Melody

Melody
Kembali



"April sayanggg!!!" Dari dalam rumah, wanita paruh baya yang kini telah resmi menjadi ibu mertua ku berlari dan langsung memelukku erat.


"Bunda kangen banget sama kamu!"


"Aril juga kangen sama Bunda,"


"Ya sudah, ayo masuk! Kalian pasti lelah setelah perjalan jauh dari Malang ke Bandung."


Aku dan Erlang masuk bersama Bunda, koper kami pelayan rumah yang bawakan masuk kedalam kamar Erlang yang terletak di lantai tiga.


"Bagaimana malam pertamanya?" Tanya Bunda melirikku dan Erlang secara bergantian.


Aku menghela nafas lelah. Dari sekian banyak pertanyaan, kenapa orang orang lebih penasaran soal malam pertama sih?


"Lancar,"


"Benarkah? Lalu kapan kalian akan pergi bulan madu? Bunda udah gak sabar pengen punya cucu,"


Aku mengusap tengkukku pelan. Bulan madu? Cucu? Yang benar saja! Malam pertama ku dengan Erlang bahkan berlalu seperti malam biasa saja. Tidak ada gugup, takut atau apalah itu. Yang ada hanya lelah karna bertengkar.


"Nanti saja bun, Er masih banyak pekerjaan yang harus diurus." Jawabnya.


Menghela nafas kecewa, "ya sudah. Kalian istirahat gih! Pasti kalian capek!" Aku mengangguk dan bangkit bersama Er menaiki lift yang ada di sana menuju lantai tiga.


Saat sampai di lantai tiga, aku dan Erlang berjalan masuk kedalam kamar. Tapi, pandanganku terpaku pada pintu seberang kamar Erlang. Aku berjalan mendekat kepintu itu, menelusuri setiap inci pintu dengan sebuah papan kayu bertuliskan nama seseorang.


"PRICILA?"


"Sedang apa kamu?" Aku tersadar, dan menoleh kebelakang. Erlang menatapku dingin.


"Ah.. itu. Aku hanya penasaran dengan pintu kamar ini. Pricila.. siapa dia?" Tanyaku terus memandang papan kayu itu dengan perasaan yang sulit diartikan.


"Adikku"


Menoleh, "adik? Bukankah kamu hanya punya satu adik? Arkan." Heranku.


"Aku memiliki dua adik. Aku tidak tahu sekarang dia ada di mana. Saat umurnya 9 tahun, di saat Ayah meninggal, dia dikabarkan menghilang." Jelas terlihat kerinduan mendalam di matanya. Aku melirik pintu itu sekali lagi. Kenapa... ah sudahlah!


"Ayo masuk!"


###


Siang telah berganti malam, aku duduk di atas kasur dengan satu laptop tertumpu di atas pahaku. Jari jemari ku dengan lincah mengetik sesuatu yang menjadi tugasku sekarang.


"Siapa?" Gumamku memicingkan mata memandangi putaran singkat vidio yang aku salin di ruang cctv waktu lalu.


"Apanya yang siapa?"


Aku melirik Erlang, lalu cepat cepat menutup layar laptop gugup. "Tidak ada." Jawabku cuek.


Dia mengangkat bahu cuek, dan berjalan menuju lemari mengambil baju lalu memakainya di sana. Aku sudah mulai terbiasa dengan dia yang tidak punya malu saat sedang mengganti pakaian. Tidak peduli itu wanita ataupun pria, muhrim tidak muhrim, dia tetap memasang pakaiannya di sana dan saat itu juga.


"Hei, coba deskripsi 'kan wanitamu itu!" Pintaku tak punya pilihan lain. Di vidio hanya menampakkan kronologi kejadian, dan siluet bentuk tubuhnya, tidak ada bentuk wajah sedikit saja yang bisa membuatku mendapatkan sedikit saja petunjuk keberadaan wanita itu.


"Tergantung dari kamu mendeskripsikannya," jawabku tenang.


"Baiklah, aku akan mendeskripsikannya."


Aku segera mengambil buku sketsa yang biasa aku gunakan untuk menggambar wajah pelaku pelaku kejahatan saat masih SMA dulu. Sekarang akan aku guna 'kan untuk mencari seorang wanita pula.


"Dia memiliki alis yang tebal, bulu mata yang lentik, dengan bola mata yang hitam dan tajam. Saat itu dia sedang menggunakan masker hitam, dengan hodie hitam. Aku kurang jelas melihatnya, karna saat itu dia tepat berada di bawah pancaran sinar lampu, membuatku hanya bisa melihat matanya yang tepat berada di hadapanku,"


"Hanya itu saja yang bisa aku jelaskan."


Aku menatap lekat lekat sketsa wajah yang aku buat. Kenapa... wajahnya terasa familiar ya? Seperti...


"Bagaimana? Sudah selesai?" Aku melirik Erlang dingin, lalu melempar buku itu kepadanya.


"Apakah seperti itu?"


"Benar! Sangat mirip! Apakah kamu bisa menemukannya?" Tanyanya memandang sketsa itu penuh kerinduan dan cinta yang begitu mendalam.


"Tergantung kondisi dan situasi. Tapi jika aku menemukannya, kamu tidak boleh sedih. Bisa saja dia sudah menikah, atau punya pacar, atau gebetan, atau... ya seperti itulah." Jawabku acuh tak acuh.


"Tidak apa. Aku hanya ingin bertemu dan melihat wajahnya. Itu saja." Ujarnya. Tidak tahu itu benar atau hanya sebuah kebohongan, tapi melihat binar cinta penuh ketulusan itu tiba tiba membuatku iri.


Jika saja dulu dia mencintaiku dengan tulus, mungkin akan aku pikirkan untuk menerimanya perlahan. Tapi sayang, dia justru bertindak semaunya. Menganggapku seolah olah barang yang hanya boleh dirinya sentuh seutuhnya.


Dan karnanya... masa SMA yang seharusnya aku lalui dengan kisah cinta manis, justru kandas akan penyiksaan batin. Memaksaku untuk membenci kalimat cinta yang selalu ia bisikkan di kala aku terdiam takut.


Sepenggal kisah yang tidak bisa aku lupakan, karna sampai kini bayangannya terus menghantuiku kemanapun aku pergi. Mengharuskan diriku bersikap acuh tak acuh dan lebih memilih pergi dari khalayak ramai.


***


Di sebuah kegelapan, seseorang berdiri termenung menghadap kearah bintang bintang malam yang bersinar terang.


Perlahan orang itu mengeluarkan sebuah foto seorang pria tampan yang berdiri gagah di depan sebuah perusahaan besar. Diusapnya foto itu dengan penuh kerinduan yang mendalam.


"*Beri jalan!! Beri jalan!!" Beberapa orang perawat terlihat mendorong sebuah brankar rumah sakit dengan cepat. Darah segar terus mengucur dari kepala dan beberapa bagian tubuh seorang pria yang sedang berjuang mempertahankan nyawanya.


"Mas kamu harus bertahan mas!" Di sampingnya seorang wanita cantik memberikan semangat pada suaminya dengan tangan yang tak lepas menggenggam erat jari jemari suaminya*.


Pria itu menatap lemah wajah istrinya. Dengan sekuat tenaga dia memberikan kepada istrinya sebuah plasdisk dan menyelipkanya ketangan sang istri.


"Ke-lak.. ja-ga pu-tri ki-ta.. di-a da-lam.. ba-haya. Kem-bali-kan.. di-a. Sa-at ti-ba ma-sa-nya.. di-a a-kan meng-ung-kap-kan.. se-ga-lanya." Pesan pria tersebut tersendat sendat.


"*Pasti mas!"


"Maaf! Anda dilarang masuk, silah 'kan tunggu di luar!" Wanita itu menatap sendu kepergiaan suaminya saat memasuki ruang ICU.


Wanita itu menggenggam erat benda yang diberikan suaminya. Sebuah benda amanah yang akan membimbingnya kelak*.


Wanita itu masuk dan meletakkan foto suaminya keatas meja. Mengambil duduk di meja kebesarannya, matanya menerawang kedepan dengan sekelabat penuh kebencian mendalam.


"Tunggu lawan mendekat. Setelah itu, barulah kita mulai peperangan sesungguhnya."