
Bentar lagi cerita ini tamat. Setuju gak kalau ada sequel? Oh ya ada ceritaku juga di wp judulnya surrogate mother. Jangan lupa baca ya kalau punya appnya. Insya Allah secepatnya ini akan diselesaikan. Dan untuk kedepannya aku bakal riset lebih dulu. Soalnya cerita ini bener-bener gak ada riset sama sekali. Setelah ketik langsung up. Duh gak tau mau bilang apa lagi.
Happy Reading
.
.
.
"Aileen telah mengetahuinya Van." ucapan Vano di telpon membuat Ivan menelan salivanya dengan susah payah. Ia menatap wanita berbadan dua di depannya ini. Mata wanita itu terus mengintimidasinya.
"Ehmm... jadi... apa yang akan lo lakuin sekarang?" Balas Ivan menegakkan posisi duduknya.
"Mencarinya. Aileen tidak ada di rumah. Kali ini bantu aku lagi!" Ucap Vano dengan nada lemah. Ivan bisa mendengar helaan napas Vano di ponselnya.
Ivan menatap wanita yang merupakan istri Vano yang ada di hadapannya ini. Kemana ia akan memihak. Kepada Aileen atau Vano, sahabatnya.
Dari dulu Ivan tidak pernah membenarkan atas apa yang dilakukan Vano. Tapi Vano yang memang keras kepala saat itu tak mendengar ucapannya. Vano tetaplah Vano yang selalu bertindak semaunya. Jika ia ingin sesuatu harus didapatkannya.
Terkadang ambisius itu tidak selalu baik. Selama ini Vano terlalu ambisius dalam hidupnya. Ambisius memang bagus jika kita berambisi dengan cara yang baik pula. Ambisius Vano untuk sukses di usia muda memang baik. Tapi ambisius Vano yang lainlah yang tidak baik.
Ivan menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. "Ok. Ntar gue bantu!" Dengan sepihak Ivan memutuskan samabungan telepon itu lalu menatap Aileen.
"Lo nggak akan bilang 'kan kalau gue di sini?" Tanya Aileen memicingkan matanya.
"Nggak," balas Ivan kikuk.
Aileen memegang perutnya lalu bersandar di sofa yang didudukinya. "Jadi? Lo bisa jelasin sekarang? Lo dari tadi cuman nagbsen huruf vokal aja! Aaa iiii uuuu eeee oooo! Yang bener Van!"
Ivan menghela napas berat sebelum memulai bercerita. "Lo kenal Elvano sejak kapan?"
"Sejak.... mobil gue nabrak pohon, maybe. Pas gue masih baru-baru kelas 11. Why?" Tanya Aileen heran.
"Lo kenal El baru hampir 2 tahun. Sedangkan El? Dia udah lama kenal lo!"
Aileen diam mencerna ucapan Ivan. Jika di lihat dari foto-foto tadi sepertinya memang benar. Kalian penasaran apa isi kotak itu? Jika ya, maka akan Aileen jelaskan.
Isi dari kotak itu adalah kumpulan foto Aileen. Aileen tak akan separno ini jika foto Aileen biasa-biasa saja. Seperti saat Aileen menemukan fotonya yang memakai seragam SMA, Aileen bisa memakluminya.
Tapi bagaimana jika foto Aileen bukan hanya saat ia masih SMA? Foto Aileen saat SMP pun ada. Dan yang lebih parahnya, foto Aileen yang memakai handuk di kamarnya juga ada. Sepertinya Aileen lupa menutup horden kamarnya sehingga Vano bisa mengambil gambarnya. Dan menurut Aileen itu perilaku yang tidak bagus. Vano seorang penguntit?
Dan alasan Aileen untuk menemui Ivan karena Ivan adalah sahabat Vano. Saat Vano mencium dirinya yang tertidur di kelas, itu Ivan yang memotret mereka 'kan? Tak mungkin Vano yang melakukanny sendiri.
"Sepertinya begitu. Tapi sejak kapan tepatnya?" Tanya Aileen kikuk.
"Sejak lo SMP. Lo nggak ingat ya? Saat lo bantuin El-- argh Vano maksudnya, waktu dikeroyok di jalanan sepi? Ribet dah ngomongin orang yang sama tapi dua nama."
"Vano dikeroyok anak kelas 3 SMP lo. Lo masih nggak inget?" Lanjut Ivan saat Aileen diam dengan kerutan di keningnya.
"Pas gue kelas 8 bukan sih?" Tanya Aileen kurang yakin.
"Ya, saat lo nolongin Vano yang dikeroyok kakak kelas lo. Saat itu juga Vano tertarik sama lo. Vano yang cuek, pendiam, gak ada ekspresi, jadi Vano yang sedikit lebih berwarna. Itu semua karena lo. Vano belajar bela diri buat lindungin lo suatu saat nanti, begitu katanya dulu. Vano berambisi untuk sukses agar bisa milikin lo. Lo bisa bayangin seorang anak kelas 3 SMP udah berpikiran seperti itu. Gue ama yang lain aja pikirannya cuman main dan main." Ivan menggeleng-gelengkan kepalanya setelah menyelesaikan ucapannya.
"Jelasin semuanya!" Pinta Aileen.
"Pantas aja gak ada cowok yang dekatin selama ini," gumam Aileen yang kini sudah menggigit ujung kukunya.
"Gue gak usah lanjutin ya?" Ucap Ivan yang khawatir pada Aileen. Terlebih Aileen tengah mengandung ponakannya.
"Nggak, lanjutinn. Gue mau tau semuanya sekarang!" Balas Aileen menatap Ivan tajam.
"Tapi--"
"No!"
"Okay. Tapi lo harus janji."
Dengan pelan Aileen mengangguk.
"Vano semakin sulit terkontrol. Dia hampir nyulik lo. Tapi gue selalu nyadarin dia buat dapetin lo dengan gak perlu nyulik lo. Tapi Vano menyalahartikan itu. Dengan kesuksesannya di usia dini, dia menggunakan itu untuk meminta orang suruhannya membuat orang tua lo sibuk dengan kerja sama mereka. Dan setiap lo ditinggal di rumah lo sendirian, Vano memanfaatkan itu untuk menakuti lo. Dia bahkan menyuruh orang untuk merampok rumah lo supaya orang tua lo khawatir ninggalin lo sendiri. Vano tau kalau orang tua kalian berteman baik. Lo gak tau ya? Kalau hubungan Vano dengan keluarganya tidak terlalu harmonis? Terutama sama ayahnya?"
"Nggak. Mereka keliatan biasa aja kok. Vano cuma keliatan cuek aja. Emang gitu 'kan karakternya?" Balas Aileen yang tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
"Vano membatasi diri tepatnya. Ada sesuatu yang terjadi di keluarganya. Sejak saat itu Vano membatasi diri dengan sosial. Oh sepertinya cuek bener juga. Karena Vano jadi begitu cuek bahkan dengam kita-kita sahabatnya. Namun saat kenal lo ya begitulah... dia jadi tergila-gila.... seakan lo itu berlian langka di dunia ini. Dia tau semua kesukaan lo dan apa yang lo nggak suka. Tapi sepertinya soal trauma lo dia nggak tau. Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri."
Aileen menutup mulutnya tak menyangka. Semua yang terjadi dalam hidupnya saat ini ternyata telah diatur. Seakan ia adalah boneka.
"Tapi Vano nggak pernh membunuh 'kan?" Tanya Aileen sambil memeluk perutnya.
"Yang gue tau nggak. Paling parah cuma-- ah nggak."
Sunyi. Suasana dalam ruangan itu seketika sunyi. Semua saling diam dengan pikiran masing-masing.
"Vano gak cinta sama gue. Dia terobsesi sama gue!"
Ivan menggeleng tidak menyetujui ucapan Aileen. "Nggak. Vano itu cinta sama lo. Dia cinta mati sama lo! Kalau dia cuman obsesi miliki lo, dia udah ninggalin lo setelah dia nikahin lo! Tapi buktinya sekarang Vano gak ninggalin lo 'kan? Dan sekarang sudah ada pengikat di antara kalian, yaitu anak."
Aileen diam sambil mengusap air matanya. "Gue pergi dulu!" Aileen mulai beranjak dari duduknya. Namun Ivan menahannya.
"Lo tadi janji gak akan ninggalin Vano!" Tahan Ivan.
Dengan pelan Aileen melepaskan cekalan Ivan di lengannya. "Gue nggak ninggalin Vano kok. Gue cuman mau nenangin diri dulu. Ini terlalu berat buat gue. Gue berusaha melawan ketakutan gue sama sisi lain Vano yang seperti monster. Bagaimanapun dia suamiku, ayah dari anak yang gue kandung. Gue hanya perlu waktu untuk sendiri. Gue harap lo gak kasih tau Vano dimana keberadaanku. Gue pamit!"
Kali ini Aileen benar-benar meninggalkan rumah Ivan tanpa menoleh lagi. Entah kemana Aileen akan pergi. Ivan hanya mengikutinya dengan pandangannya.
"Gue gak janji."
-TBC-
Mommy Aileen
Daddy Vano