My Beloved Husband

My Beloved Husband
Sebuah kotak



Happy Reading


.


.


.


Semenjak kedua keluarga mengetahui kehamilan Aileen, semua menjadi over protective. Gak boleh ini lah. Gak boleh itulah. Dan terutama jangan kuliah dulu. Sedih? Tentu saja. Aileen ingin kuliah seperti yang lainnya. Tapi ia tidak boleh egois. Karena ada kehidupan lain di dalam rahimnya.


Saat akan UN dulu, Vano begitu menjaga Aileen agar tidak stres. Ia selalu memberikan kata-kata menenangkan. Vano terlihat begitu menyayangi Aileen dan calon anak mereka.


Orang tua Aileen juga tidak sesibuk dulu lagi. Mungkin karena projek papanya yang sudah selesai di luar kota. Aileen juga sering menginap di rumahnya itu.


Tidak di rumah orang tuanya saja. Tapi di rumah orang tua Vano pun. Seperti saat ini, Aileen berada di balkon kamar Vano di rumah mama Reva. Sudah beberapa hari ia di sini bersama suaminya.


Kehamilannya sudah menginjak 22 minggu. Rencananya nanti Aileen dan Vano akan check up di rumah sakit. Sekaligus mengetahui jenis kelamin anak mereka.


Suara ketukan pintu menyadarkan Aileen dari lamunannya. Dengan pelan Aileen membalikkan badannya. Ia berjalan untuk membuka pintu kamar sambil mengusap-usap perut buncitnya.


"Ya Ma?" Tanya Aileen saat mendapati mama mertuanya di depannya.


"Ini susu kamu minum lagi. Dan sekaligus Mama mau pamit ke luar dulu. Ada perlu penting. Kamu sama bi Inah di rumah, gak papa 'kan?" Tanya Reva sembari memberikan nampan yang berisi susu ibu hamil dan beberapa biskuit yang cocok untuk ibu hamil pula.


Aileen menerima nampan itu disertai senyumannya. "Iya Ma. Mama hati-hati ya."


"Iya Sayang. Kamu juga harus hati-hati. Perut kamu udah semakin besar, kehati-hatian juga harus semakin besar. Mama pergi dulu ya. Assalamualaikum." Reva mencium kening Aileen sebelum meninggalkan menantunya yang sedang mengandung cucu pertamanya itu.


Setelah Reva berbalik, Aileen pun berbalik memasuki kamarnya. Tak lupa menutup pintu, tentu saja. Ia meletakkan nampan itu di meja samping sofa yang didudukinya sekarang.


Aileen mulai menikmati susu dan kue yang diberikan mama mertuanya tadi. Pandangan Aileen menjelajah seluruh isi kamar yang bercat abu-abu itu. Namun pandangannya berhenti di bawah kolong ranjang. Sebuah bayangan menandakan ada sebuah benda di bawah ranjang itu.


Sambil memegang perutnya Aileen mendekati ranjang lalu berjongkok. Lututnya bertumpu di lantai di susul kepalanya yang menengok bawah ranjang yang sedikit sempit itu. Ternyata sebuh kotak yang lebar tapi pendek. Sesuailah dengan kolong ranjang yang sempit.


Rasa penasaran Aileen kian membuncah. Ia ingin mengambil kotak itu tapi tangannya tidak sampai. Tentu saja tidak sampai, tangan Aileen yang pendek mana mungkin samapai di tengah ranjang berukuran king size itu.


Tak kehabisan akal, Aileen melihat sekitar untuk mencari benda yang bisa digunakannya. Sebuah sapu yang digunakannya tadi. Ia malas mengembalikannya ke bawah jadi ia simpan di balik pintu. Segera saja Aileen mengambilnya dan menggunakannya untuk mengambil kotak itu. Berhasil.


Aileen menyimpan sembarang sapu itu dan kembali duduk di sofa. Dilapnya kotak yang penuh debu itu dengan tissu basah. Ternyata kotak itu berwarna hitam. Saking banyaknya debu yang menempelinya hingga warnanya tadi tidak hitam.


Dengan sedikit keras Aileen membuka kotak itu. Didapatinya kamera kecil, spidol hitam, dan juga.... foto yang sangat banyak?


Aileen memeriksa kamera itu. Ternyata masih bagus. Tak memeriksa lebih lanjut. Aileen beralih mengambil foto yang berukuran 2 atau 3r itu yang terbalik itu. "Pasti foto masa kecil Vano," pikir Aileen.


Namun pemikiran Aileen salah. Bukan foto seorang anak kecil sesuai pikirannya. Namun sebuah foto seorang gadis yang begitu banyak. Aileen sampai menutup mulutnya tak menyangka melihat semua foto-foto itu.


"Mau kemana sih buru-buru amat?" Tanya Gino melihat Vano yang memasukkan bukunya dengan kilat.


"Tau nih! Kelas baru selesai juga!" Timpal Ben yang memang jurusan bisnis seperti Gino dan Vano.


"Hari ini Aileen mau check up. Sekaligus mau usg jenis kelamin anak kami!" Jawab Vano dengan ceria.


"Cieelah calon bapak! Semoga anak kalian dan Aileen sehat-sehat ya Bro!" Ucap Gino menepuk pundak Vano. Ben hanya mengangguki ucapan Gino dan ikut menepuk pundak Vano.


"Thanks!"


Vano segera meninggalkan kelasnya. Tepatnya kampusnya. Ia sudah tidak sabar menemui istrinya. Ia juga tidak sabar mengetahui jenis kelamin anak mereka. Sebenarnya mau lelaki araupun perempuan sama saja. Tapi tak apa 'kan mengetahuinya sekarang? Vano hanya terlalu excited menanti kelahiran anaknya.


Setelah sampai rumah kedua orang tuanya, Vano segera memasuki rumah yang nampak sepi. Tidak ada mamanya yang biasanya memanggang kue di dapur. Hanya ada bi Inah saat Vano memasuki dapur untuk minum.


"Mama mana Bi?" Tanya Vano sebelum meminum air di gelas bening di genggaman tangannya.


"Nyonya keluar Tuan Muda," jawab bi Inah.


Vano berohria saja lalu meninggalkan dapur untuk ke kamarnya yang berada di lantai atas. Ia membuka pintu kamarnya. Namun tak didapatinya tubuh mungil dengan perut buncit istrinya. Yang Vano dapati hanya sebuah kotak yang telah lama disimpannya, segelas susu yabg isinya tinggal setengah, sepiring biskuit, dan juga sapu di dekat ranjang.


"Shit!" Umpat Vano sebelum melangkah memasuki kamarnya. Ia membuka pintu menuju balkon namun tak didapatinya Aileen. Ke kamar mandi pun hasilnya tetap sama.


Vano mengacak rambutnya kasar. Ia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan begitu cepat. Ia ke dapur. "Bi! Dimana Aileen?" Tanya Vano dengan suara tinggi membuat bi Inah tersentak kaget dan ketakutan.


"Tadi... Nyonya muda ada di kamar Tuan."


"Tapi kenapa sekarang tidak ada! Sekarang cepat tanya tukang kebun dan satpam!" Perintah Vano yang langsung dituruti bi Inah.


Vano juga tidak tinggal diam, ia mencari Aileen di seluruh penjuru rumah. Namun tetap tak ada. Kali ini Vano benar-benar takut Aileen benar-benar akan meninggalkannya. Ketakutan Vano selama ini benar-benar terjadi. Harusnya Vano tidak menyimpan kotak itu lagi.


"Tidak ada yang melihat Nyonya Aileen, Tuan. Mereka juga sekarang sedang membantu mencari Nyonya Aileen," lapor bi Inah yang tak ada respon dari Vano.


"Vano? Ada apa ini?" Tanya Reva yang baru saja memasuki rumah dan melihat wajah tegang asisten rumah tangganya dan juga anaknya yang terlihat frustasi.


"Mama bersama Aileen?" Tanya Vano penuh harap. Berharap sebuah keajaiban bahwa Aileen berada disini.


Reva menggeleng heran. "Tidak. Memangnya ada apa? Apa Aileen tidak ada di rumah?"


Sebuah gelengan dari Vano sebagai jawaban. Reva mengelus lengan anak semata wayangnya itu untuk menenangkan. "Mama telpon Vina dulu. Siapa tau Aileen bosan dan ke rumah orang tuanya. Kamu jangan berpikiran buruk dulu."


Vano pun menjauh dari mamanya yang sudah menelpon saat ini. Vano tak menghubungi ponsel Aileen karena ponsel istrinya itu ada di kamar. Yang ia hubungi saat ini adalah Ivan. "Aileen sudah mengetahuinya Van."


-TBC-