
“Kenapa nggak jujur sama Jessi kalau kita habis dari dokter kandungan?” Tanya Jordan. Saat ini dia dan Salsa dalam perjalanan pulang.
“Sengaja biar nanti kita bisa kasih kejutan ke mereka.” Jawab Jessi, sejujurnya dia ingin merahasiakan dulu tentang kehamilannya dari keluarga. Cukup Jordan saja yang tahu. “Kamu nggak keberatan, ‘kan?”
“Enggak sama sekali. Terserah kamu sayang, yang penting kamu seneng.” Ucap Jordan.
Salsa lalu teringat tentang mama Sinta yang datang menemuinya hari ini. Haruskah dia bercerita hal itu pada Jordan? Atau nanti saja? Salsa diam berpikir sampai tiba-tiba mobil sudah berhenti di basement apartemen. Mereka memang pulang ke apartemen Salsa hari ini.
“Udah sampai ya?” Salsa melepas seat beltnya dan langsung turun dari mobil. “Kamu nggak ikut turun?” Tanyanya pada Jordan yang tidak ikut membuka seat belt nya.
“Aku ada urusan sebentar. Kamu nggak papa ‘kan, aku tinggal sebentar?”
“Tapi, jangan pulang malam-malam ya!” Dia memang tidak papa ditinggal sendiri tapi entah mengapa rasanya malam ini tidak mau jauh-jauh dari Jordan.
“Siap, paling lama dua jam.” Ucap lelaki itu dan Salsa pun menganggukan kepalanya.
Salsa naik ke apartemennya setelah mobil Jordan pergi dari basement.
Sudah pukul 23:00 WIB Jordan belum pulang. Padahal lelaki itu pamit paling lama pergi dua jam. Dan, sekarang sudah dua jam lebih tiga puluh menit Jordan pergi tetapi lelaki itu belum juga pulang.
“Telepon nggak ya?” Ucap Salsa bermonolog pada dirinya sendiri. Dia paling anti menelepon Jordan hanya untuk menanyakan kapan lelaki itu pulang. Karena biasanya Salsa tipe istri yang santai dan membebaskan saja suaminya itu mau pulang jam berapapun asal jelas tujuannya. Namun, kali ini Salsa sedikit tidak tenang. Dia ingin Jordan cepat pulang dan menemaninya tidur. Dia tidak bisa tidur sendiri. “Aku telepon saja lah.” Ucapnya memutuskan. Mengambil ponselnya yang ada di nakas dan menekan dial pada kontak ‘My husband’.
“Tidak aktif.” Gumam Salsa.
Klik..
Salsa langsung menoleh pada arah pintu saat mendengar suara pintu utama apartemen dibuka. Saat itu pintu kamarnya memang tidak ditutup rapat jadi dia bisa mendengar suara dari luar.
Terlihat Jordan melangkah masuk ke dalam kamar beberapa saat kemudian setelah bunyi pintu terbuka itu.
“Kamu belum tidur sayang?” Tanya Jordan seraya menaruh jas yang tadi terlampir di lengannya ke dalam rak pakaian kotor di pojok ruangan.
“Aku nungguin kamu.” Ucap Salsa tanpa beranjak dari tempat tidur. Karena sejujurnya dia sudah malas bergerak ingin tiduran dan dipeluk Jordan.
“Maaf, pertemuannya molor jadi aku juga molor pulangnya.” Kata Jordan menjelaskan seraya melonggarkan dasinya melepasnya dan menaruh keranjang kotor lalu menggulung kemejanya dan berjalan ke arah kamar mandi. “Aku mandi sebentar.” Ucap Jordan berlalu menuju kamar mandi. Salsa mengangguk menanggapi.
Tidak sampai 10 menit, Jordan sudah keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggannya. Lelaki itu pun menuju ruang pakaian untuk memakai piyama tidurnya. Setelahnya barulah Jordan menuju tempat tidur dan merangkak naik ke atas tempat tidur.
Salsa sendiri masih terjaga menunggu Jordan sambil membaca buku.
“Kamu nggak ngantuk?” Tanya Jordan sambil tiduran.
“Ngantuk banget.” Jawab Salsa menutup buku yang tadi dia baca dan menaruhnya di nakas. Lalu mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Pun, dia langsung berbaring di sebelah Jordan, menyembunyikan wajahnya mendusel di dada bidang Jordan. Jordan pun merangkul Salsa dengan senang hati, membiarkan lengan kokohnya menjadi bantalan perempuan itu.
Cup cup cup.. Tiga kali Jordan mengecupi puncak kepala Salsa. Memberikan rasa sayang lewat ciuman hangatnya itu.
Jordan menunduk. Dia bisa melihat wajah Salsa bersedih saat perempuan itu mengucapkan kerinduannya pada alm. Sang ayah.
“Besok kita ke makam, gimana? Kita nyekar. Kita emang udah lama nggak ke sana. Sekalian kita cerita kalau kamu udah isi.” Ide Jordan yang langsung membuat Salsa mengangguk setuju.
“Sore aja ya.”
“Oke sayang. Aku jemput kamu lebih awal kita langsung ke makam.”
Salsa mengangguk lagi, “Good night, sayang.” Sedikit mendongakkan kepalanya mengecup singkat bibir Jordan.
“Good night juga, My queen.” Tak ingin kalah Jordan melakukan hal sama menunduk dan mengecup singkat bibir Jordan.
**
Saat jam istirahat, Sinta kembali menemui Salsa di rumah sakit. Kali ini Sinta langsung menemui Salsa di ruangannya. Sinta dan Salsa duduk dengan canggung di ruangan Salsa. Salsa duduk di kursi kerjanya sedangkan Sinta di depannya. Hal itu membuat Tania kikuk, dia pun mencari cara untuk bisa keluar dari ruangan itu.
“Aku keluar bentar, Sa. Mau beli pulsa.” Ucap Tania seraya meraih kunci mobilnya.
“Jangan lama-lama.” Balas Salsa malas hanya berdua di ruangan itu dengan Sinta. Tania mengangguk dan berlalu.
Setelah Tania keluar dari ruangan itu, barulah Sinta berani bersuara.
“Ini mama bawakan makan siang buat kamu, Sayang.” Ujar Sinta seraya menyerahkan paperbag berisi kotak makan siang untuk Salsa.
“Saya sudah makan siang, anda bawa kembali saja.” Judes Salsa pada Sinta. Kehadiran Sinta yang tiba-tiba datang lagi ke kehidupan Salsa membuat Salsa kesal. Mengapa baru sekarang Sinta menemui Salsa? Mengapa tidak dari dulu?
Sinta terlihat kecewa akan penolakan Salsa tapi dia tidak mau menyerah. “Tapi, Sa. Ini makanan kesukaan kamu. Lele goreng.” Ujar Sinta. Dulu waktu kecil, Salsa memang suka makan lele goreng.
“Saya sudah tidak suka lagi.” Cuek Salsa.
“Sa, kamu masih marah sama mama?” Sinta bertanya dengan lembut.
“Mama?” Salsa menatap tajam perempuan paruh baya di hadapannya itu. Ada rasa benci yang susah untuk dia ungkapkan. “Mama yang meninggalkan anaknya saat dia berumur 6 tahun, apa masih layak anda dianggap mama?” Ucapan Salsa terdengar datar namun cukup nyelekit bagi Sinta.
“Itu—.” Sinta tidak bisa berkata-kata. Dia memang bersalah sudah meninggalkan Salsa saat kecil.
“Anda tidak bisa menjawab ‘kan?” Sela Salsa, “Apa anda tahu luka apa yang sudah anda torehkan pada saya?” Salsa geleng-geleng kepala tidak habis pikir. “Masa kecil saya yang harusnya bahagia dengan orang tua lengkap seperti teman sebaya saya, tidak pernah saya rasakan hal itu. Saya tidak memiliki sosok ibu di masa kecil saya. Dan, anda dengan tidak tahu malu datang saat ini mengaku sebagai mama saya?Ck,ck.” Salsa berdecak lalu terkekeh, “Menggelikan!”
Sialan, sulit sekali dia dibujuknya? Batin Sinta.
“Maaf, mama sudah menyesali perbuatan mama waktu itu, Sa. Makanya sekarang mama nyari kamu. Mama mau nebus kesalahan mama sama kamu. Mama harap kamu mau memberi mama kesempatan, Sa. Mama mohon.” Tutur Sinta dengan wajah memelasnya.
“Untuk apa? Untuk apa anda menebus kesalahan, anda? Salsa nggak butuh.” Tolak Salsa tegas. Dia tidak butuh lagi seorang Ibu. Karena dia sendiri akan jadi seorang ibu. Lagi pula dia sudah memiliki ibu mertua yang sangat menyayanginya.