My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Makan malam



Sudah dua hari Salsa dan Jordan tinggal di apartemen. Yang semula hanya berniat menginap semalam menjadi lebih karena keinginan Salsa.


Sore ini sepulang dari bekerja. Salsa teringat tujuannya menginap di apartemen. Dia pun menuju gudang untuk mencari sesuatu. Memasuki ruangan yang di sebut gudang itu Salsa memejamkan mata sejenak entah apa yang mengganggu pikirannya dan membuat ia tidak tenang.


Meskipun gudang, ruangan yang saat ini dipijakinya terlihat rapi. Barang-barang tidak terpakai yang Salsa simpan di gudang di tata dengan rapi dan teratur. Salsa melihat beberapa tumpukan box di sana dan mengambil satu box dengan tempelan kertas ‘Album’. Mungkin box tersebut berisi album foto.


“Ternyata masih tersimpan dengan baik.” Ucapnya membelai box yang sudah cukup usang itu. Box nya terlihat usang karena sudah lama namun tidak berdebu.


Salsa membuka box itu dan mengeluarkan album foto yang sudah tua dari sana. Di buka satu persatu halaman dari album itu. Banyak sekali foto kenangan masa kecilnya bersama sang almarhum. Salsa tersenyum mendapati foto kecilnya mengenakan seragam taman kanak-kakak dengan di gendong almarhum Damar. Dia terlihat polos dan centil di foto itu.


“Papa.” Satu tetes air mata lolos begitu saja mengingat almarhum papa Damar. Di baliknya album itu ke halaman selanjutnya.


Mata Salsa melotot melihat foto yang dia benci. Perasaan marah dan penuh kebencian ia rasakan saat melihat foto itu. “Mama.” Cicitnya meremas ujung album itu. “Jadi, mama meninggalkan aku dan papa demi dia.” Lanjutnya.


Pikiran Salsa kembali pada masa kecilnya saat dia berada di sekolah dasar.


“Aku mohon, jangan pergi, ma!” Tahan Damar pada Sinta sang istri. Sinta sudah mengepak seluruh baju nya dalam satu koper.


“Lepas Damar. Aku udah putuskan ini yang terbaik untuk kita.” Ketus Sintan menepis tangan Damar.


“Ma, kita bicarakan baik-baik. Gimana Salsa, dia maish kecil masih butuh mama?” Damar tak henti mengiba agar istrinya tidak pergi.


“Aku juga butuh kehidupanku. Aku sudah muak hidup miskin sama kamu. Anak itu kamu saja yang besarkan. Aku tidak mau dia membebani langkahku jika ikut bersamaku.” Kata pedas Sinta yang langsung membuat rahang Damar mengeras.


“Oke. Pergi saja!” Damar melepaskan tangan Sinta, “Pergi kemana pun kamu mau. Jangan pernah kembali pada kami.” Ujarnya menahan kemarahan.


“Dari tadi kek, jadi, aku nggak perlu membuang waktu.” Gumam Sinta senang.


“Kamu memang tidak punya hati, Sinta.” Damar berucap.


Sinta yang hendak menyeret kopernya menoleh, “Aku memang tidak punya hati jadi jangan menghentikan aku.” Balasnya santai.


“Pergi saja. Pergi yang jauh! Enyah dari hadapan kami.” Damar tersulut emosinya dan berkata kasar, “Kamu tidak layak menjadi seorang ibu!”


“Ckckck.” Sinta terkekeh, “Memang kamu layak menjadi kepala keluarga? Bahkan kamu tidak bisa mencukupi kehidupan kami. Mikir Damar sebelum berucap.” Ejeknya.


Damar mengepalkan kedua tangannya erat. Perasanya sakit, harga dirinya sebagai lelaki terkulai. Selama ini dia sudah berusaha mencukupi kehidupan keluarganya dengan susah payah sebisa mungkin. Tapi, Sinta? Dia tidak pernah bersyukur dengan apa yang Damar berikan.


“Mungkin perpisahan memang lebih baik! Aku akan kirim surat cerai melalui pos. Kau tinggal menanda tanganinya!” Kata Damar.


“Oke.” Balasnya singkat lalu melangkah keluar dari dalam rumah.


Satu tetes air mata luruh begitu saja saat Sinta pergi dari hadapan Damar. Lelaki itu merasa tidak berdaya karena tidak bisa mempertahankan pernikahannya. Tanpa Damar sadari di balik dinding tipis ada dua pasang telinga mendengarkan pertengkarannya dengan Sinta. Gadis kecil yang masih berusia 6 tahun harus menahan tangis dengan membekap mulutnya sendiri di balik dinding karena mendengar perdebatan orang tuanya. Gadis itu adalah Salsa kecil yang harus kehilangan ibunya di masa belia karena sang ibu memilih meninggalkannya.


Sejak kepergian Sinta, Salsa dan Damar hidup berdua. Dan, beberapa tahun setelahnya Damar mengatakan Sinta telah meninggal. Tapi, Salsa tidak mempercayainya. Salsa hanya berpura-pura percaya di hadapan Damar karena tidak mau Damar sedih. Setiap kali Salsa menanyakan perihal Sinta, Damar akan marah dan kecewa pada Salsa.


Kembali ke masa sekarang. Air mata Salsa berlinangan mengingat kejadian masa lalu. Dia benci setiap kali mengingat kejadian itu. Di mana Sinta dengan tidak berperasaan meninggalkan dia dan Damar hanya karena menurutnya Damar tidak mampu mencukupi kehidupan mereka.


Salsa menutup kembali album foto itu dan menghapus air matanya. “Mama, aku tidak akan lupa bagaimana mama menyakiti aku dan papa.” Kata Salsa dengan sorot mata menajam penuh kebencian.


Usai membasuh wajahnya, Salsa mengambil ponselnya di atas nakas untuk menghubungi Jordan.


“Halo, Sayang.” Suara Jordan terdengar menyahut saat panggilan telepon terhubung.


“Kamu pulang jam berapa?” Tanya Salsa.


“Em, mungkin satu jam lagi. Aku masih meeting ini. Kenapa kangen?” Goda Jordan dalam panggilan telepon.


“Siapa juga yang kangen. Aku cuman mau bilang, aku nggak masak. Nanti kita makan di luar aja ya?!” Ucap Salsa.


“Iya, sayang.” Balas Jordan, “Atau kita numpang makan di rumah mommy aja. Kebetulan Jessi juga di sana?” Usul Jordan.


Salsa terdiam sejenak. Usul Jordan boleh juga. Lagi pula dia sudah lama tidak mengunjungi mama mertuanya.


“Boleh, deh.” Balas Salsa.


“Oke, kamu ke rumah mommy sekarang naik taksi aja. Nanti pulang sama aku, gimana?”


“Setuju. Ya udah, aku siap-siap terus ke rumah mommy ya.” Ucapnya hendak mengakhiri panggilan teleponnya. “Aku tutup ya, bye.”


“Oke, sayang. Bye.”


Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Salsa lantas mengganti baju rumahannya dengan baju yang bepergian. Tidak perlu waktu lama dia sudah siap pergi ke rumah sang mertua. Hanya mengenakan dress polos selutut dengan rambut yang ia biarkan tergerai dan tas slingbag, Salsa pergi ke rumah mommy Ayu dengan taksi.


***


“Sayang, mommy kangen banget sama kamu.” Sambut Ayu hangat langsung cipika-cipiki dengan Salsa.


“Salsa juga kangen, mom.” Balasnya.


“Ayo masuk!” Ayu merangkul lengan Salsa untuk masuk ke dalam rumah. “Mommy langsung seneng banget pas Jordan bilang kalian mau makan malam di sini.” Ujar Ayu excited.


“Katanya Jordan kangen masakan rumah mommy.” Ucap Salsa.


“Bisa aja tuh anak. Padahal dulu mah jarang banget makan di rumah.” Jujur Ayu sebab sebelum menikah Jordan lebih sering tinggal di apartemen.


“Daddy belum pulang, mom?” Tanya Salsa karena keadaan rumah mewah mertuanya masih sepi.


“Ah, Jordan pasti lupa bilang ke kamu. Daddy balik lagi ke luar negeri, kemarin lusa cuman nganterin mommy aja. Terus esoknya langsung balik luar negeri.” Kata Ayu menjelaskan.


“Ow,” Salsa manggut-manggut, “Tapi, Tumben loh mommy mau pulang duluan.” Jujur Salsa sebab Ayu memang lebih sering bepergian dengan Raka di luar negeri.


“Daddy kamu sibuk banget di sana. Mommy malas, mau di Indo aja. Kangen anak-anak juga sih.” Balas Ayu.


“Iya juga sih.”


“Aunty!” Suara centil nan cempreng pun menyahut saat Salsa dan Ayu sampai di ruang keluarga.