
Jessi mendengarkan cerita Salsa dengan serius. “Jadi, beberapa hari yang lalu lo lihat orang yang mirip banget sama mama lo di Mall lagi jalan sama senior lo?” Ulang Jessi.
Salsa mengangguk. “Bukan mirip lagi. Aku yakin itu mama. Meskipun waktu itu masih SD, aku nggak mungkin lupa wajah mama. Aku juga udah cek di album foto.” Jelas Salsa.
Jessi manggut-manggut. “Oke, oke.” Ucapnya.
“Kamu bisa ‘kan cari tau kehidupan mama yang sekarang?”
“Bisa aja sih. Cuman apa enggak sebaiknya lo minta bantuan kak Jo?” Jessi memandang Salsa penuh pertimbangan.
“Nggak. Aku mau memastikan semuanya dulu.” Balas Jessi.
“Hem.” Jessi menghela napas berat, “Ya udah. Tapi, nanti kalau kita udah dapat hasil tetep harus kasih tahu kak Jo, ya!” Pesan Jessi mengingatkan.
“Iya. Itu gampang.” Balas Salsa santai.
“Kamu kirim fotonya ke aku. Biar nanti aku minta tolong orang buat cari tahu.”
“Siap. Thanks banget ya, Jess.”
“Kayak sama siapa aja sih. Kita keluarga, Sa. Inget itu!”
***
Esok selanjutnya semua orang kembali pada aktivitas masing-masing. Kecuali Kia yang membolos sekolah karena ingin bermain dengan grandma nya—Ayu.
Begitu pun Salsa yang juga beraktivitas seperti biasa di rumah sakit sebagai dokter.
“Ngalamun aja teros!” Sindir Tania pada Salsa yang terdeteksi tidak fokus pada lembaran kertas di meja kerjanya.
Salsa memang tengah memikirkan sesuatu. Tapi, dia tetap berusaha fokus pada pekerjaanya. “Ini udah selesai, kok.” Ucap Salsa yang ternyata sudah menyelesaikan pekerjaanya.
“Kenapa sih, buk?Sini cerita sama aku.” Tania memutar kursi putarnya menghadap Salsa. Dengan dua tangan di atas dada dan posisi duduk yang santai. Tania siap mendengarkan cerita Salsa.
Salsa melakukan hal yang sama memutar kursi putarnya menghadap Salsa. “Aku lagi kepikiran sesuatu.” Ucap Salsa.
“Aku tahu.” Ya, Tania yang sudah cukup lama bersahabat dengan Salsa bisa membaca kegelisahan di wajah Salsa.
“Kamu tahu?” Salsa heran.
Tania mengangguk. “Aku tahu kamu lagi banyak pikiran. Tapi, enggak tahu masalahnya apa. Coba cerita.” Bujuknya siap mendengarkan.
Apa yang Salsa khawatirkan? Dia cukup langsung cerita saja apa yang membuatnya gelisah akhir-akhir ini. Lagi pula Tania itu bukan orang lain. Salsa bisa mempercayainya.
“Kamu inget ibu-ibu yang sama dokter Nana kemarin?” Tanya Salsa dan Tania mengangguk ingat. “Dia mama ku.” Ujar Salsa sedikit berbisik. Meskipun di ruangan itu tidak ada siapapun selain mereka berdua tapi Salsa tetap ingin berhati-hati.
Tania tentu saja kaget hingga menganga dengan apa yang baru saja di ucapkan Salsa. Apalagi selama ini yang Tania tahu, sahabatnya itu sudah tidak memiliki ibu. Ibu nya meninggal saat Salsa masih kecil.
“Bukannya mama kamu udah nggak ada?” Tanya Tania lirih sambil melirik CCTV di atas pojok ruangan.
Salsa mengikuti arah pandangan Tania dan terdiam. Dia merasa bercerita di ruang kerjanya bukan tempat yang tepat. “Ceritanya panjang. Nanti aja pulang kerja kamu mampir ke apartemen aku. Aku mau tunjukin sesuatu ke kamu.” Ucap Salsa mengakhiri cerita mereka siang itu.
“Setuju.” Balas Tania.
***
Sampai di apartemennya, Salsa mengajak Tania pergi ke gudang. Dia menunjukkan foto-foto Sinta yang masih tersimpan rapi di album yang sudah terlihat usang.
“Gila ini sih mirip banget sama ibu itu. Cuman bedanya yang ini masih agak muda.” Komentar Tania setelah melihat foto Sinta. Saat ini dia memegang album foto lama keluarga Salsa.
“Iya, ‘kan?” Bukan Salsa saja yang berpikiran mirip. Salsa yakin ibu paruh baya yang bersama Dokter Nana itu memang mama Sinta. Ibu yang sudah meninggalkannya saat kecil.
“Terus sekarang kamu mau gimana?Jordan tahu nggak?”
Kemarin Jessi sekarang Tania yang mengungkit Jordan atas masalah Salsa saat ini.
Tapi, jawaban Salsa justru membuat Tania menghela napas.
“Salsa sayangku yang pinter tapi kadang bodoh, harusnya kamu kasih tahu Jordan dulu. Baru cerita ke aku.” Ujar Tania lembut.
“Why?” Salsa tidak mengerti mengapa dia harus memberitahu Jordan.
“Dih, masa lu nggak ngerti sih?” Salsa justru menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Tania. “Jordan nggak harus tahu sekarang.” Ujar Salsa kemudian.
“Ck.” Tania berdecak sedikit kesal, “Tujuan pernikahan apa?”
“Biar nggak kena scandal.” Jawab Salsa polos.
Jawaban Salsa tidak salah sih. Dia dan Jordan memang menikah agar terhindar dari scandal yang menyeret nama baik mereka. Tapi, kok jawaban Salsa membuat Tania kesal ya!
“Nggak gitu konsepnya, buk. Lu nikah sama Jordan dengan harapan bisa membangun rumah tangga yang bahagia. Selalu bersama dalam suka maupun duka. Saling membimbing dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Right?” Tanya Tania.
“Em, I think.” Jawabnya.
“Nah, kalau kamu juga mikir gitu berarti apapun masalah kamu seenggaknya Jordan harus tahu. Dia kepala rumah tangga loh.” Ucapan Tania ada benarnya juga.
“Jadi, aku harus kasih tahu Jordan?” Tanya Salsa.
“Iya, dong. Kamu cerita ke dia apa yang bikin kamu gelisah. Keluarkan uneg-uneg kamu. Siapa tahu dia malah punya solusi yang lebih bagus.” Saran Tania.
“Tapi, aku udah terlanjur minta bantuan Jessi buat cari tahu kehidupan mama Sinta yang sekarang.” Jujur Salsa.
“Ya gak papa. Jordan bisa bantu yang lain.” Kata Tania menutup kembali album foto yang tadi ia pegang.
“Ya, udah. Nanti aku kasih tahu Jordan.” Gumamnya.
“Yang jadi pertanyaan aku sekarang, kenapa mama kamu bisa sama dokter Nana? Mana mereka akrab banget.” Lanjut Tania berkomentar.
Salsa meletakkan album foto kembali ke tempat semula dan mengajak Tania keluar dari gudang.
“Itu yang ganggu pikiran aku, Tan.” Mereka berjalan menuju dapur.
Sampai di dapur keduanya langsung mencuci tangan dengan sabun di wastafel dan duduk di bangku ruang makan.
“Aneh banget nggak, sih?” Heran Tania. Dia malah seakan mendapat pekerjaan rumah yang harus di pikirkan sebelum tidur.
Salsa bangkit dan mengambil teko jus jeruk dari kulkas serta dua gelas. “Tuang sendiri.” Ucapnya sambil meletakkan teko berisi jus jeruk dan dua gelas jus. “Yang paling aneh adalah kenapa almarhum papa harus bohong soal kematian mama.” Lanjut Salsa seraya mengambil camilan dari dalam kulkas.
Lalu, Salsa kembali duduk di sebelah Tania.
“Jangan-jangan semua berhubungan.” Ucap Tania menduga sambil menuang jus jeruk ke gelasnya.
“Aku mulai cari tahu dari mana ya, Tan?” Tanya nya meminta saran.
Sambil meminum jua jeruk nya Tania menanggapi. “Menurut aku tunggu hasil penyelidikan dari Jessi dulu. Sambil kamu cerita ke Jordan minta pendapat dia.”
“Pusing banget tau, nggak.” Keluhnya.
“Puk, puk.” Tania menepuk lembut bahu Salsa. “Sabar ya, pelan-pelan kita cari tahu kebenaran soal mama kamu.” Tuturnya bijak.
“Aku takut.” Lirih Salsa dengan kelopak mata yang memanas. Menahan cairan bening yang ingin keluar dari sana.
“Jangan takut. Kamu punya aku, punya Jordan, Jessi, keluarga Pratama, bapakku, ibuku. Kita semua bakalan selalu ada buat kamu.” Tania menyemangati sambil mengangkat kepalan tangan.
“Aku beruntung banget punya kalian.”
Dua sahabat itu lanjut bercerita hal lain. Karena tidak ingin berlarut dalam kegelisahan. Hingga waktu sudah petang dan Tania pamit pulang.