Melody

Melody
Semerah buah ceri



Di sebuah butik terkenal di kota Bandung, Rifki termenung menemani kedua wanita yang terlihat sibuk mengukur baju.


"Ini bagus gak sayang?" Tanya Yolanda menunjukkan sebuah baju pengantin pada putranya.


"Bagus" jawab Rifki malas.


"Kalau yang ini?"


"Bagus"


"Yang ini?"


"Bagus ma.."


"Ini?"


"Bagus"


"Kamu kok dari tadi jawabnya bagus terus sih?! Kamu bisa serius dikit gak sih?!" Omel Yolanda menatap garang putranya itu yang terlihat tidak bersemangat sekali menemani ibu dan calon istrinya mengukur baju pengantin.


Rifki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita memang serba salah. "Kan mama nanya, bagus apa enggak. Ya udah Ki jawab bagus. Salahnya dimana?"


"Udah deh, nanya pendapat kamu itu gak guna! Ayo sayang, kita cari yang di sana aja. Yuk!"


Rifki manatap tak percaya kepergian Yolanda dengan riangnya membawa Ririn pergi. Jika bukan Yolanda itu adalah ibu kandungnya, ingin sekali Rifki mengumpat, hanya saja takut kualat.


"Em.. ini kayaknya bagus deh. Coba kamu pakai sayang.." Yolanda menyerahkan satu buah gaun pengantin berlengan panjang, dengan bagian bahu yang terbuka, ditambah gaun tersebut pas body yang mana akan mencetak jelas lekuk tubuh pemakainya.


"Apa gak terlalu terbuka ma?" Tanya Ririn enggan memakai baju pas body itu. Bisa dibilang, Ririn risih jika harus memakainya.


"Ini itu udah cocok banget buat malam pengantin nanti. Pas pokoknya, Rifki pasti tambah semangat kalau lihat kamu pakai gaun ini!" Memang dasarnya otak Ririn itu tidak pernah tercemar. Jadi kalimat ambigu Yolanda Ririn kira sebagai acara resepsi nanti, bukan malam pertama.


"Tapi—"


"Udah gak usah banyak tapi, ayo cepat masuk dan ganti!" Ririn pasrah saat tubuhnya didorong masuk kedalam ruang ganti. Sambil menghela nafas, Ririn mulai mengganti bajunya dengan gaun tersebut.


Rifki duduk di kursi tunggu, menunggu ibunya dan Ririn selesai dengan kegiatan mereka. Sembari berselancar di dunia maya, Rifki dibuat mencibir dengan kebucinan Erlang yang memposting gambar genggaman tangannya dengan wanita yang Rifki yakini adalah April. Yang membuat Rifki geli adalah emoji 😘 benar benar bucin.


"Ma.. mas.." pandangan Rifki beralih pada suara tersebut. Seketika itu juga Rifki menelan salivanya melihat sosok gadis yang menjadi calon istrinya kini terlihat begitu seksi. Tunggu! Benarkah Rifki mengatakan Ririn seksi?


"Ya ampun kamu cantik banget sayang. Ki lihat deh! Pacar kamu cantik kan?" Kesadaran Rifki satu persatu mulai kembali. Tatapan yang semula tergoda kini berubah tajam bak silet.


"Kenapa pakai baju kayak gitu? Gak ada baju lain apa yang lebih tertutup?!" Protes Rifki kembali pada kewarasannya yang sempat tergoda oleh cetakan indah di hadapannya.


"Ih, ini itu bagus tau Ki. Lebih hot!"


"Hat hot hat hot. Gak ada gak ada! Ganti! Cari yang lebih tertutup! Mama sengaja ya mau bikin Ririn kelihatan kayak penggoda gini. Masih mending Ki yang lihat, kalau cowok lain?" Ki gak yakin mereka bisa setahan Ki melihat godaan indah seperti ini. Lanjut Rifki dalam hati.


"Dih bilang aja kamu cemburu!"


"Iya. Rifki cemburu! Ki gak rela bagi bagi. Jadi sekarang mending Lo masuk, dan ganti baju sekarang juga!" Rifki mendorong tubuh Ririn kembali masuk dan menutup pintu agak keras. Tatapannya beralih tajam pada sebagian lelaki yang sempat menatap Ririn dengan tatapan kagum. Benar benar menyebalkan.


"Iya. Rifki cemburu! Ki gak rela bagi bagi. Jadi sekarang mending sekarang Lo masuk, dan ganti baju sekarang juga!"


"Astaga kenapa aku jadi deg degan gini sih? Mas Rifki paling cuma bercanda aja tadi, biar mama percaya kalau aku sama mas Ki beneran pacaran." Ririn berusaha menyadarkan dirinya, meski wajah yang memerah karena malu tidak terelakkan.


Cepat cepat Ririn ganti baju dan segera keluar takut Rifki kembali marah karena lama menunggu.


"Loh mama mana mas?" Ririn celingukan mencari keberadaan Yolanda, namun nihil. Wanita itu tidak terlihat batang hidungnya.


"Udah mas. Tapi juga udah milih beberapa gaun sama Mama,"


"Ya udah kalau gitu kita cari tempat makan dulu. Ayo!" Rifki menggenggam tangan Ririn dan membawanya keluar dari butik. Ririn hanya mampu terdiam mendapat perlakuan tersebut. Seakan kerbau yang dicocok hidungnya, Ririn begitu pasrah saat Rifki membawanya kerumah makan terdekat untuk makan siang.


"Ayam bakarnya dua, sama minumnya jus jeruk dua!" Tidak seperti kebanyakan lelaki yang membiarkan gadisnya memesan, Rifki justru memesankan tanpa tahu apakah Ririn akan suka atau tidak.


"Baik. Ditunggu sebentar ya kak.."


Ririn menatap Rifki dalam diam, dan Rifki menyadari itu sehingga berani membalas tatapannya. "Kenapa?" Tanya Rifki heran.


"Mas, soal pernikahan gimana? Mas udah punya cara belum buat batalin pernikahannya?" Pertanyaan yang sangat ingin Rifki hindari, karena sesungguhnya dia sendiri belum menemukan cara untuk membatalkan pernikahan tersebut.


"Udah Lo tenang aja. Serahin semuanya sama gue! Lo gak perlu khawatir. Lagian apa salahnya nikah sama gue? Ganteng iya, kaya iya, kurang apalagi coba?" Dengan penuh percaya diri Rifki mengatakannya, demi mengalihkan pembicaraan yang mana sangat membuat Rifki pusing akhir akhir ini.


Ririn mengindahi ucapan narsis Rifki, bertepatan dengan pesan mereka yang telah tiba. "Makasih" gumam Ririn tersenyum ramah pada pelayan tersebut sebelum mengundurkan diri kembali bekerja.


Dalam diam keduanya menikmati makan siang mereka di sebuah rumah makan sederhana. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara hingga makanan telah habis.


"Ayo, gue anterin Lo pulang." Rifki bangkit hendak berjalan menuju kasir, tapi tiba tiba saja seseorang menyenggol tubuhnya, membuat Rifki kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa Ririn yang masih duduk di kursi. Untung saja Rifki sempat menahan tubuhnya di antara meja sehingga tidak terlalu menimpa Ririn.


"Mas gak apa apa?" Tanya Ririn menahan tubuh Rifki yang sedikit menindihnya.


Rifki diam menikmati setiap inci wajah Ririn tanpa mengenakan kacamatanya. Alis yang tebal, hidung yang tidak terlalu mancung tidak juga pesek, dan.. bibir yang terlihat menggoda untuk dicicipi. Merah alami tersebut mengingatkan Rifki pada buah kesukaannya, ceri.


"Mas?"


Mengerjap gugup, Rifki segera bangkit sambil membenarkan bajunya yang sedikit kusut. Dalam hati Rifki merutuk karena telah tergoda pada Ririn untuk yang kedua kalinya hari ini.


"Ekhm. Ayo pulang!" Sungguh Rifki sangat malu dengan otaknya yang menciptakan pikiran kotor hanya karena melihat bibir Ririn mirip buah kesukaannya.


Apakah rasakan akan semanis buah ceri?


Rifki menggelengkan kepalanya kuat saat pertanyaan itu tiba tiba hadir di otaknya. "Otak gue udah gak beres! Masa iya gue tergoda cuma karena bibir Ririn?" Gerutu Rifki mempercepat langkahnya. Meninggalkan Ririn yang bingung melihat gelagat aneh Rifki.


"Mas Ki kenapa ya?" Gumam Ririn mengangkat bahunya cuek, dan mempercepat langkahnya menyusul Rifki yang sudah tiba di depan kasir untuk membayar makanan.


***


"Udah sampe" mobil berhenti tepat di depan kosan tempat tinggal Ririn. Masih dalam posisinya, Rifki enggan menoleh pada Ririn, takut pikirannya semakin tidak bisa dikendalikan.


"Makasih mas" ucap Ririn lalu membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil melangkah pergi hendak memasuki kosannya.


"Ririn!" Langkahnya terhenti. Ririn menoleh lalu berjalan mendekat menghampiri Rifki dengan berdiri di samping pintu mobil.


"Kenapa mas?"


"Ah? Oh. Enggak. Itu. Cuma mau bilang. Hati hati." Rifki merutuk dalam hati. Kenapa dirinya tiba tiba jadi gagap seperti ini sih?


"Loh, bukannya saya ya yang harus bilang gitu. Hati hati di jalan mas, jangan terlalu ngebut. Pelan pelan aja, yang penting selamat." Tutur Ririn semakin membuat otak ngeres Rifki berkelana.


"I-iya. Kalau gitu, gue pergi dulu. See you.." tanpa menunggu balasan, Rifki menancap gas pergi.


"Bodoh bodoh bodoh! Kenapa kamu jadi lemah sekali Rifki?! Bisa bisanya kamu tergoda oleh Ririn!"


Sepanjang perjalanan, Rifki terus mengumpat demi menghilangkan kebocoran pipa beracun di otaknya yang masih sedikit waras.


"Kenapa bibir Ririn harus terlihat seperti ceri sih? Ku makan baru tahu rasa!" Pada akhirnya Rifki pasrah pada otaknya dan menyalahkan Ririn yang tidak tahu apa-apa tentang bibirnya yang memang sudah tubuh secara alami.