
Gadis kecil dengan rambut di kucir dua dan poni lurus di dahi itu semangat melihat kedatangan Salsa. Yang semula duduk manis di pangkuan sang mami langsung berlari menuju Salsa.
Direngkuhnya gadis kecil itu oleh Salsa dan di gendong ala koala.
“Uncle Jo di mana, aunty?” Cicitnya di gendongan Salsa.
“Masih kerja sayang.” Jawab Salsa seraya bergabung dengan Jessi di sofa panjang ruang keluarga.
“Nah, kalau ngumpul gini ‘kan mommy jadi seneng.” Ujar Ayu duduk di sofa yang lain.
“Kurang si bungsu nih, mom. Rey kemana sih?” Jessi teringat adik bungsunya.
“Nggak tau, Jes.” Ayu celingukan mencari mbak asisten rumah tangga namun tidak ada yang terlihat. “Dia udah puber jarang di rumah. Kayak Jordan lebih sering nginep di apartemen.” Terang mommy Ayu.
Si kecil Kia kini di pangku Salsa.
“Rey mungkin kesepian mom kalau tinggal di sini. Lagian mommy sama Daddy jarang di rumah.” Sahut Salsa.
“Bener tuh, lagian ini rumah terlalu gede, kalau apartemen ‘kan lebih kecil.” Jessi menimpali.
Ayu menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Menurut mommy sih, Rey pilih tinggal di apartemen karena bebas. Kalau di sini banyak mbak sama satpam.” Ungkap Ayu.
“Haha, emang kak Jo dulu juga gitu, mom?” Jessi terkekeh menanggapi ucapan Ayu.
“Kalau Jordan sih karena males ribut sama kamu, Jes.” Tukas Salsa.
Jessi menoleh pada iparnya. “Ih, dia cerita ya?” Tanya Jessi.
“Ya emang faktanya gitu, Jes. Mommy aja sering banget mergokin kalian ribut dulu.” Ayu membenarkan.
“Itu karena kak Jo nyebelin, mom.” Jelas Jessi curhat.
Kiara ikut menyahut. “Mami sama uncle Jo suka berantem ya, Grandma?”
“Enggak sayang, mami kamu sama uncle bukan suka berantem hanya sering berselisih paham karena saling sayang.” Jawab Ayu.
“Benar itu, mami?”
Jessi mengangguk, “Iya dong. Kan mami juga sayang sama uncle Jo, sama kayak Kia sayang sama aunty Salsa dan uncle Jo.” Jelas Jessi lembut.
“Wah, lagi pada ngumpul ya.” Tepat saat itu Rey si bungsu keluarga Pratama muncul. Semua menoleh ke arah Rey yang datang dari arah luar.
“Wo tuan muda ke dua akhirnya muncul.” Goda Jessi sambil bersorak.
Rey yang datang dengan menenteng helm di tangannya itu kesal seketika. “Apaan sih lo, kak.” Meletakan helmnya di lantai.
“Mom.” Rey menghampiri Ayu dan mencium manja mommy Ayu.
“Kamu tinggal di mana? Kata mbak nggak pernah pulang selama mommy di luar negeri?” Tanya Ayu dan Rey yang duduk di sebelahnya langsung menjawab. “Di apartemen lah, mau di mana lagi?”
Saat ulang tahunnya yang ke 18th, si bungsu mendapat kado apartemen dari mommy Ayu. Yang saat ini sering Rey tinggali.
“Apa kabar Rey?” Sapa Salsa.
“Baik, kak. Kak Jo nggak ikut?” Rey tidak melihat kakak sulungnya di tempat itu.
“Nanti nyusul dari kantor.” Jawab Salsa.
Pandangan mata Rey lalu mengarah pada Kia yang bermalas-malasan di pangkuan Salsa. Kepala kecil Kia bersanda di bahu Salsa dengan malas.
“Kia nggak kangen uncle Rey?” Tanya Rey.
Si kecil Kia menggelengkan kepala dengan malas tanpa bersuara.
“Astaga, padahal uncle kangen banget sama Kia.” Akting Rey berpura-pura sedih.
Salsa tersenyum lalu berbisik pada Kia. “Sayang kasian uncle udah jauh-jauh pulang masa Kia cuek in.”
Kia mendongak. “Biarin uncle juga nggak pernah main ke rumah Kia.” Jawab gadis kecil itu.
Rey yang mendengarnya langsung berkomentar. “Itu karena uncle sibuk kuliah sayang.”
“Benar itu, mami?” Kia memandang Jessi meminta jawaban. Rey langsung mengkode Jessi agar mengiyakan saja pertanyaan Kia. Namun, Jessi cuek saja dan memilih netral dengan mengedikan bahu nya.
“Kak lo bener-bener.” Kesal Rey tidak mendapat dukungan. “Jangan tanya mami, Kia. Tanya papi aja, papi kamu friend kalau sama uncle.” Ujar Rey mencari dukungan dari orang yang belum datang.
“Tapi papi nggak di sini uncle.” Cicit Kia.
“Ya nanti aja tanya nya.” Balas Rey asal.
***
Makan malam di rumah utama berjalan lancar. Akhirnya Salsa dan Jordan memutuskan menginap karena Ayu memaksa.
Setelah makan malam dan mengobrol sebentar, penghuni rumah satu persatu mulai masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Termasuk Salsa dan Jordan yang juga sudah masuk ke dalam kamar mereka.
“Sayang, besok kita pulang ke apartemen lagi ya?”
“Kenapa, masih pengen tinggal di sana?” Tanya Jordan.
“Hu’um. Nggak papa ‘kan?”
“Apapun yang kamu mau.” Balas Jordan.
Tok ..tok.. saat lampu kamar akan di padamkan, terdengar suara ketukan pintu. Salsa dan Jordan saling pandang sebelum akhirnya Jordan turun dari tempat tidur dan membuka pintu.
“Rey?”
Jordan melihat adik bungsunya di depan pintu kamar mereka.
“Sorry, kak. Gue ada masalah dikit bisa kita ngobrol sebentar?” Ujar Rey tanpa basa-basi.
“Siapa sayang?” Salsa menyahut dari dalam kamar. Jordan langsung menoleh mengingat istrinya, “bentar sayang.” Balasnya.
Lalu Jordan menatap Rey yang terlihat serius. “Kita ngobrol di kamar kamu aja.” Ucapnya pada si bungsu.
Rey mengangguk dan pergi dari tempat itu. Sementara Jordan kembali menutup pintu dan menuju Salsa.
“Siapa?” Tanya Salsa yang sudah memakai selimut setengah badan.
“Rey, sayang. Dia mau ngobrol sebentar. Aku tinggal nggak papa?”
Salsa mengangguk. “Nggak papa. Gih ke Rey, kali aja mau ngobrol serius.” Ujarnya pada Jordan.
“Oke, aku tinggal ya!”
Beberapa saat setelah Jordan menemui Rey. Pintu kamar Salsa kembali di ketuk. Salsa sudah hampir tidur saat itu tapi dia tetap memaksa tubuhnya beranjak dan membuka pintu.
“Jessi!” Tanya nya heran melihat adik iparnya berdiri di depan pintu.
“Gue nggak bisa tidur. Ngobrol yuk!” Kata Jessi langsung menerobos masuk ke dalam kamar Salsa.
Salsa menutup pintu kamarnya dan mengikuti Jessi yang sudah lebih dulu menjelajah kamarnya.
“Gue tau kak Jo lagi sama Rey. Mas Yoga juga sama mereka. Makanya gue ke sini.” Ujar Jessi merebahkan dirinya malas di sofa panjang.
Salsa ikut duduk tapi di sofa single. “Kia?”
“Kia tidur sama grandma nya lah. Kalau lagi di sini nggak mungkin tuh anak tidur ikut gue.” Jawab Jessi.
“Kebetulan ada yang mau aku bahas sama kamu.” Ucap Salsa beranjak dari duduknya dan mengambil ponselnya di nakas.
“Bahas apa kayaknya penting banget?” Tanya Jessi sambil mengamati Salsa yang berjalan ke arahnya dengan ponsel di tangan kanan Salsa.
“Aku mau minta bantun kamu buat nyari orang.” Ucap Jessi, “Kamu pasti punya orang kepercayaan ‘Kan?” Salsa kembali duduk.
Jessi mengernyit. “Kenapa nggak minta bantuan Kris? Dia profesional.” Ujar Jessi, “Atau ini rahasia dan kak Jo nggak boleh tau!” Tebak Jessi.
“Sayangnya iya.” Balas Salsa membenarkan.
“Lo nggak lagi selingkuh dari Kakak gue ‘kan?” Jessi memasang kewaspadaan.
“Selingkuh pala mu.” Ujar Salsa kesal dan melempar bantal ke arah Jessi yang langsung ditangkap oleh Jessi. “Kali aja.” Ucap Jessi.
“Nggak, ini masalah lain.” Salsa serius kali ini. Dia memberikan ponselnya pada Jessi.
“Apa ini?” Jessi menerimanya dan melihat foto di ponsel Salsa. “Ibu ini yang lo cari?” Tanya Jessi menduga.
Salsa mengangguk. “Kamu inget dulu aku pernah bilang kalau ada kemungkinan mama ku masih hidup?” Tanya Salsa.
Jessi pun mencoba mengingat ucapan Salsa. “Jangan bilang dia!” Tebak Jessi.
“Yups. Dia mama.” Balas Salsa.
“Astaga. Gue mau denger detailnya dulu.”
Lalu Salsa pun mulai bercerita panjang lebar mengenai almarhum papa dan mama nya yang berpisah. Dan, kemungkinan alasan papa Damar membohongi Salsa soal kematian mama Sinta.