
Happy reading
.
.
.
Sore ini, setelah Vano pulang dari kampus. Mereka (Aileen, Vano, dan baby Al) pergi berbelanja di super market. Perlengkapan baby Al mulai menipis. Bahkan ada yang sudah habis.
Sebenarnya Aileen ingin pergi tadi pagi. Tapi Vano melarangnya karena pria itu tidak mengizinkan istri dan anaknya pergi berdua saja. Pria itu ingin turut bersama mereka.
Aliand sudah berusia hampir setahun saat ini. Bayi menggemaskan itu sudah bisa merespon kecil saat diajak berbicara. Selain itu sudah bisa berjalan meski harus berpegangang di dinding atau apapun yang bisa membantunya.
"Aku nggak suka aroma yang ini," ujar Aileen saat Vano menyodorkan minyak telon.
"Yang ini?" Tanya Vano menunjukkan minyak telon dengan aroma yang berbeda. Sebenarnya bisa saja Aileen memilih jika merek minyak telon yang selalu ia pakai tidak berada di rak yang tinggi.
"Nah yang itu."
Vano kembali mendorong keranjang belanja yang terdapat Aliand yang duduk di situ. Kalian jangan pikir bahwa Aliand akan fuduk tenang di doromg sang ayah. Karena nyatanya bayi itu selalu saja bergerak ke sana kemari. Menggapai apa yang bisa digapai tangan kecilnya itu. Jangan lupakan kakinya yang sibuk menendang-nendang.
"Emmmmammmm! Mmmmmaaamm!" Seru Aliand menunjuk-nunjuk sesuatu di rak. Saking senangnya, bayi itu makin keras menendang-nendangkan kakinya.
Aileen mengikuti arah yang ditunjuk anaknya dengan pandangannya. Setelah menemukan apa yang ditunjuk Aliand, wanita berusia 20 tahun itu tersenyum. Ia melangkah dan mengambil sereal yang ditunjuk Aliand tadi.
"Ini?" Tanya Aileen memberikan kotak sereal itu pada Aliand.
"Mmmm." Aliand hanya bergumam tidak jelas saat ditanya. Aileen sendiri pun tidak mengerti apa yang digumamkan anak tampannya itu.
"Pinter banget sih anak Mommy. Udah tau sereal yang selalu sarapannya. Sini Mom cium dulu!" Aileen langsung menghujani Aliand dengan kecupan yang langsung membuat Aliand menangis. Aliand memang tipe anak yang tidak suka dihujani kecupan ataupun dipeluk terus. Lebih tepatnya tidak suka diganggu. Jika saja Aileen lebih lembut dan hanya mengecup sekali pasti Aliand tidak akan menangis.
"Ssttt. Al diam ya. Jangan nangis. Cup cup cup." Vano segera mengambil anaknya dan menggendongnya.
"Aku bawa Al ke bagian mainan sebentar ya," pamit Vano yang langsung meninggalkan Aileen setelah diberi anggukan.
Aileen kembali memilih-milih barang yang dirasa sudah habis atau sudah menipis di rumahnya. Kini Aileen berada di bagian makanan ringan. Ia mengambil banyak camilan untuknya dan juga Aliand. Yang sehat untuk bayi tentu saja. Setelahnya, ia ke bagian atk. Ia mengambil krayon, beberapa pensil warna dan juga buku gambar.
Sambil memilah dan memilih barang, Aileen tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Hingga baramg yang dipegang orang itu terjatuh di atas lantai.
"Ahhh! Maaf!" Aileen membantu memungut barang yang merupakan buku dan beberapa peralatan tulis lainnya.
"Sekali lagi maaf ya," sesal Aileen.
Lelaki itu tersenyum. "Iya gak papa santai aja lagi!"
"Ummm gitu ya. Hehe." Aileen tak tau harus mengatakan apa lagi. Dirinya canggung bersama cowok ganteng di depannya ini. Masih gantengan Vano tapi. Suami harus dinomor satukan dong.
"Gue Fero." Cowok itu mengulurkan tangannya untuk salam perkenalan dengan Aileen. Sambil tersenyum Aileen menyambut uluran tangan itu.
"Lo beli krayon? Buat adik lo ya?" Tutur Fero yang memandang keranjang belanja Aileen.
Aileen mengikuti pandangan Fero. "Ah iya tapi bukan buat adik. Tapi buat--"
"Sayang. Sudah selesai?" Tanya Vano yang tiba-tiba muncul di belakang Fero.
Vano terus melangkah mendekati istrinya yang sedang bersama pria. Setelah sampai, Vano langsung menaruh kembali Aliand beserta mainannya di keranjang belanja, tempat duduknya tadi.
"Sudah. Ada yang mau kamu beli lagi?" Tanya balik Aileen yang mendapat gelengan dari Vano.
"Oh iya kenalin. Ini Fero gak sengaja aku tabrak tadi. Hehe," tukas Aileen.
Mendengar nama yang disebutkan istrinya, Vano membalikkan badannya dan menatap sang pemilik nama.
Fero nampak tersenyum lebar lalu memluk Vano secara pria. "Lama tidak bertemu, Elvano!"
"Cuihhh sok akrab!" Desis Vano yang hanya di dengar Fero
Aileen menaikkan sebelah alisnya. "Jadi kalian saling kenal?"
"Dia kakak kelas aku saat SMP. Sudah selesai 'kan? Yuk pulang!" Ucap Vano mengambil alih keranjang belanja untuk segera ke kasir.
"Duluan, Kak!" Pamit Aileen segera mengikuti suaminya yang sudah duluan.
xxx---
Setelah pulang dari supermartket Vano banyak terdiam. Dia seperti merenungkan sesuatu. Entah apa. Aileen bahkan heran dengan tingkah suaminya itu. Setelah shalat ashar hanya berdiam diri.
Aileen meletakkan cangkir yang berisi teh hangat untuk suaminya. Cuaca petang ini memang lembab. Barusan hujan gerimis.
Aileen duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Vano. Tangannya terulur mengelus pipi pria tanpan itu. "Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa. Hanya kepikiran tentang pekerjaan." Vano menahan tangan Aileen yang mengelus pipinya. Lalu Vano membawa tangan itu untuk dikecup bibirnya.
"Dddeddd!!" Pekik Aliand yang berada tak jauh dari posisi Aileen dan Vano.
Bayi berusia hampir setahun itu berjalan dengan bantuan berpegangan pada meja. Untung saja Aileen meletakkan teh di meja sehingga Aliand tidak bisa menggapainya.
"Ddddeeeeddddd!" Pekik Aliand menggapai-gapaikan tangannya kepada Vano.
Aileen yang melihat itu dengan jahil malah memeluk Vano dengan erat. "Daddy's mine! Love u Dad!" Aileen mengakhiri ucapannya dengan mengecup pipi Vano.
Mata Aliand sudah berkaca-kaca. Tangan bayi kecil itu pun memukul-mukul meja dengan keras. Namun tak urung untuk tetap berjalan untuk mendekati sang ayah.
"Kenapa Al manggilnya kamu terus? Dia pertama kali bicara aja manggilnya kamu. Harusnya 'kan aku! Kamu selalu dominan dari aku!" Rengek Aileen menghentak kecil kakinya.
"Kan aku ayahnya," balas Vano.
"Aku ibunya. Aku yang lahirin!"
"Jealous, hm?"
"Ddeeeddd!" Tiba-tiba Aliand sudah memeluk kaki panjang ayahnya.
"This is my Dad!" Aileen semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami untuk menghalangi Aliand.
Sebuah pujulan keras Aileen dapatkan di pahanya. Tentu saja itu dihadiahkan oleh sang anak, Aliand Jovanka Adinata.
Sambil tertawa, Vano membawa Aliand ke dalam pangkuannya.
"Al tidak boleh seperti itu sama Mommy kamu," tegur Vano sambil menarik pelan tangan anknya yang memukul lengan Aileen.
"Ihhh Al nakal ya sama Mommy. Yaudah ntar nenennya sama Daddy aja. Gausah sama Mom!" Cebik Aileen pura-pura kesal pada anaknya.
Sontak Aliand langsung mengulurkan tangannya kepada Aileen. Bayi tampan itu segera berpindah ke ibunya dan langsung memeluk.
Vano hanya tersenyum melihat istri dan anaknya yang saling bermain. Kebahagian apalagi jika sudah mempunya anak dalam hubungan pernikahan? Bukankah anak adalah pelengkap? Tapi kita juga harus berjuang eksra untuk mempertahankan kebahagiaan.
"Laksanakan apa yang kubilang tadi!"
Klikkkk
Pesan pun terkirim. Vano kembali menyimpan ponselnya di saku celananya. Lalu ia kembali bergabung apda anak dan istrinya.
-TBC-
Helloooo aku bawa cerita baru nih yuk baca. Judulnya This Is My Baby
Synopsis:
Olivia seorang gadis 21 tahun yang memilih keluar dari panti asuhan untuk hidup mandiri. Hidupnya berjalan lancar. Hingga suatu ketika ia bertemu dengan wanita yang wajahnya mirip dengannya, Aluna.
Sebuah tawaran diberikan Aluna disaat Olivia benar-benar membutuhkan uang. Yaitu meminjamkan rahimnya untuk mengandung anak Aluna dan suami Aluna, Daniel.
Namun bagaimana jika pada akhirnya Olivia malah mengandung darah dagingnya sendiri dengan Daniel? Dan saat Aluna meminta bayi yang dia kira bayinya sendiri pada Olivia, maukah Olivia merelakan bayinya?
Bagaimana kisah Olivia nanti? Mampukah ia melewati hari-harinya? Dapatkah Olivia memaafkan dan menerima fakta yang disembunyikan Aluna?
.....
Yuk baca. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya!
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, This Is My Baby, di sini dapat lihat: http://h5.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=437345&\_language\=id&\_app\_id\=2