
***
"Gimana, udah bilang sama Jordan?"
Salsa baru saja tiba di ruang kantor nya sudah ditodong pertanyaan oleh Tania.
"Belum, semalem Jordan lembur. Dia sampai rumah tengah malem, aku juga udah tidur. Terus tadi pagi lupa mau ngomong." Jawab Salsa.
"Gak papa, kamu bisa bilang nanti." Balas Tania.
"Eh, tapi nanti 'kan kita pulang kerja kondangan." Ucap Salsa teringat agenda nya setelah selesai bekerja.
"Nah, aku baru mau ngingetin. Kamu sama Jordan?" Tanya Tania.
Salsa menggeleng, "Nggak. Jordan sibuk."
"Berarti berangkat berdua aja kita?" Tania mematikan dan Salsa mengangguk sebagai respon.
Sepulang dari bekerja, Salsa dan Tania pergi ke pesta pernikahan anak sulung pemilik rumah sakit, yang juga kakak dari dokter Nana. Pesta pernikahan itu menyewa ballroom hotel dengan fasilitas bintang 5. Acaranya sudah pasti mewah tidak perlu diragukan lagi.
"Ribet banget sih pakai gaun segala," Gerutu Tania sambil mengangkat gaun malamnya hingga selutut. "Tau gini aku pakai dress pendek aja." Keluh nya sebab saat ini ia mengenakan long dress yang fit body sampai telapak kaki.
Salsa melirik sahabat nya yang sedang menggerutu itu dengan jengah. "Kan, tadi aku udah bilang pakai yang simpel biar nggak ribet aja. Kamu ngeyel sih." Ujar Salsa.
"Niatnya aku mau tampil beda. Siapa tau dapat jodoh." Balas Tania.
"Yuk, masuk!" Ajak Salsa.
Kedua perempuan itu masuk ke dalam ballroom yang sudah disulap menjadi aula pernikahan dengan dekorasi modern mengusung gaya princess.
"Ini hotel mertua kamu 'kan?" Tania ingat pernah masuk ke hotel ini saat pesta pernikahan Salsa dan Jordan.
"Iya."
"Kalau nginep dapat diskon nggak?" Entah mengapa Tania ingin merasakan menginap di hotel mewah.
"Nggak tau. Pengen?"
"Emang kamu nggak pengen nginep di hotel mewah kayak gini?" Tania balik bertanya.
"Udah pernah sih."
"Pamer."
"Iri bilang bos."
"Emang iya, bantuin dong minta diskon. Mau staycation sesekali di hotel mewah."
"Iya. Nanti."
Satu persatu tamu yang datang mulai naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada pengantin dan keluarga yang berbahagia. Termasuk Salsa dan Tania. Setelah memberikan ucapan selamat, Salsa dan Tania kembali menikmati hidangan di acara tersebut sambil menggosip.
"Aku baru pertama kali lihat mama nya dokter Nana." Ujar Tania sambil memandang ke arah pelaminan.
"Aku pernah lihat sekilas tapi lupa juga pas ada acara di tempat mommy." Sahut Salsa.
"Tapi nggak mirip. Lebih mirip sama ibu-ibu yang di mall kemarin, ups." Tania yang keceplosan langsung menutup mulutnya. "Aku nggak bermaksud apa-apa lho," Buru-buru Tania menjelaskan apalagi setelah melihat perubahan ekspresi di wajah Salsa.
Salsa tersenyum kecut. "Bukan cuman kamu yang berpikiran seperti itu. Aku juga mikir gitu." Ucap Salsa mempunyai pemikiran yang sama dengan Tania.
"Atau jangan-jangan kamu sama dokter Nana?" Tania kaget sendiri dengan ucapannya bahkan ia sampai menganga saking tidak percayanya. "Jangan-jangan kalian saudara kandung." Sambung nya berbisik.
"Nggak mungkin. Saat aku kecil, aku nggak punya saudara. Papa juga nggak pernah bilang." Tepis Salsa.
"Atau mungkin mama kamu punya dokter Nana setelah pisah sama papa kamu." Duga Tania.
"Itu lebih nggak mungkin dodol. Dokter Nana sama aku tua an dokter Nana. Kamu lupa, dia senior kita." Ucap Salsa sambil geleng-geleng kepala.
Jangankan Tania, Salsa lebih bingung. Apa hubungan Nana dan mama Sinta yang sebenarnya. Jika, Sinta memang menikah dengan pemilik rumah sakit, tapi, kenapa yang ada di acara saat ini orang lain bukan Sinta? Padahal jelas-jelas saat di mall Salsa dan Tania mendengar Nana memanggil Sinta dengan sebutan 'mama'.
Sementara Salsa sibuk dengan pikiran nya, Tania sibuk mencicipi berbagai macam makanan di tempat itu. Dari dessert hingga main course semua Tania cicipi. Tidak ada yang terlewat sedikitpun.
"Salsa." Panggil seseorang dengan suara yang lembut.
Salsa menoleh dan melihat sosok yang di kenal nya.
"Mommy." Ujar Salsa senang melihat kehadiran Ayu di tempat itu.
Ayu pun tak kalah senangnya saat melihat ada Salsa di acara itu. Dia langsung menghampiri sang menantu.
"Kamu sama siapa?" Tanya Ayu begitu tiba di dekat Salsa.
"Sama Tania, mom." Jawab Salsa sambil menoleh dan menunjuk arah sebelahnya, "Eh, tadi ada, kok." Lalu celingukan menyadari Tania tidak lagi berada di sebelahnya
Ayu pun ikut celingukan mengedarkan pandangan mencari sosok Tania. "Mungkin ke toilet." Ucap Ayu tidak bisa menemukan Salsa dari edaran pandangannya.
"Bisa jadi sih, mom." Salsa kembali fokus pada Ayu yang berdiri di hadapannya, "Mommy sendiri sama siapa?" Salsa memastikan sebab ia tahu Daddy Raka masih di luar negeri.
"Mommy sendiri aja, sama sopir. Tau kamu juga ke sini, tadi mommy jemput." Jawab Ayu.
"Salsa bawa mobil kok, mom." Balas nya.
"Sebenernya mommy malas, tapi, karena yang punya acara kenalan nya Daddy jadi mommy nggak enak kalau nggak dateng." Ujar Ayu sedikit berbisik.
Salsa terkekeh kecil. "Sama, mom. Salsa juga sebenarnya males, tapi karena yang punya acara bos di tempat Salsa kerja jadinya berangkat deh." Balas nya tak kalah berbisik.
"Oh, mommy baru tahu. Soalnya Daddy nggak pernah cerita. Jadi, Pak Danu itu yang punya rumah sakit tempat kamu kerja?"
Salsa mengangguk, "Iya, mom. Istrinya udah umur ya, mom."
Loh, kok malah menggosip si Salsa.
"Kayaknya emang lebih tua istrinya dari pak Danu. Tapi, bu Ira itu yang berduit." Ujar Ayu sedikit tahu tentang pemilik rumah sakit.
"Pantes." Ucap Salsa.
Saat mereka mengobrol, Tania tiba-tiba datang sambil menyangga perutnya dengan tangan.
"Itu muncul si Tania." Kata mommy Ayu yang lebih dulu melihat Tania.
"Eh, ada Mommy." Sapa Tania dan Ayu mengangguk kecil.
"Kenapa kamu?" Tanya Salsa merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya.
"Perut aku sakit." Cicit Tania memelas. Masih dengan tangan di depan perut mengelus-elus perutnya.
"Kebanyakan makan itu. Makanya kalau makan itu nggak serakah." Komentar Salsa. Tania justru menggelengkan kepalanya, "Bukan karena itu." Ucap Tania.
"Tapi, kamu kelihatan pucet lho, Tan." Ayu menyahut melihat wajah Tania yang memucat.
Lalu, Salsa pun memandangi Tania dengan seksama. "Iya ternyata." Salsa maju selangkah dan memegang lengan Tania, "Pusing nggak?" Tanya Salsa kemudian dan Tania mengangguk lemah.
"Mending kita ke rumah sakit aja, Sa. Mommy jadi khawatir sama Tania." Ujar Ayu.
Salsa menoleh sekilas pada Ayu lalu kembali fokus pada Tania, "Gimana, Tan?"
Sementara Tania mulai lemas. Menanggapi Salsa saja rasanya susah.
"Keknya aku keracunan deh." Lirih Tania.
"Mommy telepon sopir sekarang, terus kita ke rumah sakit." Ucap Ayu memutuskan lalu menghubungi sopir nya.