My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Insting



“Hoek, hoek, hoek.”


Waktu masih menunjukkan pukul 03:00 dini hari saat Salsa terbangun karena perasaan tidak nyaman dari dalam tubuhnya. Semua isi dalam perutnya seakan memaksa untuk keluar.


“Hoek.”


Tubuh Salsa terasa lemas tidak berdaya. Semua isi dalam perutnya benar-benar keluar.


“Udah?” Tanya Jordan lembut yang sedari tadi berada di sebelah Salsa. Memijit tengkuk sang istri dengan telaten. “Kamu makan apa tadi?” Sembari memapah Salsa kembali ke dalam kamar.


“Aku nggak makan apa-apa.” Jawab Salsa lemas duduk di tepi tempat tidur. Salsa meraih kotak tisu di atas nakas dan mengambil beberapa lembar tisu dari sana, “Mau minum anget.” Ucapnya manja.


“Oke. Kamu tunggu di sini, aku ambilkan.” Lalu Salsa menangguk mengiyakan.


Jordan keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk mengambil air putih hangat.


“Asam lambungku nggak mungkin naik lagi.” Pikir Salsa. Beberapa hari yang lalu asam lambungnya memang naik. Namun, sudah ia obati dan juga menjaga pola makan.


Jordan kembali dengan membawa nampan.


“Bawa apa?” Lirik Salsa melihat piring disebelah gelas air putih.


“Aku buatkan roti bakar. Makan sedikit, biar perut kamu nggak kosong.” Ujar Jordan sambil memberikan air putih permintaan Salsa dan meletakkan nampan di nakas.


“Aku nggak mau makan.” Selain tidak merasa lapar meskipun memang perutnya sudah terasa kosong, Salsa juga tidak berselera saat melihat roti bakar yang dibawa Jordan.


“Dikit aja, sayang.” Bujuk Jordan.


“Nggak.” Tolak Salsa lalu naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut, “Kita lanjut tidur aja. Besok harus kerja.” Melambai pada Jordan agar lelaki itu menyusulnya naik ke atas tempat tidur.


“Yakin nggak makan ini?” Sambil menunjuk roti bakar yang terlihat menggoda.


Salsa menggelengkan kepalanya, “Cepet sini!” Ucapnya kemudian sembari menepuk ruang kosong disebelahnya.


Setelah Jordan naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Salsa, Salsa langsung masuk ke dalam rengkuhan Jordan dan mendusel didada sang suami.


“Kenapa?Tumben?” Heran Jordan melihat sikap posesif Salsa.


“Nggak papa. Pengen peluk aja sambil tidur.”


Cup.. cup.. cup… Kecupan bertubi-tubi pun mendarat di puncak kepala Salsa. “Kamu manja banget akhir-akhir ini. Aku suka.” Sembari merengkuh tubuh Salsa ke dalam pelukannya lebih erat.


“Hm.”


Mendengar sang istri hanya menjawab dengan deheman, Jordan pun menunduk dan memeriksa Salsa yang ternyata sudah kembali terbang ke alam mimpi. “Menggemaskan.” Gumam Jordan.


***


Pukul 06:00 Salsa kembali terbangun saat merasakan perutnya seakan di remas-remas. Salsa langsung berlari dan mengeluarkan seluruh isi dari perutnya yang hanya tinggal cairan.


“Hoek, hoek, hoek.” Gemericik air terdengar mengalir bertepatan dengan Salsa yang sedang mengeluarkan isi dari dalam perutnya.


“Nggak beres, aku yakin ada yang nggak beres.” Gumamnya.


Salsa kembali ke kamar setelah mengeluarkan isi perutnya. Dia baru menyadari Jordan tidak ada di tempat tidur. “Kemana dia?” Batin Salsa.


Tidak begitu penasaran dengan keberadaan Jordan, Salsa memilih meraih handuk di cantolan dan kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara Jordan yang sudah lebih dulu bangun menyempatkan diri untuk berolahraga pagi. Sekedar lari pagi mengitari komplek sudah membuat dirinya mandi keringat. Jordan memang sengaja tidak membangunkan Salsa saat dia bangun lebih dulu, sebab dia merasa kasihan pada istrinya yang kelihatan lelah. Apalagi Salsa semir muntah-muntah dini hari tadi.


Usai berolahraga, Jordan pulang dan tujuan pertama saat ia menginjakkan kaki di rumah adalah dapur.


“Sayang, kamu udah bangun?” Jordan melihat Salsa yang sudah nongkrong di ruang makan sambil menikmati teh manis dan roti pukis. Salsa menoleh mendengar suara Jordan. Dia yang sedang menyeruput teh itu hampir tersedak melihat tampilan Jordan. “Ka-kamu olahraga kayak gitu?” Tanya Salsa.


Jordan sudah tiba di dekat Salsa lalu menunduk melihat penampilannya. “Iya.” Jawabnya santai. Tidak ada yang salah dengan penampilannya. Seperti biasa dia mengenakan celana pendek khusus olahraga dan kaos tanpa lengan yang fit body.


“Lain kali jangan kayak gitu.”


“Ada yang salah?” Jordan menarik kursi di sebalah Salsa dan mendudukkan diri di sana. Lalu meraih cangkir teh manis Salsa dan meminumnya.


“Terlalu sexy, nggak baik dilihat orang.” Jawab Salsa asal.


“Ha?” Jordan melongo tidak mengerti. Biasanya dia juga berpakaian seperti itu saat berolahraga tapi Salsa tidak pernah mempermasalahkan nya. “Ini yang biasa aku pakai juga, sayang.”


“Pokoknya lain kali jangan pakai itu.” Tegas Salsa merasa tidak rela ada yang melihat lekukan tubuh sispack Jordan selain dirinya. Otot-otot kekar Jordan yang bersembunyi di balik kaos singlet nya itu masih terlihat jelas. “Lagian kamu lari ‘kan masih pagi, harusnya pakai kaos oblong pakai jaket. Bukan pakai singlet gitu, kalau kedinginan masuk angin gimana? Malah repot nanti.” Cerocos Salsa dengan kemungkinan yang tidak masuk di akal Jordan.


“Mana ada orang lari pakai kaos oblong, sayang? Gerah nanti yang ada.” Balas Jordan mendebat.


“Nggak, kalau pagi udaranya masih sejuk, matahari juga belum muncul jadi nggak bakalan gerah.” Kata Salsa membalas lagi.


“Tapi-,”


“Shut!” Potong Salsa dengan menaruh jari telunjuk di depan bibirnya sebelum Jordan melanjutkan ucapannya. “Nggak ada tapi-tapi an.” Lanjut Salsa.


Jordan pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aneh.” Lirihnya namun terdengar oleh Salsa.


“Nggak, kok. Aku ke atas mandi ya!” Pamit Jordan.


“Baju udah aku siapin di atas tempat tidur.”


“Oke, sayang.” Berlalu menuju kamarnya.


Sambil menunggu Jordan siap, Salsa memeriksa ponselnya dan berselancar di sosial media.


“Mau sarapan sekarang atau nanti, Bu?” Tanya asisten rumah tangganya yang baru. Mbak Nani namanya.


“Nanti saja, mbak. Sekalian nunggu bapak.” Jawab Salsa.


“Baik, Bu.”


Cukup lama Salsa menunggu Jordan, hampir tiga puluh menit lamanya ia menunggu.


“Lama banget, lapar tauk.” Gerutu Salsa saat Jordan sudah kembali bergabung dengannya di ruang makan.


“Iya, maaf.” Jawab Jordan sambil melampirkan jas kerjanya di kursi yang lain lalu ia duduk.


“Mau sarapan roti apa nasi?” Tanya Salsa.


“Roti.” Jordan memang jarang sarapan nasi goreng. Hanya sesekali itupun karena Salsa yang memaksanya.


“Kebiasaan orang barat. Sarapan roti, emang kenyang.” Cerocos Salsa dengan tangan sibuk membuatkan roti pesanan Jordan. Roti dengan selai campuran dan messes yang banyak.


“Makasih, sayang.” Cengir Jordan sambil menerima piring berisi dua lembar roti tawar yang sudah digabungkan dengan selai campuran di tengah sebagai penghubung.


“Sama-sama. Makan yang banyak, biar semangat cari duitnya. Jajan aku banyak soalnya.” Ucap Salsa setengah bercanda.


“Siap, sayangku.”


Jordan mengantar Salsa bekerja karena khawatir Salsa mual dan muntah lagi. Dia lebih tenang jika Salsa diantar jemput oleh nya.


“Nanti kamu pulang jam berapa?” Tanya Salsa di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta di pagi hari.


“Seperti biasa. Kenapa?” Jordan melirik sekilas Salsa yang duduk disebelahnya namun tetap fokus pada stir kemudinya.


“Aku mau ke dokter kandungan.” Ucap Salsa.


“Mau ngapain?” Entah sadar apa tidak Jordan saat bertanya hal itu. Bahkan, Salsa sampai melongo mendengar pertanyaan Jordan.


“Mau beli es krim.” Jawab Salsa asal sekaligus kesal. Bisa-bisa Jordan tidak peka sama sekali.


“Kikiki, ke dokter kandungan mana ada es krim sayang.” Jordan terkekeh kecil belum menyadari sesuatu.


“Dasar tidak peka.” Gumam Salsa.


“Ya, kamu lucu sayang, masak ke dokter kandungan beli es krim.” Jordan kembali melirik Salsa dengan salah satu tangannya mengacak rambut Salsa gemas. “Tunggu!” Ujar Jordan menyadari sesuatu dengan salah satu tangan yang masih nangkring di atas kepala Salsa, “Ke dokter kandungan? Kamu hamil?”


Ckittt!! Kaget Jordan dan langsung mengerem mendadak.


“Kamu hamil?” Jordan menoleh dan memandang Salsa serius.


Tin.. tin.. tin.. Suara klakson saling bersahutan di belakang mobil Jordan. Jordan melihat antrean panjang mobil dan motor di belakang kereta besinya. Jam pagi semua orang pasti terburu-buru.


“Jalan dulu!” Titah Salsa dan Jordan langsung menancap gas kembali.


“Kamu hamil?” Ulang Jordan kali ini dia sudah tenang.


“Aku juga belum tau, tapi insting aku mengatakan sepertinya iya.” Jawab Salsa.


“Kenapa harus sore? Sekarang aja, kita langsung ke dokter kandungan buat cek.” Kata Jordan menanggapi.


“Nggak bisa, Jordan.”


“Kenapa nggak bisa? Aku bisa, kok.”


“Aku yang nggak bisa. Aku harus kerja.”


“Cuti aja.” Seenak jidat Jordan mengatakan cuti. Dipikir rumah sakit milik nenek moyangnya bisa cuti seenaknya.


Salsa menghela nafas panjang dan menghembuskan nya. Ia sudah mengira pasti Jordan menjadi tidak sabaran begini. Harusnya tadi Salsa tidak menceritakan dulu sebelum semuanya jelas. Salah kamu Salsa. Salah besar!


“Nanti sore saja.” Kata Salsa memutuskan.


“Tapi, sayang.” Rengek Jordan tidak sabar. Dia ingin segera memastikan kebenaran dari insting Salsa.


“Kalau rewel kamu nggak usah ikut aja.” Kata ajaib yang langsung membungkam mulut Jordan.


“Nanti sore saja, oke, nanti sore saja. Lagian aku juga kerja ada meeting. Iya, iya, nggak masalah cuman nunggu sore aja, nggak masalah.” Ucap Jordan bermonolog sendiri. Sedangkan Salsa meliriknya sambil tersenyum kecil.