” Tanya Jessica.


“Belum lah. Gue juga baru aja dateng.” Jawab Celia.


Benar juga, Jessica juga baru melihat batang hidup Celia beberapa menit.


“Mau nyamperin ke ruang make up, nggak?” Usul Jessi.


Terdengar menarik di telingan Celia. “Boleh, gue juga penasaran.”


“Yuk.”


“Yuk.” Celia menoleh sekilas ke arah Radit, “Kak, aku ke Salsa bentar ya! Kamu cari temen ngobrol sendiri gak papa ‘kan?!” Pamitnya pada Radit.


Jessi dan Celia semangat menuju ruang make up, dimana Salsa sedang di rias untuk menajdi ratu sehari.


Diruang rias, Salsa di temani oleh Tania. Tania tidak berhenti menangis karena terharu, sebentar-sebentar menangis, sebentar-sebentar tidak lalu menangis lagi.


“Lah, masih mewek aja ni bocah.” Komentar Jessi begitu dia dan Celia sampai di ruang rias. Meskipun mereka se umur an, Jessi masih sering menganggap Tania bocah.


“Tau nih, ada yang bisa seret dia keluar aja ga sih? Pusing aku sama dia.” Gerutu Salsa menghela napas panjang.


“Hiks, hiks,” mengelap ingusnya dengan tisu, “hiks, kamu datang lagi, Jess?” Sapa nya pada Jessi.


“Hai, Tan.” Sapa Celia.


“Hai, Kak.” Tania menyapa balik Celia masih dengan sesenggukan.


Celia beralih memandang Salsa yang duduk dengan tenang menunggu rambutnya di rapikan.


“Cantik banget, sumpah.” Puji Celia.


“Bukannya udah dari dulu, Btw.” Balas Salsa meng pe-de dengan parasnya.


“Tau, tapi, ‘kan sekarang beda suasana. Lo di puji malah nyebelin tau nggak.” Celia cemberut.


“Sama kak Radit?” Tanya Salsa kemudian.


“Ya, iyalah. Sama siapa lagi kalau bukan dia.” Jawab Celia.


“Ututu, ngambek nya mbak, Cel. Sini duduk di sebelah aku!” Salsa menepuk bangku kosong di sebelahnya agar Celia duduk disana. Dan, Celia pun menurutinya.


“Kia, mana, Jes?” Salsa tidak melihat Kia bersama Jessi. Beberapa saat yang lalu Jessica baru saja keluar dari ruang rias bersama putrinya, namun dia kembali ke ruang rias tanpa putrinya saat ini.


“Sama bapaknya kalau enggak oma nya.” Jawab Jessi. Ia memilih duduk di sebelah Tania membantu menegangkan kotak tisu agar Tania lebih mudah mengambilnya.


“Padahal tadi pas ada Kia, aku nggak nangis loh.” Ujar Tania menyahut.


“Halah, dasar kamu nya aja yang cengeng.” Timpal Jessi.


“Dia emang suka gitu, Sa?” Tanya Celia heran, sebab Celia tidak terlalu mengenal Tania. Berbeda dengan Jessi yang sudah akrab dengan Tania. Sebab Tania sering ikut main Salsa ke rumah Jessica atau mommy Ayu.


Salsa mengangkat bahunya acuh. “Enggak tau tu anak dari tadi kesambet apaan, mewek terus.”


“Dia sebenarnya cuman galau aja, Cel. Soalnya di tinggal nikah Salsa, maklum jomblo.” Ejek Jessi.”


“Huaaaa,” Hal itu malah membuat Tania menangis keras. Bahwasanya apa yang di katakan Jessi tidak sepenuhnya salah. Selain terharu Salsa akhirnya menemukan pendamping hidupnya, Tania juga galau di Salsa menikah. Setelah Salsa menikah, Salsa pasti akan tinggal bersama Jordan, Tania tidak lagi memiliki teman sekamar.


“Bener itu, Tan?” Tanya Celia.


Tania menjawab dengan menggelengkan kepapalanya namun sejurus kemudian dia mengangguk.


“Lah, iya apa enggak?” Tanya Celia bingung.


“Iya, udah, gue aja yang jawab.” Timpal Jessi gemas.


“Kamu galau karena apa sih, Tan. Salsa itu cuman nikah loh. Bukan pergi jauh.” Heran Celia.


“Dia tuh bingung, mau nginep dimana kalau lagi ngambek sama bapaknya. Padahal dia masih bisa nginep di apart aku, meskipun aku udah tinggal sama Jordan.” Jelas Salsa yang bisa menebak kegalauan dari Tania.


“Tapi, ‘kan beda suasana. Kamu tidur sama Jordan.” Kelakar Tania lucu. Dengan mata sembab nya.


“Ya iyalah, namanya juga udah nikah. Makanya cari pacar cefat.” Sahut Salsa.


“Ya, ampun. Kalau cuman masalah itu nggak usah galau. Kamu bisa nginep di rumah aku, ntar aku tidur sama mas Yoga. Kamu tidur sama Kiara.” Timpal Jessi yang membuat Tania merasa sebal. “Gimana?”


“Bukan solusi,” Cebik Tania.


“Udah, kamu mau nginep di apartemen aku aja?Aku belum nikah kok.” Kata Celia menawarkan.


“Emang boleh?” Mata Tania berubah berbinar. Dia merasa mendapat teman baru.


“Boleh tapi apartemen nya di Singapura, mau terbang dulu cuman buat nginep?” Sahut Salsa.


Jessica terkekeh melihat ekspresi wajah Tania yang berubah lemas lagi. “Nggak ada pilihan yang bagus,” gumam Tania.


Begitulah obrolan para perempuan diruang rias sembari menunggu Salsa di tata rambutnya.