
Sorry lama up
Happy reading
.
.
.
Doni mendecih kesal karena Rendra kembali berubah pikiran untuk melepaskannya. Ia juga mengumpati orang yang telah bertindak seperti itu pada Vano. Namun sayang sekali Doni tak bisa bertindak apa-apa.
Meskipun Doni masih menduga-duga. Tapi Doni yakin dugaannya kali ini tak salah. Pasti temannya itu yang melakukannya. Karena itu Doni mau tak mau harus bungkam.
Dendammnya telah terbalaskan dengan membuat keadaan Vano jauh lebih mengenaskan dari dirinya dulu. Itu sudah cukup bagi Doni. Karena bagaimanapun Vano pernah sekelas dengan Vano saat SMP.
Tapi sepertinya itu tidak berlaku pada temannya. Ia benar-benar ingin melihat Vano merenggang nyawa.
xxx---
"Bagaimana keadaan Vano, Aileen?" Tanya Rendra setelah sampai di depan ruang ICU.
"Mas Vano sudah ditangani dokter. Dokter bilang mas Vano tidak kenapa-napa. Memang tadi orang itu baru membekap mas Vano dengan bantal saat Aileen masuk," jelas Aileen.
Rendra bisa bernapas sedikit lega sekarang. Meskipun keadaan Vano belum membaik tapi setidaknya tidak menurun. "Kamu balik saja ya. Biar Papa yang jaga Vano."
"Tapi Pa--"
"Kamu lagi hamil, Aileen. Ingat pesan dokter. Jangan kecapekan. Rena, Om titip Aileen ya," ujar Rendra menatap Rena yang sedari tadi merangkul Aileen. Gadis itu tampak mengangguk.
"Ayo Ai!" Rena pun memapah Aileen yang tampaknya masih lemah.
Memang tadi Rena berniat menjenguk Vano. Namun saat dirinya dan Aileen sampai, malah mendapati Vano hendak di bunuh.
Rena hanya bisa menghibur Aileen yang begitu sedih. Berusaha menenangkan. Sebagai sahabat memang harus perlu begitu kan?
xxx---
Aileen sedang menunggu Rena di lobby rumah sakit. Temannya itu sedang mengambil mobilnya. Sambil menunggu, Aileen mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Matanya tiba-tiba memicing saat melihat seseorang yang tak asing lagi berdiri di bawah pohon cemara. Fero. Cowok berbalut hoodie itu nampak tersenyum ke arah Aileen.
Balas tersenyum. Itu yang dilakukan Aileen. Tiba-tiba terlintas di pikiran Aileen. "Ngapain Fero ada di rumah sakit? Mau jenguk Vano kah?"
"Aileen!" Panggil Rena mengagetkan Aileen.
"Ah? Ya! Kenapa Ren?" Tanya Aileen.
"Dari tadi gue manggil lo. Ada apa sih? Lo liatin apa?"
"Nggak ada kok."
"Yaudah masuk."
Aileen pun memasuki mobil Rena. Tapi sebelum itu ia kembali melihat ke bawah pohon tadi. Namun Fero sudah tidak ada.
xxx---
"Mas, besok aku mau check up lho. Kamu gak mau nemenin aku? Betah banget sih tidurnya. Aku kangen tau dikelonin kamu."
Selama dua minggu ini Aileen terus mengajak Vano berbicara. Berharap suaminya itu bisa sadar secepatnya. Tapi Aileen merasa semuanya sia-sia. Suaminya tak kunjung bangun.
Air mata tak dapat Aileen bendung lagi. Keadaannya yang hamil membuatnya sensitif mungkin. Wanita itu menenggelamkan kepalanya di ranjang penyakitan suaminya.
Namun tangisan itu terhenti saat merasa ada yang mengusap lembut kepalanya. Aileen pun mengangkat kepalanya. Matanya terbelalak melihat suaminya kini tersenyum manis padanya.
Aileen mengucek matanya. Ia tidak salah lihat 'kan? Vano, suaminya sudah sadar. Ia kira yang mengusap rambutnya adalah mamanya. Tapi ternyata...
"Kamu udah sadar Mas! Huaaa aku kangen banget. Kamu jahat banget sih baru sadar sekarang!" Aileen langsung menubruk Vano dengan pelukannya. Hingga ringisan Vano membuat Aileen segera melepaskan pemukannya. Ia lupa bahwa bahun suaminya ada bekas luka tembak.
"Duh maaf ya Mas. Aku terlalu seneng. Aku panggil dokter dulu ya!" Dengan cepat Aileen memanggil dokter untuk segera memeriksa Vano.
Sungguh keajaiban yang sangat Aileen syukuri. Vano sudah membaik. Sangat membaik. Suaminya itu sudah dipindahkan ke ruang rawat.
Orang tua Vano dan Aileen pun sudah datang. Namun mereka telah pulang dan memberikan waktu pada anak-anak muda. Memang teman-teman Vano saat ini datang menjenguk Vano.
Mereka memang baru diberitahu tentang keadaan Vano yang lama tak ngampus. Karena memang Aileen ingin merahasiakannya apalagi Vano sampai koma dan dirawat ruang ICU. Waktu berkunjung sangat terbatas. Aileen tak mau kesehatan suaminya terganggu karena hal itu nanti.
Tapi keadaan Vano yang sekarang tak apalah. Hm apa kalian tau siapa yang langsung menyebarkan berita itu dengan cepat? Siapa lagi kalau bukan Ben dengan mulut lemesnya itu.
Teman-teman kuliah Vano pun juga sudah pulang. Kini hanya tersisa Ivan dan Ben. Gino tak datang. Ralat. Belum datang tepatnya. Ngaretnya cowok yang satu itu kebangetan.
Kini Ben sedang menjahili Aliand yang berada di pangkuan Ivan sambil memakan pisang. Bayi yang menduplikat wajah Vano itu tampak nyaman duduk di pangkuan Ivan. Ya, jika saja Ben tak mengganggunya.
"Ini pisang, Uncle!" Ben mengambil pisang yang sedang dipegang Aliand.
Wajah Aliand tampak menampilkan raut kesal. Siapa coba yang tak kesal jika sedang makan tapi makananmu diambil?
Aliand menggeliat minta turun dari pangkuan Ivan. Setelah berhasil turun, Aliand berjalan dengan pelan ke arah Ben dan berusaha merebut pisangnya.
"Ssaaangg!" Jerit Aliand saat Ben malah menjauhkan pisang itu dari jangkauan Al. Jeritan-jeritan Al tak Ben pedulikan, ia masih asyik menjahili bayi menggemaskan itu.
"Al, Uncle kasih pisang yang bagus nih! Masih utuh. Gak usah ambil yang itu. Monyetnya pengen banget makan bekas kamu!" Sahut Ivan yang mengambil pisang dari keranjang buah.
"Sial*an lo Van! Lo ngatain gue monyet?" Kesal Ben.
"Tuh nyadar! Ini Al." Ivan kembali menyodorkan pisang yang telah dikupasnya kepada Al. Namun Aliand menolak pisang itu. Ia tetap ingin pisangnya tadi.
"Udah sih Ben! Jangan jahilin anak aku kek gitu. Udah mau nangis tuh!" Tegur Aileen yang saat ini sedang menyuapi Vano.
"Yaudah nih. Masa jagoan nangis sih!" Ben akhirnya mengalah dan mengembalikan pisang Al.
Aliand, bayi itu langsung mengambik pisangnya. Namun setelah itu langsung menggigit jari telunjuk Ben dengan kuat.
Sontak Ben menjerit keras karena kesakitan. Terlihat jarinya terdapat 2 bekas gigi kecil. "Dasar bocah!" Sungut Ben mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa berdenyut.
"Rasain! Tos dulu Al!" Ejek Ivan yang kini bertos ria dengan Al.
Ben hanya bersungut kesal diletawai oleh Ivan, Aileen, dan Vano.
Tawa mereka terhenti saat pintu ruang rawat Vano terbuka dan disusul suara ribut. Rupanya Gino dan... siapa gadis di belakangnya yang diseret?
-TBC-
Jangan lupa baca cerita aku yg judlnya This Is My Baby...