My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Hari pertama bekerja



Suasana pagi hari di rumah pengantin baru yang bangun kesiangan. Padahal mereka harus berangkat kerja untuk pertama kalinya setelah resmi menikah.


“Sayang, dasiku?” Teriak Jordan sambil mengancingkan kancing kemejanya.


Salsa yang sedang berias di walk in closet nya pun langsung menyahut. “Di atas tempat tidur, di sebelah jam tangan kamu.” Jawabnya sambil menepuk-nepuk lembut spons bedak di wajahnya.


Jordan selesai mengancingkan kemejanya dan menoleh ke arah tempat tidur. Di sana ada dasi yang tadi disebutkan Salsa tepat di sebelah jam tangan, pun tangan Jordan langsung meraih dasi itu dan memakainya.


Salsa keluar dari walk in closet dengan penampilan yang sudah rapi dan siap berangkat kerja.


“Astaga,” Ucapnya melihat Jordan yang sibuk memasang dasi di kemejanya tapi terlihat miring sebelah, “Sini aku yang pake in!” Berjalan ke arah Jordan dan membantu suaminya.


“Biasanya aku bisa sendiri.” Kata Jordan saat tangan Salsa sudah mengambil alih dasi yang melingkar di lehernya.


“Nunduk dikit.” Perintah Salsa pada Jordan. Jordan menurutinya menundukkan kepala sambil memandang wajah cantik istrinya.


“Hari ini kamu sampai jam berapa?” Tanya Jordan.


“Biasa.” Menjawab dengan tangan yang sibuk membenarkan dasi Jordan.


“Aku jemput, kita ke rumah Jessi, ya?”


“Acara apa emang?” Tidak biasanya Jordan mengajak Salsa pergi ke rumah Jessica.


“Aku ada urusan hukum, jadi mau minta tolong mas Yoga buat beresin,” Jawab Jordan kemudian.


“Oh, masalah kantor? Parah nggak?” Sebagai istri—Salsa tentu tidak ingin Jordan mengalami masalah yang berat.


“Nggak, cuman masalah kecil.” Jawbanya.


“Oke deh. Tapi, pulang dulu ‘kan?” Tanya Salsa.


“Iya, pulang dulu terus kita kesana nginep aja.”


“Oke.”


***


Tania heboh saat menyambut kedatangan Salsa di hari pertama bekerja setelah cuti panjang. Dia bahkan memasang banner di ruang kerja mereka. Banget dengan tulisan “Selamat bekerja kembali nyonya Jordan” itu mampu membuat Salsa terbengong. Ada-ada saja tingkah sahabatnya itu.


“Ini apa-apa an mbak Tania?” Tanya Salsa heran.


“Selamat datang.” Kata Tania menyambut Salsa dengan tangan yang di buka lebar. Salsa memajukan tubuhnya dan membiarkan Tania memeluknya sekilas. Itu adalah tradisi persahabatan mereka ketika lama tidak bertemu. “Aku juga beli bunga buat sahabatku tercinta.” Ujar Tania kemudian setelah pelukan singkat mereka. Tania menoleh ke arah meja kerjanya dan mengambil satu buket bunga dan memberikannya pada Salsa.


Salsa menerimanya. “Terimakasih. Tapi, lain kali bisa kasih buket uang aja nggak?” Usul Salsa kemudian.


“Wah.. di kasih jantung malah minta ampela. Padahal kamu ‘kan kaya raya sekarang masih aja mata duitan.” Tania geleng-geleng kepala tidak habis pikir.


“Yang kaya suami aku kali. Bukan aku.” Jawab Salsa.


“Sama aja.”


Tok tok tok..


“Maaf dok, dokter Salsa di panggil dokter Nana.” Ujar suster Sari di ambang pintu. “Beliau meminta dokter Salsa ke ruang kerja beliau sekarang.” Lanjut suster.


Salsa dan Tania saling pandang. Tumben? Kata itu yang muncul pertama kali di pikiran keduanya.


“Di panggil tuan putri, tuh.” Komentar Tania sinis. Sedang Salsa masih bergeming di tempatnya.


“Cepet, dok. Nanti keluar macan nya.” Kata suster Sari mengingatkan.


“Ah, oke, Sus. Saya akan segera kesana.” Salsa meletakan buket bunganya di atas meja kerjanya.


Lalu suster sari pun pergi.


“Menurut kamu ngapain si nenek lampir nyariin aku?” Bertanya pada Tania meminta pendapat.


“Huss, nggak boleh berpikiran negatif.” Sahut Salsa, “Tapi kalau soal nenek lampir sih nggak papa, ckck.” Sebab Salsa pun berpikiran yang sama dengan apa yang ada di otak Tania saat ini.


“Haha, emang. Dari dia ngasih ucapan selamat waktu itu udah ketebak banget langkah selanjutnya,” seloroh Tania.


“Aku kesana dulu. Sebelum macannya keluar.” Pamit Salsa.


“Ati-ati di terkam.”


Salsa pergi ke ruangan dokter Nana. Sedikit informasi dokter Nana adalah anak tunggal pemilik rumah sakit tempat Salsa dan Tania bekerja. Dokter Nana kurang di sukai oleh kalangan para dokter sebab dia terkesan angkuh dan hanya mengandalkan kekuasaan. Dokter Nana juga terkesan pemilih dalam menangani pasien. Ia terbilang lebih senang menangani pasien VVIP dan sekelasnya dari pada pasien yang berasal dari kalangan rakyat biasa.


“Selamat pagi, dok.” Ujar Salsa pada dokter Nana.


Dokter Nana yang sedang duduk santai di sofa ruangannya itu pun menoleh melihat kedatangan Salsa.


“Eh, masuk, Sa.” Balasnya ramah dan melayangkan tangannya menyuruh Salsa untuk duduk di sofa manapun yang dia suka.


Masuk, Sa?! Salsa berpikir ucapan itu terlalu ramah untuk hubungan mereka yang tidak dekat. Padahal dulu dokter Nana selalu memanggil nya dengan formal.


Salsa memilih duduk si sofa single yang menghadap miring ke arah dokter Nana, agar dia bisa dengan jelas memperhatikan dokter Nana saat nanti beliau berbicara.


“Santai saja, Sa. Saya panggil kamu kesini bukan karena pekerjaan kok.” Kata Nana.


Dia benar-benar sok akrab dengan Salsa. Hal itu membuat Salsa tidak nyaman.


“Kalau begitu saya di panggil karena apa ya, dok?” Tanya Salsa.


Cepat katakan apa maumu? Menyebalkan!


“Ini untuk kamu!” Nana meraih paperbag tas luxury yang tadi berada di sebelahnya dan menaruhnya di atas meja.


“Untuk saya, dok?” Tanya Salsa heran. Nana menganggukkan kepalanya sebagai respon. “Hadiah pernikahan kamu sama tuan Jordan.” Ucap Nana kemudian.


Kan! Sudah ketebak ujung-ujungnya pasti berkaitan sama Jordan. Tidak mungkin Nana memberikan hadiah barang semahal dan semewah itu pada Salsa jika suaminya bukan Jordan.


“Ini berlebihan, dok. Saya tidak bisa menerimanya.” Tolak Salsa lembut sambil mendorong paperbag berisi tas mahal itu ke arah Nana.


“Jangan di tolak dong, ini ‘kan kado. Saya jadi sedih kalau di tolak.” Balas Nana kembali mendorong paper bag itu ke arah Salsa.


“Saya benar-benar berterimakasih atas niat baik dokter, tapi, saya benar-benar tidak bisa menerimanya, dok. Maaf.” Ujar Salsa bersikap sopan. Dia tidak bisa menerimanya—lebih tepatnya tidak mau menerima pemberian apapun dari Nana. Sebab Salsa tidak mau merasa terbebani atas pemberian Nana. Mereka juga tidak akrab.


“Maaf ya, dok. Bukan maksud menolak kebaikan dokter, tapi suami saya tidak mengizinkan saya menerima kado pernikahan. Jadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan suami saya.” Tutur Salsa lembut menjelaskan alasannya tidak bisa menerima kado dari Nana.


Untung Salsa ingat saat pernikahan mereka di gelar, mereka tidak menerima angpao ataupun kado dari tamu dan kerabat. Jadi, dia bisa menggunakan alasan itu untuk menolak pemberian Nana.


“Ah, sayang sekali. Padahal saya beli khusus untuk kamu.” Balas Nana menyayangkan niat baiknya.


“Sekali lagi maaf ya dok.” Salsa bersungguh-sungguh minta maaf pada Nana karena tidak bisa menerima hadianya.


“Apa boleh buat.”


“Maaf ya, dok. Apa ada hal lain, dok?” Rupanya Salsa ingin cepat-cepat keluar dari ruangan Nana.


“Tidak, karena kamu tidak bisa menerima kado saya, saya cuman bisa mendoakan yabg terbaik atas pernikahan kalian.” Ujar Nana.


“Terimakasih, dok. Doa saja sudah lebih cukup buat saya.”


Nana mengangguk, “Ya sudah. Kamu bisa kembali bekerja.”


Akhirnya! Rasanya Salsa ingin bersorak girang bisa segera keluar dari ruangan Nana. “Kalau begitu saya permisi, dok.” Salsa pun pamit kembali ke ruangannya dan Nana menganggukkan kepala.


Setelah Salsa keluar dari ruangannya, sifat asli Nana pun keluar.


“Sialan. Sombong sekali dia, berani-beraninya menolak hadiahku.” Kesalnya sambil melempar paperbag berisi tas mewah itu ke sembarang arah.