
Happy reading
.
.
.
Pagi hari ini Vano memaksa untuk menemani Aileen check up. Sebagaimana pun cara yang Aileen pakai, suaminya itu tetap teguh dengan pendiriannya. Padahal Aileen melarangnya semata-mata demi kebaikan pria itu sendiri. Baru sadar dari koma sudah banyak gerak tak memikirkan lukanya yang belum sembuh.
Akhirnya beginilah. Vano duduk di kursi roda yang di dorong oleh seorang suster. Terjadi perdebatan juga tadi. Vano tak mau memakai kursi roda dan Aileen memaksanya. Vano mengalah.
Vano ingin mendorong sendiri kursi rodanya tapi Aileen melarangnya. Aileen yang ingin mendorongnya karena takut luka Vano kembali terbuka. Namun Vano tak ingin jika Aileen yang mendorongnya. Aileen mengalah, akhirnya suster yang mendorong.
Sampailah mereka di dalam ruangan dokter kandungan yang sudah membuat janji dengan Aileen.
Aileen kembali melakukan pemeriksaan seperti kehamilan pertamanya dulu. Soal tes darah, Aileen sudah melakukannya saat diperiksa beberapa minggu lalu saat ia dinyatakan hamil.
"Silakan berbaring Bu," ucap sang dokter pada Aileen. Suster yang berada di ruangan itu pun turut membantu Aileen naik atas brangkar.
Setelahnya baju Aileen disingkap hingga menampakkan perutnya yang sudah mulai membuncit. Aileen heran. Perutnya sudah mulai membuncit padahal baru 4 minggu? Kehamilan pertamanya malah sangat kecil hingga sudah 15 minggu masih datar. Apa karena ini kehamilan kedua? Hm Aileen akan menanyakan pada dokter nanti.
Sebuah gel di usapkan di perut Aileen. Lalu transducer yang dipegang dokter itu digerak-gerakkan di atas perut Aileen.
Semua mata tertuju pada layar monitor. Sebuah gumpalan kecil yang akan semakin membesar nantinya. Vano dan Aileen bersyukur. Kehamilan Aileen kali ini cepat diketahui sehingga mereka bisa menikmati setiap perkembangan janin itu.
"Janinnya sehat. Tak ada kelainan apapun. Tapi.... tunggu....." Ucapan dokter yang menggantung membuat Vano dan Aileen ketar-ketir menunggu lanjutan ucapan sang dokter kandungan.
"Ada apa Dok? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Vano khawatir.
Dokter itu tersenyum lalu menggeleng. "Tidak terjadi apa-apa. Tidak perlu khawatir. Saya hanya ingin menyampaikan kabar gembira bahwa janinnya kembar. Selamat ya Pak, Bu." Dokter itu memberikan selamat.
Vano dan Aileen terpaku. Entah bagaimana mengkespresikan kebahagiaan yabg tak terduga ini. Kembar? Mereka akan memiliki anak lagi, dua sekaligus.
Vano menggenggam tangan Aileen. "Makasih Sayang."
Aileen masih terdiam menatap layar monitor. Masih tak percaya dia hamil anak kembar. Tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat beryukur pada Tuhan.
xxx---
Rendra, Bagas, Reva, dan Vina dibuat heran dengan tingkah laku anak dan menantunya yabg tersenyum-senyum.
"Ma, Pa. Kalian akan punya cucu lagi," ucap Aileen menatap kedua orang tua dan mertuanya.
"Iya Sayang. Kita semua sudah tau. Kamu hamil lagi," balas Vina dengan bingung.
"Iya Ma. Tapi kalian akan punya cucu lagi dua sekaligus!" Seru Vano dengan seyum terukir indah di bibirnya.
"Maksud kalian kembar?" Tanya Reva dalam keterkejutannya.
Aileen mengangguk. "Iya Ma!"
Aileen bangkit lalu membagikan foti usg yang sengaja ia minta dicetak banyak tadi.
"Wah hebat ya kalian. Kembar. Mana makin gak sabar. Al juga kan?" Vina memeluk gemas Aliand yang berada di pangkuannya.
"Al akan adik. Dua lho Al!" Timpal Reva sambil menoel-noel Pipi Aliand.
Semua berucap syukur tiada henti. Sungguh anugerah dari Tuhan. Senyum tak pernah luntur di bibir mereka.
"Kapan Vano bisa pulang?" Tanya Vano tiba-tiba.
"Jika kamu sudah sembuh total. Baru bisa pulang," jawab Rendra.
"Tapi Pa, apa tidak bisa dirawat jalan saja?" Tawar Vano.
"Gak bisa dong Mas. Mas harus sembuh total baru bisa pulang," sela Aileen.
"Tapi aku bosan di sini, Sayang."
"Biarkan saja suami kamu dirawat jalan Aileen. Kan ada kamu yang merawatnya di rumah," timpal Bagas.
"Iya sih Pa. Tapi kalau ada apa-apa gimana?" Keluh Aileen.
"Makanya pulangnya di rumah Mama aja. Kamu juga hamil 'kan. Jadi alangkah baiknya di rumah Mama aja!" Celutuk Reva.
"Wah gak boleh. Di rumah Mama aja Aileen!" Sahut Vina tak terima.
"Nggak Rev. Aileen sama Vano harus di rumahku." Vina tak mau mengalah.
"Kok malah ribut sih. Aileen mau pulang di rumah Aileen sama Mas Vano aja!" Kesal Aileen.
"Tapi Lin. Kamu kan hamil," ucap Vina.
"Iya Ma. Tapi 'kan di rumah ada pembantu. Aileen tidak akan kerja yang berat-berat kok!" Bela Aileen.
"Tapi kamu harus sering ngunjungin Mama ya!" Timpal Reva.
"Mama juga!" Kali ini Vina yang menimpal.
"Iya Mama-Mama-ku sayang!" Gemas Aileen.
Di saat yang lain sibuk berbincang, Rendra mendekati anaknya. Srdari tadi Vano terlihat ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Ada apa Van?" Tanya Rendra pada anaknya.
"Vano tau, Papa pasti sudah menemukan Doni 'kan? Dimana dia Pa?" Balas Vano.
Rendra menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Vano.
"Ya, Papa memang sudah menemukannya. Dia Papa sekap sekarang. Dia tidak mau memberitahukan pada Papa siapa yang mencelakai kamu saat kamu koma. Papa yakin dia tahu siapa orang itu!" Jelas Rendra.
Gantian Vano yang menghela napas berat. "Vano tau siapa pelakunya Pa."
Rendra nampak samgat terkejut. Tangan pria paruh baya itu terlihat mengepal kuat. "Siapa Vano? Kamu sudah memgetahuinya tapi tkdak memeberitahukan Papa? Cepat katakan siapa orang itu biar Papa cebloskan ke penjara!"
Vano menggeleng lemah. "Pa, Vano tidak alan membawanya ke jalur hukum!"
Rendra menatap anaknya tak percaya. Tak habis pikir. "Dia sudah ingin membunuhmu. Lalu kamu ingin melepaskannya begitu saja? Dimana otak cerdasmu itu Van!" Ucap Rendra dengan suara yang tercekat. Ingin sekali pria itu mengeluarkan unek-uneknya namun ia tak ingin keluarganya curiga. Cukup ini menjadi urusannya dan Vano.
"Karena semua ini tidak akan terjadi jika bukan karena Vano sendiri Pa!" Balas Vano dengan nada frustasi.
"Maksud kamu? Kamu.... kamu tidak pernah melakukan sesuatu pada mereka 'kan?" Tanya Rendra pelan.
Vano hanya menunduk lalu menggeleng. "Sayangnya Vano pernah melakukan sesuatu."
Mendengar jawaban Vano membuat Rendra mengusap wajahnya kasar. Benar-benar! Anak yang ia pikir begitu sempurna ternyata memiliki sisi buruk yang tersembunyikan.
"Apa yang telah kamu lakukan pada mereka?" Tanya Rendra pelan.
"Vano tidak ingin mengatakannya Pa," balas Vano.
"Baiklah. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
"Dimana Doni?"
"Dia Papa sekap."
"Vano ingin bertemu Doni Pa!" Vano berucap dengan mata memancarkan permohonan. Jika begitu bagaimana Rendra bisa menolak permintaan anak semata wayangnya?
"Baiklah. Tapi kamu harus sembuh dulu!"
"Tidak Pa! Vano ingin secepatnya!"
"Baiklah. Papa akan mengaturnya."
"Ada apa sih kok bisik-bisik gitu?" Tanya Reva yang sudah ada di samping Rendra sambil menggendong Aliand.
"Hanya membicarakan urusan pekerjaan Ma," jawab Vano.
Mendengar itu Reva menatap kesal suaminya. "Kamu ini! Anak masih sakit malah diajak bahas pekerjaan!"
"Ddeedd!" Jerit Aliand menggapai-gapaikan tangannya pada Vano.
"Aliand mau sama papanya ya? Boleh tapi jangan banyak gerak ya. Papa kamu masih sakit!" Ucap Reva pada Aliand yang diakhiri kecupan.
"Dded!" Aliand berteriak girang sambil memukul-mukul pipi Vano. Setelah itu mencium pipi Vano hingga meninggalkan bekas ait liur yang sangat banyak.
Hal itu membuat semua anggota keluarga tertawa akan tingkah Aliand itu.
-TBC-