My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Soto Lamongan



Ayu dan Salsa membawa Tania ke rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit, Tania langsung mendapatkan penanganan medis.


“Gimana, dok?” Tanya Salsa pada dokter yang baru saja memeriksa Tania.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan nona, pasien baik-baik saja. Hanya kram perut biasa. Pasien akan sembuh setelah minum obat.”


Salsa manggut-manggut, “baik, dok. Terimakasih.”


“Sama-sama, nona. Saya permisi.”


Dokter keluar dari ruangan lalu mommy Ayu masuk ke dalam ruangan. “Gimana, Sa? Tania nggak papa ‘kan?” Tanya Ayu khawatir.


“Nggak papa, mom. Cuman kram perut.” Balas Salsa.


“Syukurlah. Tapi, kok pingsan ya, Sa?” Heran mommy Ayu.


“Tania kalau lagi mens emang gitu mom, sakitnya berlebihan suka sampai pingsan.” Jawab Salsa.


“Oh, nggak periksa aja? Kenapa bisa gitu?”


“Udah dulu waktu kuliah, mom.”


“Lain kali periksa lagi aja kalau gejalanya parah. Takutnya berhubungan sama rahim.” Ujar Ayu memberi saran.


“Iya, mom.”


***


Di tempat lain, Nana baru saja pulang ke apartemen nya setelah menghadiri rangkaian acara pernikahan kakaknya yang panjang.


“Baru pulang.” Hardik seseorang yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu Nana.


Nana melepas sepatunya dan membuangnya kesembarang arah. “Aku capek banget, ma.” Keluhnya lalu duduk bermanja di lengan sang mama. Ya, seseorang itu adalah mama dari Nana. Yang juga adalah mama Sinta.


“Mandi dulu sana!” Ujar Sinta sambil mengelus kepala Nana. “Mama udah masak enak buat kamu.”


“Tapi aku masih capek, ma.” Bergelanyut dengan kepalanya di lengan Sinta.


“Kalau mandi nanti langsung hilang capeknya.” Ucap Sinta lembut, “Gih, mandi dulu.”


“Iya-iya.” Nana pun bangkit dari duduknya dan langsung melangkah malas menuju kamarnya.


***


Setelah mendapatkan perawatan yang tepat, kondisi Tania cukup membaik. Bahkan dia diizinkan pulang. Tania tidak membutuhkan rawat inap.


Setelah mengantar Tania pulang, giliran Ayu mengantar Salsa pulang. Sebab mobil Salsa ditinggal di hotel.


“Makasih ya, mom.” Ucap Salsa sebelum turun dari mobil Ayu.


“Sama-sama sayang, mommy nggak mampir ya. Salamin buat Jordan.”


Salsa mengangguk, “Salsa turun ya, mom. Kabarin kalau mommy udah sampai rumah.” Ucapnya sambil memegang handle pintu mobil.


“Titip mommy, pak. Hati-hati berkendaranya!” Pesan Salsa pada sang sopir.


“Siap, non.”


Lalu Salsa turun dari mobil dan melambaikan tangan sampai mobil yang ditumpangi Ayu menghilang dari pandangannya.


Salsa masuk ke dalam apartemen dan melihat lampu sudah menyala. Sepertinya Jordan sudah pulang.


“Sayang, aku pulang!” Ucap Salsa berjalan menuju kamarnya.


“Udah pulang?” Jordan muncul dari arah dapur dengan memakai celemek dan spatula di tangan kanannya. Lelaki itu menghampiri Salsa.


Salsa menghentikan langkahnya dan memandang Jordan dengan tatapan bingung. “Kamu masak?”


“Cuman nasi goreng.” Jawab Jordan, “Cepat mandi terus kita makan bareng.” Titah lelaki itu kemudian.


“Oke.” Lalu Salsa melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar dan Jordan kembali ke dapur.


Nasi goreng sederhana ala chef Jordan serta telur mata sapi yang di goreng setengah matang terhidang di atas meja.


“Wah, kayaknya enak nih.” Salsa tidak sabar mencicipi hasil makanan sang suami.


Jordan melepas celemek nya dan menaruh di sebelah kursinya lalu duduk di hadapan Salsa.


“Cobain dulu. Aku nggak yakin sama rasanya.” Ucap Jordan.


“Pasti enak sih.” Kata Salsa seraya mengambil satu centong nasi goreng buatan Jordan serta telur setengah matang.


Jordan dengan hati berdebar memandang serius ke arah Salsa yang akan mencicipi hasil masakannya.


Satu suapan masuk ke dalam mulut Salsa. “Enak.” Ucap Salsa setelah menelan habis satu suapan nasi goreng itu.


Salsa pun memberikan satu jempolnya. “Masak ayam goyeng ya!”


“Apapun yang kamu minta.” Kini giliran Jordan menikmati nasi gorengnya. “Ternyata beneran enak.” Puji Jordan setelah mencicipi masakannya sendiri.


“Emang tadi enggak kamu cicipi?” Tanya Salsa. Jordan menggelengkan kepalanya. “Nggak. Pede aja pasti enak.” Jawabnya.


Belum selesai mereka makan ponsel Jordan berdering. Di liriknya siapa yang menelepon malam-malam begini?


“Siapa?” Tanya Salsa.


“Kris, sayang.” Jawab Jordan meraih ponselnya lalu memandanginya.


“Angkat aja. Siapa tahu penting.” Ucap Salsa.


Jordan mengangguk, dan ia pun menggeser ikon hijau dilayar ponselnya untuk menjawab panggilan dari Kris.


“Halo!”


“…”


“Oke. Meeting by video setengah jam lagi.” Balas Jordan.


“…”


Lalu panggilan telepon pun di akhiri oleh Jordan.


“Masalah kerjaan?”


“Iya, sayang.”


Sudah biasa Jordan mendapatkan panggilan telepon dari Kris saat dirumah. Dan, panggilan itu pasti tidak jauh dari pekerjaan. Salsa sendiri kadang heran, suaminya itu sudah bekerja di kantor satu hari penuh, tapi pekerjaanya seakan tidak habis-habis. Bahkan, kadang saat akhir pekan pun Jordan tak jarang menghabiskan setengah hari liburnya di ruang kerja.


Usai makan malam Jordan langsung pergi ke ruang pribadi Salsa di apartemen yang sudah disulap menjadi ruang kerja Jordan. Ruangan itu digunakan untuk bekerja Jordan saat mereka menginap di apartemen seperti saat ini.


Sementara Salsa membereskan peralatan dapur yang tadi digunakan oleh Jordan. Setelah selesai dengan peralatan dapur, Salsa pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi.


“Ah, padahal aku mau ngomong sama Jordan masalah mama.” Guman Salsa, “Dia lama nggak ya meeting nya?” Memandang ke arah ruangan Jordan berada sekarang.


Belum genap tiga puluh menit menonton televisi, Salsa sudah menguap. “Aku ngantuk.” Mematikan televisi dan pergi ke kamar.


Sampai di kamar pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh wajah. Lalu ia lanjutkan dengan rutinitas harian memakain skincare malam. Setelahnya barulah Salsa naik ke atas tempat tidur untuk bersiap menuju alam mimpi.


***


Akhir pekan yang santai. Meskipun hari libur, Salsa tetap bangun pagi. Diliriknya Jordan masih tidur pulas disebelahnya.


“Jordan..” Panggil Salsa dengan manja, sambil mentoel-toel pipi Jordan.


HAP.. Jordan menangkap tangan Salsa lalu perlahan lelaki itu membuka kedua matanya. “Kenapa, hem?” Tanya Jordan lembut.


“Pengen soto.” Ucap Salsa.


“Soto?” Jordan menaikan sebelah alisnya dan Salsa mengangguk polos. “Soto Lamongan xt Square.” Jawab Salsa.


“Xt square?” Tanya Jordan lagi dan lagi-lagi Salsa mengangguk. “Kita ke sana yuk!” Ajak Salsa.


Xt square? Sepertinya Jordan pernah mendengar nama itu? Tapi di mana?


“Sekarang?” Jordan masih malas beranjak dari tempat tidur.


“Iya, sekarang.”


“Cium dulu!” Jordan menunjuk pipinya.


“Tapi janji beli soto ya?”


Jordan pun mengangguk. Lalu, “Cup..” satu kecupan mendarat manis di pipi Jordan.


“Udah, ayo bangun!” Rengek Salsa sambil menarik lengan Jordan.


Jordan pun bangun dari tidurannya dan melakukan peregangan kecil sementara Salsa sudah lebih dulu turun dari tempat tidur.


“Tunggu!” Ucap Jordan teringat sesuatu. Salsa yang sudah hampir masuk ke dalam kamar mandi itu menoleh. “Soto Lamongan Xt square, Jogja?” Tanya Jordan teringat tempat penjual soto itu. Dan, Salsa mengangguk dengan santai, “Kamu udah janji loh.” Kata Salsa mengingatkan.


Janji sih janji tapi bukan ke Jogja juga! Memang salah mengiyakan begitu saja permintaan Salsa.


“Tapi, sayang. Jogja itu jauh. Ke tangeran aja ya, di sana juga ada soto Lamongan.” Bujuk Jordan kemudian. Kalau pergi ke Jogja pasti akan melelahkan meskipun perginya dengan pesawat terbang.


“Nggak, mau. Pokoknya Jogja!” Kekeuh Salsa lalu masuk ke dalam kamar mandi.


“Astaga.” Gumam Jordan menyusul Salsa.