
Happy Reading
.
.
.
Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya Aileen sudah bisa pulang bersama bayinya. Senang? Tentu saja. Siapa yang tidak senang jika kembali ke rumah. Rumah yang Aileen maksud adalah rumahnya bersama Vano. Di Jakarta, bukan Bandung rumah Dian.
Aileen menuruni mobil setelah di bukakan oleh suaminya. Mereka melangkah menuju pintu rumah mereka.
"Kok gelap Mas?" Tanya Aileen saat melihat keadaan rumah yang gelap gulita. Ia berbalik menatap suaminya yang berada di belakangnya. Meskipun susah memandang wajah tampan suaminya di tengah kegelapan.
"Kemana bi Inah? Gak kamu pecat 'kan? Pak Subro juga mana? Gak kamu pecat juga 'kan? Kenapa cuman ada pak Leman?" Lanjut Aileen saat tak mendapat respon dari Vano. Kini Aileen menatap suaminya curiga. Pasalnya suaminya itu benar-benar sesuatu. Banyak hal yang tak terduga diperbuat suaminya.
"Tentu saja tidak. Sekarang lihat ke belakangmu!" Pinta Vano.
Mata Aileen yang tadinya memicing tajam kini berubah takut. "Ada hantu ya? Kok kamu buat rumah yang ada hantunya sih? Kamu ihhh!"
Vano terkekeh mendengarnya. Dengan pelan ia membalikkan tubuh wanitanya yang sedang menggendong buah cinta mereka. Tepat saat Aileen berbalik, lampu menyala di sertai siara yang bersahutan.
"Welcome home!!!!"
Aileen terkejut melihat semua anggota keluarganya dan Vano berada di rumahnya memberikan sambutan untuknya. Sungguh tak terduga. Bahkan neneknya yang selama ini mendekam di Jogja turut hadir.
Tangis haru tak dapat Aileen tahan. Sudah sangat lama Aileen tidak berkumpul dengan keluarganya. Bahkan saat Aileen menikah pun hanya beberapa keluargamya yang datang. Tapi hari ini? Mereka datang.
"Kok nangis? Kamu tidak mau peluk Oma?" Ujar Meri -nenek Aileen.
Aileen mengusap air matanya sebelum menghampiri neneknya. Ia langsung memeluk neneknya dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain masih menggendong baby Al. Ia sungguh merindukan ibu dari papanya ini.
"Oma... Aileen kangen," rengek Aileen dengan manjanya.
"Duh manja banget sama Oma. Malu dikitlah ama anak lu Ai!" Celutuk Vella -sepupu Aileen- yang seumuran dengan Vano. Celutukan Vella langsung mengundang tawa semua orang di situ.
"Biarin! Ya 'kan Oma?" Aileen kembali memeluk manja neneknya.
"Sini biar Mama yang gendong Aliand. Kamu bisa kangen-kangenan sama Oma kamu," ucap Reva yang sudah berada di samping menantunya untuk mengambil alih baby Al.
Kini Aliand sudah dikerubuni oleh dua kubu keluarga. Maklum saja, Aliand adalah cucu pertama di kedua keluarga itu. Dan mungkin Aliand akan kelimpahan kasih sayang yang begitu besar.
"Jadi ini suami kamu. Tampan sekali, sopan pula. Kamu beruntung Aileen," ucap Meri saat Vano selesai menjabat tangannya. Sedangkan Vano hanya tersenyum sopan mendengar dirinya di puji.
"Iya dong Oma. Aileen 'kan cantik. Jadi sepadan dong sama mas Vano!" Kelakar Aileen.
"Maafkan Oma yang tidak sempat hadir di pernikahan kalian. Asam urat Oma kambuh saat itu. Maklumlah sudah tua,"
"Tidak apa-apa Oma. Tapi Oma sudah sehat 'kan?" Sahut Vano.
"Untuk yang usia seperti Oma ini bisa dikatakan sehat lah," balas Meri penuh canda.
"Vano, terima kasih ya kamu sudah membahagaikan cucu manja Oma ini. Dan berjanjilah untuk selalu membahagiakannya dan menjaganya. Anak kalian juga tentu saja," lanjut Meri menggenggam tangan Vano dan Aileen.
Vano terhenyak mendengar ucapan Oma Meri. Selama ini Vano memang berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan Aileen. Tapi Vano tidak menjamin bahwa ia tak pernah membuat Aileen merasakan perasaan selain bahagia.
"Vano tidak janji Oma. Vano tidak mau membuat kalian kecewa jika suatu waktu Vano membuat Aileen bersedih tanpa sengaja. Tapi yang Vano lakukan adalah berusaha. Berusaha untuk membahagiakan mereka dan menjaga mereka," balas Vano membuat Meri tersenyum bahagia.
"Aileen, Vano!" Panggil Vina yang berada di samping besannya. Panggilan itu mengalihkan semua pandang orang ke arahnya.
"Ya Ma?" Jawab Aileen dan Vano bersamaan
"Kalian jangan punya satu anak aja ya! Buat adik yang banyak untuk Aliand!" Ucap Vina membuat senyum Aileen luntur.
"Benar itu. Cukup kalian saja yang anak tunggal!" Imbuh Reva yang semakin membuat Aileen rasanya ingin menghilang.
Hei! Baru beberapa hari ia melahirkan sudah di suruh nambah lagi? Yang benar saja! Perih setelah melahirkan Aliand saja masih terasa.
Rasanya Aileen ingin meminta kantong ajaib doraemon sekarang untuk menghilang dari tempat ini. Tempat ia ditertawai oleh keluarganya. Aileen malu. Beneran malu.
xxx---
"Sayang, bangun. Heiii....." Sebuah suara yang mengusik tidur nyenyak Aileen. Karena terusik, mau tak mau Aileen bangun dengan malas. Ia mengucek matanya sambil menguap.
"Sayang, Al nangis dari tadi. Aku sudah menggantikan diapernya tapi masih menangis. Mungkin Al lapar," lapor Vano yang menggendong, berusaha menenangkan baby Al.
Mata Aileen langsung terbelalak. Bagaimana ia bisa lupa jika ia sudah punya anak? Bagaimana ia bisa tidak mendengar suara tangisan anaknya yang menggelegar?
"Ibu macam apa aku ini!" Rutuk Aileen pada dirinya sendiri.
Dengan segera Aileen menuruni ranjang untuk mencuci muka dan membasuh bagian tubuhnya sebelum mengambil Al dari gendongan suaminya. Al tak berhenti menangis. Barulah berhenti setelah berhasil diberi asi oleh Aileen.
Vano terus mengusap lembut kepala anaknya yang tengah menyusu dengan semangat. Vano senang di usia anaknya yang seminggu ini begitu sehat. Bahkan tangisnya tadi begitu kuat 'kan?
"Kamu dari tadi udah bangun?" Tanya Aileen setelah melihat jam di dinding kamar mereka yang menunjukkan pukul 2 dini hari.
Vano yang sedang menunduk menatap anaknya kini menegakkan tubuhnya menatap istrinya. Pria itu tersenyum tipis sebagai jawaban. Aileen yang mengerti pun tersenyum sekaligus meringis dalan batinnya. Suaminya adalah suami dan ayah siaga. Sedangkan dirinya? Sungguh terlalu.
"Maaf ya. Aku susah bangunnya," ucap Aileen menatap suaminya penuh penyesalan.
"Tak apa. Kamu tidak usah kepikiran seperti itu. Selama amu bisa menenangkan Al, aku tidak akan membangunkanmu. Kamu sudah merawat Al dari pagi hingga petang. Jadi biarkan aku yang merawatnya di malam hari," balas Aileen yang membuat Aileen benar-benar merasa beruntung memiliki Vano. Lupakan kesalahan Vano.
Banyak yang bilang bahwa satu kesalahan membuat 10 kebaikan terlupakan. Tapi Aileen melakukan sebaliknya. Vano berbuat kesalahan, maka yang Aileen lakukan saat itu adalah mengingat semua kebaikan Vano. Bukankah kita harus selalu berpikiran positif terhadap suatu hal? Vano yang mengatakan itu padanya dulu. Dan itu pula yang Aileen lakukan.
Setelah memberikan asi pada baby Al, Aileen kembali meletakkannya di tengah ranjang berukuran besar mereka. Memang sudah tersedia box untuk baby Al. Tapi Aileen dan Vano memutuskan untuk tidur bertiga saja karena Aliand masih terlalu kecil.
Setelah meletakkan Al, Aileen dan Vano ikut berbaring di sampingnya. Jam pun sudah menunjukkan pukul 2.38 dini hari. Aileen menguap pertanda sudah mengantuk. Ia pun memejamkan matanya diiringi sebuah kecupan di dahinya. Ya tentu saja dari Vano. Siapa lagi jika bukan suami tampannya itu.
"Sleep tight, Sayang."
-TBC-
Akhirnya bisa up lagi.... yeayyy!!!!
Kemarin sih niatnya mau menamatkan cerita ini tapi gak jadi :v
Kalian nyadar ga? Meskipun aku udah bilang End di judulnya tapi di akhir part tetep TBC (to be continued) bukan End:v
Ok See u next part...
Jangan bosan ya...
Ada yang mau ditanyakan tentang aku sama cerita ini? Komen aja....