My Beloved Husband

My Beloved Husband
Lagi



Happy reading


.


.


.


Aileen mengerjapkan matanya yang sedari tadi tertutup. Ia baru bangun dari pingsannya. Tersadar dimana ia sekarang, wanita itu langsung bangun.


"Aileen, kamu istirahat saja!" Tahan Reva yang sedari tadi menemani menantunya.


Aileen menoleh menatap ibu mertuanya yang baru ia sadri keberadaannya. "Aileen mau liat mas Vano, Ma."


"Kamu istirahat saja dulu. Besok kamu bisa jenguk suami kamu," ucap Reva sambil mengelus kepala menantunya.


"Tapi Ma--"


"Mama senang kamu begitu memikirkan suami kamu. Tapi kamu juga harus memikirkan bayi kalian," potong Reva.


"Iya Ma. Sekarang Al sedang bersama Mama Vina di rumah 'kan? Jadi aku mau liat mas Vano sekarang Ma!" Balas Aileen yang tetap teguh dengan keputusannya untuk melihat keadaan suaminya.


"Bukan Aliand maksud Mama. Tapi bayi yang ada dalam rahim kamu!" Jelas Reva dengam senyum mengembang.


Sedangkan Aileen langsung terkejut. Ia memandang tak percaya pada Reva. Lagi? Apa dirinya hamil lagi? "Maksud Mama, Aileen hamil lagi?"


Reva mengangguk. "Iya. Sudah jalan dua minggu. Diusia kehamilan seperti ini sangat rentang. Jadi kamu harus jaga diri kamu lebih ekstra. Jangan stres ya Sayang. Meskipun Vano sekarang belum siuman tapi percaya saja jika Vano akan berjuang untuk hidup untuk kalian."


xxx---


Aileen menggenggam tangan Vano yang masih setia menutup matanya. Kini Vano masih berada di ruang ICU. Keadaan Vano tak ada perkembangan sedikit pun setelah operasi tadi malam.


Wanita yang kembali berbadan dua itu menggenggam lembut tangan suaminya. Tangan yang selalu jadi bantalnya setiap malam. Tangan yang selalu memeluknya. Kini tangan itu lemah dengan jarum infus dan luka lecet yang menghiasi.


Sekuat tenaga Aileen menahan tangisnya. Namun tak bisa. Air mata terus saja mengalir dari pelupuk matanya.


"Mas..... bangun dong. Betah banget sih tidurnya. Mimpi ketemu bidadari ya? Tapi masa kamu lebih betah liat bidadari daripada aku? Kamu gak mau main sama Al?" Ucap Aileen yang berakhir dengan tangis yang terisak.


Bibir Aileen terasa bergetar walau hanya untuk mengeluarkan kata-kata saja. "Oh ya. Al akan punya adik lho. Cepat banget ya. Padahal aku pernah bilang sama kamu kalau usia Al 6 tahun baru mau hamil lagi. Tapi Tuhan sepertinya lebih mengabulkan doa kamu yang pengen cepet ngasih Al adik."


Aileen mengusap air matanya sebelum melanjutkan ucapannya lagi.


"Katanya kalau aku hamil kamu mau nemenin aku. Jagain aku. Mau ngerasain masa-msa ngidam aku. Tapi kenapa kamu gak bangun-bangun? Gimana bisa kamu lakuin itu semua kalau kamu malah asyik tidur? Ayo dong Mas. Bangun. Gak kangen apa sama kami."


Lagi-lagi hanya suara monitor yang menampilkan garis-garis itu yang menjadi respon Aileen. Vano sama sekali tak ada perkembangan. Hal itu yang membuat Aileen terus saja menangis. Ditambah lagi karena keadaannya yang sedang hamil membuatnya begitu sensitif.


"Siapa sih yang lakuin ini sama kamu? Jahat banget!"


Tiba-tiba seorang perawat menghampiri Aileen. "Maaf Bu. Jam kunjungan sudah habis."


Aileen yang memakai pakaian warna hijau itu langsung berdiri dari duduknya. Tak terasa sudah sejam ia berada di ruangan ini. Ia terus mengajak bicara suaminya berharap suaminya otu bisa segera bangun. Namun mungkin lain kali Vano pasti akan bangun. Aileen yakin itu.


"Aku pulang dulu. Assalamualaikum suamiku." Setelah mengucapkan itu Aileen mengecup kening suaminya. Rasanya Aileen tak rela meninggalkan Vano sendiri tapi apa boleh buat.


xxx---


"Sekarang katakan! Apa masalahmu hingga kau ingin membunuh anakku!" Desis Rendra tajam. Akhirnya setelah berhari-hari ia bisa menangkap dalang dari kondisi anaknya saat ini.


"Cihhhh jadi Anda ayahnya Elvano? Si brengs*ek itu?"


"Berani-beraninya kau mengatai anakku! Kau tidak takut mati, Anak Muda?


"Biar saja saya mati asal anakmu juga mati! Hahaha!" Balas pria yang ternyata Doni.


"Tapi sepertinya menyiksamu lebih bagus. Hmmm bagaimana menurut mu dengan penjara? Cukup bagus bukan? Aku tak perlu mengotori tanganku untuk memukulmu! Cukup kebebasanmu terenggut! Bagaimana, Anak Muda?"


"Kamu tidak akan bisa menjebloskanku ke penjara, Pak Tua! Kau tidak punya bukti!"


"Oh ya? Apakah benar begitu? Ardi keluarkan bukti yang kita dapatkan!" Titah Rendra pada anak buahnya.


Lalu pria berotot bernama Ardi itu mengeluarkan bukti itu yang berupa pisau yang telah dimasukkan ke dalam kantong plastik bening.


"Kau melihatnya? Bagaimana dengan itu, huh! Apa masih belum bisa membuatmu mendekam di penjara?" Ejek Rendra.


Doni mengumpat kesal akan kecerobohannya. Ia pikir telah menyimpan pisau itu di kantong hoodienya namun terjatuh saat di berlari. Tapi ternyata bukan itu. Nyatanya setelah menusuk Vano, ia melempar asal pisau itu lalu memukul Vano membabi buta. Sungguh sial sekali Doni.


"Kau mau tau alasanku? Itu karena anakmu itu sudah membuatku menderita hanya karena saya mendekati Aileen. Apa salah saya mendekati gadis yang tidak memiliki pasangan? Tapi anak Anda malah mengancam saya lalu memukul saya. Membuat saya sempat pincang!" Doni mengungkapkan semua itu dengan emosi yang meledak. Napas Doni memburu. Karena setiap mengingat perbuatan Vano padanya ia tidak bisa menahan amarahnya.


Rendra diam mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Doni. Rupanya kegilaan Vano pada Aileen bukan hanya sekadar mengoleksi foto-fotonya. Tapi juga menyingkirkan para lelaki yang mendekati Aileen. Dan semua perbuatan Vano yang diucapkan Doni tadi tidak patut dibenarkan.


"Saya sudah mengatakan alasan saya! Sekarang lepaskan saya!" Desak Doni.


"Jika saya melepaskanmu. Tidak menjamin kamu akan melakukan hal yang sana lagi pada anakku!" Balas Rendra.


Lagi-lagi Doni berdecih. "Membuatnya hingga sekarat saat ini sudah membuat saya senang, Pak Tua! Saya tidak akan mengotori tangan saya lagi!"


Tiba-tiba ponsel Rendra berbunyi. Rendra segera menerima panggilan yang ternyata dari Aileen, menantunya. Suara Aileen langsung menyapanya bahkan sebelum ia mengucapkan sepata kata pun.


"Pa! Ada yang ingin membunuh mas Vano, Pa! Dia... dia membekap mas Vano dengan bantal. Mas Vano sedang ditangani sekarang! Papa harus segera menemukan orang itu. Mungkin saja dia orang yang sama yang telah menusuk mas Vano!" Ucap Aileen di sambungan telpon dengan suara yang serak.


Rendra tertegun mendengar setiap kata yang diucapkan menantunya. Ada yang ingin membunuh anaknya. Bagaimana bisa? Bukankah Rendra sedang bersama pelaku penusukan Vano? Lalu siapa yang berada di rumah sakit itu?


"Papa akan segera ke rumah sakit!" Ujar Rendra sebelum menutuskan sambungan telpon itu.


Rendra maju selangkah ke arah Doni. "Apa kau tidak sendirian saat memukuli anakku? Apa kau bersama temanmu?"


"Saya sendiri. Bukankah anak buahmu itu melihatku keluar sendiri dari gedung?" Jawab Doni setelah terdiam beberapa saat.


"Tadinya saya ingin melepaskanmu. Ardi, jaga dia. Jangan biarkan dia sampai lolos. Saya akn ke rumah sakit dulu!"


"Baik, Pak!"


-TBC-