My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Dept talk



Makan siang Salsa dikejutkan dengan kedatangan adik iparnya yang juga sahabatnya sendiri—Jessica.


“Untung kau datang, aku sangat kesal dengan Mama Sinta. Dia selalu mencari cara menemuiku. Tadi pagi pun sama.” Adu Salsa pada Jessica.


Jessica mengangguk, “Sabar ya, aku sudah mencari tahu. Kalau tidak salah, mama mu sekarang istri dari pemilik rumah sakit ini. Tapi, istri siri. Aku mendengar dari anak buahku.”


“Aku sudah menduganya, sih. Karena di acara penting rumah sakit, mama tidak pernah terlihat. Tapi, aneh sekali mama mengakui dokter Nana sebagai putrinya.”


Usia dokter Nana lebih tua di atas Salsa. Sesuatu terjadi mungkin di masa lalu yang tidak Salsa ketahui. Bagaimana hubungan Mama Sinta sebenarnya dan papa nya.


“Kau tanyakan langsung saja, bagaimana?” Usul Jessica.


Namun, Salsa menggelengkan kepala. “Tidak, mau!” Tolaknya keras. “Aku tahu mama tidak akan menjawab yang sejujurnya.”


“Iya juga, sih.” Jessica ikut membenarkan, “Ya sudah, kau sabar dulu sampai kita dapatkan motif yang pasti mengapa mama Sinta tiba-tiba mendekatimu lagi.”


Aku mengangguk setuju.


Malam harinya di kediaman Salda dan Jordan.


“Kamu belum tidur, sayang?” Tanya Jordan yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 22:30 waktu setempat. Pria itu baru pulang dari lembur, sebelumnya Jordan sudah mengirim pesan pada Salsa untuk tidur lebih dulu tidak perlu menunggunya. Tetapi, istrinya itu masih terjaga saat ini.


“Aku menunggumu.” Jawab Salsa menatap pada suaminya yang melepas satu persatu kancing kemejanya setelah melepas jas nya dan meletakannya di rak keranjang pakaian kotor.


“Kenapa? Ada sesuatu yang membuatmu tidak bisa tidur?” Tanya Jordan.


“Baiklah. Aku akan pergi mandi sebentar.” Jordan mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sementara Salsa, dia turun dari ranjang dan pergi ke dapur untuk membuatkan teh panas untuk Jordan. Setelahnya, Salsa kembali ke kamar dengan nampan berisi setoples camilan dan dua cangkir teh panas untuk dirinya dan sang suami.


Salsa meletakan namun itu di meja kaca dan dia pun duduk bersila di sofa lantas menyalakan televisi sambil menunggu Jordan selesai membersihkan diri.


Jordan selesai membersihkan diri dan sudah memakai piyama tidurnya lalu bergabung dengan Salsa duduk di sofa.


“Ini untukku, kan?” Tanya pria itu sambil mengambil teh panas yang tadi dibuat Salsa. Salsa menganggukinya bersamaan dengan Jordan yang menyeruputnya. “Manis sekali.” Komentar Jordan.


“Masa sih?” Mendengar komentar Jordan, Salsa langsung mencicipi teh buatnya, “Iya, hehe.” Ucapnya setelah mencicipi sambil terkekeh. Padahal Jordan tidak menyukai manis yang berlebihan. Dasar Salsa.


“Maaf, sepertinya aku tadi melamun saat menambahkan gula.” Sesal Salsa, “Biar aku buatkan lagi.” Salsa beranjak hendak pergi ke dapur tapi Jordan menahannya hingga Salsa pun menolehkan kepala.


“Tidak usah, aku masih bisa meminumnya.” Ucap Jordan sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya agar Salsa kembali duduk.


Salsa pun kembali duduk dengan perasaan tidak enak. “Maaf yaaa.” Ucapnya.


“Iya, sayang.” Balas Jordan mengelus rambut Salsa dengan lembut, “Sekarang ceritakan padaku. Apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?” Tanya Jordan. Dia tahu beberapa hari ini Salsa cukup banyak pikiran yang mengganggu. Bukannya Jordan tidak peduli pada wanitanya, namun dia menunggu agar Salsa sendiri yang menceritakannya seperti tadi Salsa mengatakan akan bercerita padanya. Jordan mempercayai istrinya. Salsa akan memang mandiri, wanita itu akan menanggung sendiri apa masalahnya jika mampu menghadapinya. Tapi, Jordan juga percaya Salsa akan mengeluh padanya saat dirasa wanita itu tidak mampu menanggung masalahnya sendiri, dan mungkin saat inilah waktunya.


tbc..