Melody

Melody
Pasar malam



Aku termenung setelah kepergian Ririn dan Rifki tadi. Bersitatap dengan Erlang yang sepertinya satu pemikiran denganku.


Rifki dan Ririn bergandengan tangan? Ada hubungan apa mereka? Sejak kapan mereka seakrap itu?


Aku menepis pikiran yang tidak tidak itu dari otakku. Apa salahnya jika mereka saling mengenal? Toh tidak ada hubungannya juga denganku.


"Kak Arkan!" Seru Nana yang sedari tadi setia menunggu sadarnya Arkan dari obat yang membiusnya. Terlihat pergerakan dari tubuh Arkan, dan perlahan mata itu terbuka.


Aku berjalan menghampiri brankar Arkan, sedangkan Erlang memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya.


"Kak Arkan, akhirnya kakak bangun. Kakak tahu gak, Nana takut banget kalau kakak kenapa kenapa." Isak tangis gadis itu kembali terdengar sembari menceritakan penderitaanya pada sosok pemuda yang terbaring di brankar rumah sakit itu.


Tangan Arkan terangkat perlahan untuk menghapus jejak air mata yang mengalir membasahi pipi mulus Nana.


"Nananya kakak kok nangis? Kakak gak apa apa kok sayang." Aku memutar bola mataku malas saat Arkan masih sempat sempatnya mengambil kesempatan dalam kesempitan bahkan disaat dirinya tengah terbaring lemah seperti itu. Benar benar ya, punya adik ipar yang buaya emang handal sekali memanfaatkan kesempatan.


"Permisi, biarkan kami periksa keadaan pasien dahulu." Dokter datang membawa alat handalannya untuk memeriksa keadaan Arkan yang pasrah saat dokter periksa keadaannya.


"Gimana keadaan putra saya dok?" Tanya Bunda yang terlihat sangat khawatir sekali dengan putra bungsu kesayangannya itu.


"Putra anda baik baik saja. Hanya luka memar, tidak ada gangguan apapun selepas benda keras itu menghantam kepalanya. Pasein hanya butuh istirahat, dan untuk beberapa hari sebaiknya menginap dulu saja di sini sampai keadaan pasein benar benar pulih." Jawab dokter tersebut.


"Syukurlah, terima kasih banyak dok."


"Sama sama, kalau begitu saya izin permisi untuk memeriksa pasein lainnya."


"Silahkan dok."


Plak


"Kamu benar benar ya! Membuat bunda khawatir saja! Untuk apa kamu berkelahi seperti itu ha?!" Omel Bunda sudah tidak perduli anaknya itu sedang sakit atau tidak yang pasti Bunda terlihat sangat kesal dengan kelakuan sok jadi pahlawan kesiangan anaknya itu.


"Bunda ini bukan salah kak Arkan. Ini salah Nana, Kak Arkan berantem karena mau lindungin Nana dari cowok yang modus ngedeketin Nana." Bela Nana. Jadi Nana digodain cowok? Wah... kali ini aku mendukung perbuatan Arkan yang menghajar lelaki itu sampai babak belur. Karena jika berada di posisi itupun aku juga pasti akan menghajar lelaki itu habis habisan. Beraninya dia menggoda Nanaku yang polos.


Seketika itu juga tatapan tajam Bunda menghunus bagaikan silet pada putra bungsunya itu. "Huhh... kalau bukan karena tolongin Nana, kamu udah bunda keluarin dari kartu keluarga!" Sinis Bunda berjalan menuju sofa untuk beristirahat di sana. Lagi pun, Arkan juga terlihat baik baik saja.


"Jahat banget bun..." lirih Arkan sok sokan tersakiti dan terdzolimi.


"Biarin. Siapa suruh hobinya berantem?" Sahut Bunda.


"Bun, Arkan berantem itu bisa dihitung pake jari. Kan kebiasaan Arkan itu php-in anak orang." Buaya mengaku dirinya buaya. Emang dasar ya.


"Ngejawab lagi kamu! Mau? Bunda keluarin dari kartu keluarga?!" Ancam Bunda.


"Iya iya. Salah muluh deh gue perasaan."


Di tengah tengah perdebatan itu, tiba tiba saja aku merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku, membuatku secara refleks menoleh.


Gak adik, gak kakaknya. Dua duanya sama aja. Sama sama buaya. Apaan lagi itu matanya kedap kedip gitu, bikin kesal aja.


"Lepasin! Di sini ada Nana!" Bisikku sedikit menggeliat mencoba melepaskan pelukan itu dari tubuhku.


"Nananya aja sibuk sama Arkan. Udah gak perlu khawatir. Lagian kenapa memangnya jika Nana tau? Sampai kapan memang kamu ingin menyembunyikan pernikahan kita ini? Toh cepat atau lambat semua juga akan terbongkar dengan sendirinya." Balas Erlang.


Aku seketika terdiam. Tiba tiba saja teringat dengan ancaman Alfino. Ini sudah hari ketiga, itu berarti hanya tersisa empat hari lagi sebelum aku memutuskan untuk berpisah dengan Erlang. Kenapa rasanya aku sedikit tidak rela ya? Padahal sedari awal inilah yang aku inginkan. Berpisah dengan Erlang.


Cup


Lamunanku seketika buyar saat merasa sesuatu menempel di pipiku. Sembari memegang pipi, aku menoleh tak percaya pada Erlang yang tersenyum tanpa dosa, bahkan senyumnya melebihi senangnya menang lotre. Benar benar ya lelaki ini...


"Er, April" pusat perhatianku kini beralih pada Bunda yang memanggil. Menepis kasar tangan Erlang, akupun berjalan mendekat pada Bunda.


"Iya bun?"


"Kamu pulanglah bersama Er, Arkan biar Bunda yang jagain. Kamu juga Er, kamukan harus kerja, apalagi Rifki lagi ada acara keluarga, tidak ada yang menghendel semua pekerjaan kamu," tutur Bunda.


"April di sini aja bun, nemenin bunda. Mas Er bisa kerja aja, tapi di sini nanti bunda gak ada yang nemenin," tolakku tak tega jika ibu dari dua orang anak itu harus merawat putranya sendiri.


"Bunda gak apa apa sayang. Kan ada Nana yang bakalan temenin Bunda. Kamu juga butuh istirahat sayang, pulanglah ikut dengan suamimu," aku seketika terdiam mendengar Bunda menyebut kata 'suami' membuatku reflek menoleh pada Nana, dan Syukurnya gadis polos itu terlalu asik bercengkrama dengan Arkan.


"Er, bawa pulang istrimu, dia butuh istirahat," Tutur Bunda kembali sembari menatap pada putra sulungnya.


"Iya. Bunda gak apa apa kok. Udah cepetan pergi sana bawa istri kamu ini," Ini kok Bunda kek ngusir ya? Jadi ngerasa ada yang aneh.


"Ya udah kalau gitu April sama Mas Er pamit pulang dulu ya bun," pamitku mencium tangan Bunda, lalu dilanjutkan Erlang. Namun pria itu sejenak tertahan seperti sedang Bunda bisiki sesuatu.


"Siap bun! Ayo!" Aku masih terpaku bingung saat melihat perubahan wajah Erlang yang terlihat sangat bersemangat pergi meninggalkan ruangan itu.


"Bunda bisikan apa tadi sama kamu?" Tanyaku penasaran saat Erlang membukakan pintu mobilnya untukku. Bahkan terasa semakin aneh saat Erlang memasangkan sabuk pengaman padaku. Hello... ini bukan Erlang sekali. Memangnya Bunda bisikin apa sih tadi sama dia?


"Bunda bisikin apa?" Desakku saat mobil sudah melesat membelah jalanan raya yang lagi ramai ramainya karena hari telah menjelang sore.


"Nanti juga kamu tau. Oh ya, kamu mau kesuatu tempat gak?" Ngeselin banget sih, sok rahasia rahasiaan.


"Kemana?"


"Pokoknya tempat ini sangat bagus, kita kesana ya." Mobil melaju kencang menuju tempat yang Erlang maksudkan. Sebenarnya dia mau membawaku kemana?


"Ayo!" Aku menatap sekelilingku dengan perasaaan bingung. Untuk apa dia membawaku pergi ke pasar malam?


"Pak, tiket masuknya dua ya!"


Masih dalam genggamannya, aku menatap ke dalam yang terlihat begitu ramai dengan maraknya anak anak muda yang sedang berkencan.


"Ayo masuk!" Dengan penuh kelembutan, Erlang menarikku masuk kedalam yang memperlihatkan betapa banyaknya permainan serta penjual yang menjual aneka macam makanan.


Seketika mataku berbinar melihat penjual yang menjual jagung bakar yang terlihat sangat enak. Menatap Erlang, tingkahku benar benar sudah seperti anak kecil kalian tahu. Menggoyang goyangkan lengan Erlang hanya untuk minta dibelikan jagung.


"Er... pengen itu!" Tunjukku pada jagung yang sedari tadi aromanya begitu menggoda untuk dinikmati.


"Hehe ayo!" Aku tidak perduli lagi bagaimana ekspresiku, intinya aku sangat senang sekali. Sudah sekian lama aku tidak makan jagung bakar. Teringat dulu saat akhir pekan, aku dan kedua sahabatku akan pergi ke pasar malam hanya sekedar membeli jagung setelahnya pulang. Aneh bukan?


"Pak, jagungnya dua!" Pinta Erlang.


"Siap. Ditunggu sebentar ya pak."


Sembari menunggu jagung itu matang, mataku tidak beralih sedikitpun darinya seolah takut kehilangan. Itu milikku. Titik.


"Gak usah dipandangin segitunya, gak akan ada yang rebut!" Tutur Erlang yang terlihat sangat gemas dengan kelakuanku makanya dia mencubit pipiku.


"Kata siapa gak akan ada yang rebut?! Er ini tuh jajanan kaki lima! Bukan restouran yang kalau duduk bakal dilayani. Di sini tuh, antrian aja bisa ditikung, apalagi makanan!" Gerutuku.


"Aku sih gak masalah kalau cuma antrian yang ditikung. Yang penting gak ada yang nikung kamu. Your is mine!" Aku melirik Erlang yang sempat sempatnya menggombal di tengah keramaian seperti ini. Dan benar saja...


"Tuh 'kan ditikung! Kamu sih ahhh!" Aku mendengus sebal saat jagung itu telah hilang diambil orang. Kesal, nunggu udah lama tapi yang ambil orang lain.


"Hahaa... kamu lucu deh. Cuma jagung doang, mau sekalian aku beliin sama gerobak gerobaknya biar kamu gak ngerasa ditikung lagi?" Gak gitu juga kali.


"Ya udah, tunggu bentar ya." Aku diam tidak memperdulikan apa yang Erlang bicarakan dengan bapak penjual itu, tapi saat dia kembali di tangannya sudah ada dua jagung bakar yang telah aku tunggu tunggu.


"Nih!"


Mataku seketika berbinar menyambut jagung bakar yang masih terlihat mengepul panas. Kembali menatap Erlang, aku seketika berjinjit untuk mencapai wajahnya dan...


Cup


"Makasih." Entah sadar tidak sadar, yang intinya aku terlalu senang menyantap jagung bakar kesukaanku itu.


"Pelan pelan makannya, kamu sampai belepotan gini." Aku terdiam seketika saat tangan itu mengusap sudut bibirku yang belepotan. Saat menatap matanya, seketika pandangan kami bertemu membuat suatu debaran jantung yang tidak terkontral. Astaga kok aku gugup gini ya?


"Kamu mau?" Demi mengurangi rasa gugup, aku menyodorkan jagungku menawarinya untuk makan. Erlang nampak tersenyum lalu menggigit sedikit jagungku sembari tersenyum.


"Enak." Oh... kenapa senyumannya terlihat sangat manis? Dan ini juga kenapa jantungku jadi maraton gini sih? Lari aja aku enggak tapi jantung udah kaya mau meletus aja dibuatnya.


"Emmm mau... main gak?" Tanyaku mengalihkan pandangan kemanapun yang intinya tidak pada lelaki berwajah tampan itu.


"Main di kamar tapinya?" Aku seketika menghunuskan tatapan tajam pada Erlang. Bisa bisanya dia berkata seperti itu di tempat ramai seperti ini.


"Gak usah mesum bisa gak!" Ketusku.


"Hahaa becanda. Ya sudah, ayo kita cari permainan yang asik." Meskipun kesal, tapi tidak dapat dipungkiri aku sangat senang hari ini. Tentunya bersama sosok lelaki yang menjelma menjadi suamiku ini.