My Beloved Husband

My Beloved Husband
Kedatangan Jessica



Terjadi perubahan rencana. Yang semula Salsa dan Jordan akan menginap di rumah Jessi, berubah menjadi keluarga Jessi yang akan menginap di rumah Salsa dan Jordan.


Meskipun lelah, setelah pulang dari bekerja Salsa semangat memasak untuk keluarga Jessi. Dia dibantu Bi Ina sibuk memasak berbagai menu makan malam di dapur. Bi ina adalah asisten rumah tangga yang di pilihkan oleh Jordan untuknya. Bi Ina juga yang selama ini bertanggung jawab merawat dan menjaga rumah Salsa. Selain Bi Ina—ada tukang kebun dan juga satpam yang bekerja untuknya di rumah ini.


“Ayam kecapnya jangan sampai gosong, Bi.” Tutur Salsa lembut pada Bi Ina yang sedang bertugas memasak ayam kecap. Ayam kecap adalah makanan kesukaan Kiara—putri cantik Jessica.


“Siap, Bu. Sebentar lagi siap diangkat kok Bu, aman.” Sahut Bi Ina.


Salsa menata satu persatu masakan yang sudah jadi ke atas meja makan. Dia juga menata pirang, sendok dan garpu semua orang di tempatnya. Tak hanya itu, Salsa menuangkan sekalian air putih ke dalam gelas setiap orang dan menutup gelasnya dengan tutup gelas agar tidak kemasukan debu.


“Belum beres, sayang?” Tanya Jordan yang bergabung di ruang makan. Lelaki itu baru saja selesai membersihkan diri dan langsung menyusul Salsa di ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur.


“Tinggal ayam kecapnya, mas.” Menoleh ke arah Jordan yang sudah berdiri di sebelahnya. “Mereka udah mau sampai, ya?”


“Harusnya sih udah sampai.” Jordan menarik kursi dan mendudukan dirinya di sana.


“Untung aku udah mandi. Aku ganti baju sebentar ya, tolong jaga makanannya.” Ucap Salsa lalu berlalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Pakaian yang semula di kenakan Salsa berbau bumbu dapur dan asap. Sangat tidak nyaman untuk tuan rumah yang akan menyambut tamu penting.


“Apanya yang harus di jaga, Bi?” Tanya Jordan bingung. “Saya enggak tau cara jaga makanan,” katanya kemudian dengan polosnya.


Bi Ina terlihat menahan tawa saat sang majikan bertanya. Sambil menyajikan ayam kecap ke dalam piring lonjong, Bi Ina menjawab, “Maksud ibu di jaga agar tidak kemasukan lalat makanannya, pak.”


“Oh.. Memang ada lalat di sini?” Jordan kembali bertanya dengan bingung.


“Ya jaga-jaga saja, pak.” Bi Ina meletakan piring lonjong berisi ayam kecap di atas meja makan lalu mencuci peralatan masak yang kotor.


Ayam kecap yang baru saja di sajikan di atas meja makan sungguh menggugah selera makan Jordan. Dia diam-diam meneguk ludahnya. Ingin sekali Jordan mengambil satu ayam kecap dari piring lonjong itu dan langsung melahapnya, tapi, Salsa pasti akan memarahinya.


“Kenapa mereka lama sekali datangnya?” Jordan mulai menggerutu karena kesal Jessi tak kunjung datang sementara dia sudah lapar. Menu makanan di atas meja sangat mengganggu perut kosongnya.


“Aunty, aunty!” Terdengar suara cempreng gadis kecil.


Jordan sudah bisa memastikan itu adalah suara Kiara—putri Jessica.


“Aunty di dapur!” Sahut Jordan berteriak.


Sejurus kemudian gadis kecil yang tadi berteriak cempreng itu sudah berdiri di sebelah Jordan. “Kok cuman uncle Jordan, sih. Aunty Salsa di mana?” Tanya gadis kecil yang bernama Kiara.


“Cium dulu, nanti uncle kasih tau di mana aunty mu.” Pinta Jordan sambil memiringkan tubuhnya. Dia pun menuduk menunjuk pipi kanannya sebagai tempat yang harus di cium oleh Kiara.


Kiara tidak menolak dia memberikan satu kecupan untuk Jordan. “Sudah, uncle. Di mana aunty?” Kiara menagih keberadaan Salsa tepat setelah dia mencium popo Jordan.


“Aunty di sini sayang!” Suara Salsa terdengar. Kiara langsung menoleh dan mendapati Salsa sedang berjalan ke arahnya. Karena tidak sabar, Kiara langsung berlari ke Salsa.


Hup.. Dengan sekali gerakan Salsa berhasil menggendong Kiara.


Cup.. cup..cup.. gadis kecil itu langsung mendapat kecupan bertubi-tubi di wajahnya. “Kok makin gembul ya ponakan aunty yang cantik ini?” Ujar Salsa setelah puas menciumi gadis kecil itu.


“Pantas saja makin gembul. Ternyata cantiknya aunty tukang makan, ya!” Goda Salsa sambil memangku Kiara.


Kiara menggelengkan kepala. “Kata papi, Kiara bukan gembul aunty, hanya sedikit gembul saja.” Bela gadis itu tidak terima di katai gembul.


“Mau sedikit gembul atau pun gembul juga tidak masalah. Yang penting Kiara sehat dan Happy.” Timpal Jordan dan disetujui oleh Yoga.


“Denger kata uncle ‘kan sayang?” Yoga pun ikut bergabung dengan mereka setelah meletakan oleh-oleh di ruang keluarga.


“Iya, papi.” Kiara mengangguk di pangkuan Salsa.


“Wah, ada ayam kecap kesukaan Kiara nih.” Ujar Jessica. “Ada ikan bawal bakar juga kesukaannya papi, tuh.” Jessica nampak memeriksa hidangan di atas meja.


“Spesial untuk tamu-tamu spesial, iya ‘kan sayang?” Jordan menyela sambil melirik Salsa.


“Betul. Soalnya jarang banget kita ngumpul kayak gini.” Balas Salsa membenarkan.


“Tapi, apa enggak berlebihan makan segini banyak hanya kita berlima yang makan?” Komentar Yoga merasa mereka tidak akan sanggup untuk menghabiskannya.


“Masa sih?” Salsa baru sadar jika dia sudah memasak banyak menu untuk menyambut Jessica dan Yoga serta Kia.


“Kamu masaknya tadi sadar nggak, Sa?” Jessica ikut berkomentar.


“Hehe, aku nggak mikir tadi. Saking semangatnya kalian mau nginep jadi semua aku masak.” Jawab Salsa.


“Kia mau ayam kecap, aunty.” Pinta Kiara yang sudah tidak sabar mencicipi ayam kecap buatan Salsa. Meskipun yang memasak Bi Ina tapi resepnya tetap Salsa yang membuat.


“Boleh sayang, mau paha atau dada lembut?” Salsa menunjuk dua bagian ayam tang sangat penting itu dengan alat penjapit.


“Dia biasanya suka paha,” Ujar Jessica.


“No, mami. Hari ini Kia mau makan dada lembut.” Sanggah Kiara.


“Boleh sayang. Aunty ambilkan dada lembut.” Salsa menaruh Dada lembut di piring Kiara.


“Kia makan sendiri ya, ‘kan sudah besar.” Tutur Yoga sambil memandang putrinya.


“Iya, papi.” Gadis kecil itu hanya menurut pada sang papi dan sering membangkang dari sang mami. “Aunty, Kia mau duduk sendiri.” Ucap Kia kemudian.


“Oke, sayang.” Salsa menarik kursi di sebelum dan mendudukan Kiara di sana. Lalu menaruh piring Kiara tepat di hadapan Kiara.


“Nasi nya seberapa, sayang?”


“Satu itu, aunty.” Satu centong besar yang di maksud Kiara.


Sementara Salsa mengurus Kiara, yang lain pun mulai makan malam mereka. Satu persatu hidangan yang berada di atas meja mulai berkurang. Mereka terlihat lahap menikmati masakan ala chef Salsa—terutama Jordan. Dia yang bersemangat setiap makan masakan Salsa. Tidak pernah satu hari pun Jordan mengeluhkan masakan yang di buat oleh Salsa.