
Sesampainya di rumah, aku dan Erlang memilih menghabiskan waktu bersantai di ruang keluarga. Menikmati serial tv tentang berita.
"Kamu gak kerja mas?" Tanyaku, melirik Erlang yang terlihat fokus menatap layar televisi.
"Kerja,"
"Tapi kok di sini sekarang?"
"Ya kan, kerjaan aku nemenin kamu sampai tua.." gombalnya sambil menatapku genit. Dengan gemas aku memukul bahunya meski bibirku tidak dapat menutupi rasa senang sekaligus malu.
"Gombal. Tapi aku serius, kamu emangnya gak kerja? Kita udah makan siang, pastinya waktu istirahat kamu juga udah habis." Ucapku.
"Aku cuti seminggu"
"Loh kok?" Aku berhenti bersandar di bahu Erlang, lalu duduk menatap lelaki itu sepenuhnya. "Ngapain kamu ngambil cuti sebanyak itu?" Tanyaku menatapnya tajam.
"Ya. Mau liburan lah.." jawabnya enteng.
"Liburan kemana? Sama siapa? Kok gak ada ngasih tau aku sih?" Cecarku merasa kalau Erlang sengaja menyembunyikan niatnya berlibur.
"Ini aku udah ngasih tau."
"Mas aku serius!"
"Emang kamu nikah dua kali? Ayuk lah, biar bisa ngerasain malam pertamanya pengantin baru!" Plak. Aku memukul kencang bahunya kesal. Dasar mulut suami, mesumnya gak tahu tempat.
"Mas.."
"Iya iya. Aku emang ngambil cuti seminggu buat liburan. Sama siapa? Ya sama kamulah. Emang sama siapa lagi? Istri aku kan cuma kamu." Jawab Erlang.
"Ha? Liburan sama aku? Ngapain? Terus kapan, kok aku baru dikasih tau sekarang?"
"Iya. Kita kan belum pernah honeymoon nih, jadi aku mutusin buat honeymoon ke Belanda. Kalau waktunya, itu masih satu Minggu lagi. Rencananya, kita bakalan pergi bareng sama Rifki juga Ririn," jelas Erlang.
"Rifki sama Ririn? Kenapa mereka bisa ikut?" Tanyaku tak paham. Rifki aku bisa memaklumi, karena lelaki itu asisten pribadi Erlang, lah Ririn?
"Kamu gak dikasih tau sama Ririn? Diakan tiga hari lagi bakal nikah sama Rifki. Makanya, Tante Yolanda usul buat kita berempat honeymoon bareng." Terang Erlang. Kok aku tidak tahu ya kalau Ririn dalam waktu dekat ini akan menikah? Bahkan pasangan nya adalah Rifki Bramantyo. Si pemuda narsis sok ganteng itu.
"Aku gak tahu. Mungkin Ririn lupa kasih tau kali ya?" Lirihku. Sedetik kemudian, aku merasakan tubuhku dirangkul dari samping oleh Erlang. Aku meliriknya, yang hanya diam dan kembali fokus pada tayangan yang sempat terabaikan.
Aku tersenyum, lalu menyandarkan kepada di pundak Erlang sambil melingkarkan tangan di pinggangnya, mencari kenyamanan dan kehangatan di dalamnya. Hingga tanpa sadar aku tertidur pulas..
***
Memiliki pacar super duper polos bukanlah hal mudah. Apalagi bagi seorang buaya seperti Arkan yang terbiasa tertarik dengan mangsa yang liar. Tapi terkecuali untuk Nana, Arkan merasa hatinya lebih terasa tenang jika bersamanya.
"Cape gak?" Tangan Arkan terulur untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Nana.
"Enggak kok. Nana malahan seneng, ternyata kerja itu menyenangkan juga. Ah, Nana jadi nyesel, kenapa gak dari dulu aja Nana kerja kalau tau kerja itu seasik ini?" Tutur Nana dengan gaya ceritanya yang menggemaskan, membuat Arkan tidak tahan untuk tidak mencubit pipi sang kekasih yang seperti bakpao itu.
"Iya kak.."
"Udah, sekarang mending kamu makan. Kamu belum makan siang kan? Jadi sebaiknya kamu makan karena aku gak mau kamu sakit." Arkan mendorong sepiring ayam goreng tepung saos teriaki, kesukaan Nana.
"Oke kak!"
Arkan diam menyangga dagunya sambil memperhatikan cara makan kekasihnya yang begitu lahap hingga belepotan. Dengan cekatan Arkan mengambil beberapa helai tisu, lalu mengelap noda saos yang ada di pipi bahkan sudut bibirnya.
"Pelan pelan aja makannya. Gak akan ada yang rebut kok.." gumam Arkan menatap tepat di manik mata Nana, membuat keduanya seakan terhipnotis untuk tetap bersitatap seperti itu.
"Arkan!" Lamunan Arkan buyar saat mendengar seseorang berseru memanggil namanya. Dengan cepat Arkan menoleh, dan mendapati temannya berjalan mendekat.
"Wuih lagi sama siapa nih bro? Korban baru?" Ledek lelaki tersebut, belum melihat jelas Nana karena gadis itu duduk membelakanginya.
"Hus! Jangan sembarangan ngomong Lo! Kali ini gue serius. Dia pacar, otw istri!" Jawab Arkan menatap tajam lelaki yang sayangnya adalah teman sekelasnya di kampus.
"Njirr gaya Lo pake otw istri segala! Siapa sih ceweknya, kok gue jadi penasaran. Kenalin lah!" Pinta pemuda itu.
"Kenalin, Nana Ayunda. Pacar gue. Na, kenalin ini Alvero temanku dikampus." Dengan inisiatif Arkan memperkenalkan keduanya.
Alvero tersenyum, lalu mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Alvero"
"Na—" Nana terdiam kaku menatap pemuda yang sama kagetnya seperti dirinya, namun sedetik kemudian bibir Alvero membentuk seringai tipis.
"Oh, ternyata Lo Na. Udah lama gak ketemu ya?" Ujar Alvero membuat Arkan menatap keduanya bingung.
"Kamu kenal dia Na?" Tanya Arkan bingung. Nana bukannya menjawab, justru menggenggam erat tangan Arkan dari bawah meja sambil menunduk dalam tidak berani melihat wajah lelaki tersebut.
"Nana takut.." lirihnya yang masih bisa didengar oleh Arkan.
Berhubung Arkan adalah sosok lelaki yang cukup pengertian, dengan sigap Arkan mengencangkan genggaman tangan sambil mengusap tangan Nana untuk menenangkan.
"Sorry bro, pacar gue lagi gak enak badan. Sekarang lagi ngeluh kepalanya pusing. Gak bisa lama lama ya, gue masih harus nganter pacar gue pulang. Gue tinggal!" Arkan bangun, membimbing Nana untuk bangkit lalu merangkulnya pergi meminta izin, sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah Arkan, karena khawatir jika meninggalkannya sendiri di kosan.
Arkan diam memandangi Nana yang tertidur pulas di atas kasur kamarnya setelah dibuat tiba tiba gemetar ketakutan tanpa sebab saat melihat temannya, Alvero.
Meraih ponsel dari dalam saku, Arkan dengan sigap mengetik nomor sahabatnya untuk dimintai bantuan.
"Bro, bisa minta tolong? Tolong cari informasi tentang Alvero Wijaya. Cari tahu, ada hubungan apa dia sama Nana? Thanks" setelah selesai, Arkan kembali menaruh ponsel kedalam saku celananya.
Dipandanginya sosok sang kekasih yang tertidur pulas. Lalu memberikan kecupan singkat di kening Nana, sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi takut bundanya datang dan salah paham melihat putra bungsunya yang kece ini satu kamar dengan seorang gadis. Bisa bisa dinikahin mereka berdua.
"Tapi, idenya gak buruk juga?"
Tolong siapapun. Ingatkan Arkan bahwa pemikirannya itu salah!