Melody

Melody
Appletaart



Di sisi lain, Ririn menelusuri jembatan Amsterdam yang terlihat sangat indah. Pemandangan sungai yang mengalir terlihat sangat indah dari atas sini.


Rifki? Jangan tanya. Pemuda itu tidak terlihat menikmati sama sekali, justru sedari tadi bertindak tidak jelas. Berjalan bolak balik dari ujung jembatan ke ujung yang lain, seperti terus hingga mengundang tatapan aneh dengan warga asing yang lain. Termasuk Ririn.


"Mas, ngapain sih bolak balik gak jelas gitu? Pusing aku lihatnya!" Komen Ririn menghentikan kegiatan unfaedah Rifki.


"Gue yang bolak balik, malah Lo yang pusing!" Cibir Rifki bersandar di sisi jembatan di samping Ririn. Tatapan pria itu menerawang kedepan, mengundang perhatian Ririn.


"Mas kenapa?" Tanya Ririn berdiri menghadap Rifki seutuhnya.


Rifki melirik Ririn sekilas, dan kembali menerawang kedepan. "Gue pernah memiliki rencana dengan seseorang pergi liburan ke negara Paris. Meskipun ini bukan Paris, tapi entah kenapa tetap saja liburan keluar negeri ngebuat gue sedikit sakit hati." Curhat Rifki dengan nada sendu.


"Kenapa harus sakit hati?"


"Karena negeri asing, membuatnya lebih memilih meninggalkan gue." Ririn terdiam menatap Rifki yang terlihat memancarkan aura kebencian.


Grep


Entah dapat keberanian dari mana, Ririn menyelipkan jari jemarinya di tangan Rifki membuat pria itu menoleh kaget.


Ririn tersenyum manis, "negeri asing tidak salah. Memang orang itu saja yang tidak percaya, bahwa melepaskan mas adalah kesalahan terbesar yang dia ambil." Tutur Ririn membuat Rifki terpaku.


"Ayo mas, kita liburan! Manfaatkan waktu untuk bersenang senang, bukan malah bernostalgia tentang rasa sakit!" Ajak Ririn membuat Rifki seakan tidak memiliki daya untuk menolak ajakan gadis tersebut.


"Ayo kejar aku mas!" Teriak Ririn sambil mengayuh sepedanya lebih dulu, meninggalkan Rifki tertinggal di belakang.


"Awas ya!!" Tak tinggal diam, Rifki mempercepat kayuhannya, hingga berhasil mendahului Ririn. Masih sempatnya Rifki menoleh kebelakang memeletkan lidah mengejek Ririn.


"Ihh tunggu mas!" Teriak Ririn menyusul Rifki menyusuri jalanan taman.


Setelah puas mengayuh sepeda, Rifki dan Ririn menyempatkan membeli beberapa makanan untuk makan siang mereka dan di bawa pergi ke tepi danau yang sejuk.


Duduk di hamparan rumput hijau menghadap langsung luasnya danau memang sangat menenangkan. Tidak salah banyak yang berkunjung ke taman ini untuk sekedar piknik bersama keluarga.


"Buka mulut!" Tak membantah, Ririn membuka mulutnya saat Rifki menyerahkan potongan kentang dengan saos mayonaise. Sebut saja makanan itu Patat.


"Mas!" Rifki melirik Ririn lalu tersenyum dan membuka mulutnya saat Ririn menyodorkan sandwich yang mereka beli tadi.


Keduanya terhanyut dalam makan siang dalam nuansa yang tidak biasa. Yaitu di tepian danau menyejukkan di taman Vondelpark.


***


Aku dan Erlang memasuki salah satu cafe terkenal akan pie nya yang enak. Mengambil duduk di sudut cafe, aku mulai membaca buku menu yang penuh dengan bahasa asing.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Erlang membuatku mengangkat pandangan padanya.


"Apa saja, yang terkenal di sini. Aku ingin mencobanya!" Berhubung aku tidak mengerti, jadi terpaksa aku mengatakannya. Aku berjanji sehabis ini aku akan belajar bahasa Belanda.


"Ini namanya appletaart, kita di Indonesia biasa menyebutnya pie apel. Salah satu makanan khas Belanda yang bisa ditemui di cafe manapun. Tapi kata orang, di sini yang terenak." Jelas Erlang membuatku semakin bersemangat ingin mencicipinya.


"Boleh ku makan sekarang?" Pintuku memelas. Erlang terkekeh pelan lalu mengangguk mengizinkan. Dengan semangat 45 aku mengambil satu potongan lalu memindahkannya ke piring kecil.


Satu suapan masuk kedalam mulut. Benar kata orang, pie di sini sangat enak. Lembut di dalam, renyah di luar. Perpaduan sempurna ditambah rasa Apple yang tidak terlalu manis. Sungguh enak sekali.


"Enak?" Melihat ekspresi ku yang berbinar, Erlang memangku wajahnya dengan tangan di atas meja sambil memandangiku dengan senyumannya.


"Em! Gak salah kata orang. Pie di sini memang sangat enak!" Pujiku tidak bohong.


Erlang mengulurkan tangannya membelai kepalaku yang sibuk menghabiskan pie yang ada.


"Bisakah kita beli satu lagi? Satu saja tidak cukup! Aku tidak kenyang!" Pintuku lucu.


"Dasar perut karet!" Ledek Erlang tertawa gemas, meskipun begitu dia tetap memesankan aku satu lagi untuk dimakan di tempat.


"Kamu tidak makan?" Tanyaku melirik Erlang yang sedari tadi hanya memandangi ku saja tanpa menyentuh bagiannya sama sekali.


"Emang kamu mau aku makan di sini?"


"Tentu saja. Ini, aku suapi!" Dengan polosnya aku menyodorkan sendok yang berisi pie pada Erlang.


Lelaki itu perlahan menyingkirkan tanganku, lalu mendekat mengikis jarak di antara kami berdua. "Aku tidak mau makan itu. Aku maunya makan kamu!" Bisik Erlang dengan gaya yang erotis.


Plak


Tanpa belas kasihan aku memukul kepalanya dan mengalihkan pandangan dengan wajah yang memerah. Erlang benar benar tahu sekali cara membuat aku salah tingkah.


"Gak usah mesum!" Ketus ku sambil menyuap pie ke dalam mulut.


"Loh, memangnya kenapa?" Tangan Erlang melingkar di pinggangku, kepalanya masuk ke ceruk leher membuat rasa geli dan merinding menjadi satu.


"Menjauhlah! Ini tempat umum!"


"Dan negara asing. Budaya bebas, kita mau apa apa juga orang gak akan komen." Pintar sekali dia menjawab.


"Sebaiknya kamu menjauh atau tidak ada nanti malam!" Ancam ku. Refleks Erlang langsung menjauh mendengar ancaman ku. Heh siapa suruh tidak tahu malu.


"Jangan gitu lah.." ringis Erlang menatapku cemberut. Astaga kenapa suamiku imut sekali.


"Nih makan!" Mencoba menahan senyum aku menyuapinya paksa satu sendok pie yang ada. Setelahnya aku kembali menyuapkan makanan itu ke mulutku.


"Secara tidak langsung kita telah ciuman. Meskipun menurutku, ciuman itu lebih enak tanpa perantara!" Celutuk Erlang dengan santai memakan pie bagiannya. Tidak memperdulikan wajahku yang semakin memerah karena ucapannya yang tidak pernah bisa disaring.