
Katakan apa yang harus aku perbuat sekarang? Kali ini aku semakin terkenal karena vidio singkat Kak Daniel menyatakan perasaannya padaku. Aku aneh sendiri, mengapa orang suka sekali mencari tau kehidupan pribadiku? Entah apa lagi yang akan mereka lakukan sekarang, tapi yang pasti aku tidak akan bolos lagi.
"Eh eh cepet, itu cewek gatelnya udah mau masuk kelas!"
Aku melirik diam ke jendela dan berjalan seolah olah tidak mengetahui apa apa. Pembelajaran kemarin sudah cukup untukku mengatahui bahwa hal ini akan terjadi lagi.
Tap
Busss
Sengaja aku menginjakkan kaki di depan pintu, namun sedetik kemudian aku terkejut karena seseorang nampak terburu buru masuk, mau tidak mau aku dengan cepat menarik tangannya hingga berhasil lolos dari jebakan yang seharusnya untukku.
"Akh..." wanita itu memekik kaget sekaligus takut. Sepolos itu 'kah dia?
"Ma-makasih..."
Aku meliriknya sekilas lalu masuk dengan wajah datar memandang sekeliling orang orang yang kini saling memandang dan membuang muka seolah olah mereka tidak berbuat salah.
Wuss
Brukh
"Awh..." aku tidak tahu apa, tapi insting ku benar benar akurat kali ini. Seseorang dari belakang mencoba untuk mendorongku, namun karena aku menghindar dia jadi terjerangap sendiri, sadisnya terkena tepung lagi.
"Heh. Coba lagi." Ledekku tersenyum devil, lalu hendak menarik duduk di kursiku, sayangnya memang mereka mengerjaiku tidak hanya sampai di sana. Bahkan untuk kursiku saja mereka beri lem?!
"Heh. Menyebalkan." Malas mencari gara gara, aku memilih duduk di barisan paling depan, agar terhindar dari kerjaan mereka, karena banyak dari mereka tidak mau duduk di bagian paling depan. Karena biasanya paling depan inilah yang sering ditunjuk oleh dosen.
Kreett
"Hai ril," sapa Anton mengambil duduk di sampingku. Tumben banget anak ini mau duduk di depan? Biasanya paling pas dia duduk di barisan tengah.
"Hm."
"Good morning..."
"Morning miss..."
"Ril, kantin bareng yuk?" Setelah pengajaran Miss Rita selesai, Anton mengajak pergi kekantin.
"Mau keperpustakaan," tolakku seadanya.
"Oh... kalau gitu bareng aja. Aku tiba tiba inget kalau kemarin belum sempat habis baca buku di perpustakaan," elaknya. Aku meliriknya aneh sambil menggeleng tak paham.
"Terserah."
Keadaan hening saat kami berada di perpustakaan. Aku sendiri juga sedang fokus membaca buku dan malas untuk memulai pembicaraan. Bagiku datang kesini adalah untuk menimba ilmu, bukan untuk mengobrol.
"Ril..."
"Hm."
"Kamu... udah punya pacar?" Aku meliriknya aneh namun malas untuk memahami maksudnya.
"Tidak."
"Punya seseorang yang disukai?"
"Tidak," seseorang yang disukai? Kenapa aku malah tiba tiba keingat sama si Erlang ya? Ah gak mungkin.
"Aku udah lihat berita kamu yang dicium tangannya sama pengusaha terkenal, Erlang Bagaskara. Ditarik mesra sama Arkan menuju kantin, dan pengakuan cinta dari Daniel," ceritanya.
"Oh." Bau bau yang tidak enak.
"Ril. Aku emang bukan seorang pengusaha terkenal seperti tuan Erlang, tidak setampan Arkan juga tak setenar Daniel. Tapi asal kamu tau ril, aku kekamu itu tulus. Aku cinta kamu apa adanya. Jika memang saat ini aku belum sempurna, aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik di matamu," aku terdiam menatap matanya yang benar benar penuh binar ketulusan. Hanya saja... aku memang tidak mencintainya.
"Gak apa apa, kamu gak perlu jawab sekarang. Aku bisa nunggu kok, sampai kamu siap." Lanjutnya membuatku menghela nafas lalu meletakkan buku sambil menatapnya serius.
"Terima kasih. Tapi, aku tidak percaya cinta, juga membenci kata cinta." Jawabku apa adanya. Karena memang, sejak hari itu cinta bagaikan racun mematikan di mataku.
"Kalau begitu, aku akan mematahkan kepercayaanmu itu. Setidaknya, bertemanpun tidak apa apa 'kan?" Ujarnya.
Aku menyampirkan tas, meliriknya sekilas lalu beranjak pergi tanpa kata. Anton memang bukan dari kalangan atas, kuliahpun dia mendapatkan beasiswa. Tapi aku sangat yakin, dia memiliki hati yang tulus. Aku yakin dia akan menemukan wanita yang baik juga sepertinya yang mampu membalas perasaannya, tapi yang pasti itu bukan aku.
"Aku anggap diammu sebagai jawaban iya." Jawab Anton sendiri berjalan menyusulku.
"Kelas kita udah selesai. Habis ini kamu mau kemana?" Tanya Anton diperjalanan menuju parkiran.
"Kerja."
"Dimana?"
"Dre Resto,"
"Oh ya? Wah sehati dong. Aku juga kerja di daerah sana, kenapa gak sekalian aja kita bareng?" Ajaknya. Ini beneran kebetulan atau apa?
"Aril pergi sama gue!" Sambar Kak Daniel berjalan menghampiri kami yang tengah berdiri di samping motor milik Anton.
"Ril, kamu pergi bareng aku aja ya?" Ajak Kak Daniel berubah lembut padaku.
"Gue yang ngajak Aril duluan. Lagian, lo gak bisa maksa gitu lah! Arilnya aja gak jawab mau apa enggak bareng sama lo!" Jawab Anton.
Aku melirik Anton dan Kak Daniel pusing. Kalian lihat? Perseteruan mereka benar benar terlihat sangat sengit. Apa perlu aku akhiri saja ya?
"Aku bisa naik taksi." Putusku kemudian pergi menuju jalan raya menunggu taksi lewat.
"Eh eh ril tunggu!" Seru keduanya berlari mengejarku. Berdiri bersisian sambil mencoba membujuk rayu.
"Ril kamu pergi bareng aku aja ya, naik mobil lebih bagus, gak kepanasan kayak naik motor!" Sindir Kak Daniel pada Anton.
"Mending kamu pergi bareng aku aja. Naik motor itu lebih romantis, juga gak perlu kejebak macet." Balas Anton tak ingin kalah.
"Apaan naik motor, mending naik mobil. Gak kembung makan angin!"
"Apaan! Lo pikir naik mobil seru?! Naik motor lebih bebas!"
"Naik mobil lebih aman!"
"Naik motor lebih cepat sampai!"
"Stop!!" Aku menghela nafas mendengarkan mereka yang bertengkar perihal kendaraan yang bahkan belum tentu akan aku naiki salah satunya.
"Udah berantemnya? Aku gak---"
"APRILLLL...."
Huft.... aku pikir masalahnya tidak akan berakhir semudah itu. Teriakan itu jelas aku mengenalnya. Arkan Bagaskara.
"Ril, gue dapat tugas dari bapak negara buat nganterin ibu negara. Yuk! Mobil gue parkir di sana!" Ajak Arkan tiba tiba dan langsung menarik tanganku pergi.
Puk
"Apaan?! Aril pergi bareng gue!" Seru Anton dan Kak Daniel sambil menahan tanganku yang satu secara bersamaan.
"Ril, pulang bareng gue ya... kalau lo gak pulang bareng gue, habis gue kena gorok sama bang Er. Entar peradaban orang ganteng kayak gue pupus lagi, kasihan Nana gak ada jodohnya nanti." Cerocos Arkan nampak memang sangat takut dengan Erlang. Lagian tuh cowok kenapa harus minta Arkan sih buat nganterin aku? Bikin keadaan makin recok aja.
"Eh bilang sama kakak lo itu, jangan ganggu Aril. Sebelum janur kuning melengkung, Aril milik bersama. Jadi jangan bersikap seolah olah Aril punyanya dia!" Camkan Kak Daniel.
"Eh asal lo tau aja ya! Aril sama bang Er itu udah--- Akh!!" Sebelum Arkan membeberkannya, aku dengan cepat menginjak kakinya. Mulutnya hampir saja keceplosan jika tidak aku peringatkan lebih dulu.
"Ril pergi bareng aku aja ya...?" Kak Daniel.
"Bareng aku aja ril, kan kita searah." Anton.
"Ril gue mohon. Nyawa gue ini ril taruhannya..." Arkan.
Hah... adakah yang bisa menyelamatkanku dari keadaan yang menyusahkan ini?
Ckittt
"Ah... eh eh eeehhhh!!" Tak tahu apa yang terjadi. Sebuah mobil tiba tiba terparkir di depan kami, dan sedetik kemudian pengendaranya keluar dan langsung menggendongku masuk.
"ARIL!!"
Dugh
"Awhh..."
"Jalan!"
Aku bangun sambil meringis sakit karena kepala terpentok knop pintu, dan saat ku lihat kesamping. Pria dengan wajah datar itulah yang menjadi penolongku, tapi cara nolongnya kasar sekali.
"Pelan pelan dong! Sakit tau..." keluhku membuang muka kedepan sambil mengusap kening yang nyut nyutan.
"Enak diperebutkan?" Tanya Erlang sekilas melirikku.
"Menurutmu?" Jawabku malas.
"Bukankah aku menjadi penyelamatmu?"
"Iya. Tapi caramu kasar sekali! Kenapa harus gendong kayak karung gitu? Trus dituruninnya gak ada lembut lembutnya lagi. Kamu sudah cukup banyak membuatku memiliki masalah di kampus!" Gerutuku.
"Tetap saja aku adalah penyelamatmu. Bukankah kau harus berterima kasih?"
"Yah, kamu benar. Aku orang yang paling malas berhutang budi pada seseorang. Ku pastikan dalam waktu dekat kamu dapat menemui wanitamu itu!" Jawabku. Tapi mengapa aku merasa ada yang sakit saat mengatakan dia akan bertemu dengan wanitanya itu?
"Kamu masih mencarinya?" Kenapa Erlang bertanya seperti kaget begitu? Biasanya dia selalu semangat membahasnya.
"Why not? Bukankah aku sudah katakan, aku akan membantumu untuk bertemu dengannya? Seorang April tidak pernah mengingkari janjinya!" Ucapku kemudian membuang pandang ke luar. Keadaan saat ini cukup hening. Bagus. Aku memang sedang ingin ketenangan. Entah mengapa, hatiku sakit mengingat Erlang menyukai wanita di malam itu. Bolehkah aku berharap wanita itu adalah aku?