My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab bertemu Jessica



Saat jam makan siang—Salsa bertemu Jessi sesuai rencananya semalam. Dia dan Jessica bertemu di kafe yang tidak jauh dari rumah sakit—tempat Salsa bekerja.


“Tumbenan banget lo ngajak ketemu.” Tanya Jessica seraya meminum jus alpukat nya. “Asa masalah?” Jessica ingat, semalam saat Salsa mengatakan membutuhkan bantuannya. Itu pasti masalah penting, jika bukan tidak mungkin Salsa yang notabene perempuan independent dalam segala hal itu sampai ingin meminta bantuannya.


“Kamu ingat pas aku minta tolong buat nyari tahu seseorang waktu itu?” Salsa justru menanyakan hal lain pada Jessica.


Beberapa waktu yang lalu—dia memang sempat meminta bantuan Jessi untuk mencari informasi dari seseorang yang tidak lain adalah Sinta.


“Yang informasi ibu-ibu kenalan atasan kamu itu?” Ingat Jessica. Salsa pernah memintanya mendapatkan informasi seseorang.


Salsa mengangguk, “Dia mama aku.”


“Uhukkk!” Saking terkejutnya dengan ucapan Salsa—Jessica sampai tersedak.


“Pelan-pelan minumnya.” Memberikan tisu pada Jessica.


Jessica menerima tisu itu lalu memandang Salsa masih dalam tatapan kagetnya. “Serius mama lo?”


Lagi-lagi Salsa mengangguk. “Ceritanya panjang. Aku juga belum lama tahu.” Jujur Salsa.


“Bukannya dulu kata lo mama lo udah,-“ Jessica tidak melanjutkan ucapannya.


“Aku juga baru tahu kalau mama masih hidup.” Kata Salsa menanggapi.


“Astaga. Kenapa mirip sinetron sekali.” Ucap Jessica. “Terus gimana?” Dia penasaran bagiamana Salsa menyikapi situasi saat ini.


Jessica jadi tidak tega melihat Salsa yang terlihat tertekan dan sedih seperti saat ini. “Lo bantuan apa dari gue?” Dia akan membantu apapun yang dibutuhkan Salsa saat ini.


“Aku mau tahu kehidupan mama selama ini bagaimana. Apa kamu bisa mencarikan informasi yang lebih detail?” Salsa hanya ingin tahu apa yang dilakukan Sinta setelah meninggalkan rumah saat Salsa kecil. Bagiamana kehidupan Sinta? Dan, mengapa Nana mengakui Sinta sebagai ibunya. Padahal jarak umur Nana dan Salsa cukup jauh. Apa mungkin sebelum menikah dengan alm. Damar —Sinta sudah pernah menikah?


“Gue usahakan.” Ucap Jessica.


“Makasih. Tapi, jangan bilang-bilang ke Jordan kalau aku minta bantuan kamu.” Pinta Salsa sebab Jordan tidak tahu masalah itu. Salsa belum meceritakan perihal Sinta pada Jordan.


“Jordan nggak tahu masalah ini?” Tanya Jessica dan diangguki oleh Salsa, “Why? Lo nggak percaya sama Jordan?” Dia jadi khawatir dengan rumah tangga Jordan dan Salsa. Bagaimana mungkin masalah sepenting itu Salsa tidak memberitahu suaminya?


“Bukan nggak percaya, Jes. Aku belum ada waktu yang pas ngomong ke Jordan. Semalam dia juga pulang lewat tengah malem.” Ucap Salsa jujur. Dia memang sudah pernah ingin menceritakan soal Sinta pada Jordan tetapi waktunya selalu tidak tepat.


“Ah, iya. Gue sudah denger masalah proyek di Bandung.” Jessi juga tahu ada masalah dengan pembangunan proyek di Bandung.


“Kamu nggak akan cerita ke Jordan ‘kan?” Salsa memastikan karena kadang Jessi suka keceplosan di depan Jordan.


“Nggak. Lo tenang aja.” Jawab Jessi dengan gelengan kepala. “Tapi, lo harus segera kasih tahu Jordan. Lo tahu sendiri suami lo itu peka banget masalah kayak ginian. Dia pasti cepet atau lambat bakalan tahu masalah ini entah dari lo langsung ataupun orang lain.” Kata Jessi memberi nasihat.


“Iya, aku ngerti, kok.” Ucap Salsa.


Mereka mengobrol sambil menikmati makan siang mereka. Salsa sengaja menghabiskan jam istirahat nya bersama Jessi. Dia akan kembali ke rumah sakit pas jam istirahat nya selesai. Lagi pula dia tidak mau sendirian di ruang kerjanya dan merasa sepi. Sebab, Tani sudah pindah mulai hari ini. Sahabat Salsa itu sudah mulai bekerja di tempat lain.