Melody

Melody
Bloemenmarket



Beralih pada pasangan pengantin baru. Keduanya nampak sibuk memperdebatkan kasur yang hanya ada satu untuk ditempati siapa.


"Mas kan laki laki, harus ngalah dong sama perempuan! Ladies first mas!" Ucap Ririn berdiri berhadapan dengan Rifki, suami kontraknya.


"Gak ada ya istilah ladies first dalam kamus kehidupan gue! Lo sebagai istri harus menuruti apa kata suami!" Protes Rifki tak ingin mengalah.


"Mas cuma suami kontrak! Lagian suami mana yang menyuruh istrinya tidur di bawah?!"


"Ada. Gue!"


"Gak! Aku mau tidur di kasur, terserah mas mau tidur dimana, aku gak perduli!" Ujar Ririn bersiap untuk berbaring, tapi dengan cepat Rifki menahannya.


"Gak bisa! Gue yang tidur di kasur, Lo tidur di bawah!"


Ririn menyingkirkan tangan Rifki dari tangannya. "Bodo amat! Aku tetap mau tidur di kasur!" Putus Ririn kembali hendak berbaring.


"Gak bisa gitu dong! Woi!" Dan terjadilah tarik menarik antara kedua pasangan tersebut. Tidak satupun dari mereka yang hendak mengalah.


"Ish lepasin!" Berontak Ririn.


"Gak akan gue lepasin sebelum Lo tidur di bawah!" Tolak Rifki menatap tajam Ririn.


"Gak mau ikh lepasin—"


Brukh


Terlalu kuat menarik tangannya, Ririn justru membuat tubuh Rifki ikut tertarik dan jatuh menimpa tubuh kecilnya. Pandangan keduanya terkunci dengan Rifki menindih badan kecil Ririn.


Rifki terdiam seakan terhipnotis dengan pemandangan sedekat ini. Matanya bergerilya menelusuri setiap jengkal wajah Ririn yang polos tanpa polesan. mulai dari kening, mata, hidung dan berakhir di bibir Ririn yang berwarna merah delima itu. Benar benar bibir alami, mengundang untuk dicicipi sekali.


Entah setan apa yang merasuki Rifki hingga menunduk dan mendekatkan diri sambil terus menatap bibir ranum tersebut. Godaan di depannya ini benar benar mengundang hawa nafsu sekali. Oh tolong lah, Rifki masih pria yang normal.


Brukh


Kesadaran Rifki seketika kembali saat Ririn mendorong tubuhnya hingga menyingkir dari badan Ririn. Menatap langit langit kamar dengan tatapan sayu, Rifki merutuki adik kecilnya yang bangun dengan kondisi yang salah.


"Ya sudah, kalau mas pengen tidur di kasur, aku aja yang tidur di bawah!" Ririn bangun dengan perasaan gugup. Meskipun polos, Ririn juga paham apa yang Rifki ingin lakukan. Hanya saja, bukankah mereka hanya menikah kontrak?


Grep


Rifki lekas menahan tangan Ririn saat gadis itu hendak beranjak dari kasur. Perlahan Rifki bangun, berhadapan dengan Ririn.


"Tidak perlu. Kita tidur bersama saja, biar adil. Gue janji gak akan macam macam!" Tutur Rifki lembut.


"Tapi—"


"Tidurlah! Aku ingin ke toilet sebentar." Sebelum Ririn protes, Rifki lebih dulu beranjak pergi menuju ke kamar mandi. Yang pasti Rifki perlu menidurkan adik kecilnya yang terganggu karena suguhan menggiurkan.


***


Pagi di negara Belanda, aku dan Erlang bergandengan tangan menyusuri kanal kanal yang ada di Amsterdam. Cuaca yang sejuk, ditemani dengan pasangan betapa indahnya dunia ini.


Pandanganku beralih pada Ririn dan Rifki. Kedua pasangan tersebut terlihat sangat canggung sejak sarapan, entah apa yang membuat mereka jadi secanggung itu?


"Katanya di kanal ini ada yang namanya Bloemenmarket, di sana ada pasar bunga terapung! Aku mau kesana!" Sebagai pecinta bunga sejati, tentu saja aku sangat tertarik dengan negara Belanda yang terkenal dengan bunga tulipnya. Apalagi ada wisata yang menyajikan jutaan tumbuhan bunga berbagai macam. Siapa yang tidak tertarik?


"Ayo!" Aku tersenyum riang mengikuti langkah Erlang yang membawaku pergi menuju tempat yang kami tuju. Aku sangking bahagianya sampai tidak sadar kalau Ririn dan Rifki mengambil arah yang berbeda dengan kami.


Mataku saat ini hanya menunjukkan binar bahagia dan kagum saat melihat pasar bunga terapung ini. Berbagai macam bunga yang aku suka di sini semua ada. Mulai dari tulip, mawar, anggrek, maupun Lily semuanya ada di sini.


"Kamu suka?" Jangan ditanya. Aku sangat suka. Jika saja aku bisa, aku ingin sekali menjadikan pasar ini milikku pribadi. Menatap Erlang sambil tersenyum lebar, aku mengangguk kuat dan segera berlari kecil melihat bunga bunga yang ada.


Aku berdiri di depan penjual bunga tulip. Selama ini aku hanya melihat bunga tulip dari foto saja, tidak menyangka bisa melihat realnya seperti ini. Dari foto saja cantik, apalagi aslinya.


"Geef me een bos tulpen." Aku tersadar dari rasa kekagumanku. Ku tatap Erlang dengan perasaan bingung, karena memang aku tidak pernah belajar bahasa Belanda.


"Is ze daar een vrouw?"


Erlang melirikku lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. "Ja" jawab Erlang.


"Het lijkt erop dat hij echt van bloemen houdt?" Aku menatap si penjual dan Erlang secara bergantian. Melihat Erlang yang tertawa semakin membuatku penasaran, apa yang mereka bicarakan?


"Ja. Ik ben jaloers omdat mijn vrouw meer van bloemen houdt dan haar man" jawab Erlang sambil melirikku.


"Haha geduld meneer, hier zijn de bloemen" pedagang itu menyerah satu buket bunga pada Erlang yang diterima suami ku dengan baik.


"Dank je" ucap Erlang menyerahkan uang untuk membayar bunga tersebut.


"Graag gedaan"


Setelah membayar, Erlang menggenggam tanganku pergi menyusuri pasar kembali. Kali ini fokusku tidak lagi pada bunga, melainkan pada rasa penasaranku dengan percakapan Erlang dengan pedagang tadi.


"Kalian tadi ngomongin apa?" Tanya ku.


"Coba tebak!" Melirikku jahil, Erlang terkekeh lucu melihatku yang cemberut kesal. Perlahan tangannya yang menggenggam bunga tulip terangkat tepat di hadapanku.


"Aku hanya bilang, aku cemburu melihat istriku yang sepertinya lebih menyukai bunga daripada suaminya sendiri." Terang Erlang serius.


Aku mengerjapkan mataku mendengar faktanya. Namun, perlahan aku tertawa pelan saat menyadari kekonyolan Erlang yang bahkan bisa cemburu dengan benda mata seperti bunga.


"Bungakan sekedar suka, tapi aku kekamu kan cinta! Beda dong.." rayuku.


"Bisa aja bikin aku gak jadi marah!" Dengan gemas Erlang mencubit hidungku. Lalu menyerahkan bunga yang sempat dibelinya tadi, yang ku sambut baik.


"Kamu suka sekali dengan bunga?" Tanya Erlang mengikuti ku menyusuri pasar yang hanya ada bunga sejauh mata memandang.


"Em. Tidak tahu kenapa, tapi wajar bukan kalau aku menyukai bunga? Kan aku wanita." Jawabku.


"Hm. Sepulang dari liburan aku akan memberimu kejutan. Lihat saja nanti, kamu pasti akan sangat suka melihatnya.." ujar Erlang sok misterius.


"Mas, aku lapar.." rengekku. Jujur saja, akhir akhir ini aku sering sekali makan, entah kenapa nafsu makan ku jadi tinggi.


"Ya sudah, kalau begitu kita cari tempat makan dulu." Aku mengangguk. Kamipun memutuskan untuk pergi dari pasar dan pergi mencari restoran terdekat untuk makan.