My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Random



“Sayur-Sayur, yur, sayur!” Teriak kang sayur komplek perumahan Salsa tinggal. Kang Sayur yang sudah lebih dari 10 tahun berjualan sayur itu sangat di akrab dengan penduduk komplek.


“Ada gambas, Kang?” Tanya Salsa yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya dan menghampiri tukang sayur.


“Ada, non. Tumben cari gambas?” Kang Sayur mengambil gambas yang sudah di plastik.


“Pengen buat sayur bening, kang. Kebetulan adik suami saya sama keluarganya nginep. Ayam nya yang Dada, satu kilo aja, kang. Sama lele nya juga satu kilo.” Jawab Salsa lalu merinci kebutuhan protein untuk hari ini.


“Oke, oke. Cabe nya, non? Kangkung nya juga seger-seger, hijau nya fresh.” Bujuk kang sayur.


“Boleh, deh. Satu iket saja, kang.” Balas Salsa.


Setelah selesai berbelanja dan membayar barang belanjaannya, Salsa masuk ke dalam rumah.


“Yur, sayur.” Kang sayur kembali berteriak.


“Ada jajanan pasar, kang?” Tanya seorang ibu paruh baya.


“Ada, bu. Mau apa saja ada,” jawabnya sambil menujuk berbagai macam jajanan pasar di gerobaknya.


Kang sayur sambil berjualan sambil mengamati ibu paruh baya yang sedang memilih jajajan pasar itu.


“Penduduk baru ya, Bu?” Tanya kang sayur.


Ibu paruh baya itu menoleh, “Iya, kang. Saya tinggal di ujung komplek. Kelihatan kalau orang baru, ya?” Ucap ibu itu.


“Soalnya saya sudah hafal sama penduduk sini, Bu. Maklum sudah lama jualan di sini.” Balas kang sayur.


“Oh, kalau mbak yang tadi juga penduduk sini? Kayaknya baru juga?” Kata Ibu itu menanyakan perihal Salsa.


“Mbak yang punya rumah ini, Bu?” Tanya kang sayur sambil menunjuk rumah Salsa. Ibu itu menganggukkan kepalanya. “Mbak Salsa bukan penduduk baru, Bu. Cuman sempat kuliah lama di Jogja, terus pindah ke sini lagi setelah nikah. Sekarang tinggal sama suaminya.” Jawab kang sayur.


“Ow.” Dan, ibu itu hanya ber “oh” ria. “Jadinya berapa, kang?” Selesai memilih jajanan pasarnya.


“35ribu, Bu.”


Ibu itu mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribuan, lima ribuan dan sepuluh ribuan dari dompetnya untuk membayar jajanan pasar yang dia beli dari kang sayur. “Makasih, kang.”


“Sama-sama, Bu.” Lalu pergi dari tempat itu.


Kang sayur diam-diam mengamati kepergian ibu itu dan bergumam. “Kaya pernah lihat tapi di mana ya?”


***


Salsa memasak di dapur dengan bantuan Jessica. Menyiapkan sarapan berat untuk kesayangan mereka. Setelah berbagai menu terhidang di atas meja, Salsa dan Jessica memanggil kesayangan masing-masing.


“Ini sarapan?” Tanya Jordan dan Yoga serempak.


“Mami sama aunty nggak salah masak?” Kia pun ikut berkomentar melihat banyaknya hidangan di atas meja.


“Hiss, sayang. Mami sama aunty udah semangat banget masaknya lho, kok gitu bilangnya.” Sahut Jessica berpura-pura kecewa akan respon si kecil.


“Maap, mami.”


Jessi mengangkat tubuh kecil Kia dan mendudukkan nya di kursi.


“Sayang, sarapan kayak gini terlalu berat.” Protes Jordan yang terbiasa sarapan dengan menu ala barat roti atau sandwich.


“Nggak, sesekali makan kayak gini. Nggak cuman roti terus.” Balas Salsa.


“Jes, mas, kalau makan pagi banyak suka ngantuk.” Kali ini giliran Yoga yang protes pada Jessica.


“Ngantuk ya tidur, nggak usah protes.” Balas Jessica.


Kia melirik Papi dan pamannya sambil tertawa. Gadis kecil itu seakan sedang mengejek dua lelaki yang takut istri itu.


“Kia sayang mau makan apa?” Tanya Salsa lembut.


“Ini, itu, sama itu aunty.” Kia menunjuk ayam goreng kriuk dan sayur bening gambas juga nasi putih. Dengan telaten Salsa meletakan satu persatu makanan pilihan Kia ke piring sesuai porsi gadis itu.


“Makasih, aunty.”


“Sama-sama, sayang.” Ucapnya sambil mengusap kepala Kia.


“Kamu mau sarapan apa, mas?” Melirik Jordan yang sedang menyeruput teh panas nya.


“Terserah.” Jawab Jordan.


“Nggak ada ya makanan terserah.” Balas Salsa tidak suka dengan jawaban Jordan.


“Nasi sedikit, Ca kangkung sama ayam goreng.” Ralat Jordan sebelum sang istri mengeluarkan tanduk dua nya.


“Ckckck,” Jessi geleng-geleng kepala melihat Jordan yang begitu menurut pada Salsa sambil tangan kirinya memegang piring dan tangan kanannya sibuk menaruh makanan di piring itu. “Nih, mas.” Memberikan piring berisi makanan lengkap 4 sehat kepada suaminya.


Jessi mengelus lembut bahu sang suami, “Kapan-kapan kita ke Jogja deh, nemenin kamu nostalgia di sana, mas.” Ujar Jessi.


“Janji, ya?” Mengelus tangan Jessi yang masih berada di bahunya.


“Kia ikut ‘kan, mi, pi?” Sahut Kia.


“Jelas dong sayang.” Jawab keduanya serempak.


“Aunty Salsa sama uncle Jo juga ikut?” Kia secara bergantian memandang Salsa dan Jordan.


“Aunty usahain ya, sayang. Soalnya aunty ‘kan wajib kerja.” Jawab Salsa.


Kia pun mengangguk pasrah. Dia juga tahu seberapa kesibukan Salsa yang bekerja di rumah sakit lewat cerita sang mami.


***


Sementara di tempat lain, ibu paruh baya yang tadi membeli jajanan pasar di tempat kang sayur itu membuang jajanan pasarnya ke sembarang arah begitu dia tiba di rumahnya.


“Gimana, ma?” Tanya anak perempuan ibu itu.


“Kamu bener, Na. Dia tinggal di rumah itu sama suaminya.” Jawab ibu paruh baya itu.


“Bukannya melarat dia malah hidup enak setelah bapaknya mat*.” Balas sang anak.


“Kamu diem dulu, Na. Biar mama mikir.”


Anak dan ibu itu duduk di sofa ruang tamu dengan pikiran masing-masing.


***


Jordan pulang lebih awal dari jadwal. Dia sengaja karena ingin menjemput Salsa. Sampai di rumah sakit, Jordan langsung menuju ruangan Salsa.


Tok..Tok.. Jordan mengetuk pintu ruangan Salsa pelan.


Salsa dan Tania yang saat itu tengah berdiskusi pun menoleh. “Masuk!” Dengan Tania menyahut ketukan pintu Jordan.


“Kalian masih sibuk?” Tanya Jordan yang sudah berada di dalam ruang kerja Salsa.


“Kita lagi bahas pasien, sayang. Sebentar ya.” Jawab Salsa.


“Okay.” Sahut Jordan dan memilih duduk di sofa sambil menunggu Salsa selesai.


“Tapi, aneh banget nggak sih kalau dokter Nana tiba-tiba baik banget sama kamu?” Kata Tania.


“Aku juga nggak nyaman sama sikap dokter Nana, Tan. Tapi, gimana lagi. Beliau lebih tinggi jabatannya dari aku.” Jawab Salsa.


Jordan diam-diam memasang telinganya dan menguping pembicaraan Salsa dan Tania. “Apa itu percakapan yang membahas pasien, bukan percakapan gosip?” Jordan membatin.


“Dia kayak ada maunya nggak, sih?” Tania tidak bisa untuk tidak berpikiran negatif jika itu menyangkut dokter Nana. Si perempuan yang dulu selalu memusuhi Salsa dan Tania.


“Menurut kamu gitu?” Tanya Salsa dan Tania langsung mengangguk yakin.


“Kamu nggak lupa ‘kan gimana dia sewot nya ke kita pas ada dokter bedah ganteng itu? Sampe-sampe tu dokter di mutasi ke rumah sakit lain gegara Nana suka ngajak ribut terus?” Kata Tania mengingatkan.


“Iya sih, atau kita coba jauhin aja kali ya, Tan?” Ujar Salsa meminta pendapat. Namun, Tania menggelengkan kepalanya, “Aku nggak setuju sih, kalau kita tiba-tiba jauhin dia pasti dia bakalan cari masalah.” Jawab Tania.


“Terus gimana, dong?”


“Kita ikuti aja permainan dia, sambil cari-cari pekerjaan di tempat lain. Terus terang aku juga udah nggak nyaman kerja di sini.” Usul Tania.


Salsa pun setuju, “Ya, udah. Gitu aja deh.”


“Oke , pulang gih. Suami kamu udah nungguin.” Kata Tania sambil menggerakan kepalanya ke arah Jordan dan Salsa mengikuti arah gerakan kepala Tania. Dia melihat Jordan sedang bermain game dengan gawai pintar nya.


“Sayang?” Panggil Salsa.


“Hem.” Jordan menyahut dengan berdehem namun tidak menoleh. Lelaki itu asik pada permainan di gawai pintarnya.


“Tania nebeng boleh, kan?”


“Boleh.”


“Ayo, Tan!” Salsa beranjak berdiri dan semangat akan pulang. Sementara Jordan mematikan gawainya dan berdiri. Dia sudah siap untuk menjadi sopir sepertinya.


“Emang aku udah setuju nebeng sama kalian?” Protes Tania enggan menjadi obat nyamuk.


“Hiss, ikut aja kenapa sih.” Salsa menarik paksa lengan Tania.


“Huh, pemaksaan.”


Dua perempuan cantik itu keluar dari ruang kerja mereka di ikuti Jordan.