
Happy Reading
.
.
.
Seperti biasa di pagi hari. Aileen bangun lalu membereskan kamar yang ditempatinya bersama Dian. Rumah ini tidak besar. Hanya rumah sederhana yang hanya terdapat dua kamar. Kamar mandi pun hanya ada 1 dan itu pun berada di luar. Sungguh jauh berbeda dengan rumah yang Aileen tinggali dulu.
Tapi itu tak apa bagi Aileen. Ia pernah tinggal di tempat yang lebih sempit dari ini. Ingat saat Aileen tinggal di kos? Ya, kos lebih sempit dari rumah yang ia tempati saat ini 'kan?
Aileen nyaman tinggal di sini. Pedesaan yang begitu indah. Terdapat perkebunan teh, air terjun pun ada. Udara yang segar pula sebagai yang utama tentunya. Terlebih ia sedang hamil saat ini. Sangat baik untuk psikisnya.
Ya, sudah lebih dari tiga bulan Aileen tinggal di sini. Bukannya ia tak mau kembali. Ia akan kembali tapi entah itu kapan. Mungkin sampai Vano datang menjemputnya?
Sebenarnya Aileen sudah bisa menerima Vano seutuhnya. Bagaimanapun Vano di masa lalu, Vano tetap suaminya. Suami yang sempurna bagi Aileen. Aileen percaya semua orang akan berubah entah itu berubah ke arah yang lebih baik atau malah sebaiknya. Tapi Aileen percaya jika Vano berada di opsi pertama tadi.
Soal keluarganya yang di Jakarta, Aileen sudah mengabarinya. Itu sejak tiga bulan yang lalu. Orang tuanya begitu lega saat Aileen menghubunginya saat itu. Tak hanya orang tuanya saja yang mengetahui keberadaannya saat ini. Tapi Ivan juga.
Saat Aileen dan Dian ke Bandung, diam-diam Ivan mengikuti mereka. Sebenarnya Ivan tak sengaja menemukan Aileen di jalan saat ia pulang setelah bertemu teman-temannya. Namun saat ingin menghampiri Aileen, ia melihat seseorang bercengkerama dengan Aileen. Ivan mengurungkan niatnya dan berganti mengikuti Aileen bersama perempuan itu hingga ke Bandung.
Ivan hanya merahasiakan keberadaan Aileen. Sama seperti keluarga Aileen. Dan soal orang tua Vano, entah Reva sudah mengetahuinya atau tidak. Tapi yang jelas Rendra sudah tahu. Bahkan menghampiri Aileen dan menjelaskan semua tentang Vano. Entah dari mana mertuanya itu mengetahuinya. Tapi mengingat kekuasaan Rendra, Aileen jadi paham sekarang.
"Aileen!" Sebuah panggilan lembut disusul ketukan pintu kamar membuat Aileen segera menyimpan selimut yang telah selesai dilipatnya.
"Iya, Bu!" Sahut Aileen sebelum membuka pintu kamar.
Didapatinya bu Rasti -Ibu Dian- yang duduk di atas kursi rodanya.
"Itu di meja, Dian udah siapin susu buat kamu sebelum berangkat kerja tadi. Kamu minum gih ntar basi," ujar Rasti dengan senyum lembutnya.
Ini juga lah salah satu alasan yang membuat Aileen nyaman berada di sini. Dian, Dani, dan bu Rasti sangat baik padanya. Bahkan Dian selalu membuatkan susu untuk Aileen. Aileen sudah meminta Dian agar tidak perlu repot tapi Dian seakan tidak mendengar.
"Harusnya Dian tidak perlu membuatkan Aileen susu. Aileen bisa buat nanti. Kasian Dian," keluh Aileen lalu memegang gagang kursi roda bu Rasti.
"Gak usah Ai. Ibu bisa dorong kok. Kamu tidak boleh kelelahan. Dan apa yang dilakukan Dian itu sudah benar. Justru kamu yang kasian harus beraktivitas berat di usia kandungan seperti itu."
Sebuah senyuman timbul di bibir Aileen.
"Ya sudah, Aileen mau minum susu dulu. Oh iya, Dani kemana Bu?" Tanya Aileen sebelum meminum susunya.
"Belum bangun. Mungkin sebentar lagi," jawab Rasti.
"Kamu keluar gih jalan-jalan. Itu baik buat kandungan kamu," lanjut Rasti.
"Nanti saja ya Bu," tolak Aileen sambil meletakkan gelas yang sudah kosong itu.
"Sekarang saja Aileen. Nanti matahari makin terik."
"Biar Ibu saja. Ibu bisa menyapu kok. Nanti juga kalau Dani bangun akan bantu juga."
Akhirnya mau tak mau Aileen mengangguk lalu keluar rumah. Memang ia biasa berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya di pagi hari. Itu berguna untuk proses lahiran nanti. Kata bidan tempatnya memeriksa tentunya.
Tapi Aileen tidak enak juga jika di setiap pagi ia meninggalkan rumah. Dan ketika ia kembali, rumah sudah bersih. Ia diperlakukan bagaikan ratu di rumah itu. Dan sungguh Aileen tak menyukai hal itu.
xxx---
Sudah tiga hari ini Vano berada di Bandung. Seharusnya mereka pulang hari ini. Tapi Vano dengan sepihak memutuskan untuk menunda kepulangan mereka.
Kurang menjengkelkan apa lagi seorang Vano? Dulu Ben sudah mengatakan seminggu tapi Vano maunya sehari. Dan sekarang? Hal itu membuat Ben dan Gino rasanya mencekik Vano jika saja mereka tak takut dicekik balik.
Tapi di satu sisi mereka senang bisa lebih lama refreshing dari hiruk piruk kota Jakarta. Namun mereka juga masih bingung dengan alasan Vano yang tiba-tiba ingin berada lebih lama di Bandung. Tapi persetan dengan alasan Vano, yang penting mereka bisa bersenang-senang di sini.
Sementara Vano, saat ini pria itu tengah berjalan-jalan di perkebunan teh. Dengan memakai hoodie ia memasukkan tangannya di saku celananya. Ia meninggalkan Ben dan Gino yang masih tertidur di rumah salah satu keluarga Gino, tempat mereka menginap memang. Rumah itu kosong karena keluarga Gino memang pindah tapi tidak menjual rumah itu.
Vano menarik sedikit lengan hoodienya untuk melihat jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan jam 6 pagi.
Setelahnya ia kembali memasukkan tangannya ke saku celana lalu melihat para pekerja yang sedang memetik teh. Namun pandangannya tertuju pada wanita yang sedang berjalan sambil mengusap perutnya yang membuncit.
Tak mungkin Vano salah lihat. Itu Aileen, istrinya. Akhirnya penantian Vano berakhir juga. Ia sudah menemukan apa yang dia cari. Segera saja Vano menghampiri wanita itu. Semakin dekat, semakin besar pula rasa yang membuncah di hati Vano. Pandangannya bahkan sudah buram saat ini.
Punggung wanita yang begitu di kenalinya terus menjauh seiring dengan langkahnya. Tak tahan, Vano berlari lalu mencekal tangan kiri wanita itu. Vano masih berada di belakang tubuh istrinya.
Aileen sama sekali tak bergerak. Ia mematung di tempatnya berdiri saat ini. Sebuah cekalan di tangannya. Dan jangan lupakan aroma mints yang sangat Aileen kenali. Aroma tubuh suaminya, Elvano.
Mata Aileen sudah berkaca-kaca saat ini. Kerinduannya akan segera terpenuhi. Ayah dari anak di kandungannya berada di belakangnya saat ini. Tapi sialnya Aileen tak tau harus melakukan apa saat ini. Aileen bingung.
Sedangkan Vano yang melihat Aileen tetap bergeming, akhirnya memutuskan untuk membalikkan badan Aileen pelan dengan memegang kedua bahu istrinya itu.
Mereka bertatapan dalam diam dengan mata yang sama-sama memburam karena air mata yang mendesak keluar. Rindu yang menggebu dari diri keduanya seakan memberontak.
"Aileen..... ini benar kamu? Ohhh ya Tuhan! Terima kasih!" Ucap Vano yang langsung memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
Sungguh saat ini Vano ingin memeluk istrinya dengan erat saking rindunya. Tapi ia masih mengingat bahwa ada anak mereka di dalam perut Aileen yang akan terhimpit jika Vano melakukan itu.
Sebuah air mata yang berhasil keluar dari pelupuk mata Vano. Namun ia segera menghapusnya. "I miss you so bad!"
"Aawwhhh!"
-TBC-
Selamat hari raya Idul Adha bagi yang merayakan😊