
Acara pernikahan yang sebentar lagi digelar membuat Rifki mondar mandir antara panik, takut, gelisah. Semua begitu terasa saat akad akan digelar beberapa menit lagi, hanya perlu menunggu mempelai wanita keluar.
Puk puk
"Gak usah gugup! Rilex aja. Gue juga pernah ngerasain, jadi tahulah gimana rasanya. Meskipun dulu itu tanpa rasa cinta!" Ucap Erlang menepuk pundak Rifki menyemangati.
"Gue takut Er.." lirih Rifki dengan segala kecemasannya.
"Gak usah takut. Lo juga udah hafal akadnya kan? Jadi gak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Erlang.
Rifki melirik sahabatnya itu yang tidak peka. Rifki bukan takut akan salah pengucapan saat akad nanti, tapi Rifki lebih kecemas karena sebentar lagi status jomblonya akan hilang. Terlebih Rifki menjanjikan pada Ririn bahwa dirinya akan mencari cara untuk membatalkan pernikahan, tapi nyatanya sampai detik ini Rifki sama sekali tidak memiliki ide untuk melakukannya.
"Woahhh"
"Itu mempelai wanitanya? Cantik banget"
"Iya cantik banget"
"Beruntung banget Rifki bisa memiliki istri secantik itu"
Rifki yang awalnya sibuk pada pemikirannya, harus mengalihkan pandangan saat semua orang ribut memuji calon istrinya. Namun, sedetik kemudian Rifki dibuat terpaku pada sosok gadis cantik yang memakai kebaya putih itu.
Ririn dengan segala kecantikan alaminya, saat dipoles make up, seketika berubah menjadi bidadari tak bersayap.
Hap
"Biasa aja lihatnya! Mata Lo sampe gak kedip gitu. Dimasukin lalat baru tau rasa Lo!" Tanpa belas kasih Erlang mengusap kasar wajah Rifki berniat menyadarkan pemuda itu dari rasa kagumnya.
"Gak usah diusap juga muka gue!" Ketus Rifki merasa malu saat dirinya kepergok mengangumi calon istri dadakannya.
"Baik, berhubung mempelai wanita sudah hadir. Kita mulai saja acaranya.." ucap pak penghulu pada para hadirin maupun saksi yang ada.
Tomi Andreas, ayah dari Ririn menjabat tangan Rifki selaku lelaki yang akan mengambil alih tugasnya untuk menjadi sang putri. Ririn.
"Saudara Rifki Bramantyo bin Narendra Bramantyo. Saya nikahkan dan kawin kan engkau dengan putri saya, Aririn Oktaviana Andreas binti Tomi Andreas dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 10 gram emas dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Aririn Oktaviana Andreas binti Tomi Andreas dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Dengan sekali tarikan nafas, Rifki mampu melafalkan ijab kobul tanpa kesalahan.
"Bagaimana para saksi, sah?" Tanya penghulu pada para saksi.
"Alhamdulillah"
Tes
Setetes air mata Ririn jatuh tanpa satupun mengetahuinya. Ririn melihat ibunya, Namia Kumala Sari. Dia tersenyum sepanjang acara membuat Ririn tak mampu menahan rasa harunya karena bisa melihat ibunya kembali setelah sekian lama tidak bertemu. Meskipun hanya sementara, meskipun pernikahan ini bukanlah sungguhan, tapi Ririn menyukuri adanya pernikahan ini yang mana membawanya kembali bertemu dengan sang mama.
"Silahkan mempelai wanita memasangkan cincin di jari manis mempelai pria" tanpa bantahan, Ririn mengambil satu cincin yang cukup besar lalu memasangkannya ke jari manis Rifki.
"Silahkan mempelai pria memasangkan cincin ke jari manis mempelai wanita" begitu pun juga Rifki. Tanpa bantahan, dia meraih tangan halus Ririn lalu memasangkan cincin dijari manisnya.
"Silahkan mempelai wanita mencium tangan mempelai pria" kali ini sesuai perintah, Ririn meraih tangan besar Rifki lalu menciumnya dengan khidmat, sambil merasakan tangan Rifki yang satunya ada di atas kepalanya sambil berdoa yang entah apa.
"Silahkan mempelai pria mencium kening mempelai wanita"
Rifki menatap ragu pada Ririn yang sedari tadi terus menunduk. Dengan ragu dan hati hati, Rifki menuntun wajah Ririn agar terangkat. Namun, seketika itu juga Rifki terkejut melihat pipi Ririn yang basah.
"Lo nangis?" Bisik Rifki menghapus pelan jejak air mata di pipi Ririn dengan jari jemarinya.
"Mama di sini mas.. mama di sini.." lirih Ririn mampu membuat Rifki paham kenapa gadis di hadapannya ini menangis.
Cup
Rifki mencium kening Ririn cukup lama, sebelum mengakhirinya. Ditatapnya lamat lamat wajah Ririn yang terlihat sangat cantik.
"Baiklah, silahkan tanda tangan di sini."
Ririn dan Rifki kini bergiliran menanda tangani buku nikah sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali kekamar hotel karena nanti malam mereka masih akan ada resepsi pernikahan yang pasti banyak relasi bisnis Rendra yang diundang, sehingga kedua pasangan itu harus menyiapkan kekuatan untuk berdiri lama.
Baik Ririn maupun Rifki sama sama terdiam. Duduk di sisi kasur yang berlawanan arah ditemani hening dan kecanggungan.
"Mas. Kita udah nikah, terus ini gimana? Bukannya dari awal saya cuma bantu mas buat jadi pacar bohongan doang?" Akhirnya pertanyaan yang paling Rifki takutkan keluar juga. Syukurnya Rifki telah menyiapkan jawaban yang pas.
"Lo tenang aja. Gue bakalan siapin kontrak pernikahan dan larangan larangan apa saja yang harus kita jauhi, dan apa apa saja ketentuan yang harus kita patuhi. Jadi, Lo gak perlu khawatir kalau privasi Lo nanti bakalan tercampuri, karena gue gak akan ngelakuin itu kalau Lo gak ngizinin." Jawab Rifki dengan jalan ninja yang dipikirannya. Nikah kontrak.
Ririn terdiam menatap Rifki tak percaya. Ririn tak menyangka, ternyata cerita novel yang sering ia baca kini akan terjadi padanya. Apakah ending mereka akan happy atau justru sad? Kita lihat saja nanti.