My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab berziarah



“Beri mama kesempatan, Sa. Mama mau nebus semua kesalahan mama di masa lalu. Mama mohon.” Mohon Sinta pada Salsa.


Salsa tersenyum getir mendengar permohonan Ibu yang pernah mentelantarkan dirinya itu. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh air mata yang sudah menetes di pipi perempuan paruh baya di hadapannya itu. “Maaf, tapi saya tidak butuh anda menebus kesalahan anda. Saya sudah cukup bahagia dengan kehidupan saya yang sekarang, tanpa anda!” Ucap Salsa dengan penuh penekanan.


“Tapi, Sa-.”


“Cukup.. Anda tidak perlu memohon seperti ini. Karena semua yang anda ucapkan tidak akan mengubah apapun saat ini. Silahkan anda keluar, pintunya ada di sebelah sana.” Salsa memotong ucapan Sinta dan mengusir Sinta dari ruangannya. Setelah mengucapkan kalimat itu, Salsa langsung membuang wajahnya ke arah lain dengan cara memutar kursi kerjanya.


Sinta bergeming. Dia ingin tetap di sana tetap Salsa keras kepala akan susah membujuknya.


“Baiklah, mama akan pulang.” Ucap Sinta sembari beranjak dari duduknya, “Tapi, mama tidak akan menyerah. Mama akan menemui kamu lagi sampai kamu memaafkan mama.” Lalu berlalu keluar dari ruangan Salsa.


Setelah mendengar suara pintu ditutup, Salsa memutar kembali kursi putarnya dan melihat arah pintu dengan tatapan sendu. “Kenapa mama baru sekarang mencari Salsa?” Batin Salsa teriris.


Ceklek..


Salsa langsung mengusap sisa air mata yang baru saja menetes di pipinya dengan jari saat mendengar pintu dibuka dari luar. Tania masuk dengan membawa kresek di tangannya. Sahabat Salsa itu berjalan ke arah meja kerjanya dan berhenti di depan meja Salsa. “Aku beli boba di kafe sebelah. Satu buat kamu.” Sambil mengeluarkan es boba satu dari kresek putih yang tadi dia bawa.


Salsa tersenyum simpul. Dia memang butuh minuman manis saat ini untuk mengembalikan mood nya yang berantakan karena kedatangan Sinta. “Terima kasih ibu peri.” Ucapnya seraya mengambil langsung boba itu dan meminumnya.


“Yang tadi itu—.” Tania berhati-hati saat akan bertanya. Dia tidak mau menyinggung perasaan Salsa.


“Mamaku.” Jawab Salsa.


Tania yang baru saja ingin mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya itu lantas menoleh pada Salsa. “Yang waktu itu sama dokter Nana?” Lalu duduk sambil menatap ke arah Salsa yang sedang menikmati es boba nya.


Salsa mengangguk, “Yups. Lucu ‘kan? Dia ninggalin aku pas kecil tiba-tiba balik mau aku mengakuinya.” Lagi-lagi Salsa tersenyum getir apalagi mengingat ucapan Sinta yang ingin mendapatkan kesempatan dari Salsa.


“Terus kamu gimana?” Sebelum berkomentar Tania ingin tahu dulu bagaimana perasaan Salsa saat ini, “Are u oke?”


Salsa menggeleng jujur, “Aku nggak tahu gimana perasaanku. Yang jelas aku marah dan membencinya.” Dia memang marah dan emosi setiap kali Sinta menemuinya.


Tania mengangguk dia ingin mencoba memahami Salsa. Memang tidak mudah jika di posisi Salsa saat ini. Dia ditinggalkan saat masih kecil. Hidup tanpa sosok ibu dari kecil Tania bahkan tidak bisa membayangkannya.


“Jangan memaksakan diri. Kalau kamu emang belum bisa menerima mama kamu, utarakan. Kasih tahu alasan kamu.” Ucap Tania.


“Hah.” Salsa menghempaskan napas ke udara. “Aku nggak mau bahas mama.” Ucapnya mengakhiri percakapan tentang Sinta.


“Oke.. Tenangkan dulu hati kamu, setelah tenang kamu bisa curhat keluh kesah kamu ke aku atau minimal ke orang yang kamu percaya. Beban jangan dipendam sendiri nanti jadi penyakit.” Kata Tania menasihati.


“Thanks Tan. Kamu udah ada di masa-masa sulit aku.” Menatap Tania dengan berkaca-kaca.


“Itu gunanya sahabat.”


***


“Papa, Salsa datang. Maaf, Salsa baru bisa mengunjungi papa.” Lirih Salsa duduk bersimpuh di tepi pusara alm. Damar. “Papa pasti udah bahagia ‘kan di sana? Salsa selalu berdoa semoga papa mendapat tempat terbaik. Hari ini Salsa bawa kabar baik untuk papa. Salsa hamil, pa. Sebentar lagi Salsa akan jadi ibu. Tapi, Salsa ragu, pa. Apa Salsa bisa jadi ibu yang baik buat anak Salsa nanti? Sementara Salsa tidak pernah merasakan kasih sayang ibu. Salsa nggak tahu gimana rasanya mendapat kasih sayang ibu. Salsa takut nggak bisa jadi ibu yang baik buat anak Salsa, pa.” Adu Salsa di samping pus arah ayahnya dengan terisak. Kasih sayang dari seorang ibu yang Salsa rasakan sangatlah minim. Semenjak umur 6 tahun lebih sedikit, dia hanya tinggal bersama papanya. Dia sudah lupa bagiamana mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Sampai pada akhirnya dia bersahabat dengan Jessi dan bisa merasakan sedikit kasih kasih sayang seorang ibu lewat mommy Ayu—ibu nya Jessi.


Salsa terus berceloteh di dekat pusara ayahnya hingga menjelang magrib dan akhirnya memutuskan pulang.


Dia pulang dengan naik taksi ke rumah. Kali ini dia pulang ke rumah yang jaraknya dekat.


“Mba Nani belum pulang?” Tanya Salsa pada asisten rumah tanganya yang seharusnya sudah pulang satu jam yang lalu. Asisten rumah tangganya datang pagi dan pulang sore.


“Belum, Bu. Ini baru mau pulang. Makan malam sudah siap, Bu. Saya permisi pulang.” Jawab mbak Nani.


Salsa menangguk, “Hati-hati di jalan, mbak.”


“Terima kasih, Bu.”


Usai membersihkan diri dan bersantai di atas tempat tidur, perut Salsa terasa keroncongan lapar. Tapi dia malas turun ke lantai satu untuk makan. Jika saja suaminya sudah pulang, dia pasti akan meminta bantuan suaminya mengambilkan makanan saat ini. Tapi sayangnya Jordan masih di Bandung dan kemungkinan suaminya itu pulang malam.


“Tapi, kalau enggak makan kasihan kandungan aku.” Gumam Salsa memaksakan diri turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya untuk mencari makanan.


Sampai di ruang makan—sudah tersedia makan malam di atas meja dengan menu sederhana. Oseng brokoli dicampur bakso dan wortel yang dipotong kecil-kecil dan lauknya ayam kecap serta sambal tomat.


Salsa mengambil secentong nasi dilengkapi lauk pauk sampai piringnya penuh dan mulai memakan makan malamnya dengan santai.


Dreet.. dreeet..


Ponselnya berdering di sela-sela ia makan. Dia menghentikan aktivitas makannya sejenak lalu diraihnya ponsel yang tergeletak di samping gelas air putih itu lalu diangkatnya telepon yang masuk.


“Iyaa.” Jawab Salsa.


“Sorry gue baru buka hp makanya baru telepon. Lo mau minta tolong apa, bund?” Tanya si penelepon yang tidak lain adalah Jessi—sahabat sekaligus adik iparnya.


Tadi, Salsa memang sempat mengirim pesan pada Jessi yang berisi dia membutuhkan bantuan Jessi. Hanya saja Salsa belum menjelaskan secara detail dia ingin meminta bantuan apa pada Jessica.


“Aku nggak bisa jelasin di telepon. Besok ketemu aja, gimana? Pas jam makan siang.” Ucap Salsa.


“Boleh. Besok aku ke tempat kerja kamu. Kita ketemu di kafe sebelah rumah sakit, gimana?” Balas Jessi.


“Oke.”


“Ya udah. Aku tutup.”


“Hm. Maacih.”


Salsa meletakkan kembali ponselnya di tempat semula dan melanjutkan makan malamnya.