
Setelah satu minggu menunggu,hasil nilai Ulangan semester akhirnya dibagikan
Reaa cemas bagaimana nilainya,cemas mengecewakan orang tua atau tidak.
Reaa memang tidak terlalu pandai,tapi juga tidak terlalu bodoh.
Dengan pelan lembaran Raport dibuka dan berdebar kencang jantung Reaa.
Saat oembagian Raport yang di umumkan di depan kelas hanya yang masuk rangking tiga besar,,
tetapi nama Reaa tidak di sebutkan dalam kategori yang masuk ranking tiga besar, Reaa hanya masuk peringkat 10 besar dari 40 siswa,di Raport tertera urutan ranking nomor sepuluh.
" Ya sudahlah,setidaknya aku sudah berusaha semaksimal mungkin " ucap Reaa dalam hati
Reaa pulang dan menunjukkan Raport kepada kedua orang tua Reaa, Mereka tidak mempermasalahkan ranking Reaa,dan justru menyemangati Reaa agar belajar lebih rajin lagi.
Sabtu sore,
Harry datang menemui Reaa,,
Masih dengan motor merah kesayangannya dan jaket warna hijau motif kotak kotak yang dia kenakan sore ini.
Harry bersemangat dan penuh percaya diri.
Memarkirkan motor kesayangan nya di halaman rumah Reaa,lalu menyapa Reaa dan orangtua Reaa yang duduk di teras samping rumah.
Tidak sulit bagi Dia untuk segera bergabung dengan obrolan keluarga Reaa.
Harry memang cukup pandai beradaptasi dengan situasi maupun kondisi di hadapan nya.
Setelah beberapa saat
Harry menanyakan nilai Hasil ulangan semester Reaa.
Dan setelah tau jawaban nya Harry mnyunggingkan senyumnya.
" Nilai yang lumayan bagus dan tidak terlalu buruk " ucap Harry
Reaa mulai gelisah,apa yang akan dia katakan nanti,berhubung dengan ucapan Reaa menjelang Ulangan semester beberapa pekan yang lalu.
Orang Tua Reaa beranjak dari tempat duduknya,dan tinggal lah Reaa dan Harry duduk di sudut teras.
Harry mulai menanyakan kelanjutan hubungan mereka.
Reaa masih terdiam,memikirkan.
Yang pasti Reaa pun masih ada perasaan untuk Harry,hanya saja Reaa takut terjadi sesuatu yang belum pernah Reaa alami seperti sebelumnya.
" Reaa " suara Harry mmbuyarkan pikiran Reaa
" Hhhmm " jawab Reaa sambil melirik ke arahh Harry
Harry menggenggam tangan Reaa dan meyakinkan bahwa dia masih punya perasaan yang sama.
" Aku yakin kamu masih memiliki perasaan yang sama seperti ku,Reaa " ungkap Harry
Reaa mengangguk kecil,
" Tapi aku takut ... " ucapan Reaa terhenti
" Apa yang kamu takutkan?? tukas Harry
Reaa terdiam sejenak,masih ragu untuk berterus terang,bahwa Reaa tidak ingin Harry memperlakukan nya seperti wanita wanita nya sebelum berpacaran dengan Reaa.
Pikiran Reaa terlalu jauh,, Takut terjadi hal hal yang bisa jadi memperkeruh masadepan nya.
" Apa yang kamu takutkan Reaa?? " Harry semakin penasaran
" Aku takut kita sama sama khilaf " ucap Reaa lirih,tapi masih bisa di dengar oleh Harry
" Ya ampun, aku g akan senekad itu Reaa " Harry meyakinkan
Tetapi Reaa tetap masih pada pendirian nya.
Reaa ingin berpacaran itu sekedar saling lebih mengenal,dan belajar komitmen,bukan melulu harus dengan sentuhan fisik.
Reaa beranggapan cinta,dan sayang cukup di tunjukkan dengan sikap,, bukan Kiss,atau pelukan yang selalu Harry inginkan.
Reaa pun tidak memungkiri,merasa nyaman ketika berada di pelukan nya,pelukan yang menenangkan.
Bukan pelukan yang memaksa seperti waktu itu.
Masih tergambar jelas di ingatan Reaa ketika Harry tiba tiba masuk ke kamar dan memojokkan Reaa,gusaran nafas yang tidak beraturan dan sinar mata yang sama sekali tidak menunjukkan kasih sayang,melainkan nafsu.
Itu yang menjadi pertimbangan bagi Reaa antara melanjutkan hubungannya atau tidak.