Melody

Melody
Mengisi bahan dapur



Di malam hari yang gelap gulita, aku keluar dari kamar peraduan ku seharian ini menuju dapur saat perut ku berbunyi tanda waktu makan baginya telah tiba.


Aku berjalan kedapur dan membuka kulkas mencari ada bahan apa saja yang ada di sana. Hanya ada susu, telur, dan minuman kaleng. Apa tidak ada bahan pokok lain selain ini?


Menutup kulkas, aku berjalan kearah lemari harap harap cemas ada bahan yang bisa dimasak untuk memenuhi nutrisi perut.


Dan... kosong? Apa suami ku itu tidak pernah berbelanja? Enak sekali hidupnya, apa apa tinggal 'klik' lalu datang.


"Sedang apa?" Suara berat itu mengalihkan netra ku. Erlang berjalan mengambil minum di dispenser sambil melirikku acuh tak acuh.


Aku berbalik penuh menatapnya dengan heran sekaligus kesal, "apa di sini tidak ada yang bisa dimasak selain telur? Bahkan beras saja kamu tidak punya?!" Aku memandangnya tak percaya. Sekosong ini dapurnya? Hidup mu sih boleh hampa, tapi dapur itu 'kan di khususkan untuk rasa, kenapa harus ikutan hampa juga sih? Kering, kayak di gurun sahara.


"Aku tidak pernah masak, jadi untuk apa beli?" Jawaban dia benar juga. Untuk apa beli bahan masakan jika tidak akan dipergunakan? Mubajir nanti.


"Sudahlah, aku ingin ke supermarket sebentar," tak ingin berdebat terlalu panjang hanya karna bahan di dapur, aku lebih memilih pergi belanja untuk mengisinya agar lebih berwarna.


"Biar ku antar." Sela Erlang melesat cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Aku bisa sendiri," tolakku.


"Tunggu dan jangan membantah!" Tukasnya menunjukku dari tangga dengan penuh peringatan. Aku diam diam hanya bisa mencibir mengingat kelakuan Ceo nya kumat. Tukang perintah yang selalu tidak ingin dibantah.


"Ayo!"


Aku dan Erlang berjalan beriringan keluar dari apartemen. Tak butuh waktu lama, kami pun sampai di depan sebuah supermarket yang letaknya tak terlalu jauh dari sini.


"Aku tunggu di sini," ucap Erlang. Aku meliriknya lalu menengadahkan tangan, membuat netra hitam itu beralih memandang ku dan tanganku secara bergantian.


"Mana uangnya? Sejak kita menikah kamu belum menafkahi ku loh?" Pintaku. Bukan tanpa maksud aku memintanya, hanya saja aku ingin menyadarkan dia pada kodratnya sebagai suami, selain itu uang simpanan ku juga semakin menipis untuk keperluan kuliah. Jujur aku ini orang yang perhitungan. Bukan pelit, tapi ini lebih ke menghemat dan membagi uang sesuai kebutuhan. Di luar kebutuhan itu maka akan aku tabung. Apalagi aku sedang tanggal tua, gaji belum turun.


Yah, aku masih bekerja tanpa sepengetahuan Erlang. Selain sebagai uang simpanan, aku juga sedang memantau keadaan Nana, takut takut wanita itu berbuat ulah yang akan berimbas padanya. Aku sedang membimbingnya menjadi wanita mandiri sesuai keinginan om Hardi.


"Nih!" Sebuah black card limitid edition keluar dari balik dompetnya. Dalam hati aku tersenyum ria.


"Makasih suami," ucap ku atau lebih pada sindiran untuknya, karna tidak ada senyum yang terbit di bibirku sama sekali.


"Hm. Kamu simpan kartu itu, dan terserah kamu mau beli apa saja. Anggap itu adalah NAFKAH KU SEBAGAI SEORANG SUAMI!" Mungkin merasa tersindir, karna wajahnya berubah masam. Hilang wajah tampan dan datarnya, tergeserkan oleh si jengkel dan masam.


Entah refleks atau memang dari dorongan dalam diri, aku tersenyum kecil sambil mengusap kepalanya gemas. "Iya suamiku yang baik dan bertanggung jawab,"


Saat mata kami bertemu, aku sejenak terpaku menyadari apa yang telah aku lakukan. Dengan secepat kilat aku menarik tangan ku dari atas kepalanya, dan membuka pintu keluar dengan kikuk.


Saat masuk kedalam supermarket aku langsung merutuki kebodohanku. Bisa bisanya tangan ku lepas kendali seperti ini. Tidak biasanya aku seperti ini, aku tidak pernah sehangat ini sebelumnya pada pria manapun, bahkan aku tidak pernah seperti ini pada kakak dan kakar iparku.


"Aku ini kenapa sih?!" Gerutuku pelan masih berdiri di depan pintu masuk dan terus merutuk diri sendiri.


"Kenapa apanya ril?" Bisikan halus itu membuatku cepat cepat menoleh. Pria dengan senyum manis yang memukai dan wajah penuh pesona itu memandangku ramah.


"Iya ini aku Daniel. Emang ada lagi Daniel yang punya wajah setampan aku?" Kelakarnya mengajakku untuk berbelanja bersama.


"Hm"


Aku berjalan berdampingan dengannya seraya mendorong troli masing masing. Aku memilah milih sayur, daging, buah, dan bumbu bumbu dapur lainnya yang akan diperlukan nanti di apartemen.


"Sendiri kesini?" Tanya Kak Daniel masih setia mengikutiku berputar putar mencari bahan dapur.


"Tidak,"


"Sama siapa?"


"Om Er,"


"Tuan Erlang?" Tanya Kak Daniel memastikan, dan ku jawab dengan anggukan.


"Oh... oh ya, kamu kok belanjanya di sini? Setahu ku kostan kamu jaraknya dari sini jauh banget loh."


Aku masih diam berdiri mengantri untuk pembayaran. "Cari angin," jawabku singkat.


"Emm.. trus itu kenapa om kamu bisa anterin kamu?" Tanya Kak Daniel lagi mulai membuatku jengah. Aku menatap antrian penuh harap agar segera selesai agar aku bisa pergi dari sini.


"Aku yang minta."


"O-oh..."


Tiba saatnya giliran ku melakukan transaksi pembayangan. Aku membiarkan mbak kasir itu menghitung semua total belanjaanku.


"Semuanya jadi 2.134.500," ujar si mbak menyembutkan nominal harganya. Aku dengan tenang memberikan kartu yang diberikan Erlang padaku. Jika Kak Daniel bertanya, aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaannya.


"Black card? Punyamu ril?" Kak Daniel memandangku tak percaya. Mungkin ragu aku yang hanya seorang anak dari kalangan menengah bisa mempunyainya.


"Punya om Er," jawabku mengambil kembali kartu itu dan memasukkannya kedalam dompet.


"Dia yang memberikannya padamu?" Kami berjalan beriringan keluar dari supermarket setelah selesai melakukan pembayaran.


"Iya."


"Aku masih penasaran ril. Hubungan mu dengan tuan Erlang itu apa benar hanya sebatas hubungan pertemanan? Atau bisa saja 'kan kamu menyukainya?" Ujar Kak Daniel.


Aku terdiam saat mendengar kata 'menyukainya' keluar dari mulut Kak Daniel. Menyukai? Hah. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin menyukainya. Cinta adalah ilusi. Indah, tapi tak nyata. Cinta hanya akan menjadi racun untuk mereka yang merasakannya. Dan aku tidak ingin itu terjadi padaku.


"Ya," jawabku pasti.