Melody

Melody
Adu Argumen



Brum brum brum


Pagi hari yang indah, dibuat kacau dengan suara deru mesin motor yang mencari masalah di depan kostan putri yang kini Nana tinggali. Putri cantik itu dipaksa bangun dari tidur manisnya bersama yang lainnya yang juga terganggu dengan deru mesin motor.


"Duh... siapa sih pagi pagi gini ganggu tidurnya Nana! Kesel deh...!" Dengan masih dalam keadaan setengah sadar, Nana bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar.


"Kak Jun, itu apa sih ribut ribut di depan?" Tanya Nana pada tetangga kamarnya yang bernama Juni.


"Kakak juga gak tau na, bangun tidur udah denger suara motor kenceng banget di depan kostan kita," jawab Juni sama acakannya dengan Nana.


"Nana jadi penasaran deh... kita lihat kedepan yuk kak," ajak Nana disetujui oleh Juni.


"Apa apaan kamu ini hah?! Pagi pagi bikin ribut aja! Mau saya gorok leher kamu?!" Omel bu kost yang juga terganggu dengan suara ribut di depan gerbang yang menjadi picu terbangunnya dia dari mimpi indahnya.


"Eh jangan bu! Entar peradaban orang ganteng bin kece kayak saya gak ada lagi. Soalnya saya ini tuh stok terakhir di muka bumi ini. Gini deh, saya bikin keturunan dulu baru nanti ibu gorok," jawab lelaki itu cepat.


Nana menyipitkan matanya sesaat merasa kenal dengan pria yang sedang beradu argumen dengan Ibu kost. "Kak Arkan?"


"Kamu kenal na?" Sambar Juni tak sengaja mendengar gumaman Nana.


"Heem. Kak Arkan itu teman kampusnya Nana. Ngapain dia kesini ya? Apa jangan jangan kak Arkan nyari Aril lagi?" Jawab Nana bertanya tanya.


"Mending samperin deh, siapa tau beneran nyari Aril,"


"Ya udah, Nana samperin dulu deh." Berjalan polos, Nana menghampiri Arkan yang masih beradu argumen dengan Ibu kost.


"Sakit dong saya,"


"Sakit? Kak Arkan lagi sakit?" Sambar Nana mendengar seruan Arkan yang membalas ucapan Ibu kost.


"Kamu kenal dia?" Tanya Ibu kost.


"Iya. Dia teman kampus Nana bu..."


"Baguslah. Kamu urus dia, suruh dia jangan cari ribut! Ibu mau tidur cantik lagi!" Suruh Ibu kost berbalik pergi bersama yang lainnya meninggalkan Nana dan Arkan.


"Kakak belum jawab pertanyaan Nana. Kakak lagi sakit ya?" Ucap Nana penuh binar kepolosan, membuatnya semakin menggemaskan di mata Arkan.


"Iya lagi sakit..." jawab Arkan mendramalistir.


"Kalau lagi sakit ya kerumah sakit dong kak bukannya kesini..." ujar Nana.


"Ya tapi obatnya cuma ada di sini na, rumah sakit gak punya stok," balas Arkan dengan rencana licik.


"Masa sih rumah sakit gak punya stok obatnya? Emang obat apa sih yang kakak cari sampe sampe bikin keributan di sini?"


"Obat rindu," gombalan receh dengan kerlingan mata mempesona dari Arkan membuat Nana mengerjap erjap 'kan matanya polos.


"Emang rindu ada obatnya?"


"Iya. Kamu obatnya,"


"Ihhh kok serem sih... kalau Nana obat rindu, entar orang orang bakal nyari Nana trus jadiin Nana obat pil gimana?" Celutuk Nana cemberut.


"Em..." Nana mengangguk lalu berbalik hendak kembali masuk kedalam kost, namun sedetik kemudian dia berbalik lagi.


"Tapi beneran Nana gak bakal dijadiin obat pil 'kan?" Tanya Nana.


"Enggak sweety Nana. Nih denger ya! Nana itu cuma obat punyanya kak Arkan. Kalau ada orang yang berani pengen milikin, itu harus lewatin kak Arkan dulu," jawab Arkan sabar menghadapi kepolosan Nana.


"Ya udah. Kalau gitu Nana pergi siap siap dulu ya..." berbalik badan senyum polos Nana berubah sangat merekah, dengan cepat Nana masuk untuk siap siap.


"Sweety Nana... hehe bagus juga." Gumam Arkan terkekeh sendiri mengingat dia memanggil Nana dengan panggilan Sweety.


***


"Yakin mau ke kantor? Gak izin sehari dulu aja gitu?" Tanyaku masih khawatir dengan lengan Erlang, sedangkan pria itu memutuskan hendak bekerja.


"Luka sedikit aja gak apa apa, kamu sendiri gak mau kuliah?" Jawabnya.


"Gak ada kelas,"


"Ya udah, aku kekantor dulu, kamu juga langsung pulang." Ucap Erlang lalu membuka pintu mobil turun dibantu asistennya, Rifki.


"Eh tunggu!!" Cegahku saat kedua kakinya baru menapak di tanah. Dengan tatapan bingung, dia menoleh padaku.


Cup


"Jangan lupa makan!" Please demi apa. Aku malu banget waktu tarik tangannya dan menciumnya. Tapi... dia 'kan suamiku? Gak salah dong aku salim sama dia?


Puk puk puk


"To you." Lagi dan lagi. Ini sudah untuk yang kedua kalinya Erlang menepuk kepalaku seperti ini.


"Kita jalan sekarang ya non," izin supir.


"Hm.."


Brukh


Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur sambil memandangi langit langit kamar yang bernuansa putih abu. Masih teringat jelas di memoriku, bagaimana setelah sekian lama aku kembali tertawa, tersenyum, dan banyak bicara lagi seperti dulu.


"Sebenarnya hubunganku dengan Erlang itu apa sih? Kenapa aku ngerasa kayak. Udah kenal lama gitu sama dia?" Gumamku lalu bangkit mengambil laptop untuk menyelesaikan proyek sketsaku yang masih penuh misteri dan juga teka teki.


"Dan kamu! Siapa sih sebenarnya kamu ini sampai sampai si tuan muda Erlang itu begitu ingin berjumpa denganmu? Apa setelah bertemu denganmu, dia benar tidak akan menceraikan ku? Kok aku ragu ya?" Aku menutup laptop kuat lalu berjalan menuju balkon, menatap lamat lamat gedung gedung yang menjulang begitu tinggi menuju langit.


"Cinta itu bisa menjadi dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, bagi mereka yang tulus, cinta adalah bagaimana caranya membuat orang yang ia sukai bahagia. Dan yang kedua, cinta karena obsesi. Di mana si pemilik rasa menginginkan cintanya terbalas meski harus menggunakan cara licik sekalipun."


"Cinta? Heh... cintanya pada wanita itu termasuk pada opsi mana? Lagipun, adakah yang menguntungkanku sedang meski dia pilih opsi manapun, aku tetap merugi."


"Yah... lagi pula, tidak buruk juga jika dia memang ingin mengejar wanita itu. Yang salah adalah jika dia mencintaiku. Takutnya masalaluku datang dan menghancurkannya kembali."


"Keep strong Ril. Sebentar lagi aja. Kamu harus bisa menahan rasa penasaran kamu sampai kita nemuin wanita itu. Setelahnya, kamu bebas."