
Jordan benar-benar mengumumkan rencana pernikahannya di hadapan media sekaligus mengklarifikasi berita miring yang heboh terkait dirinya dan Salsa.
Konferensi pers yang selesai di lakukan beberapa menit lalu berjalan lancar. Awalnya Salsa merasa gugup namun melihat tanggapan positif dari para wartawan membuat dia lega.
“Ayo pulang!” Ajak Jordan.
“Tapi disini?” Tempat mereka mengadakan konferensi pers masih ramai, masih ada beberapa wartawan di sana.
“Biar Kris yang urus. Aku capek.” Ujar Jordan.
“Baiklah.” Pun, Salsa menuruti kemauan Jordan. Keduanya pulang ke apartemen Salsa.
☘️☘️☘️
“Jadi, mereka akan menikah?” Naya melihat berita Jordan dan Salsa di televisi. “Pantas saja aku tidak bisa menemukan wartawan yang menipu itu, sudah pasti dia di bawah kendali Jordan.” Gumam Naya menyadari kebodohannya. Dia tidak pernah berpikir Jordan akan memblokir informasi yang ia berikan pada wartawan media.
Naya mengepalkan tangannya erat. Rasa cemburu membakar perasaannya. Jordan nya yang susah payah ia rebut dari Salsa justru kembali pada Salsa. Hal itu sangat melukai harga dirinya.
“Aku akan membalasmu, Jo. Jika aku tidak bisa memiliki mu, tidak juga dengan Salsa. Meskipun bukan aku, akan ada perempuan lain yang merusak hubungan kalian. Aku bersumpah.” Ucap Naya.
Saat Naya sedang dalam keadaan marah dan frustrasi akibat rencana pernikahan Jordan dan Salsa. Seseorang datang ke apartemen Naya.
“Mau apa lo kemari?” Sarkas Naya tidak senang dengan kehadiran orang itu.
“Kenapa marah-marah sayang, aku datang untuk menghibur mu.” Dia adalah teman tapi mesra Naya. Sekaligus lelaki yang membuat Jordan meninggalkan Naya. Selingkuhan Naya saat dia berstatus tunangan Jordan.
“Hentikan omong kosong mu, Brengsek. Lo kesini karena uang ‘kan?” Naya membuka nakas di sebelah tempat tidurnya dan merogoh uang segepok dari tempat itu lalu melemparkan pada lelaki yang sekarang berdiri di hadapannya. “Ambil itu! Aku tidak ingin melihatmu lagi!”
Lelaki itu menangkap uang yang di lempar Naya dan mencium uang itu. “Kau memang yang terbaik. Thanks.” Namun, dia tidak beranjak dari tempatnya, lelaki itu justru menatap Naya dengan iba.
“Apa lagi? Kurang?”
“Aku kasihan padamu. Hidupmu tidak berguna hanya karena seorang lelaki.” Sindir lelaki itu. “Kau bahkan bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari dia.”
“Tutup mulut lo. Gue nggak butuh ceramah, lo.” Sinis Naya melotot pada lelaki itu. Rahangnya mengeras sorot matanya seakan ingin membunuh siapapun saat ini.
“Aku bicara demi kebaikanmu. Jika kau tidak menyerah sekarang, hidupmu akan lebih sulit.” Ujar lelaki itu. Dia berusaha menyadarkan Naya dari hal bodoh yang perempuan itu lakukan.
“Gue bilang tutup mulut lo.” Naya murka dia beranjak berdiri dan mendorong lelaki itu dengan susah payah untuk keluar dari kamarnya. “Lo nggak usah banyak bacot. Cowok kayak lo yang bahkan nggak bisa hidup tanpa uang gue, nggak layak ngomong kayak gitu. Sebelum lo menggurui gue, lihat diri lo sendiri dulu!” Cerocos Naya berhasil menyingkirkan si lelaki pengganggu dari kamarnya.
“Iya gue pergi..” Ujar lelaki itu meninggalkan apartemen Naya dengan uang segepok di tangannya.
Apakan Naya akan menyerah terhadap Jordan? Tidak.. Tidak semudah itu membuat seorang Naya menyerah.
☘️☘️☘️
“Nanti juga kamu tau.” Jawab Jordan fokus pada stir kemudinya. Jordan memaksa Salsa untuk ikut dengannya. Lelaki itu bahkan menyuruh Salsa berpakaian rapi, seperti dirinya yang saat ini berpakaian rapi dengan setelan Jas mahal lengkap beserta sepatu pantofel yang mengkilap.
“Kita kayak mau kondangan gak sih? Aku pakai dress gini, terus kamu pakai jas gitu. Atau emang kita mau kondangan ya? Siapa yang nikah, temen kamu?” Tanya Salsa penasaran.
“Cerewet banget sih..” tutur Jordan gemas sembari mencubit dengan pipi Salsa dengan salah satu tangannya. Sementara tangan yang lain masih sibuk dengan stir kemudi.
“Habis kamu nggak kasih tau.”
“Nanti juga kamu tau sayang.” Nampaknya Jordan sudah terbiasa memanggil Salsa dengan panggilan manis. Salsa pun mulai terbiasa dengan sikap manis Jordan.
“Aku mau taunya sekarang.” Cebik Salsa.
“Sabar. Kita sebentar lagi sampai.” Balas Jordan.
Salsa melihat jalan yang di lewati Jordan. Dia seakan tidak asing dengan jalan ini. “Ini jalan ke?” Salsa menganga tidak percaya. “Makam?”
Benar.. Jordan akan membawa Salsa pergi mengunjungi makam papa Salsa.
“Kita kunjungi papa kamu. Kamu kangen ‘kan sama papa kamu?” Salsa mengangguk.Tanpa Salsa sadari air mata mengalir di pipinya. Ia terharu sekaligus bahagia, Jordan ingat mengunjungi makam papanya.
“Ayo turun!” Ajak Jordan setelah memarkir mobilnya.
Jordan dan Salsa mengunjungi makam Damar untuk mendoakan Damar sekaligus Jordan mengutarakan niatnya menikahi Salsa. Jordan menganggap ia sedang meminta restu pada orang tua Salsa.
“Saya berjanji akan menjaga dan mencintai Salsa sepenuh hati saya, om. Om Damar bisa tenang di sana, Salsa tidak sendirian lagi. Ada saya yang akan selalu bersama dia dalam keadaan apapun.” Lirih Jordan.
Kata-kata Jordan membuat Salsa menangis histeris. Dia mengingat bertapa Damar sangat menyayanginya sewaktu masih ada. Dan, ucapan Jordan juga menyadarkan Salsa. Berapa selama ini Salsa sendirian tanpa keluarga berjuang demi pendidikannya. Tidak terasa sebentar lagi dia akan menikah dengan orang yang di cintai nya sejak SMA. Juga lelaki yang sudah mendapatkan restu dari Damar semasa hidupnya.
“Hei, jangan menangis. Om Damar pasti senang di atas sana melihat putri cantiknya akan menikah sebentar lagi.” Tutur Jordan lembut seraya merangkul Salsa.
“Papa, Salsa bahagia disini. Salsa berdoa semoga papa juga bahagia dia atas sana.” Lirih Salsa sesenggukan. Jordan menghapus air mata Salsa dengan jari jemarinya. “Om Damar pasti bahagia, sayang. Dia juga pasti bangga sama kamu. Kamu berhasil menjadi dokter sesuai impian kamu.”
Salsa semakin keras menangis di pusara Damar. Menceritakan berbagai hal yang dia alami sepeninggal Damar. Bagaimana dia hidup, bagaimana dia bersosialisasi dengan orang lain dan hal lainnya. Jordan turut mendengarkan cerita Salsa sembari menepuk-nepuk punggung Salsa. Memberikan dukungan kekuatan pada perempuan itu.
Cukup lama mereka berada disana. Sampai akhirnya Salsa tersadar dan berhenti menangis. Salsa merasa benar-benar lega setelah bercerita panjang lebar pada Damar.
“Salsa pulang ya, pa.” Pamit Salsa pada pusara ayahnya. Jordan pun melakukan hal sama. Mereka bergandengan tangan meninggalkan makam Damar.
Sepulang dari sana, Jordan dan Salsa pergi ke rumah utama keluarga Pratama. Mereka akan membahas pernikahan Jordan dan Salsa. Karena Salsa tidak memiliki sanak keluarga, tidak ada acara lamaran atau apapun. Acara akan langsung ke acara inti. Yaitu akad nikah dan resepsi.