
Hari ketiga setelah Salsa dan Jordan resmi menjadi suami istri, mereka masih tinggal di aprtemen Salsa. Namun, pagi ini Jordan tiba-tiba menyuruh Salsa untuk berkemas karena mereka akan pindah rumah.
Meskipun kesal karena pindahan dadakan, Salsa tetap menuruti kemauan suaminya. Dia mengemas barang-barang pentingnya, seperti setifikat, surat-surat berharga dan ijazah kelulusan. Untuk pakaian Salsa hanya mengemas sedikit, sebab sesekali dia akan menginap di apartemen ini saat merindukan apartemennya.
Salsa keluar dari kamar dengan membawa satu koper besar dan tas sling bag kesayangannya. Serta satu tas tangan berisi dua kotak sepatu dan isinya.
“Sudah?” Tanya Jordan sambil menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket. Lalu menghampiri Salsa untuk mengambil alih koper dari tangan Salsa.
Kini tangan Salsa hanya perlu membawa tas sling bagnya saja. Perempuan adalah ratu, membawa barang berat adalah tugas lelaki.
“Berangkat sekarang?” Tanya Salsa.
“Iya.. Soalnya nanti malam aku ada meeting sama kolega.” Jawab Jordan.
“Bukannya kamu masih cuti ya?” Seingat Salsa, dia dan Jordan sepakat untuk mengambil cuti satu minggu. Dan selama itu pula mereka terbebas dari pekerjaan.
“Maaf, sayang, tapi, ini mendadak. Hanya satu jam, tidak papa ‘kan?” Jordan pun merasa tidak enak. Masih dalam acara cuti, tapi, malah ada pekerjaan mendadak.
“Ya mau gimana lagi.” Ucap Salsa malas.
Saat mereka keluar dari apartemen, ternyata Kris sudah menunggu di depan apartemen.
“Biar saya yang bawa, Tuan.” Mengambil koper dan tas besar dari tangan Jordan.
“Hem.” Jordan hanya menjawab dengan deheman.
“Kamu udah lama Kris? Kok nggak masuk aja?” Tanya Salsa.
“Saya baru sampai, nona.” Jawab Kris sopan. Kris berjalan lebih dulu di depan Salsa dan Jordan yang mengikutinya dari belakang.
Dengan sigap Kris langsung memasukan koper dan tas besar ke dalam bagasi mobil.
Setelah semua masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengaman mereka. Kris mulai melajukan mobil menuju tempat tujuan.
“Pakai ini.” Jordan mengeluarkan kain hitam dari saku jaketnya, dan memberikannya pada Salsa.
“Untuk apa?” Tanya Salsa bingung.
“Penutup mata.”
“Iya, tapi buat apa?”
“Aku mau kasih kejutan buat kamu.”
“Halah. Aku juga udah pernah ke apartemen kamu kok. Pake kejutan segala.” Gerutu Salsa mengapa Jordan ribet. Memakai acara tutup mata segala.
“Tinggal pakai saja, kenapa protes sih?” Jordan gemas sendiri, “Sini aku pakaikan!”
Salsa menggeleng, “Nggak mau. Aku bisa pakai sendiri.” Tolaknya, lalu memakai kain hitam dari tangan Salsa untuk di gunakan sebagai penutup mata.
Jordan melihat sendiri proses Salsa menutup mata dengan kain hitam yang ia berikan.
“Coba aku tes, ini berapa?” Menunjukkan dua jari di depan mata Salsa.
“Sepuluh,” Jawab Salsa asal sebab dia tidak bisa melihat apapun. Pandangan matanya gelap akibat tertutup kain yang di berikan oleh Jordan.
“Oke.. lolos!”
“Sampai kapan aku kayak gini?” Protes Salsa setelah ia memakai kain hitam itu sekitar lima belas menitan.
“Sabar, sebentar lagi sampai.”
Jordan memang tidak membawa Salsa ke apartemennya. Sebab mereka akan tinggal di rumah baru.
10 menit kemudian mobil yang di tumpangi Salsa berhenti. Salsa tidak tahu mereka sedang berada di mana. Yang jelas Salsa ingin segera turun dan membuka kain penutup matanya.
“Udah sampai ‘kan? Boleh aku buka?” Salsa sudah menyentuh kain penutup matanya dan hampir melepasnya.
“Tunggu. Sabar sayang!” Tahan Jordan menyentuh tangan Salsa agar tidak membuka kain penutup matanya.
“Gerah banget tauk. Aku juga susah turun dari mobilnya kalau nggak lihat gini.” Protes Salsa lagi.
“Aku bantu, aku tuntun kamu turun dari mobil dengan aman. Kalau perlu aku gendong.” Ujar Jordan.
“Ya udah gendong.” Membuka lebar kedua tangannya.
“Bilang aja maunya di gendong.” Seloroh Jordan, “Tunggu aku turun dari mobil. Aku gendong dari arah sana.” Ucap Jordan. Dia pun bergegas turun dari mobil. Lalu berjalan memutar ke pintu mobil bagian lain. Sementara Salsa memutar tubuhnya, menghadap ke arah pintu yang akan di buka oleh Jordan.
Jordan membuka pintu dan melihat Salsa sudah bersiap ingin di gendong. Dia langsung menggendong Salsa ala koala dan Salsa merangkul lehernya erat.
Lalu Jordan menurunkan Salsa di tempat yang datar. Dan, Salsa berdiri dengan tenang disana.
“Jangan di buka dulu!” Kata Jordan sebelum Salsa sempat meraih kain hitam penutup matanya.
“Iya, iya.”
Jordan melihat ke arah Kris yang sedari tadi diam di sekitar dirinya dan Salsa. Lalu memberi arahan pada Kris untuk bersiap.
“Sudah. Kamu bisa membukannya.” Ucap Jordan.
“Apa an sih pakai penutup mata segala ribet banget cuman mau pulang aja.” Gerutu Salsa sambil membuka kain penutup matanya.
Dor dor dor.. Kris menghidupkan kembang api di siang bolong agar terlihat meriah.
“I-ini?” Ucap Salsa sambil berkaca-kaca melihat kejutan dari Jordan.
“Welcome home, sayang.” Ujar Jordan sambil merangkul bahu Salsa dan memandang rumah mereka.
“Jordan ini?” Salsa berkaca-kaca tidak bisa menahan haru melihat rumah di hadapannya itu, “Ini rumah kita?” Tanyanya sambil menoleh pada Jordan dan lelaki yang kini merangkulnya itu mengangguk mengiyakan.
Air mata luruh begitu saja dari pelupuk mata Salsa. “Ini rumah papa, aku sudah menjualnya. Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?”
Yap.. Rumah yang akan mereka tinggali untuk kedepannya adalah rumah Salsa dulu. Rumah yang pernah Salsa jual untuk melunasi hutang almarhum papanya.
“Aku mendapatkannya sesaat setelah kamu menjualnya. Rumah ini selalu terawat, ada orang kepercayaanku yang bertanggung jawab atas rumah ini setelah kamu menjualnya.” Jawab Jordan. “Ayo kita masuk!” Ajaknya kemudian.
Keduanya melangkah masuk kedalam rumah itu. Sampai di dalam rumah Salsa tidak bisa menahan untuk tidak menangis keras. Rumah masa kecilnya itu masih terlihat sama, semuanya terawat seperti yang Jordan katakan.
“Kamu senang, sayang?”
“Of course.” Jawab Salsa, “Ini seperti mimpi buat aku. Aku nggak bakalan lupa in hari ini seumur hidup aku, Jo. Makasih.” Salsa melepskan diri dari rangkulan Jordan dan melihat sekeliling rumahnya sambil menangis sesenggukan.
Sedang Jordan mengamatinya dari jauh. Lalu, saat Salsa terdiam di samping kolam renang sambil melihat kolam renang. Jordan pun menghampirinya.
“Papa pasti juga bahagia di atas sana.” Tutur Jordan saat dia sudah berada di sebelah Salsa.
Salsa menghapus habis semua sisa air mata di wajahnya. “Iya, papa pasti sangat bahagia. Apalagi punya mantu yang sayang banget sama anaknya.” Balas Salsa langsung berhambur memeluk Jordan.
“Makasih, mas. Aku bersyukur menjadi istri kamu.”
Jordan membalas pelukan Salsa dengan erat. “Sama-sama sayang.” Lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut.