My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Jessi dan Keluarga menginap



Jordan dan Yoga langsung mengurung diri di ruang kerja Jordan setelah makan malam usai. Sementara para perempuan bersantai di ruang keluarga.


“Mami, Kia mengantuk.” Cicit bocah kecil yang tengah duduk manis di sofa single.


Jessi merespon putri kecilnya dengan tatapan hangat, “Sini deketan mami. Mami puk puk.” Lambainya pada Kia. Kebetulan mereka duduk di tempat yang berlawanan. Jessi duduk di sofa panjang yang menghadap Kia.


Kia turun dari sofa dan melangkah menuju Jessi yang langsung di sambut Jessi dengan mengangkat tubuh Kia dan memangku nya


“Kekenyangan jadi ngantuk ya?” Tanya Jessi lembut sambil membelai rambut Kia.


Gadis itu mengangguk lugu. “Kapan aunty Sasa selesai?” Ucap Kia menanyakan Salsa yang tengah menerima telepon dari rekan kerjanya.


“Em, mungkin sebentar lagi.” Jawab Jessi.


“Boleh tidak Kia tidur sama aunty Sasa, mami?” Mendongak meminta izin pada Jessi.


“Boleh.. Tapi, tanya ke aunty Sasa dulu ya.” Kia pun menganggukkan kepalanya lagi. Sembari mengobrol— Jessi mengusap-usap lembut kepala Kia seakan menina Bobo kan gadis kecil itu.


“Mau tidur?” Tanya Salsa yang baru saja bergabung dengan keduanya. Dia langsung kembali ke ruang keluarga setelah menyelesaikan panggilan telepon dari rekan kerjanya.


Kia sudah setengah tidur. Kadang membuka mata kadang menutup mata.


“Aunty, Kia boleh tidur sama aunty ‘kan?” Cicitnya langsung setelah mendengar suara Salsa. Dengan setengah kesadaran gadis itu berucap.


Salsa memandang Jessi yang juga sedang memandang dirinya meminta pendapat pada Jessi dan Jessi pun mengangguk.


“Boleh dong, sayang.” Lalu berjongkok tepat di hadapan Jessi yang memangku Kia.


“Asyik.” Kia membuka lebar tangannya berharap Salsa mengambil alih dirinya dari pangkuan sang mami.


Dengan senang hati Salsa langsung merengkuh tubuh mungil Kia ke dalam dekapannya dan berdiri. Kia yang nyaman di gendongan Salsa merebahkan kepalanya pada bahu Salsa dengan malas, dan bersiap untuk tidur.


“Dia lagi manja sama lo.” Ujar Jessi memandang putri kecilnya di gendongan Salsa.


“Biarin, jarang-jarang juga dia sama aku. Makanya tadi pas Jordan ngajak nginep di rumah kamu- aku langsung setuju.” Balas Salsa sambil menimang-nimang Kia.


“Mereka lagi ngobrolin apa sih, penasaran.” Pandangan mata Jessi mengarah pada pintu ruang kerja Jordan yang tertutup rapat.


Salsa merespon ucapan Jessi dengan mengedikan kedua bahunya. Ia tidak terlalu penasaran dengan pekerjaan Jordan, bahkan sepertinya Salsa tidak pernah bertanya mengenai pekerjaan Jordan. Hanya jika Jordan membahas masalah pekerjaan di hadapan Salsa maka dia akan menanggapi suaminya sesekali.


“Setahu gue nggak ada masalah apa-apa di perusahaan,” gumam Jessi. Sebab Jessi juga salah satu pemegang saham Pratama Group— dia selalu tahu perkembangan perusahaan yang kini di pimpin oleh Jordan. Selain pemegang saham, tentunya Jessi juga memiliki orang penting di perusahaan itu yang bisa memberinya informasi setiap saat mengenai perusahaan.


“Mungkin masalah di perusahaan Jordan sendiri kali.” Sahut Salsa menebak.


Selain bertanggung jawab pada kantor pusat milik Daddy Raka—Jordan juga bertanggung jawab pada perusahaan nya sendiri yang ia rintis sejak SMA.


“Oh, bisa jadi sih. Kalau itu gue nggak tau.”


Kia sudah benar-benar terbang ke alam mimpi di gendongan Salsa. Suara nafasnya yang beraturan tenang menandakan gadis kecil itu telah terlelap.


“Kita ngobrol di kamar aku aja yuk!” Ajak Salsa, “Biar aku bisa tidurkan Kia di ranjang. Dia enggak nyaman kalau tidur kaya gini.”


“Ayo.. Lagian mereka sepertinya kerja sampai malam.”


***


Pukul 00:00 WIB, Jordan baru masuk ke dalam kamarnya.


“Kamu belum tidur sayang?” Jordan heran melihat Salsa yang masih terjaga sambil bermain ponsel dengan kaki selonjoran. Jordan mengira Salsa sudah tidur.


“Aku nunggu kamu.” Ucap Salsa sambil menaruh ponselnya di atas nakas.


“Maaf, banyak yang kita obrolin jadinya lama.” Menghampiri Salsa meraih kepalanya dan mengecup sekilas bibir Salsa. Lalu pandangan mata Jordan melirik bocah mungil yang tidur telentang di sebelah Salsa, “Bocil ikut tidur kita?” Tunjuk Jordan pada keponakannya.


Salsa mengangguk, “Iya. Kamu enggak keberatan ‘kan?”


“Keberatan sih enggak cuman jatah aku jadinya libur dong.” Ceplos Jordan yang langsung mendapat cubitan gemas di pinggannya.


“Jatah terus yang di pikirin.”


“Aduh, biar cepet jadi, sayang. Pengen punya bocil sendiri.” Ujar Jordan yang sepertinya tidak ingin menunda untuk mendapat momongan.


“Sabar. Nanti juga punya sendiri.” Kelakar Salsa.


“Hem.. Kita bulan madu aja yuk!” Usul Jordan.


“Jangan ngawur deh. Kita baru aja selesai cuti, masa ambil cuti lagi. Bisa-bisa nggak dapet gaji aku.” Gerutu Salsa.


“Iya juga ya.. Ya udah deh, Sabtu minggu aja kita bulan madunya ke hotel stay cation aja, gimana?” Tentu saja Jordan tidak akan kehabisan akal.


Salsa menghela nafas panjang, “Terserah kamu aja.” Jawabnya pasrah. “Gosok gigi sana. Aku udah ngantuk.” Kata Salsa langsung mengalihkan pembicaraan agar Jordan tidak hanya membahas bulan madu terus.


“Oke.” Kata nya sambil berlalu menuju kamar mandi.


Pun, Salsa berbaring dan menarik selimutnya miring menghadap Kia. Melihat Kia yang tertidur polos seperti ini membuat hati Salsa menghangat. Ia bisa merasakan sedikit rasanya menjadi seorang ibu. Apa nanti saat dia sudah memiliki anak sendiri akan terasa seperti ini atau malah lebih?


Jordan kembali dari kamar mandi dan naik ke atas tempat tidur. Namun, bukan untuk tidur. Dia mengangkat tubuh Kia yang berada di tengah tempat tidur untuk memindahkannya di pinggir dan meletakan guling di sebelah Kia sebagai pelindung.


“Kenapa di pindah?” Tanya Salsa melihat suaminya sibuk mengatur tubuh Kia agar mendapatkan posisi ternyaman.


“Nggak papa, kalau enggak dapat jatah aku mau peluk kamu semalam.” Jawab Jordan sambil menyelimuti Kia. Lalu dia turun dari tempat tidur dan berjalan memutari ranjang. “Geser, kamu di tengah!” Titahnya pada sang istri.


Enggan berdebat Salsa langsung menggeser tubuhnya untuk berada di tengah. Pun, Jordan naik ke atas ranjang dan tidur di sebelah Salsa.


Salsa cuek dan mulai tidur dengan memunggungi Jordan. Sebab dia ingin menjaga Kiara. Salsa takut Kia jatuh dari atas ranjang karena bocah itu berada di pinggir. Padahal Jordan sudah menempatkan Kia dengan aman.


“Sayang…” Ujar Salsa saat merasakan sesuatu menelusuk ke dalam piyama nya. Jari-jemari Jordan perlahan bergerilya di dalam piyama Salsa.


“Cuman gini aja boleh ‘kan, sayang?” Tanya Jordan asyik dengan aktivitas jari jemarinya. Memilin sesuatu seperti biji lunak dengan gunung besar di dalam piyama Salsa.


“Kamu nakal, deh.” Salsa menangkap tangan Jordan hendak menyingkirkan tangan suaminya dari dalam blouse piyama nya. Namun, gagal!


“Aku nggak akan macam-macam. Cuman ini aja.” Ucap Jordan terdengar meyakinkan. Namun, tidak dengan tindakannya. Buktinya bibir Jordan bermain di sekitar area leher Salsa setelah berhasil menyibak rambut Salsa. Entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya.