Melody

Melody
Cemburu



Aku dan Erlang melanjutkan perjalanan kami setelah selesai makan siang. Kali ini tujuan kami adalah pergi wisata Hortus Botanicus. Sebuah kebun raya tertua di dunia karena telah ada sejak tahun 1638, bahkan katanya ada tanaman kaktus yang sudah berumur 100 tahun.


"Kamu tahu kenapa aku memilih pergi liburan ke Belanda?" Tanya Erlang menemaniku menyusuri tanaman hijau yang cantik yang belum pernah aku lihat sebelumnya.


"Kenapa?"


"Karena Belanda adalah pusatnya bunga. Dan kamu sangat menyukai bunga, karena itu aku membawamu kesini." Jawab Erlang sedikit membuatku tersentuh.


"Tapi, kamu tahu dari mana aku suka bunga? Sepertinya aku belum pernah bercerita denganmu sebelumnya," memang aneh jika Erlang mengetahui kesukaan ku tanpa aku beri tahu.


"Kamu ingat kencan pertama kita sebelum menikah dulu?" Erlang bertanya seperti itu membuatku memutar memori untuk mengingat ingat.


"Yang kamu memaksaku untuk makan malam, agar bisa wawancara denganmu?" Tebak ku.


"Haha iya. Saat itu dengan jelas kamu menunjukkan binar bahagia melihat bunga mawar yang ada di meja. Jadi aku bisa menebak kalau kamu memiliki ketertarikan lebih pada bunga." Kekeh Erlang.


"Bahkan hal sekecil itupun tidak luput dari pengamatanmu?"


"Aku seorang pengamat. Itu sudah menjadi sifat alami para pengusaha," aku mengangguk paham mendengar alasannya.


"Aku memang menyukai segala jenis bunga. Tapi ada satu yang paling aku suka," ucapku.


"Apa?"


"Kamu" jawabku sambil tersenyum manis menatapnya.


"Istri siapa sih ini, jago banget gombalnya!" Aku terkekeh lucu saat Erlang mencubit hidungku gemas. Tanganku melingkar di lengan Erlang, sambil menyandarkan kepala di bahunya kami berjalan menikmati liburan kami yang tersisa dua hari lagi.


***


Malam hari di Belanda. Aku dan Erlang memutuskan untuk bersantai di alun alun kota menikmati pemandangan lampu lampu yang menyala, serta anak anak muda yang tengah berjalan bersama pasangannya masing masing.


"Aku masih penasaran, selain karena ciuman tiba tiba itu, alasan kamu suka sama aku karena apa sih?" Tanyaku sambil menyandarkan kepala di bahunya, menikmati pemandangan yang ada di depan mata.


"Gak tahu."


"Kok gak tahu?" Aku mengangkat pandanganku menatap Erlang bingung.


Erlang menatapku lembut. Tangannya perlahan melingkar di bahuku, kembali menuntunku untuk bersandar di bahunya. "Cinta itu ada di tangan Tuhan. Jadi, kalau aku cinta sama kamu, itu tandanya aku mencintaimu karena kehendak-Nya." Jawaban Erlang benar-benar membuat ku merasa sangat terharu.


"Kalau kamu? Kamu suka sama aku karena apa?" Tanya Erlang.


"Karena terbiasa. Awalnya aku benci banget sama yang namanya cinta, karena emang pengalaman dicintai orang lain cukup buat aku trauma. Tapi, entah kenapa, aku kalau sama kamu itu ngerasa aman, juga takut."


"Takut?"


"Iya, takut. Takut kehilangan" lanjutku menatapnya genit. Dan entah yang keberapa kali Erlang terlihat gemas sekali denganku.


"Pintar banget gombalnya. Tutor dong!"


"Gak mau!"


"Kok gak mau?"


"Iyalah. Nanti kamu baperin aku terus, yang ada nanti bukan kamu yang aku buat bucin, tapi sebaliknya." Jawabku.


"Tanpa kamu harus gombal pun, aku emang udah bucin banget sama kamu." Ujar Erlang.


"Kamu tunggu di sini sebentar!" Bukannya menjawab, Erlang justru pergi entah kemana, meninggalkanku sendirian sambil menunggu datangnya dia kembali.


"Hi alone?" Aku menoleh kesamping saat merasa seorang pria asing duduk di tempat bekas Erlang.


"Introduce my name Justin, if I may know what is your name?" Lanjut pria itu membuatku sedikit risih karena tatapannya begitu intens menatapku.


"April"


"Beautiful name, just like the person" gombalan basi. Aku memutar bola mataku malas, entah kenapa aku tidak suka dengan kehadiran pria ini di sampingku.


"Sorry, if there is no interest, you can leave. I don't like being disturbed." Ungkap ku tanpa segan.


"I'm just asking you to get acquainted, is that wrong?" Tanyanya mencoba meraih tanganku, tapi sebelum itu terjadi seseorang dengan sigap menahannya.


"Wrong. Because the person you are talking to is my wife!" Kali ini aku menghembuskan nafas lega melihat kedatangan Erlang di waktu yang begitu tepat.


"Oh sorry. I thought he was still single, because I saw him just sitting alone. Then I'll go first." Setelah kepergian pria itu tadi, aku menatap Erlang yang duduk di samping ku sambil menekuk wajahnya kesal.


"Kamu marah karena aku dideketin cowok lain? Tapi kan dia yang deketin duluan, bukan aku. Aku juga sudah mengusirnya tadi," jelasku berusaha membuat Erlang keluar dari rasa cemburunya itu.


"Sayang.. jangan marah.. yang.. ayang.." aku memeluk Erlang sambil berusaha untuk terus membujuk lelaki yang kini sedang marah itu.


"Sayang.. dingin.." lirihku mencari perhatian darinya. Dan benar saja, Erlang langsung berbalik menghadapnya, lalu menarik ku kedalam pelukannya. Dalam diam aku tersenyum sambil menikmati aroma yang menguar dari tubuh Erlang.


"Kenapa sih kamu harus cantik banget? Masa iya cuma gara-gara duduk sendiri kamu udah ada yang incar. Itu baru aku tinggal sebentar loh, gimana kalau aku tinggal lama? Bisa dibawa kabur kamu!" Celoteh Erlang mengeluarkan semua unek uneknya.


Aku sedikit melonggarkan pelukan agar dapat menatap Erlang sepenuhnya. Satu kecupan aku layangkan pada pria itu yang terlihat masih kesal karena insiden barusan.


"Gak akan bisa. Sekuat apapun mereka coba bawa aku pergi, kalau cinta aku udah kamu ikat di hati kamu, aku bisa lari kemana?" Ucapku.


"Tapi—"


"Sstt.. udah. Kamu milik aku, dan aku milik kamu. Gak ada yang bisa misahin kita selain maut. Jadi, jangan marah. Nanti tambah ganteng loh, bisa bisa aku lagi yang cemburu karena cewek lain juga suka sama kamu!" Tuturku.


"Aku sukanya sama kamu, mana bisa mereka miliki aku sama seperti kamu yang miliki aku sepenuhnya?" Aku tersenyum saat Erlang terlihat lebih tenang dari yang tadi.


"Pulang yu yang.. dingin banget. Aku takut gak kuat.." rengekku kembali mengeratkan pelukan demi menetralisir hawa dingin.


"Ya udah ayo kita pulang.." pada akhirnya aku dan Erlang memutuskan untuk menyudahi hari ini.


***


Di sisi lain, Ririn dan Rifki tengah menikmati menjadi wisatawan yang tengah berburu berbagai macam kuliner khas Belanda. Mulai dari keju, coklat, kue, dan masih banyak lagi jajanan yang ada di sana. Orang orang menyebutnya The Jordan.


"Gimana mas? Seru gak jalan jalan hari ini?" Tanya Ririn menatap Rifki yang terlihat masih melahap makanan yang tadi mereka beli.


"Tidak buruk." Jawab Rifki.


"Luar negeri tidak seburuk itu mas. Buktinya, mas bersenang senang kan? Jadi, jangan salahkan luar negeri dengan kepergian nya. Jikapun menurutnya luar negeri lebih menyenangkan, tapi menurut saya bersama dengan mas jauh lebih indah. Dia terlalu bodoh untuk menyadari itu," tutur Ririn membuat Rifki refleks menghentikan makannya.


"Dia putus denganku karena aku tidak mengizinkannya pergi ke luar negeri untuk mengembangkan bakatnya. Selain karena aku tidak suka LDR, luar negeri juga terkenal dengan negara bebas. Aku takut dia kenapa kenapa tanpa pengawasan dariku. Dia marah, dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami." Jujur Rifki.


"Tapi menurutku kan ya mas, tindakan mas udah benar. Mas melarang dia pergi untuk kebaikannya, cuman dianya aja yang tidak bisa melihat sisi positifnya, dan berpikir mas terlalu mengekang ya." Ujar Ririn.


"Sudahlah. Tidak baik, dalam suasana senang ini kita membahas masa lalu. Ayo, kita pulang. Sudah cukup bersenang senang hari ini. Besok, kita lanjut lagi." Ririn menatap Rifki lalu tersenyum dan menerima uluran tangan dari pria itu. Keduanya pun memutuskan untuk kembali ke penginapan tanpa melepaskan geganggam mereka tanpa sadar.