My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Pulang



Tidak ada yang terjadi malam itu, Jordan dan Salsa langsung terlelap karena lelah.


Pagi harinya, Salsa terbangun lebih dulu. Dia langsung membersihkan diri dan membereskan barang-barang nya ke dalam koper, mereka hanya akan menginap satu malam.


Diliriknya Jordan yang masih lelap sambil memeluk guling. Lelaki itu bertelanjang dada, kaos yang semalam Jordan kenakan entah kemana. Salsa bahkan tidak tau kapan suaminya itu melepas kaos nya.


Merasa sebal melihat Jordan yang tidak bangun-bangun, Salsa membuka gorden agar cahaya matahari langsung mengenai wajah Jordan. Taktik Salsa cukup bagus, terjadi pergerakan dari tubuh Jordan. Kedua matanya perlahan terbuka.


Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, Jordan menyapa Salsa. “Good Morning My Wife.” Lalu melakukan peregangan dengan kedua tangannya.


“Hem,” balas Salsa berdehem.


“Jam berapa sekarang?” Tanya Jordan saat kedua matanya sudah terbuka lebar.


“Jam sepuluh.”


“Ah, sudah siang rupanya.”


“Cepet bangun, aku lapar.”


Meskipun masih mengantuk, Jordan memaksa tubuhnya untuk bangun. Apalagi istri ke sayang an nya lapar. “Pesan layanan kamar aja kalau udah lapar.” Ucap Jordan memberi saran.


“Nggak, ah. Pengen makan soto babat deket apartemen.” Balas Salsa.


“Oh, oke.” Melompat turun dari ranjang, “Tunggu aku mandi.” Ucapnya sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Tok tok tok..


Salsa berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Kris, si asisten Jordan berdiri tegap di depan pintu.


“Selamat pagi menjelang siang, nona.” Sapa Kris begitu Salsa membuka pintu.


Salsa mengangguk, “Nyari Jordan, ya?!”


Kris menggeleng, “Tidak, saya di suruh nyonya besar untuk mengambil barang yang perlu di bawa pulang, nona.” Jawab Kris kemudian.


Ternyata Kris datang sebagai orang suruhan mommy Ayu.


“Oh, kepasan banget. Masuk Kris!” Membalik tubuhnya dan menuju koper yang baru saja ia rapikan. “Enggak banyak, kok. Cuman satu koper. Sama baju yang di pakai buat resepsi kemarin.” Salsa menunjukkan barang apa saja yang perlu di bawa oleh Kris.


Kris dengan sigap mengambil alih barang-barang dari tangan Salsa dan menarik koper yang sudah di siapkan oleh Salsa.


“Ada lagi, nona?” Tanya Kris sebelum keluar dari sana.


“Udah, sih. Itu aja.”


“Baik, kalau begitu saya permisi, nona.”


“Terimakasih, ya, Kris.”


“Sama-sama, nona.”


Setelah Kris pergi, Salsa menutup kembali pintu kamar nya. Bersamaan dengan itu pula Jordan keluar dari kamar mandi.


“Kamu ngobrol sama siapa, sayang?” Rupanya Jordan mendengar obrolan Salsa dan Kris.


“Sama Kris,” jawab Salsa.


Karena tidak mau mendapat omelan dari Salsa, Jordan sudah berpakaian lengkap saat keluar dari kamar mandi. Dia hanya tinggal mengeringkan rambutnya saja.


“Ngapain Kris kesini?”


“Di suruh mommy Ayu ambil koper.”


“Oow.” Jordan berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselnya dan memakai jam tangan mahalnya. “Jadi, pulang sekarang kita?” Tanya Jordan.


“Menurut kamu?” Balas Salsa, “Aku udah nunggu kamu dari pagi tadi lho.” Gerutunya kesal.


“Sayang banget, padahal kita belum ngapa-ngapain di sini.” Jordan cemberut.


“Ngapa-ngapain nya di rumah aja.” Jawab Salsa asal sambil meraih tas sling bag nya di atas tempat tidur dan berlalu meninggalkan Jordan.


“Di rumah, wahhh, mantap!” Raut wajah Jordan berubah semangat. Dia tidak sabar untuk segera pulang ke rumah.


Mereka langsung check out, dan meninggalkan hotel. Karena barang-barang mereka sudah di bawa lebih dulu oleh Kris, Salsa dan Jordan tinggal membawa tubuh saja saat meninggalkan hotel.


Jordan bersikap manis dengan membukakan pintu mobil untuk Salsa. “Thanks.” Ucap Salsa.


Jordan menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menancap gas, perlahan mobil meninggalkan basement melaju membelah jalanan kota Jakarta yang cukup ramai.


Salsa tidak beruntung kali ini. Warung soto daging sapi langganan nya tutup saat mereka tiba disana.


“Yah tutup.” Ujar Salsa.


“Gimana, mau cari di tempat lain aja?” Tanya Jordan.


Salsa menggelengkan kepalanya. “Males, belum tentu enak juga. Kita pulang aja!” Balas Salsa.


Jordan mengangguk dan menjalankan kembali mobilnya yang sempat berhenti di tepi jalan, di depan warung soto.


“Pulang kemana?” Tanya Jordan bingung. Mereka ‘kan belum memutuskan mau tinggal dimana.


“Ya apartemen aku lah, yang deket dari sini. Kamu keberatan?”


Jordan menggeleng cepat. “Nggak sama sekali. Aku nggak masalah mau tinggal dimana aja, yang penting ada kamu.” Jawabnya.


“Yakin?”


“Yakin lah.”


“Tinggal di kolong jembatan, mau?”


“Itu nggak mungkin terjadi.”


“Iya juga sih.”


Pertama kalinya Jordan menginjak apartemen Salsa dengan status suami Salsa, pertama kali juga bagi Salsa menyandang status istri. Apartemen Salsa masih sama seperti saat terakhir Jordan berkunjung, sangat rapi.


Jordan sudah menganggap apartemen Salsa seperti rumahnya sendiri, terbukti dari cara dia langsung menyelonong masuk dan langsung merebahkan diri di sofa panjang ruang tamu.


“Kita makan apa?” Tanya Jordan polos.


“Kamu pesen aja terserah, di dekat telepon ada daftar restoran sekitaran sini yang bisa delivery cepet.” Ucap Salsa sambil berlalu menuju kamarnya.


Jordan menurut, dia membaca beberapa brosur rumah makan yang tertata rapi di rak kecil di atas nakas sebelah telepon rumah. Ada berbagai macam brosur restoran. Dari makanan Indonesia sampai makanan barat dan Asia.


Jordan pun bingung harus memilih menu apa? Akhirnya dia menyusul Salsa ke dalam kamar untuk meminta pendapat.


“Sayang, aku bingung mau makan apa.” Ujar Jordan masuk ke dalam kamar Salsa tanpa mengetuk pintu.


“Apa aja, terserah.” Balas Salsa yang sedang sibuk memilah pakaian di dalam lemari.


“Hem.. Nggak ada makanan terserah,” sahut Jordan.


“MCd aja udah yang gampang. Pesen pakai food online.” Memang makan yang paling mudah adalah memesan ayam goreng mcd.


“Oke.” Balas nya sambil keluar dari kamar Salsa.


Salsa melirik sekilas suaminya dan geleng-geleng kepala. “Perkara makan aja repot,” gumam Salsa.


Setelah berganti pakain, Salsa keluar dari kamar hanya menggunakan daster selutut dengan motif bunga-bunga kecil dan berwarna Mustard. Warna yabg sangat cantik di kulit, membuat siapa pun yang memakainya akan terlihat lebih bersinar. Begitu pun saat Salsa kenakan.


Jordan bahkan sampai terbengong melihat penampilan Salsa yang sangat seksi dan menggoda menurutnya.


“Mata nya di kondisikan dong. Kayak lihat mangsa aja.” Tegur Salsa.


“Seger banget, jadi pengen.” Ucap Jordan jujur.


“Ntar malam.” Balas Salsa. Salsa memang dari awal tidak berniat menunda-nunda malam pertama mereka. Lagi pula sebelum menikah Salsa sudah memikirkan malam pertama dengan matang. Dia tidak akan menghalangi hak Jordan atas dirinya.


“Serius?” Tanya Jordan.


“Dua rius.” Balas Salsa.


“Sayangg,” rengek Jordan.


“Iya, iya. Emang aku kayak kamu tukang tipu.” Balas Salsa menyindir.


“Heh, kapan aku jadi tukang tipu?Nggak pernah..” Timpal Jordan.


Salsa berdecih, “Amnesia ya kamu. Mau aku ingatkan?”


“Nggak usah. Lain kali aja.” Tolak Jordan tidak mau merusak hari bahagia dengan membahas hal yang bisa membuat hubungan mereka merenggang.