
Sepeninggalnya April dan Erlang, bunda Lucy segera bangkit menghampiri dua sejoli yang sibuk berbincang seperti tidak ada orang tua saja di sana.
"Ar, bunda mau ke kantin dulu ya beli makan. Sekalian buat Nana juga, Nana belum makan 'kan pastinya?" Pamit bunda Lucy.
"Mau Nana temenin gak bun?"
"Gak perlu sayang. Kamu jagain Arkan aja di sini. Bunda keluar dulu ya" setelah wanita paruh baya itu menghilang di balik pintu, pandangan Arkan kini beralih pada sosok wanita yang begitu cantik meski matanya terlihat masih sembab.
"Kamu tau gak na?"
"Enggak." Aduh. Susah sekali memang jika berbicara dengan orang polos. Harua extra sabar menghadapinya.
"Kamu lama lama udah kaya bunga tau gak?" Ujar Arkan memulai aksi gombalnya yang memiliki stok segudang penuh.
"Bunga?"
"Iya. Polos, tapi cantik." Detik itu juga wajah Nana merona mendengar pujian Arkan yang mengatakan bahwa dirinya cantik.
"Nana mah udah cantik dari lahir." Dengan pedenya Nana mengakui kecantikannya secara narsis di depan Arkan, membuat pemuda yang tengah sakit itupun terkekeh dibuatnya.
"Awh"
"Kakak gak apa apa?" Panik tentunya saat Arkan tiba tiba meringis sakit akibat pergerakan tertawanya.
"Kakak gak apa apa, tapi hati kakak yang kenapa kenapa," jawab Arkan menampilkan senyum pada bibirnya yang pucat.
"Emang hati kakak kenapa?" Sambar Nana khawatir kalau kalau saja Arkan sakit dan itu karenanya.
"Hati kakak udah dicuri."
"Ha? Kok bisa? Emang siapa yang nyuri?"
"Kamu." Kali ini otak Nana mencoba mencerna semuanya dengan baik. Dia mencuri hati Arkan? Kapan memangnya dia pernah melakukannya?
"Kalau Nana ambil hatinya Kak Arkan, kakak udah mati dong? Kok masih hidup aja?" Tanya Nana secara logika memang benar, tapi inikan gombalan Nana!
"Kamu doain kakak mati?"
"Eh enggak enggak! Maksud Nana gak gitu kak. Maaf..." panik memang, takut Arkan salah paham padanya. Sungguh dia tidak ingin Arkan pergi.
"Kamu maunya kakak mati atau hidup?" Tanya Arkan mau menguji Nana. Seberapa pedulinya gadis ini padanya?
"Ya hidup dong kak!"
"Kenapa kamu pengen kakak hidup?"
"Emangnya kakak pengen mati? Kalau Nana sih pengen hidup." Sahut Nana membuar Arkan tersenyum.
"Kakak sih gak masalah kalau memang harus mati. Tapi kamu kenapa ingin kakak hidup?" Tanya Arkan lagi sengaja ingin menyudutkan Nana.
"Sayang yang seperti apa?" Semakin memojokkan.
"Ya sayang. Emang sayang ada yang seperti apanya?" Otak Nana sebenarnya tidak polos polos amat, Nana juga tahu kemana arah tuju yang Arkan bicarakan.
"Ada. Sayang sebagai saudara, sayang sebagai keluarga, dan sayang sebagai orang yang paling berarti, atau bisa dikatakan. Cinta."
Nana terdiam. Cinta? Benarkah cinta?
"Ya. Nana sayang intinya karena kakak udah baik banget sama Nana. Emang kak Arkan gak sayang juga sama Nana?" Jawab Nana membuang pandangan kesembarang arah.
"Sayang. Cuma bedanya, kakak sayang sama Nana sebagai orang yang paling berarti." Tutur Arkan menatap serius gadis polos di hadapannya itu. Tak dapat dipungkiri jika dia sudah jatuh dalam kepolosan gadis ini. Seorang Arkan yang terbiasa membuat orang lain jatuh cinta, sekarang berbalik arah. Kini dialah orang yang dibuat jatuh cinta itu.
"Kak..."
"Suttt kamu gak perlu jawab sekarang. Kakak masih sanggup nunggu kok, jadi kamu pikirin baik baik aja. Intinya, kakak gak maksa kalau memang kamu gak ma---"
"Nana mau!" Potong Nana cepat. Seketika itu juga Arkan terpaku dengan jawaban Nana. Apakah dia bermimpi?
"Nana sebenarnya gak tahu pasti sama perasaan Nana ke kakak, cuma Nana tau kakak itu orang yang baik. Kita coba dulu aja kak, buat Nana yakin sama perasaan Nana ke kakak." Lanjut Nana menyadarkan keterpakuan Arkan atas jawaban yang diberikan.
Seutas senyum itu terbit penuh kelembutan, sembari meraih tangan Nana dan menggenggamnya erat. "Kakak akan membuat kamu yakin dengan perasaaanmu itu. Terima kasih karena sudah memberi kakak kesempatan. Kakak janji akan menjadikan kamu satu satunya wanita di hati kakak." Arkan mendekap erat tubuh Nana penuh kebahagiaan. Akhirnya... setelah sekian lama berjuang dia dan Nana punya status juga sekarang.
"Kakak janjikan kalau Nana cuma satu satunya yang jadi pacar kak Arkan?" Tahu berita tentang Arkan, Nana mewanti wanti takut dia dijadikan sebagai pacar ketiga belas.
"Tentu saja. Kamu bakal jadi satu satunya yang akan menyandang gelar nyonya Bagaskara nanti. Kamu tidak perlu khawatir, saat ini aku tidak memiliki pacar selain kamu. Dan tidak akan pernah ada yang lainnya dihubungan kita. Kakak janji." Tegas Arkan perlahan melepas pelukannya pada Nana.
"Awhh"
"Tuh kan ih! Kakak hati hati dong, udah tau masih sakit juga!" Omel Nana membuat Arkan tertawa lucu.
"Ciee yang khawatir..." goda Arkan sambil mencubit gemas hidung Nana.
"Ya khawatirlah! Kan sekarang kakak udah jadi pacarnya Nana!" Dengus Nana memasang wajah cemberut.
"Jadi kalau kakak bukan pacar, Nana gak akan khawatir?" Goda Arkan pura pura ngambek.
"Gak gitu. Nana khawatir kok! Maaf kak..." sesal Nana membuat Arkan semakin gemas saja melihatnya.
"Sini peluk kakak!" Titah Arkan sembari menepuk kasur sampingnya meminta Nana untuk duduk di sana. Menurutinya, Nana memeluk Arkan menikmati elusan tangan Arkan yang membelai rambutnya.
"I love you Na,"
"Love you to"
Di balik pintu Lucy tersenyum saat melihat putranya kini telah bahagia. Entah harus sedih atau senang, kini kedua putranya telah berubah menjadi pribadi yang lebih hangat. Sebagai seorang ibu yang membesarkan mereka, tentu saja dia sangat senang akhirnya kedua putranya telah melupakan kesedihan akibat ditinggal sang papa pergi. Tapi Lucy juga merasa kesepian, karena kini kedua putranya telah menemukan bahagianya sendiri. Sekarang dia sendiri, melewati masa tua tanpa ada suami yang menemaninya, kedua putranya juga telah memiliki wanita mereka masing masing untuk dibahagiakan.
"Mas... putra putra kita telah menemukan kebahagiaannya. Sebentar lagi mas. Setelah mengungkap kejahatannya, aku akan menyusulmu." Gumam Lucy memutuskan untuk pergi dari sana, tidak ingin mengganggu putranya yang sedang bahagia.