Melody

Melody
Menemukanmu



Tit


Klak


"Arilll..." tebakanku benar, melihatku bunda pasti akan langsung memeluk. Sepertinya terlalu rindu, aku akhir akhir ini memang sibuk sehingga jarang menemui bunda di rumah utama.


"Duduk dulu yuk sayang..." aku melirik Erlang sekilas lalu tersenyum pada bunda sembari mengikutinya untuk duduk di sofa.


"Sayang, aku taruh bahan bahan ini kedapur dulu ya." Aku menoleh cepat pada Erlang saat mendengar kata 'Sayang' keluar dari mulutnya. Dan dengan kode estetik aku hanya mampu menghela nafas mengerti.


"I-iya mas." Sayang palamu! Apalagi mas itu tadi? Geli banget ih!!


"Er baik 'kan sama kamu ril? Kalau Er macam macam kamu bilang aja sama bunda, biar bunda yang kasih pelajaran!" Ucap bunda membuatku tersenyum kaku.


"Mas Er baik kok, cuman ya gitu. Aril mungkin sibuk sama kuliah, mas Er juga sibuk sama urusan kantor. Jarang mungkin ada waktu, tapi sesekali kami saling memperhatikan satu sama lain kok bun," jawabku dari lubuk hati yang terdalam. Jujur.


"Minum bun," Erlang datang dari dapur membawakan tiga buah gelas air minum serta potongan buah yang sempat kami beli tadi.


"Er janganlah kamu terlalu sibuk dengan kerjaan, Aril juga. Sesekali ambil cuti buat liburan. Lagian kalian juga belum cuti bulan madu 'kan?!" Tutur Bunda.


"Uhuk uhuk uhuk!"


"Bu-bu-bulan madu?" Jika Erlang gugup sampai tersedak, lain aku yang justru bercakap gagap. Bulan madu katanya?


"Iya bulan madu. Gak mungkin kalian yang sibuk sampai lupa sama kebutuhan kalian itu? Bunda juga pengen cepet cepet punya cucu tau!" Jawab Bunda melirikku dan Erlang bergantian.


"Bukan gitu bunda. Er itu---"


"Bukan apa? Er kalau kamu terus kerja gak ada kata libur! Kamu 'kan pimpinan di perusahaan, apa susahnya mengambil cuti beberapa hari? Trus kampusnya Aril juga 'kan kamu yang jadi donatur utamanya, gak akan susah jika memang kamu ingin meminta cuti untuk Aril!!" Potong Bunda. Tapi aku baru tahu kalau Erlang donatur kampus?


"Er usahain." Nampak sekali Erlang pasrah juga enggan melakukannya. Segitu tak inginnya kah dia berlibur denganku? Atau dia membayangkan akan berlibur dengan wanita di malam itu? Kenapa aku sakit memikirkannya.


"Aril. Bunda bisa bicara dengan Er berdua dulu gak?" Tanya Bunda mengusirku secara halus.


"Ya sudah, kalau gitu Aril masuk kamar dulu ya bun. Bunda bicara aja sama Er-- maksudnya mas Er," tak ingin mengganggu, aku memilih untuk masuk kamar. Sepertinya pembicaraannya sangat penting dan privasi sehingga aku tidak diizinkan mendengar.


Cklek


"Aril kok kekamar tamu?" Tanganku seketika terhenti mendengar seruan dari Bunda. April kenapa kamu bisa lupa!


"Ah.. it-itu.. ee.. lap-laptop aku di kamar tamu bun. Kemarin takut ganggu Er- mas Er makanya kekamar tamu." Sumpah. Ini untuk pertama kalinya aku bersikap seperti orang bodoh.


"Ya sudah, ambil laptopnya lalu masuk kamar, istirahat." Pesan Bunda.


Aku mengangguk dan cepat cepat mengambil laptopku di dalam kamar tamu dan menaiki tangga menuju kamar Erlang yang ada di lantai 2.


Cklek


"Ahhh...." aku melemaskan bahu. Jujur saja, menghadapi seorang ibu mertua itu bukanlah perkara mudah.


Tak ingin berlarut larut, aku meletakkan laptopku di atas kasur lalu memutuskan untuk pergi mandi. Memikirkan hal itu hanya akan membuatku pusing.


***


"Mengerti?" Menyikapi Bunda yang bersifat bunglon benar benar sangat melelahkan. Erlang sampai tertunduk setelah mendengarkan kalimat Bunda yang mengingatkannya akan pernikahannya dengan April.


"Er tau bun. Er gak lupa."


"Kalau kamu gak lupa, terus kenapa kamu meminta Aril untuk mencari wanita lain?" Tanya Bunda Lucy membuat Erlang terkejut.


"Bunda tau darimana?"


"Pentingkah bunda tau darimana?" Menjeda kalimatnya. "Erlang Bagaskara. Kamu sudah dewasa, untuk apa mencari wanita lain saat kamu sudah menikah? Dan yang kamu mintai untuk carikan itu adalah istri kamu! Perlukah bunda ingatkan kalau APRIL ITU ISTRI KAMU!!" Tutur Bunda Lucy penuh penekanan di akhir.


"Perlukah Erlang ingatkan juga? ER MENIKAH ITU KARENA ANCAMAN DARI BUNDA!! Kalau bunda gak ngasih tau April itu--- menghela nafas kasar. "Terserah apa yang mau bunda buat. Er cape, mau istirahat!" Tak ingin berlawan argumen dengan Bunda Lucy, Erlang memilih bangkit hingga sampai di anak tangga Bunda memanggilnya.


"Bunda tidak mengancam. Bunda hanya mengatakan fakta di masalalu. Dan kamu yang mengambil tindakan!" Seru Bunda.


"Heh. Masalalu? Masalalu yang coba bunda bangkitkan?" Balas Erlang mengambil langkah cepat menuju kamarnya.


***


Aku berdiri di depan cermin sambil menggosok rambutku yang basah setelah selesai mandi. Setelah kering, aku mengambil ponsel dan menyambungkannya dengan Headset. Aku berdiri di balkon sambil mendengarkan musik. Musik adalah suatu ketenangan sederhana bagiku, mendengarkannya mampu membuat bibir ini tanpa sadar terikut arusnya juga.


Tak akan pernah rasa...


Rasa sakit hatiku.


Saat ku tau. Kau dengannya, tak denganku.


Ku.


Genggam erat janjimu.


Untuk selalu setia bersama**ku...


Ternyata tak. Satu janji mu terbukti**...


Cklek


Erlang membuka pintu dengan emosinya yang belum stabil, namun sesaat kemudian dia terdiam mendengar alunan suara merdu yang selama ini seperti hantu yang selalu mendatanginya.


Mungkin tuk dilukai..


Ku tak terbiasa.


Di saat ku terluka


Kau tampak biasa...


Erlang berjalan mendekat sembari terpaku pada sosok yang membelakanginya. Rambut yang terurai dan terkibar oleh angin begitu membuat Erlang semakin tidak bisa melepaskan pandangan walau hanya sedetik saja.


Dan. Tuk menyayangi kamu...


Dengan sepenuh hati.


Apakah harus? Menahan sesakit ini.


Ku. Ingin hati terlatih..


Untuk tak sakit. Merasakan patah hati.


Biar aku yang mengerti...


Aku membuka mataku setelah merasa cukup bernyanyi. Perasaan tenang itu benar benar aku dapatkan dengan menyanyi maupun mendengarkannya.


Grep


Aku membulatkan mata sempurna sesaat merasakan tangan seseorang melingkar di pinggangku. Dengan sekali hentakan, orang itu aku kurung di kursi balkon.


"Apa yang kau lakukan?!" Bentakku menatap wajah Erlang yang justru tersenyum melihatku.


"Memelukmu." Jawabnya tak berpindah menatapku.


Menoleh kekanan, kekiri, kedepan dan keatas, aku kembali beralih menatapnya penuh heran. "Untuk apa? Bunda juga gak ada! Untuk apa memeluk?!" Tanyaku menatapnya garang.


Brukh


"Aku tanya. Memeluk istri sendiri memangnya tidak boleh?" Bisiknya tepat di samping telingaku. Aku masih terpaku saat tiba tiba Erlang menarik pinggangku, membuatku siap tidak siap jatuh kepangkuannya.


"Apa yang kau lakukan! Lepas!" Aku memberontak di atas pangkuannya, tapi sepertinya dia memang mode jahil sehingga tak mau melepaskanku.


"April. Akhirnya aku menemukanmu..." bisiknya semakin membuatku melongo bingung, sekaligus heran. Memangnya aku ngumpet dimana sehingga dia terlihat senang seperti itu menemukanku?


"Stay with me. Forever..."


Langkah selanjutnya aku benar benar tidak tahu harus berbuat apa, tapi entah mengapa aku pasrah dia mengambil alih semuanya. Erlang. Kamu kenapa?


***


Dari kamar tamu, Bunda Lucy tersenyum lucu melihat kedua putra putrinya yang sedang mabuk cinta. Menutup laptopnya, Bunda berjalan menuju balkon menatap hamparan luas pemandangan kota.


"Mas. Sesuai keinginanmu, aku sudah menyatukan putra putri kita." Gumamnya.