My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Bertemu Jessi



Saat jam istirahat tiba-tiba Nana memanggil Salsa untuk datang ke ruangannya.


“Dokter memanggil saya?” Tanya Salsa yang sudah sampai di dalam ruangan Nana.


Dokter Nana mengangguk, “Ada yang ingin bertemu dengan dokter Salsa. Silahkan duduk!”


Salsa menurut dan duduk di sofa yang di tunjuk Nana. “Siapa, dok?” Tanya Salsa bingung.


Nana yang sudah lebih dulu duduk di sofa itu kini memiringkan tubuhnya menghadap pintu ruangan lain yang ada di ruangannya. Lalu menunjuk ke arah pintu itu. “Mama ingin bertemu kamu.”


Salsa ikut menoleh kan kepalanya ke arah yang di tunjuk Nana. Dia bisa melihat jelas seorang perempuan paruh baya yang dikenalnya berjalan ke arahnya dengan senyuman. “Mama.” Batin Salsa melihat Sinta melangkah ke arahnya.


“Sa.. Ini mama.” Ucap perempuan penuh baya yang tidak lain adalah Sinta. Ibu yang dulu pernah meninggalkan dia dan alm. Damar saat dia masih kecil.


Dada Salsa mendadak terasa bergumuruh naik turun. Perasaan benci yang selama ini tidak pernah ia ungkapkan mendadak memprotes seakan ingin diungkapkan. “Ibu siapa, ya?” Tanya Salsa berpura-pura tidak mengenal Nana dengan sikap tenang. Dia harus tenang saat ini agar tidak ada yang menyadari bahwa dirinya sedang berpura-pura tidak mengenal Sinta.


Baik Nana maupun Sinta langsung tercengang kaget mendengar pertanyaan Salsa. Mereka tidak menyangka Salsa akan bereaksi seperti itu.


“Sa, ini mama, nak. Mama yang sudah melahirkan kamu.” Sinta bergerak mendekati Salsa dan hendak meraih tangan Salsa namun Dalsa langsung menggeser tubuhnya menjauh. “Sa?” Panggil Sinta berkaca-kaca.


“Maaf, dokter Nana. Saya harus pergi.” Ucap Salsa berdiri dan langsung keluar dari ruangan itu begitu saja tanpa menunggu sahutan dari Nana.


“Salsa!!” Pekik Sinta hendak mengejar Salsa.


“Biarkan saja, ma.” Tahan Nana.


Sinta menoleh, “Kamu ini gimana sih, Na. Harusnya mama kejar Salsa, kenapa kamu malah menahan mama?” Sebal Sinta dengan sikap Nana yang malah menahannya saat akan mengejar Salsa.


“Mama pikir dia akan mendengarkan mama saat ini?” Nana menatap tajam Sinta yang sudah duduk di sofa dengan angkuh. Perempuan paruh baya itu menggelengkan kepalanya, “Iya juga ya, dia pasti kesal.” Ucap Sinta.


“Sudahlah lupakan saja. Lagi pula aku yakin dia pasti luluh.” Ucap Nana santai.


“Kamu yakin dia akan luluh?” Tanya Sinta.


Dan, Nana pun mengangguk, “Dia itu terlalu polos dan baik. Ada ibu yang membesarkan dia mana mungkin dia tidak luluh. Mama santai saja, yang penting mama sudah bertemu dia hari ini.” Ucap Nana.


“Baiklah, kalau begitu mama pergi, ya!” Sinta bangkit berdiri berjalan menuju meja kerja Nana untuk mengambil tasnya.


“Hm. Jangan berulah. Mama harus menjaga sikap sampai Salsa mau menerima mama!” Pesan Nana.


“Iya, mama tahu.” Lalu berlalu menuju pintu keluar.


Sementara Salsa—dia tidak langsung pergi dari ruangan Nana saat itu. Dia menunggu di depan ruangan Nana menguping pembicaraan Nana dan Sinta. Saat mendengar Sinta akan keluar—Salsa langsung buru-buru bersembunyi di balik tembok.


“Apa yang sebenarnya mama rencanakan?” Gumam Salsa memandang punggung Sinta yang berjalan menjauh dari pandang nya.


Setelahnya baru lah Salsa pergi dari sana dan kembali ke ruangannya.


“Salsa, kamu dari mana saja? Aku nyariin kamu tau, nggak?” Protes Tania saat Salsa kembali ke ruangannya.


“Aku dari ruangan dokter Nana.” Jawab Salsa lesu dan duduk di kursinya.


Tania memutar kursi nya ke menghadap ke arah Salsa. “Ada masalah?” Tanya Tania bisa membaca kegelisahan di wajah Salsa.


“Tan, menurut kamu mungkin enggak orang yang dulu ninggalin kita tiba-tiba datang ke kita lagi tanpa alasan?” Tanya Salsa kemudian meminta pendapat Tania.


Tania dengan santai menggelengkan kepalanya, “Enggak. Pasti ada alasanya, seperti menyesal mungkin sudah meninggalkan dulu.” Jawab Tania.


Apa mungkin mama menyesal saat ini? Batin Salsa.


“Kenapa memangnya? Siapa yang meninggalkan dan tiba-tiba datang?” Tanya Tania.


“Ngusir?”


“Nggak. Dari pada besok kamu kelabakan karena banyak barang yang perlu dibawa.”


Besok memang hari terakhir Tania bekerja di rumah sakit ini karena dia akan pindah ke rumah sakit yang lebih besar. Salsa juga akan menyusulnya nanti saat sudah ada dokter yang menggantikannya.


“Besok saja aku berkemasnya. Hari ini aku malas.” Ucap Tania.


Sepulang kerja Salsa pergi ke dokter kandungan di temani oleh Jordan.


“Selamat, ibu Salsa. Anda memang mengandung, usia kehamilannya 4 minggu, selamat juga ya, pak.” Dokter kandungan berucap sambil menatap Salsa dan lalu menatap Jordan.


Jordan sampai bengong saking tidak percayanya dengan apa yang diucapkan dokter itu.


“Terimakasih, dok.” Ujar Salsa sembari menyenggol lengan Jordan.


“Eh-iya, Terimakasih, dok.” Jordan tersadar dan menyahuti ucapan dokter kandungan itu.


Jordan dan Salsa banyak bertanya kepada dokter kandungan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan karena meskipun Salsa juga seorang dokter tapi perihal kehamilan bukan ranahnya. Dan, lagi ini kehamilan pertamanya, dia perlu banyak informasi dari yang lebih tahu.


“Kamu mau makan apa sayang?” Tanya Jordan semangat sembari sesekali mencium punggung tangan Salsa. Mereka sedang dalam perjalanan pulang saat ini. Jordan menyetir dengan satu tangannya karena tangannya yang lain kekeuh ingin menggenggam tangan Salsa.


“Aku nggak laper.” Jawab Salsa. Dia memang tidak nafsu makan saat ini. Salsa masih kepikiran pertemuannya dengan Sinta di rumah sakit tadi.


“Tapi, aku lapar.” Ucap Jordan jujur. Dia tidak makan siang tadi karena harus mengebut pekerjaanya agar selesai sebelum jam kerja selesai sebab ingin menemani Salsa ke dokter kandungan.


Salsa menoleh, “Ya udah makan apa aja terserah.” Ucap Salsa kasihan melihat Jordan kelaparan.


“Nasi goreng aja gimana?”


“Boleh.”


Jordan melajukan mobilnya menuju restoran langganan mereka.


“Itu bukannya Jessi?” Ucap Salsa melihat adik iparnya juga berada di restoran itu.


“Mana?” Jordan yang tidak melihatnya bertanya lalu mengikuti arah jari telunjuk Salsa. “Iya tuh, mau gabung sama mereka aja?” Jordan melihat Jessi sedang bersama suaminya saat ini.


“Boleh deh.” Lalu keduanya menuju meja Jessi dan Yoga.


“Jes!” Panggil Salsa dan yang dipanggilnya pun menoleh.


“Eh, kalian mau makan?” Tanya Jessi.


“Iyalah. Kalau ke sini emang mau makan.” Salsa lalu duduk di kursi sebelah Jessi tanpa menunggu di persilahkan. “Halo, Mas.” Sapa Salsa pada Yoga dan Yoga mengangguk.


“Tumben Kia nggak ikut?” Tanya Jordan yang juga sudah duduk di sebelah Yoga.


“Sama Grandma nya, dia udah beberapa hari ini di sana.” Jawab Yoga.


“Kalian dari mana?” Tanya Jessi. “Baru pulang kerja?!” Jessi sedikit menebak melihat penampilan Jordan yang masih seperti orang kantoran mengenakan setelan jas rapi. Berbeda dengan Yoga yang sudah berpakaian kasual.


“Kita dari—.” Jordan hendak berucap dari dokter kandungan tapi kakinya di tendang oleh Salsa.


“Dari rumah sakit, dia jemput aku terus mampir makan di sini.” Potong Salsa menjelaskan.


Jordan melirik Salsa dengan tatapan tanda tanya. Mengapa mereka tidak jujur saja habis dari dokter kandung sih? Kira-kira itu yang di pikirkan Jordan saat ini.