
Suasana kota Yogyakarta cukup terik siang ini. Siapapun memerlukan sunscreen dengan SPF 50 jika tidak ingin mendapati kulitnya menghitam akibat panasnya sang surya.
Soto Lamongan xt Square memang salah satu makanan kesukaan Salsa saat dia menimba ilmu di kota pelajar.
“Seneng kamu?” Jordan melihat Salsa makan dengan lahap bahkan menghabiskan dua porsi. Rasanya melihat Salsa makan sudah membuatnya kenyang.
Salsa mengangguk dengan tetap menikmati soto nya.
“Makan yang banyak. Mau nambah lagi?” Tanya Jordan seraya mengelus kepala Salsa. Salsa membalas dengan gelengan kepala, “Udah nggak muat.” Ucapnya sambil mengelus perutnya.
Lalu Jordan terkekeh kecil. “Gimana mau muat, kamu udah makan dua porsi soto daging sapi, ditambah dua sate ati ampela, masih pakai sate telur puyuh.” Ujar Jordan heran dengan nafsu makan Salsa.
“Mumpung disini. Kan, nggak tiap hari.” Kata Salsa.
“Iya, tau. Aku cuman takut kamu sakit perut kalau kebanyakan makan.” Jordan mengkhawatirkan kesehatan Salsa.
“Aman, pak bos.” Balas Salsa.
Jordan sudah menepati janjinya menemani Salsa makan soto xt Square. Meskipun sebelum berangkat mereka sempat berdrama dulu.
Beberapa jam yang lalu, di Jakarta.
Salsa cemberut karena Jordan terlalu lama berada di kamar mandi. Padahal Salsa sudah tidak sabar pergi ke Jogja.
“Kamu lama banget sih, mandi apa tidur?” Semprot Salsa saat Jordan baru saja keluar dari kamar mandi.
Jordan sendiri nampak melangkah santai sambil bersenandung dan mengelap rambutnya yang basah.
“Nggak lama kok, sayang. Sama kayak biasanya.” Ucap Jordan seraya meletakan handuk kecilnya di tempat kotor. Lalu pergi ke walk in closet nya. Pun, Salsa mengikutinya sambil bersedekap didada.
Jordan mengambil celana santai dan kaos hitam polos.
“Kok pakai itu sih?” Komentar Salsa.
Jordan menoleh dan melihat Salsa bediri tepat di sebelahnya. “Lah, kamu ngikut kesini sayang?” Ternyata Jordan tidak sadar Salsa mengekorinya masuk ke dalam walk in closet.
“Aku tanya kenapa pakai itu? Jangan balik nanya!” Ujar Salsa kesal.
“Aku ‘kan biasa pakai ini sayang. Lagian cuman buat nyantai aja.” Balas Jordan santai seraya memakai satu persatu pakaiannya. Terakhir ia memakai kaos hitamnya.
“Santai gimana? Kita ‘kan mau ke Jogja.”
Jordan mengernyit, “Kamu serius pengen makan soto di Jogja?” Tanya Jordan. Dia kira Salsa hanya bercanda.
“Jadi, kamu anggep omongan aku tadi candaan doang?” Salsa melotot tidak percaya. Padahal dia benar-benar ingin makan soto itu.
“Ya. Aku pikir kamu cuman godain aku doang.” Jawab Jordan jujur.
“Ah, tau ah. Sebel.” Salsa menghentakkan kakinya dengan kesal dan pergi dari sana.
What? Salsa merajuk?
Jordan yang heran langsung menyusul Salsa. “Yang, sayang, beneran mau makan soto yang di Jogja?”
“Nggak.” Jawab Salsa ketus. Salsa sedang duduk dengan memunggungi Jordan di tempat tidur dan melipat tangannya di depan dada.
Salsa sedang merajuk.
Jordan yang semula berdiri itu langsung duduk di sebelah Salsa. “Sayang..” bujuknya sembari menyentuh lengan Salsa. Salsa menggerakan lengannya menjauh dari sentuhan tangan Jordan.
Astaga, Salsa benar-benar merajuk.!
“Sayang..” panggil Jordan lembut. Salsa enggan menyahutinya dan memilih mendiamkan Jordan. Dengan bibir yang hampir bisa di kucir, Salsa terlihat menggemaskan dimata Jordan. “Sayang, kamu ngambek?” Sudah jelas masih ditanya. Dasar Jordan tidak peka atau pura-pura tidak peka.
“Nggak.” Jawabnya singkat. Lalu, Salsa bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar meninggalkan Jordan yang memandangnya heran.
Setelah Salsa pergi Jordan menghubungi Kris.
“Selamat pagi, tuan muda. Hari ini weekend, tidak bisakah tuan muda membiarkan saya sekali saja menikmati waktu libur dengan tenang?” Cerocos Kris saat panggilan telepon terhubung.
“Maaf, mengecewakanmu, Kris. Tapi, ini sangat penting.” Balas Jordan.
“Apakah lebih penting dari waktu libur saya yang berharga, tuan muda?” Kris bertanya.
“Bahkan lebih penting dari hidupku. Kris.”
Terdengar helaan nafas panjang dari seberang. Sudah jelas Kris merasa kesal namun tidak berdaya. “Jadi, apa yang bisa saya bantu, tuan muda?” Kris bisa apa jika tuan muda Jordan sudah mengatakan masalah penting selain membantu dan membantu. Meskipun harus merelakan hari liburnya yang langka.
“Tolong pesankan tiket ke Jogja untukku dan Salsa.” Ujar Jordan menjeda, “Yang paling cepat dari sekarang.” Lanjutnya.
“Jogja?” Ulang Kris.
“Iya. Tiket untukku dan Salsa.” Balas Jordan.
“Untuk saya tidak?” Kris bertanya.
“Anda yakin saya tidak perlu ikut?” Tanya Kris memastikan.
“Tidak. Kau mau jadi obat nyamuk jika ikut?”Semprot Jordan, “Kalau tidak keberatan jadi obat nyamuk, kau boleh ikut. Pesan saja tiket satu lagi untukmu.”
“Tidak, terimakasih untuk tawarannya, tuan muda. Tapi, saya di rumah saja. Menikmati hari libur yang tenang.” Balas Kris cepat. Dia bisa menikmati waktu liburnya tanpa gangguan dari pekerjaan adalah hal yang langka. Mana mungkin Kris mau ikut Jordan dan Salsa pergi ke Jogja.
“Ya sudah. Jangan banyak tanya pesankan saja!”
“Baik, tuan muda. Tapi, kalau saya boleh tau, ada agenda apa ya tuan mendadak pergi ke Jogja bersama nona muda?” Kris pun penasaran.
“Beli soto!” Ketus Jordan lalu mematikan telepon nya sepihak tanpa menunggu balasan dari Kris.
Usai menelepon Kris, Jordan menyusul Salsa yang sedang memanggang roti tawar di dapur. Melihat Salsa sibuk dengan aktivitas nya, Jordan menghampiri nya dan memeluknya dari belakang.
“Sayang, aku minta maaf.” Ucap Jordan.
Salsa menyingkirkan tangan Jordan yang melingkar di perutnya lalu membalik tubuhnya. “Jangan peluk-peluk. Kita musuhan!” Lalu menyingkir dari hadapan Jordan sambil membawa roti tawar yang sudah di panggang di piring dan menuju meja makan.
Jordan terkekeh. Sungguh menggemaskan istrinya itu saat sedang merajuk.
“Yakin kita musuhan?” Goda Jordan menyusul Salsa dan duduk di sebelah Salsa.
Salsa sedang mengunyah satu suapan roti tawar yang baru saja masuk ke dalam mulutnya dan tidak menjawab godaan Jordan.
“Yakin musuhan?”
“Jangan ngomong sama aku!”
Klung.. Saat Jordan ingin menggoda Salsa lagi ponselnya berdering. Satu pesan masuk dari Kris berisi tiket pesawat ke Jogja atas nama Jordan dan Salsa. Melihat isi pesan Kris Jordan tersenyum simpul.
“Sayang, lihat ini!” Ujar Jordan menunjukkan layar ponselnya.
“Males.” Balas Salsa datar. Ia lebih memilih fokus memotong roti tawarnya menjadi satu suapan kecil dari pada mengikuti kemauan Jordan.
“Lihat dulu baru bilang males.” Bujuknya.
“Ogah.”
Jordan tersenyum lagi. Melihat Salsa saat ini mengingatkan pada kenangan mereka saat pacaran waktu sekolah. Dulu Salsa juga sering merajuk jika Jordan tidak menuruti keinginannya.
“Lihat dulu, kamu nggak bakalan nyesel.” Bujuk Jordan lagi.
“Kalau aku bilang ogah ya ogah. Maksa banget sih.” Ketus Salsa.
“Yakin ogah?”
“Hem.”
“Ya sudah kalau gitu.” Jordan menarik lagi ponselnya yang semula ia arahkan ke Salsa. Lalu menelepon Kris dan mengaktifkan mode pengeras suara, agar Salsa bisa mendengar per akan Jordan dan Kris.
“Halo, tuan muda. Ada yang bisa saya bantu lagi?” Tanya Kris dengan nada terpaksa.
Salsa mulai memasang telinganya untuk menguping. Rupanya dia penasaran mengapa Jordan tiba-tiba menelepon Kris.
“Batalkan saja tiketnya Kris! Nona muda mu ogah pergi ke Jogja.” Kata Jordan sengaja mengeraskan suaranya.
“Anda yakin, tuan?”
“Hem. Mau gimana lagi Kris yang mau pergi ngambek. Nggak jadi pergi katanya.” Ucap Jordan berakting sambil melirik ke arah Salsa.
“Ba-.” Baru saja Kris akan menjawab. Suara Salsa menyahut, “Jangan dibatalkan! Jangan di batalkan, Kris!” Seru Salsa.
Jordan menoleh dan menggoda Salsa, “Katanya ogah.” Sambil tersenyum gemas.
“Jadi, Kris. Aku jadi pergi.” Ujar Salsa. “Sayang ayo!” Salsa langsung bangkit dan bergelanyut manja di lengan Jordan.
“Jadi, dibatalkan atau tidak, tuan?”
“Tidak.” Salsa merampas ponsel Jordan dan langsung mematikan panggilan teleponnya sepihak.
“Jadi, mau pergi?” Tanya Jordan.
Salsa mengangguk. “Ayokk!” Rengeknya manja.
Lalu, mereka bersiap dan pergi ke Jogja.
***
Umbulharjo, Yogyakarta.
Setelah makan soto Lamongan. Salsa dan Jordan pergi ke Malioboro untuk berbelanja batik untuk oleh-oleh. Mereka tidak mungkin pulang ke Jakarta dengan tangan kosong.