My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Pagi yang menyebalkan



Malam harinya, sebelum tidur. Salsa dan Jordan mengobrol sebentar. Tidak banyak yang mereka bicarakan hanya aktivitas masing-masing siang tadi. Jordan menceritakan pekerjaannya dan begitupun Salsa. Lalu mereka pergi tidur.


Pagi harinya, seperti biasa mereka sarapan bersama.


“Kenapa tidak bersemangat, Sayang?” Tanya Jordan melihat raut wajah Salsa yang tampak murung pagi ini.


Istrinya itu malah menggelengkan kepala.


“Tidak ingin bercerita padaku?” Tanya Jordan.


“Aku hanya sedang malas saja, Sayang.” Ucap Salsa. Dia memang tidak bersemangat untuk pergi bekerja saat ini. Apalagi setelah Sinta mempunyai akses datang ke tempatnya bekerja dengan bantuan Nana. Membuatnya semakin ingin cepat-cepat berhenti dari pekerjaannya saat ini. Dan, pindah ke rumah sakit lain mungkin. Tempat di mana Sinta tidak bisa datang seenaknya.


“Apa Kau ingin cuti saja? Aku mungkin bisa membantumu?” ucap Jordan menawarkan.


Tawaran Jordan terdengar menggiurkan. Tapi, Salsa tidak bisa mengiakannya. Sebab, rumah sakit sedang kekurangan dokter saat ini setelah Tania pindah. Belum ada dokter yang menggangikan Tania. Jadi, dia harus tetap masuk.


“Tidak perlu, sayang.” Tolak Salsa. Sungguh sejujurnya tidak rela menolak tawaran Jordan itu. Namun, tanggung jawabnya sebagai seorang dokter sangatlah besar. Dia harus profesional saat ini. Jangan sampai masalah pribadi mempengaruhi kinerjanya.


“Baiklah. Ayo, hari ini aku akan mengantarmu!” Ajak Jordan


Mereka telah selesai dengan ritual makan pagi mereka.


Sampai di rumah sakit, Salsa malah dikejutkan oleh hal yang membuat moodnya memburuk.


“Apa yang Nyonya lakukan di ruanganku?” Sentak Salsa pada wanita paruh baya yang saat ini duduk di depan meja kerjanya.


Wanita itu menoleh dengan menyuguhkan senyumnya. “Sayang, mana datang membawakan sarapan untukmu.” Ucap wanita itu.


Sinta!! Ya, Mama Sinta yang datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit entah bagaimana ceritanya wanita itu bisa masuk ke ruang kerja Salsa.


“Maaf, Nyonya. Tapi, saya sudah sarapan. Saya tidak membutuhkannya.” Tolak Salsa, “Silahkan Nyonya bawa kembali. Dan, pintunya ada di sana, Nyonya!” Salsa seakan mengusir wanita paruh baya itu dengan halus.


Lalu, Salsa mengambil jas putihnya dan memakainya. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya.


“Anda maish di sini, Nyonya?” Sinis Salsa menatap Sinta yang hanya bergeming di tempatnya. Dari nada bicaranya, Salsa sama sekali tidak menunjukkan keramahan pada wanita di hadapannya itu.


“Saa, mama hanya-,”


“Anda bukan mama saya.” Potong Salsa menohok. “Tidak ada seorang ibu yang tega meninggalkan putrinya sendiri. Anda bukan mama saya!” Kata Salsa tegas diakhir kalimatnya.


Wanita paruh baya itu tanpa menitikkan air matanya namun Salsa tidak terpengaruh sama sekali.


“Lagi pula siapa yang mengizinkan anda memasuki ruanganku?” Tanya Salsa.


“Aku!” Nana—wanita itu berjalan masuk ke dalam ruangan Salsa, “Aku pikir Kau akan senang dengan kehadiran mama, maaf aku keliru.” Ucap Nana kemudian.


Melihat seniornya yang datang. Salsa langsung berdiri dari duduknya. “Maaf, dokter Nana, tapi saya tidak mau ada orang asing masuk ke ruangan saya tanpa seizin saya.” Salsa masih mencoba sopan meskipun dalam hatinya merasa sangat dongkol.


Bagaimana Nana bisa membiarkan Sinta datang seenaknya? Apa Nana sedang berperan sebagai putri pemilik rumah sakit yang bisa berbuat seenaknya? Menyalahgunakan otoritasnya? Menyebalkan!


“Tapi, Sa, beliau ini-,” Nana ingin berucap tapi ditahan oleh Sinta.


“Sudah, Na. Lebih baik saya yang pergi. Saya memang salah.” Sinta beranjak berdiri lalu menatap Salsa sejenak, “Mama pulang, Sa. Dimakan ya sarapannya.” Ucap wanita itu lembut. Dan, Salsa hanya diam mengabaikan. Tidak ada niatan menanggapinya.


tbc..