My Beloved Husband

My Beloved Husband
Pria berhoodie



Happy Reading


.


.


.


Vano menyimpan ponselnya setelah mendapat  laporan dari anak buahnya. Ia bisa bernapas lega sekarang. Fero, pria itu mencurigakan. Vano tidak mau Fero memiliki perasaan kepada Aileen. Makanya Vano melakukan ini. Terlebih Fero adalah kakak


Ini bukan pertama kalinya Vano melakukan ini. Tapi untuk yang ke sekian kalinya. Setiap ada pria yang mendekati Aileen pasti Vano selidiki. Dan jika pria itu benar-benar menyukai Aileen maka akan Vano singkirkan.


Begitulah Vano yang selama ini tak diketahui orang lain. Hanya Ivan saja yang tahu meskipun tak banyak diketahuinya.


"Mas!" Panggil Aileen yang baru saja dari walk in closet.


"Ya? Ada apa?" Balas Vano sambil menegakkan badannya yang tadinya bersandar di kepala ranjang.


Aileen menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya.


"Bentar lagi 'kan Al ulang tahun. Kita rayain ya?" Usul Aileen sambil memeluk lengan suaminya itu.


"Tentu. Kamu mau merayakannya dimana?"


"Di rumah aja, ntar aku kabarin Mama deh. Makasih Honey!" Sebuah kecupan di bibir Aileen hadiahkan untuk Vano.


"Oh ya. Kamu masuk jam berapa?" Tanya Aileen saat melihat jam yang menunjukkan pukul 7.23 am.


"Setengah sembilan."


"Terus kenapa belum siap-siap? Siap-siap sana! Udah aku siapin pakaian kamu!" Omel Aileen sembari bersidekap dada.


Vano terkekeh melihat wajah imut istrinya yang sedang mengomel itu. Sebelum beranjak, Vano menarik kepala istrinya lalu mencium istrinya. Tepatnya melum*at bibir istrinya beberapa detik.


Setelah Vano menghilang dari balik pintu, Aileen segera turun ke bawah untuk menemani Aliand. Beginilah keseharian Aileen mengurus suami dan anak. Setidaknya Aileen melakukannya dengan sepenuh hati. Meskipun perempuan seusianya tengah belajar dan menikmati dunia dengam bebas di luaran sana.


xxx---


Vano mengumpat kasar saat ban motornya tiba-tiba kempes. Ia bisa terlambat kelas pertama jika keadaan seperti ini. Akhirnya Vano menepikan motornya di pinggir jalan. Dipandanginya ban motor bagian depan dan belakang yang kempes.


Vano heran. Kenapa bisa kempes padahal bannya masih baru dan juga Vano sudah memeriksanya tadi sebelum berangkat. Dengan teliti Vano memandangi ban motornya. Ditemukannya beberapa paku yang menancap di ban motornya.


"****!" Vano berdiri dan menyugar rambutnya ke belakang.


Vano mulai berpikir apakah perbuatan ini di sengaja atau tidak. Pria itu mulai memandangi jalanan aspal yang dilaluinya tadi. Dan semitar 100 meter dari tempat Vano terdapat seseorang yang berjongkok di jalanan. Namun saat menyadari Vano memperhatikannya, pria yang memakai pakaian serba hitam itu segera berlari. Vano bahkan belum sempat untuk melihat wajahnya karena tertutup topi.


Segera Vano berlari mengejar pria itu. Namun Vano kalah cepat karena pria itu segera menumpangi ojek yang baru saja menurunkan penumpang.


Lagi-lagi Vano mengunpat kasar. Lalu Vano menunduk melihat sepatunya yang menginjak sesuatu. Ouh rupanya sebuah paku.


Jadi bisa disimpulkan bahwa ini perbuatan disengaja.


xxx---


Sampai saat ini Vano belum mengetahui siapa yang sudah berani mencelakakannya. Bukan pasal ban motor itu saja. Tapi beberapa kejadian lainnya. Seperti rem mobil yang tiba-tiba blong. Untungnya Vano tipe orang yang sangat jeli dan berhati-hati.


Jadi sampai saat ini Vano masih bisa selamat. Tetapi tidak ada yang tau nanti 'kan? Vano pun semakin khawatir dengan keluarga kecilnya. Bagaimana jika orang itu melukai Aileen dan Aliand?


Vano menggelengkan kepalanya menolak pemikirannya itu. Ia harus yakin bahwa ia bisa menjaga kedua permatanya itu.


Sebuah kerutan timbul di alis Vano. Ia membaca laporan itu dengan sangat teliti dan serius. "Jadi dia--"


Gumaman Vano terhenti saat ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Segera saja Vano mengambil ponselnya yang terletak di samping laptop.


'Segera ke alamat XXX' Begitu isi pesan yang diterima Vano.


Tak menunggu waktu lama Vano segera keluar dari ruangannya. Bahkan ia tak mengindahkan sapaan karyawannya yang kebetulan berpapasan dengannya. Ia buru-buru saat ini.


xxx---


"Wahhh wahhh wahhhh! Datang juga lo Elvano f*ckin' Adinata!" Sambut pria berhoodie hitam yang sama saat Vano melihatnya lampau hari.


"Apa maumu?" Tanya Vano to the point.


"Masih seperti dulu ya. Selalu angkuh!" Balas pria berhoodie itu.


"Bisa tidak bertele-tele? Langsung ke intinya saja! Apa tujuanmu memintaku ke sini...... Doni?"


Pria berhoodie yang bernama Doni itu membuka tudung hoodienya lalu bertepuk tangan sambil mendekati Vano.


"Luar biasa! Cepat juga ya lo tau gue!"


"Apa kau tidak mendengar ucapanku tadi?"


Setelah Vano selesai dengan ucapannya, Doni langsung ingin menghadiahkan Vano dengan pukulannya. Namun sayang sekali karena Vano dengan cepat menahan kepalan tangan Doni yang melayang ke arahnya.


"Gue mau lo mati!" Gertak Doni sebelum menyikut dada Vano.


Vano langsubg mundur sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri karena Doni. Vano pun maju dan mulai membalas pukulan Doni. Aksi saling memukul pun tak terhindari.


"Doni yang dulu sudah berubah rupanya!" Ejek Vano sambil mengusap darah di sudut bibirnya.


"Cuih! Gue emang gak seperti dulu lagi yang begitu takut sama lo! Gue buka lagi Doni si kutu buku yang begitu memuja Aileen! Sungguh betapa gue menyianyiakan masa sma hanya untuk kaliam berdua! Senang kan lo bisa sama Aileen sekarang? Tapi sebentar lagi tidak! Lo akan meninggalkan Aileen dan artinya lo gak bisa sama dia lagi. Hahahaha!!" Setelah mengucapkan itu, Doni kembali menyerang Vano.


Pertarungan itu terus berlanjut hingga waktu yang lumayan lama. Hingga pada akhirnya Doni berada di bawah kaki Vano. "Masih mau melawan, huh?"


Tangan Doni terkepal kuat. Namun tangan yang satunya merogoh sesuatu dengan sangat pelan dari kantong hoodienya.


Vani refleks menghindar saat Doni ingin menusuknya dengan pisau lipat. Berkali-kali Doni melakukan itu namun selalu gagal.


Dorrrr


Sebuah bunyi tembakan mendominasi ruangan itu. Disusul suara kesakitan. Dan taukah dari mana asal suara kesakitan itu? Suara itu adalah suara Vano.


Celana bahan yang dipakai Vano kini mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Bau anyir pun mulai memasuki indra penciuman. Tak hanya itu. Sebuah tusukan di bahu dan di perut juga Vano dapatkan.


Rupanya Vano kehilangan konsentrasi karena betisnya tertembak. Doni pun memanfaatkan situasi itu untuk menusuk Vano hingga pria itu tak mampu melawan. Doni berterima kasih pada temannya kini yang datang di saat yang tepat. Meskipun temannya itu sudah pergi setelah menembak namun apa yang dilakukan temannya tadi sudah sangat membantu.


Doni bangkit lalu memukul Vano dengan membabi buta. Doni seakan membalas semua pukulan Vano padanya. Seluruh sakit hatinya selama ini terhadap Vano ia luapkan. Ia tak memberi jeda. Entah bagaimana keadaan Vano setelah ini. Apakah pria itu akan baik-baik saja? Sepertinya tidak!


-TBC-


Kalau pria berhoodie yang satu ini Vano ya