My Beloved Husband

My Beloved Husband
Kantin



“Boleh saya gabung?" Dokter Nana tiba-tiba menghampiri meja Salsa dan Tania saat mereka sedang makan siang.


Kantin rumah sakit mendadak ramai gunjingan akibat kedatangan Nana yang hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di lantai kantin. Nana yang merupakan putri pemilik rumah sakit itu biasanya akan makan siang mewah kiriman dari koki nya atau memesan dari restoran.


Mau apa lagi ni orang?


"Silahkan, dok." Sambut Salsa ramah. Tania ikut menyambut dokter Nana dengan senyum palsu nya.


"Ternyata kantin selalu ramai, ya?" Ujar Nana setelah duduk dan meletakkan nampan berisi makan siang nya di meja.


"Ini bahkan tidak seberapa. Bisanya lebih ramai." Sahut Tania datar.


"Masa?"


"Iya, dok. Biasanya lebih ramai." Salsa ikut membenarkan ucapan Tania.


"Saya sudah lama tidak pernah ke kantin. Jadi, ketinggalan update suasana." Katanya tertawa kecil.


Entah kesurupan apa Tania menyahut dengan sindiran. "Bukan udah lama tapi emang dokter Nana 'kan tidak pernah ke kantin."


Seketika raut wajah Nana berubah masam. Dia mungkin kesal dengan ucapan Nana.


Salsa yang khawatir ucapan Tania menjadi masalah langsung menendang kaki Tania di bawah meja.


Merasakan kakinya terayun karena tendangan Salsa, Tania melirik sahabatnya itu dan bersikap cuek. Salsa melototi Tania yang malah cuek.


"Maksud saya dokter Nana 'kan terbiasa hidup teratur jadi makanan pun sudah di siapkan oleh koki. Jadi, wajar dokter Nana tidak pernah ke kantin." Ujar Tania.


Sebenarnya Tania malas bersikap baik begini. Tapi, berhubung Salsa memelototinya, dia pun mengalah.


"Saya kalau jadi dokter pasti juga malas ke kantin. Soalnya makanan dari rumah pasti lebih enak apalagi yang masak koki profesional." Sahut Salsa cepat.


Wajah Nana berubah cerah kembali. "Padahal saya juga pengen tiap hari makan di kantin. Tapi, mama saya terlalu memanjakan saya." Ujarnya menyombongkan statusnya sebagai putri yang di manja.


"Dokter Nana beruntung sekali punya mama yang perhatian." Bukan iri ya, Tania hanya berucap dari pada tidak ada yang menanggapi ucapan dokter Nana.


Baik Tania maupun Salsa tidak iri sama sekali. Tania malah merasa muak dengan sikap Nana yang terkesan dibuat-buat. Tidak natural.


"Ayo dimakan, dok!" Ajak Salsa sebelum makanan mereka dingin.


"Ayam kecap nya enak lho, dok." Kata Salsa seraya melirik menu yang di pilih Nana. Nana mengambil menu nasi merah mungkin karena sedang diet, sayur brokoli dan ayam kecap. Dan, satu menu lain sebagai tambahan.


"Saya dengar ayam kecap nya enak, makanya saya pilih ini." Nana mulai menyantap makan siang nya. Satu persatu lauk dan sayur masuk ke dalam mulutnya.


"Lebih enak ayam kriuknya." Ucap Tania si penggila fried chicken.


Ada satu menu sayur tambahan di piring Nana yang membuat Salsa heran mengapa Nana mengambil menu itu?


"Dokter Nana juga suka pete rupanya." Celetuk Salsa sambil menunjuk menu tambahan di piring Nana.


"Ini namanya pete?" Tanya Nana dan dibenarkan oleh Salsa. "Kata ibu yang jaga ini menu favorit karyawan biasanya. Jadi, saya penasaran makanya ambil." Lanjut langsung memasukkan satu sendok penuh pete ke dalam mulutnya.


"Saya juga suka. Tapi, jarang makan kalau pas jam kerja." Salsa menanggapi sesekali dengan tetap fokus pada makan siang nya.


"Kenapa memang nya?"


Tania penasaran dan langsung melirik ke arah nampan milik dokter Nana. Ada menu sayur tambahan oseng pete dan teri gundul. "Nggak takut bau, dok?" Tania menyahut.


"Bau?" Nana beralih melirik Tania dan Tania langsung menganggukkan kepalanya.


"Pete 'kan bikin bau mulut, dok. Kadang gosok gigi aja gak cukup menghilangkan bau nya." Jelas Tania menakut-nakuti Nana. Padahal bau pete tidak separah itu.


Seketika raut wajah Nana berubah panik dan meletakkan sendok serta garpu nya. "Serius bau?" Memastikan apa yang di ucapkan Tania. Lagi-lagi Tania menganggukkan kepala polos sambil menikmati makanannya.


"Padahal saya ada meeting penting setelah ini." Gumam Nana dengan raut wajah penuh penyesalan. Rasa dan akibat tidak sebanding menurutnya.


"Pakai masker aja, dok." Ujar Tania menyarankan.


Melihat Nana yang tidak lagi mengkhawatirkan bau mulutnya akibat memakan pete, Salsa dan Tania saling pandang dengan tatapan yang tidak bisa di artian.


Ketiganya selesai dengan makan siang mereka. Termasuk Nana yang menghabiskan iseng pete nya tanpa tersisa sedikitpun.


"Kamu kenapa nggak makan pete pas jam kerja, Sa? Padahal bisa pakai masker kalau takut bau?" Tanya Nana sambil mengelap sekitar bibir dengan tisu.


Tania yang sedang meminum es jeruk nya itu melirik Salsa. Dia penasaran akan jawaban Salsa.


"Soalnya saya nggak mau mabuk bau mulut sendiri, dok. Bisa sih pakai masker tapi berarti saya sendiri yang cium bau pete nya." Jawab Salsa jujur juga sambil mengelap bekas makanan yang tersisa di sekitar bibirnya.


Ekspresi Nana berubah panik lagi mendengar jawaban Salsa. Dia tidak berpikir sejauh itu. Apa yang harus dia lakukan sekarang untuk menghilangkan bau mulutnya?


Mendengar jawaban Salsa--Tania bersorak girang. Dia memang sengaja menyarankan hal yang akhirnya akan di sesali Nana. "Mampus Lo!" Batin Tania.


"Tania.. Kamu sengaja!" Sentak Nana melototi Tania.


Tania dengan cepat geleng-geleng kepala. "Nggak, dok. Saya refleks aja pas kasih saran tadi." Elaknya.


"Bohong, pasti kamu sengaja biar saya nanti malu pas meeting." Tuduh Nana marah.


"Tania beneran nggak sengaja, dok. Lagian nggak mungkin Tania berani membuat dokter Nana malu." Lerai Salsa membantu Tania.


Mendengar Salsa membela Tania. Dia tidak bisa lagi menyerang Tania. Apalagi banyak orang sedang memerhatikan mereka.


"Maaf, saya sudah berpikiran yang tidak-tidak." Ucap Nana mengalah demi citra nya. Orang-orang yang sedang berada di kantin tidak boleh melihat Nana yang selalu sempurna marah hanya karena hal kecil.


"Saya juga minta maaf salah menyarankan." Balas Tania.


"Nah, lebih baik dokter Nana segera gosok gigi atau kumur-kumur biar nanti pas meeting bau nya hilang." Salsa memberi Saran bijak.


"Kamu benar," angguk Nana. Tanpa berpikir panjang Nana langsung menuruti saran Salsa. Dia tidak mau bau mulut saat sedang bertemu orang penting. "Kalau begitu saya duluan ya." Pamit nya seraya beranjak. Pergi bersama wadah kotor bekas makannya.


Salsa dan Tania memandang kepergian dokter Nana sambil menahan tawa.


"Kamu sengaja 'kan, Tan?" Salsa menepuk bahu Tania dan tertawa leaps setelah melihat Nana keluar dari area kantin dengan menggunakan masker. Saat melihat ada yang menyapa nya Nana hanya menganggukkan kepala.


"Habis siapa suruh putri sok-sok an jadi upil abu. Udah bener makan di kantornya kiriman koki, pakai berlagak mau makan di kantin." Sebal Tania.


"Huss, nggak boleh sensi." Lagi-lagi Salsa mengakak.


"Dia pasti mabuk bau mulutnya sendiri, wkwk." Ujar Tania puas berhasil mengerjai Nana.


"Padahal bau karena makan pete nggak separah itu bagi yang udah terbiasa makan dan tau cara ngatasinnya." Ucap Salsa.


"Yang paling parah ibu kantin tuh pakai ngerekomendasi in pete ke anak sultan." Kelakar Tania.


Dan, sepanjang koridor menuju ruangan nya Nana selalu menjawab sapaan orang dengan anggukan kepala, bak orang sakit gigi yang merasa kesakitan jika berbicara jadi hanya bisa mengangguk menggelengkan kepalanya.


"Sialan!" Teriak Nana sesaat setelah melepas masker nya di dalam ruangannya. Hembusan nafas nya cukup memabukkan sebab berbau aneh dan tidak enak.


Puk.. Di tutup nya refleks mulutnya akibat bau mulut yang dia sendiri tidak tahan akan baunya. "Ini sangat bau." Keluh nya bergegas menuju kamar mandi untuk menggosok gigi.


***


Pulang kerja Salsa dan Tania mampir ke Mall untuk membeli baju. Mereka sudah janjian setelah gaji turun akan berbelanja bersama.


Saat sedang melihat arah toko tas, Tania melihat seseorang yang di kenali. "Sa, sa." Panggil Tania sambil memukul-mukul lengan Salsa.


Salsa yang sedang memilih atasan pun menoleh, "Apaan sih?".


"Itu lihat!" Menunjuk arah toko tas yang tidak jauh dari tempat mereka. Mungkin sekitar 15 meter dari tempat Tania dan Salsa sekarang.


Salsa melepaskan atasan yang semula ia pegang dan kembali mencantolkan nya ke tempat semula. Pandangan matanya mengarah pada ujung jari telunjuk Tania. “Mama?”