My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bandung 2



Mau nyertain foto tapi sinyal jelek banget :'(


Happy Reading


.


.


.


"Aawwhhh!" Ringis Aileen membuat Vano melepaskan pelukannya dan menatap istrinya itu yang meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Itu pertanda jika yang sakit itu perutnya 'kan? Dan di dalam perut itu ada anak mereka. Apa Aileen akan melahirkan sekarang?


"Heiii Sayang, perut kamu sakit?" Tanya Vano khawatir. Bahkan pekuh sudah bercucuran di keningnya saking khawatirnya.


Aileen menggeleng kecil. Lalu tersenyum. "Ini udah biasa kok. Bayi kita suka nendang keras."


Ucapan Aileen membuat Vano merasa seperti terbang. Bayi kita. Aileen sudah tidak marah 'kan? Tapi di satu sisi ia sedih. Ia tidak ada di samping istrinya selama ini. Kata Aileen bayi mereka memang sudah biasa menendang begitu kan? Artinya sudah sering.


"Awhhh!" Ringis Aileen lagi. Tapi ia mencoba menahan ringisan itu lagi dengan menggigit bibir bawahnya keras. Ia jadi berpikir, kenapa bayinya jadi begitu agresif hari ini? Tendangannya jauh lebih keras dari biasanya kali ini.


Dengan cepat Vano ikut melesatkan tangannya di perut buncit istrinya. Ia ikut mengelus perut itu. Percaya atau tidak, tendangan itu perlahan mulai berhenti. Aileen sampai terperangah dibuatnya. "Apa ini ikatan batin seorang ayah dan anak?" Pikir Aileen sambil memandang berganti perutnya dan Vano yang kini memandang haru perutnya.


Masih mengusap perut Aileen, Vano mendongak menatap istrinya itu dengan wajah sumringah. "Aku bisa merasakannya tendangannya tadi.... Oh Tuhan.... aku tidak percaya ini. Aku sebentar lagi jadi Ayah."


Vano yang memang sudah berjongkok dengan kepala yang sejajar dengan perut sang istri memudahkannya untuk mencium perut buncit itu. Ia memejamkan matanya saat merasakan tendangan kecil anaknya saat ia mencium perut itu. Sungguh, Vano sangat bahagia hari ini.


xxx---


"Aileen?" Kaget Gino saat mendapati Aileen dan Vano yang sedang bermesraan di sofa yang tak besar itu.


"Ya Ben? Ada apa? Kenapa kamu kaget gitu?" Tanya Aileen yang tak merubah posisinya yang saat ini sedang menyandar di dada sang suami.


"Anjirrr aku kamu! Sejak kapan lo pakai aku kamu sama gue! Kesannya aneh tau gak!" Balas Ben berjalan mendekati sofa.


Dan sialnya baru saja ia duduk sudah mendapat lemparan buku dari Aileen yang mendarat sempurna di wajahnya. "S*alan lo Ai! Kenapa lo lemparin gue buku sih! Siapa juga nih yang nyimpan buku s*alan ini di sini!" Kesal Ben menyimpan buku itu kasar di meja.


Baru saja Ben mendongak, ia sudah dipelototi oleh sepasang suami istri di depannya. Ben baru menyadari bahwa buku yang ia umpati tadi adalah buku Vano dan cewek yang ia umpati juga adalah istri Vano.


"Hehe peace El! Abis bini lo ngeselin! Maaf ya. Kita 'kan sobat jadi gak boleh marah gitu ya!" Bujuk Ben dengan cengirannya.


"Sama aku nggak minta maaf? Udah dua kali lho. Tadi bilang aku sialan lalu ngeselin!" Celutuk Aileen menatap Ben tajam.


"Ya abisnya lo kok tiba-tiba ngomongnya gitu. Risih tau gak! Lo nggak kek biasanya yang ceplas-ceplos! Kalau mau aku kamuan sama suami lo aja!" Balas Ben santai.


"Kamu jangan suka ngumpat! Itu gak baik buat bayi aku! Ntar kalau niruin gimana?" Ujar Aileen dengan wajah kesalnya.


"Yaelah Ai! Bayi lo masih di dalem perut! Mana bisa denger dan niru!" Cibir Gino yang baru saja bergabung. Cowok itu langsung bertos ria dengan Ben.


"Siapa bilang gak bisa denger? Bisa kok! Jadi kalau di depan aku kalian harus jaga ucapan!" Ucap Aileen mutlak.


Ben dan Gino hanya mengumpat dalam hati. Ingin membalas ucapan Aileen tapi Vano sedari tadi memandang mereka tajam seakan mau membunuh lewat tatapan itu.


"Yaudah iya! Puas Nyonya Aileen!" Sungut Gino.


Aileen hanya tersenyum kecil melihat sahabat suaminya yang sudah kesal itu. Ben dan Gino seakan menjadi hiburan tersendiri bagi Aileen.


"Eh ngomong-ngomong Ivan kok gak ikut?" Tanya Aileen saat menyadari mereka tidak lengkap.


"Ivan sibuk," jawab Vano sambil mengelus kepala Aileen dan sesekali mengecupnya.


"Kalau mau mesra-mesraan di kamar noh! Bikin yang jomblo ngiri aja!" Timpal Gino.


"Makanya kalian nyari pacar. Kalau gini kan keliatan banget ngenesnya kalian! Ada Rena yang jomblo juga btw. Siapa tau kalian mau. Ets salah satu dari kalian aja!" Ujar Aileen dengan wajah menyebalkannya.


"Rena yang mana? Cantik gak?" Balas Ben antusias.


"Cantik. Dia blasteran Jepang lho!" Jawab Aileen yang langsung duduk.


"Temen sebangku lo yang dulu itu?" Kali ini Gino yang bertanya.


"Iya. Cantik kan? No?" Jawab Aileen.


"Wah boleh tuh!" Ujar Ben dengan semangat.


"Lo yang semangat gitu malah gue kasian Ben. Kentara amat lo kelamaan menjomblo karena gak laku-laku. Lagian ya gue jelasin sama lo! Rena itu gak cantik-cantik amat! Cerewet! Nyebelin! Gak sopan!" Jelas Gino.


"Masa sih?" Tanya Ben ragu.


"Iya. Lo gak percaya sama gue?" Balas Gino.


"Sorry, gue lebih percaya sama Aileen," ujar Ben yang mendapat geplakan dari Gino.


"Gue yakin No! Lo kelamaan menjomblo karena gak ada cewek yang mau sama lo karena suka geplak!" Rutuk Ben yang sama sekali tak dipedulikan oleh Gino yang sekarang sudah asyik bermain game di ponselnya.


"Jadi mau gue kenalin Ben?" Tanya Aileen senang.


"Gak deh Ai. Gue gak mau liat Gino yang menjomblo sendiri. Gue kan solid!" Jawab Ben sambil menepuk pundak Gino berkali-kali.


"Ishh ganggu aja lo Ben. Tuhkan gue jadi kalah!" Rutuk Gino menepis tangan Ben. Ben pun protes dengan tingkah Gino itu. Mereka terus mengoceh dengan pertengkaran maupun dengan kekompakan. Begitulah Ben dan Gino. Sedikit-sedikit berantem setelah itu akur lagi. Mereka bahkan mengabaikan Aileen dan Vano.


"Kamu menginap di sini ya?" Ucap Vano kembali menarik Aileen dalam pelukannya.


"Nggak ah. Kamar di sini 'kan cuma 1 yang gak kekunci. Masa temen-temen kamu tidur di sofa sih? Kan gak enak!" Tolak Aileen dengan tangan yang mengukir abstrak di dada Vano dengan jari telunjuknya.


"Kalau begitu aku yang ikut kamu ya?" Tawar Vano.


"Gak bisa juga. Kamar di rumah Dian cuma dua. Aku aja tidur bareng Dian. Kalau kamu nginep juga paling di sofa. Kan kamunya yang kasian. Pegal nanti badan kamu."


Mendengar itu membuat Vano mendengus kesal. Ia ingin tidur bersama istrinya. Ia ingin memeluk tubuh istrinya hingga menjelang pagi. Saking rindunya dirinya.


Aileen medongak menatap wajah suaminya yang cemberut. Sungguh langka. Akhirnya Aileen mengecup bibir Vano yang cemberut.


"Lagi!" Rengek Vano dengan suara yang kecil. Mungkin takut didengar Ben dan Vano.


Aileen tertawa sebelum kembali mengecup bibir suaminya yang sedang merajuk itu. Namun saat Aileen ingin melepaskan kecupannya, Vano malah memegang kepala Aileen dan langsung melum*at bibir istrinya itu. Sudah lama sekali Vano tidak mengecap bibir itu. Hingga kini ia seperti ingin memakan bibir Aileen saja.


"Njirrr kita nonton adegan live Ben!" Celutuk Gino yang tak didengar oleh Vano yang menikmati kegiatannya.


"Baru tau gue Vano seganas itu!" Timpal Ben disertai decakannya. Ia menggeleng-geleng tak percaya melihat Vano dan Aileen.


"Woiyyyy kalian berdua ke kamar sana! Udah gue bilangin tadi! Ngeyel banget sih!" Teriak Gino sambil melemparkan casing ponselnya ke arah Vano.


Karena Gino yakin. Jika tidak begitu, maka Vano tidak akan berhenti. Dan pada akhirnya mereka akan dipertontonkan lebih adegan live. Kan Ben dan Gino jadi pengen juga tapi sayangnya mereka belum ada istri. Sungguh kasihan mereka berdua.


-TBC-