My Beloved Husband

My Beloved Husband
Baby Al



Happy reading


.


.


.


"Welcome to the world baby boy!"


Vano ikut tersenyum melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat. Ia mengusap pucuk kepala istrinya sebelum mencium kening istrinya itu.


"Terima kasih. Terima kasih sudah melahirkan malaikat kecil kita. Terima kasih karena kamu masih ada di samping aku. Terima kasih kamu sudah menjadi istri yang baik buat aku. Terima kasih untuk segalanya. Aku mencintaimu dan anak kita." Vano mengeluarkan seluruh isi hatinya saat ini. Ia tak ingin banyak diam. Karena seseorang mengatakan padanya jika yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah kepercayaan dan kejujuran.


Ya, selama ini Vano selalu diam. Ia hanya bertindak tanpa mengeluarkan sepata kata pun. Karena yang terpenting adalah tindakan baginya. Tapi ada kalanya berbicara juga diperlukan bukan? Karena semua orang tidak akan sepeka dirinya. Pribadi setiap orang berbeda.


Vano sudah banyak intropeksi diri saat Aileen meninggalkannya. Ia menyadari semua tingkahnya selama ini. Ia mencoba memposisikan dirinya sebagai orang lain. Ya karena itu lah ia bisa berbaikan dengan ayahnya. Ia memposisikan sebagai seorang ayah yang dibenci oleh anaknya sendiri. Dan baru ia bayangkan sudah membuatnya merasakan sakit. Apalagi ayahnya yang memang sudah dibenci?


Vano ingin memulai hidupnya bersama keluarga kecilnya dengan sejahtera. Ia akan meninggalkan kebiasaan buruknya. Ia akan berlajar lebih dewasa lagi. Ia tidak akan membiarkan keluarga kecilnya sedih. Itu lah janji Vano dalam hidupnya.


"Terima kasih juga.... kamu mau menerima aku apa adanya. Meskipun aku manja, cengeng, dan egois. Kamu tetap bertahan di sisiku. I love you more." Aileen mengecup pipi Vano yang sedang menunduk hingga kepala mereka sejajar.


Mereka saling melemparkan senyum dalam aksi saling pandangnya. Tapi Vano menghentikan aksi itu dengan mengecup bibir istrinya sekilas.


"Ihh awas. Baby boy-nya kepencet ntar!" Tegur Aileen sembari mendorong bahu suaminya. Setelahnya ia melihat sekitar yang masih terdapat dokter dan suster. Untungnya mereka membelakangi Aileen sehingga tidak melihat aksi Vano tadi. Hal itu membuat Aileen diam-diam bernapas lega.


"Baby boy? Kita belum kasih nama ya." Vano mendudukkan tubuhnya di brangkar istrinya.


"Iya. Kamu mau kasih nama apa?" Tanya Aileen sambil mengusap pipi anaknya yang gembul.


"Aliand Jovanka Adinata. Bagaimana?" Balas Vano yang tak melepaskan pandangannya dari anaknya di gendongan sang istri.


"Wah bagus banget. Panggilannya baby Al. Ututu sayangnya Mommy!" Dengan gemas Aileen mencium pipi anaknya. Lalu kembali memperhatikan wajah anaknya.


Tiba-tiba mata baby Al terbuka membuat kedua orang tuanya berseru senang.


"Matanya kebuka. Eh tapi kok matanya mirip kamu sih. Hidungnya juga. Alisnya juga. Ini sih namanya replikaan kamu!" Cerocos Aileen.


Vano ikut meneliti wajah anaknya. Memang benar apa yang dikatakan Aileen. Baby Al memang replikanya. "Tapi bibirnya mirip kamu kok!"


"Iya tapi cuma bibir doang!" Aileen mengatakannya dengan cemberut.


"Ini pipinya juga mirip kamu. Sama-sama chubby," balas Vano sambil mengelus pipi anaknya.


"Ihh kamu ngatain aku gendut?"


"Tidak!"


"Terus itu tadi apaan chubby chubby!"


"Pipi kamu. Kalau badan kamu kan tidak gendut."


Aileen menggembungkan pipinya karena kesal. Ia menyadari bahwa pipinya seperti ingin meletus. Sebelum hamil saja pipinya sudah chubby. Apa lagi semenjak ia hamil. Berat badannya naik, tapi pipinya jauh lebih naik. Ia merasa seperti bola sekarang.


Cuup


Aileen tersentak saat Vano mengecup pipinya.


"Kamu tetap cantik!"


"Gombal!"


xxx---


Aileen masih saja memandangi wajah baby Al. Ia tak pernah merasa bosan. Setelah memberikan asi pertamanya tadi, Aileen tak mau melepaskan bayinya.


Kejadian lucu bagi Vano saat Aileen memberikan asi pada anaknya. Ekspresi Aileen terus berubah-ubah. Entah itu kegelian, cemas, takut, kesakitan, tersiksa dan banyak lagi. Meskipun dibantu sang dokter tapi Aileen tetap saja tak bisa tenang. Bahkan menyemburkan amarahnya pada Vano yang hanya diam dengan tawa tertahannya.


Vano mengalihkan pandangannya pada pintu yang sudah terbuka. Di sana terdapat Rasti, Dian, Dani, dan... Ivan.


"Ya Bu," balas Aileen.


Dian mendorong kursi roda ibunya untuk mendekati brangkar Aileen. Vano pun mundur untuk memberikan ruang kepada mereka.


"Ibu kirain kamu di puskesmas lahirannya. Ternyata di rumah sakit," ucap Rasti.


"Aku juga baru nyadar Bu. Kirain tadi di puskesmas," balas Aileen.


"Memang ada puskesmas dekat rumah?" Tanya Vano.


"Ada. Kamu tidak tau?" Balas Dian.


Vano menjawab dengan gelengan kecil. "Aku tadi mencari rumah sakit di maps. Aku tidak tau bahwa ada puskesmas yang lebih dekat."


"Nak Vano mungkin khawatir tadi. Jadi langsung spontan. Dan selamat untuk kalian berdua. Kalian sudah menjadi orang tua," ujar Rasti dengan senyumnya.


"Selamat ya Aileen. Kamu sudah jadi ibu dari bayi seganteng ini. Eh anak kamu cowok 'kan?" Kali ini Dian yang mengeluarkan suara.


Aileen terkekeh mendengar ucapan Dian. Dian mungkin takut salah mengira. "Iya cowok kok. Liat 'kan? Mirip banget sama ayahnya?"


Dian memandang lekat wajah baby Al lalu beralih menatap Vano yang duduk tenang di sofa. Berkali-kali Dian memalingkan wajahnya seperti itu. "Iya ih beneran mirip."


"Iya. Wong anak bapak!" Timpal Rasti.


Aileen kembali terkekeh. Namun ia menghentikan kekehannya untuk menatap Ivan yang masih bergeming di dekat pintu.


"Ivan, kamu gak mau ngucapin selamat buat aku? Kamu gak seneng ya ponakan kamu udah lahir? Pas aku hamil aja kamu yang gak sabaran tapi pas udah lahiran kamu kek gitu!" Cerocos Aileen.


Ivan menelan salivanya kasar. Ia menatap Aileen dan Vano bergantian. Ketahuan sudah kalau selama ini Ivan tau keberadaan Aileen.


"Kenapa masih diam Van?" Sahut Vano.


Ivan terperangah. Vano tak menunjukkan emosi apapun. Ivan tahu betul bagaimana Vano. Saat cowok itu lagi marah, sedih, atau apapun itu. Orang lain mungkin mengira Vano baik-baik saja padahal tidak. Jangan remehkan persahabatan mereka. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Dan... kemungkinan besar Vano sudah tau bahwa Ivan tau keberadaan Aileen selama ini.


Ivan berdeham sebelum menghampiri Aileen. "Selamat ya Ai. Dan... assalamualaikum ponakannya uncle Ivan."


Dimulai dari kalimat itu hingga lahirlah kalimat-kalimat lain di antara mereka. Kecuali Vano yang hanya sesekali menimpal. Ia hanya asyik menonton. Hingga Ivan duduk di sampingnya barulah ia memalingkan wajahnya ke arah Ivan.


"Selamat ya Bro. Lo udah jadi ayah sekarang. Masih gak nyangka gue," ucap Ivan.


"Thanks." Vano hanya tersenyum kecil dengan kalimat singkatnya, tidak tepatnya kata.


Hening sesaat. Ivan mengusap tengkuknya. Antara ingin mengatakan sesuatu yang ia tahan sedari tadi atau tidak. Dan kegusaran itu tak luput dari pandangan Vano.


"Katakan!" Titah Vano.


"Hah?"


"Katakan apa yang ingin kamu katakan!"


"Soal Aileen--"


"Kamu tau keberadaannya selama ini 'kan? Tenang saja aku tidak mempermasalahkan itu. Justru aku berterima kasih. Terima kasih sudah menggantikan peranku untuk menjaga Aileen selama ini," potong Vano.


Ya selama ini Vano sudah mengetahui kebenaran bajwa orang sekitarnya menyembunyikan keberadaan Aileen darinya. Vano memaklumi itu, karena selama ini ia memperbaiki dirinya. Meperbaiki diri tanpa harus ke psikiater, Vano tidak separah itu. Setidaknya pengontrolan dirinya masih bagus. Hanya perlu mengurangi kebiasaan buruk saja. Oh atau mungkin menghilangkan.


"Gak perlu pake makasih segala. Kita kan saudara. Ya gak?"


Keduanya saling berangkulan. Ya persahabatan layaknya saudara. Memang Vano tak memiliki banyak kawan. Baginya tidak apa hanya sedikt dari pada banyak tapi tidak tulus. Kebanyakan yang bermuka dua. Hmmm.


-TBC-