Melody

Melody
Liburan



Langkah kaki terburu buru terdengar di sepanjang ruangan saat Erlang melangkahkan kakinya menuju taman belakang, dimana sang bunda ada di sana tengah menikmati secangkir coklat hangat menghadap ke arah kolam renang.


"Bunda. Bilang sama Erlang, bunda sembunyiin apa selama ini?!" Tak ada basa basi sama sekali. Selepas mengantarkan istrinya pulang kerumah, Erlang bergegas menuju rumah utama demi menuntaskan rasa penasarannya yang membuncah sejak istrinya bercerita kala itu.


"Sembunyikan apa?" Lucy melirik tak paham putranya yang datang tiba tiba bukannya salam malah marah sambil menuduhnya menyembunyikan sesuatu. Benar benar anak durhaka.


"Gak usah pura pura. April itu Cila 'kan?!"


Gerakan tangan yang hendak meminum coklat hangat itu terhenti. Lucy terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan wanita paruh baya itu meletakkan cangkir ke atas meja, menyandarkan tubuh menghadap lurus ke arah kolam renang.


"Dari mana kamu menyimpulkan April adalah Cila?" Tanya Lucy begitu tenang, meski hatinya sedikit cemas.


"April sendiri yang bercerita, kalau dia sedikit mengingat dulu pernah bersama dengan dua pasangan yang dia sebut bunda dan papa. Saat terjadi kecelakaan, papa memaksanya menelan pil obat dan menyuruh bunda untuk membawa kabur April yang dipanggil Cila. Jujur aja Bun. Papa dan Bunda itu kalian kan?" Jelas Erlang merasa tidak menemukan sedikitpun jawaban dari sang bunda, meski dia sudah memancingnya, hanya saja emosi Lucy benar benar sangat bagus.


"Kalau bunda jawab iya memangnya kenapa? Kalau bunda juga jawab tidak, kamu mau apa?" Lucy perlahan menghadap putranya, masih dalam keadaan tenang, Lucy tersenyum tipis.


"Lagi pula, kalau April memang Cila. Bagaimana mungkin kamu menikahi adikmu sendiri?" Kali ini Erlang tidak dapat membantah. Ucapan Lucy memang benar. Jika April adalah Cila, mereka tidak akan mungkin bisa menikah.


"Dan lagi. Kenapa April bisa mengingat kejadian itu?" Kali ini Lucy mengutarakan kekhawatiran nya. April mengingat kejadian 'itu' pasti ada pemicunya. Yang pasti, itu bukan perkara baik.


"April bilang dia mengingat itu saat bersitatap dengan om Fiki di acara ulang tahun Fanya dulu. Bahkan saat acara di hotel kemarin, April sampai ketakutan bertemu dengan om Fiki," perlahan emosi Erlang sedikit melunak. Pemuda itu lantas mengambil duduk di samping Lucy ikut menghadap kolam renang yang memiliki ceritanya sendiri.


"Fiki?" Gumam Lucy pelan sampai tidak terdengar oleh Erlang yang fokus bernostalgia tentang mendiang papanya.


Tidak mungkin diakan? Batin Lucy.


***


Hari yang ditunggu tiba juga. Hari dimana aku dan Erlang akan terbang ke negri Belanda untuk liburan. Tentunya bersama dengan pasangan pengantin baru yang menikah beberapa hari yang lalu.


"Bang please.. Arkan pengen ikut. Pengen ke Belanda.." ini dia. Seorang bocah berusia 23 tahun itu terus merengek meminta ikut, bahkan dia tidak malu bergelayut di kaki Erlang hanya untuk bisa ikut berlibur.


"Ini liburan untuk pasangan yang sudah menikah. Kalau mau ikut, nikah dulu sana!" Sarkas Erlang berusaha melepaskan tangan sang adik dari kakinya. Kelakuan mereka benar benar tidak luput dari pengamatan ku.


"Lagian. Kalau Lo ikut, siapa yang bakalan ngejagain Nana di sini?" Timpal ku merasa jengah dengan kelakuan manja Arkan.


"Siapa bilang dia sendiri, Nana ikut lah! Masa iya, kalian sahabatnya liburan cuma berdua doang, Nana gak diajak. Sungguh kalian sangat jahat!" Tutur Arkan mendramatisir keadaan.


Pletak


"Kalau Abang bilang tinggal ya tinggal! Kalau kamu udah nikah nanti, Abang kasih kamu tiket liburan keliling dunia selama sebulan!" Putus Erlang pada akhirnya.


"Serius? Me apa? Janji?!" Arkan bangkit dengan semangat. Menatap penuh binar dengan tawaran sang kakak yang akan memberikan tiket liburan keliling dunia selama sebulan penuh.


"Hm. Tapi kamu harus tinggal, kalau kamu ikut. Gak ada tiket liburan!"


"Deal.." aku menatap kepergian Arkan yang terlihat bersenandung bahagia mendapatkan hadiah sebesar itu.


"Adik kamu benar benar manja." Kekehku merasa mulai terbiasa melihat kelakuan tak masuk akal dari adik ipar ku itu.


"Huh.. dia memang sudah manja sejak kecil. Saat papa meninggal, akulah sasarannya untuk bermanja-manja. Arkan cukup mengerti keadaan Bunda yang saat itu tidak bisa diganggu cukup lama sehingga Arkan lebih sering menuntut kasih sayang padaku. Dan yah.. itu berlaku hingga sekarang, meskipun sedikit berkurang karena sudah ada Nana yang menjadi tempat penampungan anak hilang sepertinya." Kekeh Erlang sendu.


"Papa dulu meninggal karena apa?"


"Kecelakaan, dan mobilnya jatuh ke jurang. Meskipun saat itu papa sempat di bawa kerumah sakit, tapi papa memang sudah takdirnya tidak bisa diselamatkan." Jawab Erlang.


Melihat keadaan sudah berubah sendu, sebisa mungkin aku mencairkan suasana. "Eh, ini kita berangkat jam berapa?"


"Oh iya sampai lupa. Kita berangkat jam 9, masih ada waktu tiga jam lagi. Kita berangkat sekarang aja kebandaranya ya?" Aku tersenyum kecil lalu mengangguk menyetujui. Erlang lantas menarik dua buah koper yang satu milikku dan satunya lagi miliknya.


Tak butuh waktu lama hingga sampai di bandara. Dari kejauhan aku sudah dapat melihat Ririn dan Rifki tengah diberi wejangan panjang oleh tante Yolanda, sedangkan om Rendra diam saja membiarkan sang istri yang mewakili isi hatinya.


"Wa'alaikumussalam"


"Kalian sudah datang? Baguslah. Lebih baik kalian segera check in. Biar bisa langsung naik pesawat," tutur Tante Yolanda terlihat begitu bersemangat.


"Kalau gitu kita pergi dulu ya Tante.." pamitku, menyalami kedua pasangan tersebut sopan diikuti Erlang dan berlanjut Ririn dan Rifki.


Aku dan Erlang lebih dulu pergi untuk check in, sedangkan Rifki dan Ririn masih harus mendapatkan ceramah panjang lebar sebelum akhirnya menyusul kami berdua.


Kami mengambil tiket pesawat kelas bisnis. Sambil bergandengan tangan dengan Erlang, aku berjalan mencari nomor urutan bangku sesuai yang diberikan.


"Kita duduk di sini!" Ucapku, segera mengambil duduk di dekat jendela, sedangkan Erlang duduk di sebelahku.


Beralih pada pasangan yang lain, keduanya pun juga duduk berdampingan dengan Ririn yang berada di samping jendela.


Jika pasangan pada umumnya akan saling bermesraan dengan tangan yang bertautan. Ini jangankan romantis, keduanya justru asik dengan dunia mereka sendiri.


"Kenapa?"


"Mas, ini menurut pandanganku saja atau memang Rifki dan Ririn lebih asing padahal mereka adalah pengantin baru?" Utaraku merasa aneh dengan hubungan keduanya.


"Kalau begitu apa bedanya dengan hubungan kita saat menjadi pengantin baru dulu?" Jawaban Erlang membuatku menoleh sepenuhnya padanya.


"Ya tapi setidaknya kita masih bisa dibilang akrap meski hanya ada pertengkaran!" Elakku.


"Ya udahlah. Biarin aja mereka. Gak usah dipikirin. Mending kamu pikiran aku aja, lebih bermanfaat soalnya!" Ujar Erlang sedikit cuek dengan kisah percintaan orang lain.


"Dih, emang apa manfaatnya?"


"Manfaatnya? Bisa bikin kamu jadi tambah cinta sama aku!" Aku tidak dapat menyembunyikan senyumku saat dengan lincahnya dia melayangkan gombalan andalannya.


"Dih gombal!"


"Kenapa? Sudah mulai merasa ada benih benih cinta?" Goda Erlang benar benar membuatku tidak dapat menahan rona merah di wajahku.


"Bukan benih lagi, tapi udah tumbuh dan berbunga. Tinggal nunggu jadi buah aja!"


"Hmmm buah apa?"


"Buah hati kita.."


Cup cup cup cup cup


Aku memejamkan mataku saat Erlang menghujami wajahku dengan ciuman. Setelah selesai, tatapan kami bertemu masih dengan tangan Erlang yang menangkup wajahku.


"Bisa banget kamu bikin aku tambah cinta! Kalau bukan lagi di pesawat, udah aku makan kamu!" Gemas, Erlang menggesekkan hidungnya di hidungku, menimbulkan kesan yang begitu romantis.


"Kenyang dong!" Sahutku.


"Makan kamu mana pernah kenyang, gak pernah puas juga. Candu banget, pengen lagi terus."


"Mesum!" Aku memukul bahu Erlang tanpa bisa menyembuyikan senyum yang merekah begitu lebar.


Erlang tersenyum, lalu perlahan mendekatkan wajahnya padaku. Melihat itu aku hanya bisa memejamkan mata menunggu sesuatu yang biasa kami lakukan terjadi.


"Pesawat akan segera lepas landas. Mohon untuk para penumpang segera duduk ke tempatnya masing masing."


Aku membuka mataku lalu menahan bibir Erlang yang hanya berjarak beberapa senti saja lagi dari bibirku. Instruksi dari pramugari itu membuatku segera duduk kembali ke asal bersiap merasakan getaran saat pesawat melaju dan akan terbang.


"Kembali duduk!" Titahku pada Erlang. Lelaki itu merengut sebal karena aksinya yang gagal. Namun, sedetik kemudian aku membulatkan mataku sempurna saat Erlang memutar wajahku dan langsung menjatuhkan bibirnya di sana. Sepertinya dia benar benar tidak perduli dengan ucapan pramugari tadi. Sudahlah aku pasrah.