Melody

Melody
Penculikan



Setelah kejadian tadi malam akan mimpiku. Kini aku sudah siap dengan stelan santai ku seperti biasanya. Hanya bermodalkan baju kemeja kotak kotak dan celana kulot, dipadukan dengan pasmina berwarna hitam, dan sepatu sneaker, aku sudah siap pergi ke kampus.


Rencananya, setelah dari kampus, aku akan mengunjungi Erlang di kantornya untuk membicarakan perihal permasalahan ku ini, dan juga sekalian meluruskan tentang masa lalu kami yang rumit itu.


Hanya saja, sepertinya harus ditunda.


"Jadi bagaimana? Sudah bukan?" Aku terdiam mendengar pertanyaan dari Alfino. Jika dulu aku akan bersikap lemah dan penurut, sekarang hanya akan ada April yang kuat dan pembangkang.


"Aku tidak akan melakukannya." Jawabku singkat. Ketara sekali perubahan ekspresi Alfino yang terlihat menggelap. Aku pernah melihat ekspresi ini, saat saat di mana Alfino selalu kalap akan kecemburuan dengan lelaki lain yang berani mendekati ku.


"Kamu tahu konsekuensinya kan?" Aku tahu dia menahan diri. Tatapannya yang dingin berusaha untuk mengintimidasi. Tapi untuk kali ini saja, aku tidak akan goyah.


"Tahu"


"APRIL!!!" Kesabaran nya sudah habis. Rahang Alfino mengeras, tangannya mengepal kuat dan tatapannya yang begitu tajam.


"Aku sudah memikirkannya matang matang. Aku. April Lia. Tidak akan pernah meninggalkan Erlang Bagaskara. Dan memutuskan, untuk membantah segala ancaman dari seorang Alfino Renandra!" Dengan tegas aku mengatakannya, menatap Alfino dengan tatapan menantang.


"Aku tegaskan sekali lagi. Teruntuk kamu Alfino! Jangan pernah berharap bisa menggertak ku lagi! Karena April yang sekarang bukan April yang dulu!" Lanjutku lalu memilih membalikkan tubuh untuk pergi. Aku harus bertemu dengan Erlang segera.


Bugh


Hantaman keras di kepala membuatku jatuh tersungkur dengan mata yang memberat. Sebelum kesadaran ku direnggut paksa, hal yang terakhir aku lihat adalah senyum menyeringai Alfino.


***


Erlang termenung di depan meja kerjanya. Rifki pun terlihat galau memikirkan rencana pernikahannya yang bisa dibilang tinggal hitung jari saja lagi.


Dua pemuda tampan itu benar benar dilanda galau berat. Urusan pekerjaan seakan sudah tidak berarti lagi, dan permasalahannya yang jadi utama.


Tringgg


Lamunan Erlang harus terganggu karena notifikasi masuk dari ponselnya. Sebuah pesan singkat dari nomor asing disertai satu foto.


20 menit dimulai dari sekarang!


Erlang refleks berdiri saat melihat istrinya tak sadarkan diri dengan satu buah bom yang melekat di tubuhnya.


"Rifki lacak keberadaan istriku sekarang juga!" Teriak Erlang mengagetkan Rifki dari kegalauan nya.


"Ada apa sih?"


"GAK USAH BANYAK TANYA! LACAK AJA SEKARANG!!" Erlang semakin kalang kabut saat waktu terus berjalan. Sungguh Erlang sangat panik melihat keadaan istrinya seperti ini.


Rifki tak ingin banyak tanya lagi saat Erlang membentaknya. Dengan sigap Rifki meraih laptopnya dan mulai melacak keberadaan istri bosnya itu.


"Sudah ketemu!" Seru Rifki setelah berhasil menemukan keberadaan April.


"Sharelock ke gue sekarang!" Titah Erlang berlari keluar dari perusahaan setelah mengambil kunci mobilnya.


Dengan mengendarai mobil seperti orang kesetanan, dalam waktu 5 menit Erlang sudah sampai di tempat yang diberikan.


Dengan langkah seribu, Erlang masuk kedalam gudang dan menemukan April masih tidak sadarkan diri di kursi dengan bom yang melekat di tubuhnya.


"Sayang.. sayang bangun sayang! Aril.. Aril hei bangun!!" Erlang menepuk nepuk pipi April pelan, berusaha membuat istrinya sadar, namun nihil. Wanita ini benar benar pingsan.


Tak ingin buang waktu, Erlang segera mencari akal untuk melepaskan bom yang terikat di tubuh April.


"Ha-harus potong yang mana?" Gumam Erlang mengacak rambutnya prestasi melihat kabel kabel itu.


"Hanya ada satu yang bisa dipotong. Jika salah potong, siap siap harus kehilangan orang yang Lo sayang!" Sahut seseorang.


Erlang memutar tubuhnya menatap seorang pria yang terakhir kali ia lihat berani memanggil istrinya dengan panggilan Honey dan sayang. Erlang tebak pria ini yang dimaksud Ririn sebagai masalalu istrinya.


"Apa maumu?!"


"Awalnya gue sudah membuat penawaran dengan menyuruh April meninggalkan suaminya. Siapa yang sangka, dia menolaknya?" Tutur Alfino membuat Erlang tertegun.


"Jadi, gue gak punya pilihan lain. Kalau gue gak bisa miliki April, orang lain juga gak bisa. Selamat berjuang, waktunya terus jalan. Semoga berhasil.." lanjutnya lalu pergi meninggalkan Erlang yang masih tertegun.


"Engghh.." Erlang segera tersadar saat mendengar lenguhan dari April. Dengan cepat Erlang berbalik dan mendapati istrinya telah sadar.


"Sayang kamu gak apa apa? Ada yang sakit? Kamu tenang oke, aku akan menyelamatkanmu.." cecar Erlang berusaha mencari tahu kabel mana yang harus di potong.


"Erlang?" Tatapan April terlihat bingung melihat Erlang, namun segera tersadarkan saat melihat ruangan asing penuh debu, terlebih bunyi alarm yang membuatnya segera menjatuhkan pandangan pada tubuhnya.


"Bom?" Lirih April terpaku.


"Kamu gak usah takut, kamu akan baik baik saja. Tenang oke.."


Tidak. April tidak takut, hanya saja bingung kenapa tiba tiba ada bom ditubuhnya. Berusaha menggali memori, seketika itu juga April sadar bahwa Alfino lah yang telah melakukannya. Kali ini April harus bersyukur karena telah dikaruniai otak yang jenius sejak lahir.


"Potong kabel yang warna biru!" Titah April setelah meneliti dengan baik bom yang melekat di tubuhnya.


"Apa? Bagaimana kamu tahu itu benar atau tidak? Aril kita harus lebih hati hati. Ini menyangkut tentang nyawamu!" Tukas Erlang tak ingin mengindahi perkataan April.


"Ku bilang potong yang warna biru!"


"Tidak!"


"Potong!"


"Tidak aku bilang!"


"Erlang aku bilang potong!" Bentak April membuat Erlang terdiam sejenak. Ragu ingin menuruti atau tidak.


"Tapi—"


"Percaya padaku! Potong yang warna biru!"


Erlang melirik April cemas, dan dengan tangan gemetar, Erlang perlahan memotong kabel berwarna biru.


1


2


3


Tidak terjadi apa apa. Perlahan April melepaskan bom yang melekat di tubuhnya, dan detik itu juga sebuah hantaman tubuh dari Erlang membuat April terdiam. Erlang memeluknya erat.


"Aku sangat takut. Jangan begini lagi. Aku benar benar takut kehilanganmu.." lirih Erlang membuat April tersenyum, lalu melingkar kan tangan membalas pelukan Erlang.


Bugh


Hantaman tiba tiba itu membuat Erlang yang belum memiliki kesiapan harus jatuh tersungkur. Belum sempat mencerna keadaan, hantaman lainnya kembali melayang di wajah Erlang.


"Alfino! Hentikan!!!"


Erlang yang mulai mengerti alurnya segera membalas perlakuan Alfino. Perkelahian di antara keduanya tak terelakkan. April hanya bisa mematung menonton keduanya terus adu pukulan.


"Gue udah cukup sabar sama Lo! Tapi kali ini gue gak akan biarin Lo hidup tenang!" Ucap Erlang disela sela kegiatannya memukuli wajah Alfino yang sudah lebam.


"Haha.. silahkan aja. Toh kita semua bakalan mati bersama di sini. Lo pikir bom itu cuma ada satu? Bodoh!"


Bugh


Satu pukulan terakhir membuat Alfino tak sadarkan diri. Tatapannya beralih pada April yang termenung mencerna ucapan Alfino.


"Ril—"


April memejamkan matanya, mengandalkan Indra pendengarannya yang tajam. Berusaha mencari tata letak bom yang Alfino maksud.


"Di pintu depan!"


"Ha?"


"Ambil bom yang ada di pintu depan!" Meski tak mengerti, Erlang tetap menuruti perintah istrinya, berusaha mencari letak bom yang istrinya maksud.


"Ketemu!" Erlang segera membawa bom itu dan meletakkannya di lantai, sambil menunggu instruksi dari istrinya lagi.


"Setiap sudut ruangan!"


Satu persatu benda yang sama kembali Erlang temukan berkat Indra istrinya yang begitu tajam.


"Di bawah kursi!"


Bom terakhir. Erlang mengumpulkan jadi satu. Semuanya memiliki hitung mundur yang sama. Tersisa 5 menit lagi untuk menjinakkan bom itu.


April segera duduk, mengotak atik bom dengan lihai seolah dia adalah pawangnya. Satu persatu bom yang berjumlah enam itu April jinakkan. Dan dalam sisa waktu tiga puluh detik, April berusaha menjinakkan satu bom lagi yang tersisa.


Tit tit titttt


Helaan nafas lega keluar dari April. Di detik ke satu, bom berhasil di jinakkan. Dengan tangan yang lemas, April meletakkan bom itu ke tanah.


Grep


Erlang meraih tubuh April dan membawanya ke dalam pelukan. Suara tangisan menggiringi suasana haru itu. Erlang mengeratkan pelukan, membiarkan April membasahi bajunya yang kotor.


Tak lama setelahnya, polisi datang bersama Rifki di belakangnya. Polisi segera mengamankan pelaku, sedangkan Rifki bergegas menghampiri Erlang yang mengangkat tubuh tak sadarkan istrinya.


"Lo gak apa apa?" Tanya Rifki khawatir.


"Kerumah sakit sekarang!" Dengan menggendong istrinya, Erlang keluar disusul Rifki setelahnya.


***


Cahaya menyilaukan memasuki Indra penglihatan ku saat terbangun dari ketidak sadaran. Melihat sekeliling, aku menebak saat ini aku berada di rumah sakit.


"Kamu sudah sadar? Ada yang sakit? Bilang, biar aku panggilin dokter." Tatapanku beralih pada Erlang yang memiliki begitu banyak lebam kebiruan di wajahnya. Apa dia habis berkelahi.


Dengan lemas aku mengangkat tanganku, mengusap wajah Erlang membuat ringisan kecil di bibir lelaki itu.


"Kamu habis berantem?" Tanyaku menatapnya khawatir.


"Kamu.." aku mengeryit melihat Erlang nampak terkejut. Aku bingung, kenapa reaksinya sampai seperti itu?


"Kenapa?"


"Ah.. tidak. Tidak ada. Kamu mau makan?" Mengalihkan pembicaraan, Erlang mengambil sepiring nasi berserta lauk pauk lalu mulai menyendok kannya padaku.


"Aaa" meski ragu dan bingung, aku tetap menerima perlakuannya. Aku tidak mengerti, saat ini kepalaku terasa sangat sakit. Aku tidak ingat apa yang membuatku masuk rumah sakit. Terakhir kali yang aku ingat adalah aku yang dipukul oleh Alfino, dan saat terbangun aku sudah berada di rumah sakit.


Setelah menghabiskan makanan, aku memilih berbaring. Erlang terus menggenggam tanganku, sambil sesekali mengelusinya. Hatiku terasa hangat mendapat perlakuan seperti ini.


"Erlang.." panggilku pelan.


"Iya?"


"Katakan saja. Tidak perlu takut. Aku ada di sini.." seolah tahu keraguanku, Erlang mengeratkan genggaman tangannya membuatku dapat sedikit tenang.


"Aku dan Alfino sudah kenal sejak kami masih SMA. Dia begitu terobsesi padaku, membuatku membatasi pergaulan karena tidak ingin melukai orang lain. Pernah suatu hari dia mengirimiku pesan dan foto temanku yang ia sekap. Aku yang khawatir segera menyusulnya. Dan saat aku datang, temanku itu sudah berlumuran darah akibat pisau yang ia tancapkan di perutnya." Aku terhenti sejenak berusaha menguatkan diri mengingat kembali kejadian silam.


"Tidak apa. Lanjutkan.." aku melirik Erlang lalu menganggukkan kepala pelan.


"Aku yang ingin menghampiri Farhan, harus tertahan karena Alfino menarik secara kasar tanganku. Dia mengikatku di kursi sambil melayangkan ancaman. Makanya, meski dia sudah tidak ada aku masih tidak berani dekat dengan satu orangpun. Sampai pada akhirnya aku bertemu denganmu. Awalnya aku merasa aneh kenapa aku bisa begitu terbuka padamu. Aku bahkan tertutup dengan keluargaku, tapi denganmu aku berani mengutarakan segala keluh kesah ku."


"Saat aku benar benar merasakan nyaman bersamamu, Alfino kembali datang. Dia mengancam ku, mengatakan akan melukaimu sama seperti yang sudah ia lakukan pada Farhan. Aku awalnya takut, dan berpikir ingin menceraikan mu dengan menemukan wanita yang kamu cintai. Tapi saat tahu wanita itu adalah aku, aku seketika habis akal untuk meminta pergi darimu. Makanya aku pergi menginap bersama Nana. Sampai pada akhirnya, Nana memberiku nasehat dan itu menyadarkan ku."


"Niatnya setelah pulang kuliah, aku ingin bertemu denganmu. Mendiskusikan hal ini. Tapi siapa sangka, aku dipukul oleh Alfino hingga tak sadarkan diri. Hanya saja.. kenapa aku bisa ada dirumah sakit? Apa kamu menolongku?" Yah. Kenapa aku tiba tiba ada dirumah sakit? Dimana Alfino?


"Kamu benar benar tidak ingat?" Tanya Erlang aneh. Pandangannya menelisik membuatku semakin bingung.


"Ingat apa?"


"Tidak. Bukan apa apa. Sebaiknya kamu minum obat, lalu istirahat. Malam ini kita nginap saja dulu di sini. Besok baru kita pulang, aku punya kejutan untukmu.." aku menatapnya bingung, sambil menerima perlakuannya yang membantuku meminum obat.


"Kejutan? Kejutan apa?"


"Kalau dikasih tau bukan kejutan lagi namanya! Ish gemesin deh istrinya Erlang!" Dengan gemas Erlang menoel hidungku, membuatku menggigit bibir dan memalingkan wajah. Kok pipi ku tiba tiba jadi panas.


"Dih dih.. pipinya merah.." goda Erlang semakin membuatku salah tingkah. Astaga April kenapa kamu bertingkah seperti anak ABG baru jatuh cinta saja.


"Panas.." elakku.


"Padahal AC nya udah di angka 18 loh.. masih panas?" Aku semakin tidak bisa mengelak saat Erlang terus menerus memojokkan ku.


"Apa perlu aku turunin—"


Cup


Aku memalingkan wajah merahku dari Erlang yang terpaku. "Diam!" Ketus ku malu karena sudah mencium lebih dulu.


"Lagi dong.." pinta Erlang tak tahu malu.


"Dih ngelunjak!"


"Bukan ngelunjak. Kamu yang cium nanggung. Nanti bagian ini, ini, ini, dan ini iri gak dapat jatah!" Elaknya sambil menunjuk dahi, pipi kanan kiri, dan juga hidung.


"Halah modus!"


"Ayolah yang.. sekali aja.." pinta Erlang memelas. Aku menghela nafas pelan, melirik kearah pintu memastikan keadaan aman.


Aku mulai mendekat. Memberikan ciuman di dahi, pipi kanan kiri, dan yang terakhir hidung. "Udah.." ucapku, Bernat mundur. Namun, dengan sigap Erlang menarik tengkukku menjatuhkan bibirnya di bibirku. Tak tanggung tanggung, dia memberikan ******* lembut membuatku terbuai permainannya.


Cklek


Aku seketika mendorong tubuh Erlang menjauh, dan melihat cepat kearah pintu. Rifki dan.. Ririn. Keduanya terlihat begitu canggung.


"So-sorry ganggu. Lanjutin aja, kita keluar dulu.." tanpa menunggu jawabanku keduanya sudah memutuskan untuk pergi.


Plak


"Awh.. kok dipukul?" Ringis Erlang menatapku tak terima.


"Makanya, jangan ngelunjak! Gak tahu tempat banget buat nyium! Malu tahu!" Omelku tak tahu lagi bagaimana nanti kalau bertemu dengan kedua pasangan itu setelah kepergok gini.


"Oh.. jadi tempat cium itu harus di kasur ya?" Plak. Sekali lagi aku memukul bahunya kesal.


"Mesum!"


"Sama istrinya sendiri juga,"


"Au ah.." aku lantas membaringkan diri membelakanginya. Menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.


"Yah kok ngambek.. sayang.. sayang..."


Diam diam aku mengembangkan senyum merekah.