My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Oleh-oleh dari Jogja



Tangan kanan dan kiri Jordan sudah penuh menenteng barang belanjaan Salsa. Dari mulai plastik warna-warni sampai paper bag. Salsa kalap berbelanja batik di Malioboro. Jarang-jarang ia pergi ke Jogja seperti ini, sekali nya ada kesempatan langsung kalap saat berbelanja.


"Mau jajan lumpia, juga?" Tanya Jordan menyadari mata Salsa yang melirik penjual lumpia.


"Boleh?"


Jordan menganggukkan kepala, "Boleh, kalau perut kamu masih muat." Jawabnya mengingat Salsa sudah banyak makan tadi saat di warung soto.


"Muat banget, yang tadi udah kecerna semua." Ucap Salsa semangat berlari menuju penjual lumpia.


Salsa membeli lima buah lumpia dan langsung memakannya tanpa memberikan pada Jordan. Karena dia tau Jordan tidak begitu suka lumpia. Lagi pula Jordan masih kenyang.


"Kita pulang malam ini atau besok?" Tanya Salsa di sela-sela makan lumpia. Dengan tangan penuh minyak kanan kiri.


"Nanti malam." Jawab Jordan sambil memberikan tisu pada Salsa. Salsa menerima tisu nya dan mengelap kedua tangannya yang berlumuran minyak. "Padahal aku masih pengen di sini." Gumam Salsa terdengar oleh Jordan.


"Kapan-kapan ke sini lagi. Besok sore kita harus kondangan ke nikahan rekan bisnis aku. Kamu lupa?" Jordan mengingatkan.


Salsa lalu cemberut, "Aku lupa." Ucapnya, "Lagian kenapa sih rekan bisnis kamu nikah minggu-minggu, kenapa nggak senin atau selasa aja. Minggu harusnya waktu santai bukan malah kondangan." Cerocos Salsa sedikit kesal waktu liburan dadakan nya terganggu karena kondangan.


"Nikahnya udah satu bulan yang lalu. Besok resepsi aja." Balas Jordan tidak peka.


"Ah, terserah." Salsa bangkit dan membuang kotak sampah bekas wadah lumpia lalu berjalan dengan kesal.


Jordan tersenyum kecil lalu menyusul Salsa berjalan disampingnya.


***


Hari Senin semangat bagi karyawan swasta seperti Salsa dan Tania. Pukul 08:00 tepat mereka sudah berada di ruang kerja dan siap beraktivitas sebagai dokter.


"Kamu ke Jogja?" Tania bertanya sedikit menyalak saking enggak percayanya. Dan Salsa hanya menanggapinya dengan anggukan kecil. "Tuh, oleh-oleh buat kamu!" Menunjuk paper bag yang sudah Salsa letakkan di meja kerja Tania.


Tania melirik paper bag dimeja kerjanya. Dia memang sudah men-notice paper bag apa yang ada dimeja kerjanya sejak masuk ke ruangan itu. Tapi, ia sama sekali tidak menyangka paper bag itu berisi oleh-oleh dari Salsa yang habis liburan singkat di Jogja.


"Niat banget ke Jogja sehari doang." Tania menyambar oleh-olehnya dan memeriksa isi nya. Tiga paper bag besar berisi batik dan bakpia khas Jogja. "Aku sarimbitan sama siapa?" Tania mengernyit saat melihat oleh-olehnya berupa batik putri dan kakung yang sarimbitan.


"Itu buat bapak sama ibu, bukan kamu." Salsa menyela. "Punya kamu yang tas satunya."


"Oh, pantesan." Tania menyingkirkan paperbag yang ternyata oleh-oleh untuk orangtuanya lalu melihat paper bag yang untuknya. "Nah, ini baru bener." Senang mendapatkan oleh-oleh nya.


Gaun batik tulis yang dibuat oleh pengrajin lokal dengan penuh cinta. Oleh-oleh untuk Tania dari Salsa.


"Makasih, bapak ibu pasti seneng nih." Tania menyimpan oleh-olehnya ke rak di sebelah gantungan tas..


"Sama-sama. Aku bawa yang udah dibuka, itu buat kamu di rumah." Ujar Salsa saat melihat Tania akan membuka bakpia nya.


"Oke deh." Meletakkan kembali bakpia yang belum sempat ia buka ketempat nya.


***


"Iya, ma. Nanti Nana kabarin mama lagi." Ucap Nana bertelepon dengan seseorang di ruangannya.


"..."


"Iya, ma. Nana tutup dulu ya, ma."


"..."


"Oke, ma."


Selesai bertelepon Nana meletakkan ponselnya kedalam saku jas putih nya. Lalu kembali beralih kearah Salsa dan Tania yang saat itu berada di ruangan Nana.


"Maaf, tadi mama saya telepon." Ujar Nana.


"Tidak papa, dok." Balas Salsa dan Tania.


"Kita lanjutkan obrolan yang tadi, saya sudah terima surat pengunduran diri kalian. Apa tidak bisa dipertimbangkan kembali?" Tanya Nana.


Sebelumnya Salsa dan Tania kompak mengajukan pengunduran diri mereka.


"Maaf, dok. Keputusan saya sudah matang." Jawab Tania lebih dulu.


Lalu, Nana beralih menatap Salsa. "Kalau dokter Salsa bagaimana?"


Tumber, Nana bersikap formal pada Salsa?


"Saya juga sudah memutuskan, dok. Untuk melanjutkan proses pengunduran diri saya." Jawab Salsa tegas.


Nana manggut-manggut, "Yah, kalau kalian sudah memutuskan saya bisa apa." Komentar nya dengan nada kecewa.


Salsa dan Tania saling pandang. Keduanya sebenarnya sama-sama mendesak. Tapi, Salsa tahu Tania lebih dulu mendapatkan pekerjaan baru maka dia mengalah.


"Tania dulu saja, dok. Saya bisa menyusul setelah ada dokter yang menggantikan saya." Jawab Salsa.


Tania langsung melirik Salsa dan di jawab dengan anggukan oleh Salsa.


"Oke, saya acc sekarang." Nana langsung menandatangani surat pengunduran diri Tania agar bisa diproses ke tahap selanjutnya.


"Terimakasih, dok." Ucap Tania bersungguh-sungguh.


Salsa dan Tania keluar dari ruangan Nana langsung kembali ke ruangan mereka.


"Kamu yakin aku resign dulu?" Tania masih ragu harus meninggalkan Salsa di mana mereka sama-sama berjuang saat masuk ke rumah sakit ini dari nol dengan kemampuan mereka tanpa bantuan orang dalam ataupun sogokan.


"Santai, lagian aku juga belum dapat kerjaan baru." Ujar Salsa menepuk bahu Tania.


Tania memang sudah mendapatkan pekerjaan baru di Edward Hospital, rumah sakit di bawah naungan JJ corporation. Perusahaan besar milik mommy Ayu yang juga ibu mertua Salsa. Saat Tania mempunyai niat resign dari tempatnya bekerja saat ini, dia langsung gerak cepat apply lamaran di Edward Hospital dan ternyata di terima setelah satu kali interview.


***


Pulang dari bekerja, Salsa pergi ke rumah Jessica untuk mengantarkan oleh-oleh.


"Nggak mampir dulu, ngopi dulu kek apa kek. Masak langsung pergi gitu aja?" Ucap Jessica.


"Lain kali aja ya, kapan-kapan aku nginep." Jawab Salsa.


"Yah.. Bdw, makasih oleh-olehnya."


"Sama-sama. Aku pulang!" Setelah cipika-cipiki Salsa langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah mewah Jessica.


Salsa memarkir mobilnya dengan rapi garasi. Dia melihat mobil suaminya sudah berada di garasi, berarti Jordan sudah sampai lebih dulu.


Salsa pun langsung menuju lantai dua di mana kamarnya berada. "Sayang..." Panggil Salsa sambil mendorong pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya. Jordan yang sedang santai di sofa dengan memangku laptop itu menoleh. "Baru pulang?" Tanya Jordan. Salsa mengangguk menghampiri Jordan dan langsung mencium pipi Jordan.


"Mandi dulu sana. Terus kita makan."


"Oke." Salsa langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Usai memberikan diri dan berganti pakaian dengan daster rumahan, Salsa menuju ruang makan. Jordan sudah lebih dulu berada di sana.


"Kamu nggak lupa mampir ke rumah mommy, kan?" Tanya Salsa.


Pagi tadi sebelum Jordan berangkat bekerja, Salsa memberi tugas pada Jordan untuk mampir ke rumah mommy Ayu memberikan oleh-oleh dari Jogja.


"Nggak, kok. Mommy titip salam buat kamu."


"Ih,jadi kangen sama mommy." Sambil memberikan piring Jordan yang sudah berisi nasi dan lauk pauk.


"Ini masakan mbak yang baru kerja hari iki, kan?" Tanya Jordan.


Salsa menganggukkan kepala, "Iya, kenapa?" liriknya pada sang suami yang sedang mengunyah masakan nya. "Enak nggak?"


"Lumayan." Jawab Jordan.


Salsa pun penasaran dengan rasa dari masakan asisten rumah tangga nya yang baru. "Enak kok." Komentar nya.


"Masih enak masakan kamu." Kata Jordan menggombal.


"Dih, walaupun masakan aku gosong?"


"Tetep enak."


"Dasar bucin." Kekeh Salsa.


"Mbak nya datang pagi terus sore pulang?" Tanya Jordan memastikan jadwal kerja asisten rumah tangga nya yang baru.


"Iya, Senin sampai sabtu aja. Minggu libur." Jawab Salsa. "Kayaknya mbak nya baik, kok."


Jordan yang sudah selesai dengan makan malam nya itu menaikkan sebelah alis nya sambil menatap Salsa. "Kayaknya?"


"Kan, aku juga belum tahu, sayang. Aku dapat nya dari yayasan." Jawab Salsa yang mempekerjakan asisten dari bantuan yayasan.


"Oh, kok nggak minta bantuan mommy aja?"


"Aku nggak enak ngerepotin mommy, lagian masalah kecil masih bisa diurus sendiri." Salsa memang masing sering merasa sungkan untuk meminta bantuan pada Ayu. Lebih tepatnya dia tidak ingin di cap sebagai menantu yang manja. Berbeda dengan Jessica yang dari awal menikah sudah membawa asisten rumah tangga dari rumah Ayu.


"Asal kamu nggak kerepotan terserah kamu." Kata Jordan sambil mengelus puncak kepala Salsa.